
Hai readers! Sebelum baca tolong tinggalin jejak kalian dulu ya dengan cara like, komen, vote dan favorite. Bila perlu kalian ajak teman teman yang lain buat baca karya Author supaya Author juga semangat nulisnya.
Pov Laras
Entah mengapa, aku benar benar merasa sangat begitu kesal dengan suamiku. Bisa bisanya dia tidak mengijinkanku ikut acara besok. Aku dan ibu ibu pengurus sudah dua hari mempersiapkan acara ini, sudah capek capek sampai luka luka begini eh, malah nggak di bolehin. Gimana nggak kesel coba?
Ikut Organisasi, menurutku adalah suatu hiburan yang bisa membuat hidupku happy, nggak merasa sendiri, nggak suntuk dan banyak lagi.
"Yangg, mas balik ke kapal ya. Nggak enak sama yang lain" aku diam tak menjawab perkataannya.
"Yangg, denger nggak mas ngomong?"
"Hm!" Mas Zaki mendenggus halus dan menghampiriku yang sedang berbaring di atas kasur.
"Marah?" Aku membalikan badan membelakanginya.
"Ditanya sama suami itu dijawab, sayang" tak ada jawaban dariku.
"Boleh nggak mas balik, nih?"
"Terserah!"
"Terserah itu bukan jawaban"
"Terus Laras harus jawab apa? Lagi pula kalau Laras nggak ijinin, mas tetep akan pergi, kan?! Ya, buat apa Laras jawab. Kalau mau pergi pergi aja, nggak usah tanya tanya!"
"Kamu kenapa sih? Mas tanya baik baik, loh" aku diam.
"Tuh kan diem! Gara gara mas nggak boleh ikut acara besok kamu jadi gini?"
"Fikir aja sendiri!"
"Kamu tuh susah dikasih tahu! Terserah lah, mau nurut apa nggak! Males mas ribut" mas Zaki keluar kamar dan tak lama terdengar suara mobilnya menyala. Aku tahu, dia pergi.
•○○•
Sudah hampir masuk waktu sholat isya namun, mas Zaki juga tak kunjung datang. Aku jadi, merasa bersalah. Beberapa pesan WhatsApp ku kirimkan padanya namun, dia tak kunjung memebalas. Jangankan membalas dibaca saja tidak. Padahal, waktu tetakhir dilihatnya pukul 19.05.
Tak lama, adzan isya berkumandang dengan perlahan aku berjalan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah selesai, aku langsung melaksanakan sholat isya.
Jam sudah menunjukan pukul 21.53 dan sampai sekarang suamiku belum juga datang. Aku yang sedari tadi memegang ponsel menunggu balasan namun, nihil. Tak ada!
Pukul 22.45
Aku terbangun dari tidurku karena ada suara pintu terbuka.
Akhirnya, mas pulang, batinku.
Aku kembali memejamkan mata seolah seperti orang tidur. Pintu kamar terbuka dan mas Zaki masuk. Dia langsung membersihkan diri lalu setelah itu, berbaring di sampingku namun, dengan posisi membelakangi.
Ingin sekali rasanya, aku menangis. Biasanya sebelum tidur, dia selalu mengucapkan selamat malam, mencium keningku lalu memelukku namun, sekarang. Tidak!
Pukul 02.45
Ponselku tiba tiba berdering. Aku langsung bangun dan meraihnya. Ternyata panggilan telfon dari Gio. Aku keluar kamar untuk mengangkatnya karena takut akan mengganggu tidur mas Zaki.
__ADS_1
📲TELFON:
"Hallo, apa sih tengah malam gini telfon?"
(Maaf, Ras. Ini penting)
"Yaudah, cepet. Aku mau tidur"
(Tapi, kamu janji dulu jangan marah)
"Iya"
(Tadi, aku lihat suami kamu makan bareng cewek, berdua. Peluk pelukan lagi)
Kaget dong aku!
"Jangan bercanda deh, Gi"
(Siapa yang bercanda, aku punya fotonya. Nanti aku kirim)
Apa benar, begitu?
(Hallo, Ras? Jangan marah sama aku ya)
"Yaudah kirim fotonya, assalamualaikum"
Tut! Panggilan berakhir.
Tak lama Gio mengirimkan sebuah foto dan pada saat ku lihat, ternyata benar! Itu foto mas Zaki sedang bersama dengan seorang wanita dan lebih parahnya mereka berpelukan. Hatiku rasanya benar benar perih!
