
" sah " tanya penghulu kepada saksi
" sah"
alhamdullilah sah, barakallah dan doa pun dilantunkan
dengan satu tarikkan nafas Indra berhasil membaca ijab qabul dengan lantang, rasa gugup yang sedari tadi menghinggapinya terganti dengan rasa lega luar biasa, janjinya kepada Allah sungguh nyata untuk kali ini, sekarang dirinya sudah menjadi suami artinya dia memiliki tanggung jawab dunia akhirat untuk rumah tangganya. Indra sudah berjanji akan berusaha sebaik mungkin untuk Putri dan kedua orang tuanya menjadi suami yang bertanggung jawab.
" ayo bawa mempelai perempuannya turun" seru seseorang
akhirnya tak lama Putri keluar mengenakan baju gaun yang diberikan orang tuanya tadi, sungguh cantik Putri dimalam itu entah karna memang sudah cantik dari sananya atau karna aura pengantin lah yang membuatnya sungguh berbeda.
pernikahan itu dihadiri oleh beberapa orang yang tinggal di sekitaran villa, tapi jangan tanya bagaimana dengan teman teman Putri dan Indra tentu saja pernikahan ini masih sebuah rahasia.
Indra yang melihat istrinya berjalan menuju kearahnya sungguh di buat terpesona, baru kali ini menurut Indra melihat Putri begitu anggun dan cantik, sebaliknya Putri pun sungguh dibuat terpesona dengan penampilan Indra yang sangat tampan menurutnya.
****
" ndra gugup ga sih tadi??" tanya Putri yang duduk di meja rias sambil menghapus make up pengantinnya
" ga biasa aja"
" wah masa sih, kata orang ijab qabul itu bikin gugup banget"
" tapi aku kan ga" jawab Indra dengan sombongnya
" hmmmm" Putri hanya manggut manggut
" hmm ndra langsung tidur kan??" duduk di tepi ranjang bersama Indra , Putri sudah selesai membersihkan make upnya dan memakai baju tidur malamnya yang di lapisi luaran agar tak terlihat terlalu terbuka.
" kamu maunya gimana??" tanya Indra yang asyik main ponsel
" ihh asyik banget sih tuh ponsel, ya udah pencet ponsel aja gih" Putri berlalu keluar kamar
Indra yang sengaja menjahili Putri terkekeh melihat kelakuan istrinya yang ngambek
Putri duduk didapur sambil minum dan memakan beberapa buah, Putri merasa malas dikamar karna ke gugupan semakin terlihat, pikiran Putri sudah berlari kesana kemari, dalam waktu jam saja dirinya sudah menjadi seorang istri dan pada akhirnya ada hak indra yang memang bakal dipenuhinya.
" aduh gimana ya, aku takut" batin Putri yang membayangkan yang tidak tidak.
" dorr" bu Tini mengagetkan Putri
" mama " Putri tersontak kaget luar biasa
__ADS_1
" kenapa mau bilang jantung mau copot ya"
" ga lah ma, udah copot dari tadi kok jantung Putri"
" apahh??, kok bisa?? ouhh iya iya mama paham wkwkwk" bu Tini senyum senyum sendiri
" mama pasti mikir ngeres ni"
" eh ga kok, ouh kamu ya yang mikir ngeres ya" goda bu Tini mencoel coel pipi Putri
Putri yang ketahuan akan pikirannya menjadi malu sendiri, pipinya menjadi merah merona.
" cari aman dulu ya put, kan masih sekolah" ucap bu Tini dengan santai
" uhukk uhukk" Putri terbatuk batuk dibuatnya
" mama ngomong apa sih" lagi lagi Putri merasa malu luar biasa
" iya cari aman dulu, jangan blendung aja tu perut, nikmati pacaran dulu aja setelah nikah"
" iya ma tenang aja" jawab seseorang
benar saja Indra ternyata yang datang dari arah belakang mereka dan menghampiri ibu dan anak itu yang asyik ngobrol ga pentingnya.
" dari kamar ma, nunggu Putri eh ga dateng dateng" jawab Indra sambil melirik ke arah Putri
Putri masih ngambek karna kelakuan Indra tadi dan berusaha untuk mengalihkan pandangan dari Indra sekalipun merasa tersindir dengan kata kata Indra.
" wah menghindar ya put " goda mamanya
" apa sih ma" Putri benar benar jengan dengan godaan mamanya.
" ya sudah mama kekamar ya, ingat ya cari aman hehehe" masih saja menggoda Putri dan Indra
Indra yang melihat istrinya memanyunkkan bibirnya tanda masih ngambek, duduk disamping istrinya itu dan mengambil buah berusaha menyuapi istirnya
" ayo sini buka mulutmu"
" ga mau" memalingkan wajah
" mau kusuapi dengan mulut ku" menggoda Putri
dengan cepat Putri menerima suapan Indra
__ADS_1
" udah jam 11 ni put, masa mau didapur aja"
" hmm duluan aja kalo mau tidur" sahut Putri yang benar benar semakin gugup
Indra semakin mendekat dan menggendong Putri ala ala penganten baru itu lo....
" Indra aku jatuh ni , lepasin ga" putri berontak walaupun sebenarnya senang bukan kepalang, tapi Putri tak berani memandang Indra karna rasa gugupnya
" jantung kamu lari kemana yang??" tanya Indra yang mendengar detak jantung Putri saking kencangnya
" hmm anu" Putri tak bisa berkata kata lagi
akhirnya mereka sampai di kamar penganten itu, kamar yang sudah dihiasi banyak bunga, tentu saja itu kerjaan orang tua mereka, wangi bunga sangat kentara di malam itu.
" okeh udah sampai" ujar Indra melepaskan Putri di tempat tidur tersebut
" ndra, hmm ngantuk tidur yu" wajah Putri sudah dibuat merah merona
" beneran mau tidur???" goda Indra yang sekarang sudah berada di posisi intim itu
" ndra aku"....
malam yang panjang dan panas itu akhirnya terjadi, tidak ada penundaan untuk malam pengantin mereka karna memang bagaimana pun mereka saling mencintai , Putri benar benar menyerahkan seluruhnya, Putri benar benar milik Indra untuk sekarang dan selamanya.
"makasih yaa" Indra mengecup bibir Putri penuh cinta
"iya sama sama" jawab putri seadanya
Putri merasakan sakit luar biasa dibagian pribadinya, hilang sudah kegadisan itu, Indra benar benar ganas ternyata, benarlah yang pendiam dan kaku lebih mengerikkan dibanding laki laki yang pecicilan istilah itu benar adanya, dan Putri sendiri membuktikkannya
" sakit ya??" tanya Indra yang melihat ada darah di seprei tersebut dan dibagian milik Indra
" seperti yang kamu liat" jawab Putri karna memang Putri sempat menitikkan air mata menahan sakit yang diberikkan Indra di malam pengantin itu
" cup cup maaf ya sayang, kalau ga dipaksa ya ga masuk"
" aku cape banget tidur yu" ajak Putri
" oke lah, kalau pagi lanjut ga papa kan??" lagi lagi Indra meminta jatahnya seperti kecanduan saja si Indra ini
" iya terserah kamu" jawab Putri yang sudah memejamkan matanya dan memeluk Indra
" selamat tidur sayang aku" mengecup kening Putri.
__ADS_1
dan akhirnya mereka pun tertidur denga keadaan polos, hanya selimut yang menjadi saksi cinta mereka.