Aku kembali masuk ke dalam kamar dan melihat sosok pria yang sudah membuatku menangis saat ini. Dia tertidur dengan lelap. Rasanya, aku benar benar tak sudi berdekatan dengannya. Ku raih bantal dan selimut lalu aku menuju sofa ruang tamu dan tidur disana.
Adzan subuh berkumandang, segera aku bangun melipat selimut dan membawa bantal kembali ke dalam kamar, terihat mas Zaki masih tertidur dengan lelap. Aku masuk ke dalam kamar mandi untuk meraih air wudhu dan setelah itu sholat subuh.
Selesai sholat subuh, aku langsung masak dan tak lama mas Zaki keluar kamar dengan menggunakan sarung dan baju kokohnya. Kami saling diam seperti orang yang tidak saling mengenal. Melihat wajahnya, membuatku semakin sakit hati saja!
"Mas berangat" ku lihat dia memang sudah siap, dengan menggunakan baju kemeja hitam disertai celana jeans panjang. Aku diam membisu sama sekali tak menjawab apa katanya. Setelah dia pergi, bendungan air dimataku sudah tak bisa tertahan lagi dan meneteslah dia tanpa ku minta.
Dirumah dinas papa
"Kamu ada masalah sama suami?" Ya, aku memutuskan pergi ke rumah papa untuk menenangkan diri.
"Nggak ada ma, Laras baik baik aja kok sama mas Zaki" mama menggangguk.
"Kamu sudah bilang mau ke sini sama, Zaki?" Aku menggeleng. Ya, karena memang aku belum bilang.
"Kenapa?"
"Mas Zaki lagi ada acara Laras takut ganggu"
"Memang tadi sebelum berangkat nggak ngomong?"
Deg! Aku terdiam bingung harus menjawab apa.
"Ras? Mama tanya sekali lagi, kamu ada masalah sama Zaki?"
__ADS_1
"Hm..Laras lupa tadi ma, La-Laras sama mas Zaki baik baik aja, ma"
"Yaudah, terus kaki kamu itu kenapa?" Akupun menjelaskannya dan mama mengangguk mengerti.
"Ma, Laras ke kamar dulu ya"
"Iya. Mama masakin makanan kesukaan kamu ya"
"Makasih, ma"
Rasanya, aku benar benar rindu dengan kamar ini. Ku rebahkan diri di atas kasur yang hampir 10 tahun menemaniku. Ku tatap langit langit kamar dan fikiranku menelusuri ke beberapa waktu yang sudah lama terlewat. Dan tanpa ku sadari, lamunan itu berhasil membuat ku tertidur.
Kukerjap kerjapkan mata dan perlahan lahan membukanya. Aku sangat merasa dengan jelas ada sesuatu yang berat menimpa perutku, sebuah tangan besar dengan cincin melingkar di jari manisnya sama seperti yang ku kenakan. Ku tolehkan pandangan dengan perlahan menatap ke arah orang itu.
"Mas Zaki?" Dia tersenyum menatapku. Dengan cepat aku bangun dan menjauhkan diri darinya.
"Kenapa?" Aku diam.
"Ini mas, sayang"
"Jangan deket deket, Laras!" Mas Zaki mengernyit.
"Mas minta maaf"
"Laras bilang jangan deket deket!"
"Okey, mas di sini. Mas minta maaf, mas ngaku salah. Maafin mas sayang"
"Laras benci sama mas! Laras kecewa, mas sudah buat Laras sakit hati. Kasih tahu Laras sekarang siapa perempuan itu, mas!" Aku sudah tak bisa lagi menahan air mata. Mas Zaki tampak bingung dengan apa yang ku katakan.
"Perempuan? Siapa?" Aku benar benar tak mengerti. Dia yang tidak tahu atau pura pura bodoh. Ku raih ponsel dan menunjukan padanya foto yang dikirim Gio semalam. Seketika mas Zaki langsung terdiam kaget.
"Siapa dia mas?"
"Selingkuhan kamu kan?"
"Kenapa diam. Nggak bisa jawab?"
Bertubi tubi pertanyaan ku lontarkan namun, satu katapun tak kunjung keluar dari mulutnya.
.
.
BERSAMBUNG
.
.
Wah, siapa ya perempuan yang dipeluk Zaki???
Percaya nggak sih kalau Zaki selingkuh?
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, FAVORITE DAN KOMEN YA, SEMOGA MENGHIBUR. SEE YOU NEXT CHAPTER.
__ADS_1