
***
Mata Qian benar-benar dibuat kagum oleh keindahan dan kemegahan Istana, banyak para prajurit yang berlalu lalang dan akan segera memberikan hormat saat Qian dan Xihua melewati mereka.
Akhirnya Qian dan Xihua serta Yi Feifei tiba di dalam aula istana di mana di sana sudah ada banyak orang yang sedang berdiri di pinggiran aula dengan berjejer rapi, semuanya segera menoleh ke arah mereka yang baru saja memasuki pintu aula.
"Ayo!" kata Xihua kemudian dia dan Qian berjalan ke arah sosok yang sedang duduk di singgasana megah dengan dua orang gadis di sisi kirinya yang juga duduk bersama.
Yi Feifei yang sudah terbiasa datang ke Istana menemani Xihua hampir sepenuhnya mengenali wajah-wajah semua orang, dia bergegas pergi ke arah belakang kedua gadis yang duduk di sebelah Raja Song.
Mata Qian tidak bisa berkedip saat melihat sosok pria berusia sekitar 50 tahunan, janggut yang tidak begitu tebal tanpa kumis dengan mahkota emas sekaligus jubah mewah yang bercahaya memberinya kesan dermawan, senyuman lembut di bibirnya melihat ke arah dirinya dan Xihua yang datang membuat hidung Qian terasa lembab serta mata yang berkaca-kaca.
Setelah 17 tahun lamanya akhirnya Qian bisa bertemu dengan sang Ayah, mungkin pertemuan itu sedikit aneh karena hanya sebelah pihak yang mengetahui akan siapa sosok dermawan di hadapannya, sedangkan pihak lainnya sama sekali tidak mengenali lawannya.
Andai dunia ini bisa dibuat berhenti oleh Qian, ingin rasanya dia menghentikannya dan akan mengatakan, "Ayah, aku adalah anakmu yang terbuang 17 tahun yang lalu!" itu yang ada di pikiran Qian saat ini, hanya saja Qian tidak bisa melakukannya dan hanya bisa menahan sesak serta diam-diam melepaskan rasa rindunya dalam hati dengan menatap sang ayah yang tidak mengenali dirinya.
Melihat dua wanita di samping kirinya, Qian mengira jika kedua wanita itu mungkin adalah selir ayahnya hanya anehnya usianya sangat begitu muda sehingga Qian merasa jika mereka berdua mungkin bukan kedua selir ayahnya, Qian teringat dengan kedua saudari lainnya yang usianya lebih tua dari dirinya, hal itu membuat Qian semakin ingin bersukacita namun apalah daya, tidak diduga hari ini dia begitu dekat dengan mereka semuanya.
"Xihua memberi hormat!" kata Xihua dengan lembut dan juga dengan anggun.
Raja Song tersenyum hangat seraya menghampiri putri bungsunya itu lalu mengelus rambutnya seraya berkata, "Semoga Dewa menyertai mu putriku!" kata Raja Song lalu dia melihat Qian yang berada di belakangnya. "Apakah pemuda ini yang kamu ceritakan tadi pagi itu?" tanya Raja Song yang di jawab anggukan oleh Xihua.
Raja Song kembali menatap Qian begitu juga dengan Qian sehingga kedua mata dengan tatapan yang sama saling bertemu, entah mengapa jantung Raja Song berdetak lebih kencang saat pemuda yang Xihua bawa itu menatapnya, anehnya Raja Song merasakan ada perasaan akrab terhadap pemuda tersebut.
Qian buru-buru tersadar dan segera menangkupkan kedua tangannya seraya membungkukkan badan, "Qian memberi hormat kepada Yang Mulia, semoga Yang Mulia selalu diberkati dan panjang umur!" kata Qian.
"Pemuda yang baik dan juga sopan, generasi saat ini benar-benar tahu cara berbicara kepada orang yang lebih tua! Aku suka dengan sikapmu," kata Raja Song sembari menepuk pundak Qian.
"Suatu kehormatan bisa di sanjung oleh Paduka Raja!" ucap Qian.
__ADS_1
"Xihua, tidakkah kamu ingin memperkenalkan teman mu itu pada kami berdua?" kata salah satu wanita bergaun ungu yang sudah berdiri dan disusul oleh gadis satunya.
"Kakak perempuan! Sepertinya Adik takut kita merampasnya," goda gadis yang sedikit lebih muda dari sebelahnya.
Xihua dengan pipi merah tersipu malu, dia segera menghampiri kedua gadis itu yang terus menggodanya. "Hentikan kakak! Kamu membuatku kehilangan harga diri saja," kata Xihua dengan pipi merah merona seperti tomat.
"Hihihi.. Lihatlah! Sekarang adik kecil kita sudah benar-benar tumbuh jadi gadis cantik, kuat, tapi sayangnya pemalu," ucap gadis yang terlihat paling dewasa.
"Sudahlah kakak pertama!" kata Xihua.
"Teman! Setidaknya beritahu nama kamu kepada kami agar kami berdua tahu nama laki-laki yang membuat hati si kecil ini menjadi pemalu."
Qian segera menangkupkan tangannya dan segera menjawab apa yang ditanyakan oleh kakak perempuannya itu, "Nama saya Lin Qian!" kata Qian yang membuat Raja Song dan Lie Hua serta Xi Yifei terkejut mendengarnya.
Nama Lin Qian mungkin sedikit akrab di telinga mereka, secara alami nama itu adalah nama yang pernah diberikan Raja Song kepada putranya, bahkan hingga hari ini nama Song Lin Qian masih sering diucapkan oleh ayah mereka yang membuat nama itu tidak asing di telinga keduanya, walau hanya dua kata dalam nama itu tanpa adanya nama "Song," di depannya, namun nama "Lin Qian" sudah memberikan kesan di hati mereka.
Untungnya saat ini bukan waktu yang tepat untuk menggali informasi lebih jauh terhadap Qian mengingat saat ini akan ada tamu besar Kerajaan yang akan datang, dengan menghela nafas dalam-dalam, Raja Song pun hanya bisa memberikan senyuman dan sambutan tanpa daya.
Qian mengangguk menjawab pertanyaan Raja Song, dia secara alami sudah memahami situasinya dan juga merasa lebih tenang karena kemungkinan besar ayahnya tidak akan memiliki kesempatan untuk mengintrogasi dirinya seperti seorang pencuri yang tertangkap.
"Aku tahu Putri ku tidak mungkin salah dalam melihat seseorang, sebelum mengenalmu lebih jauh, diri Yang Mulia ini belum bisa memandang hubungan kalian, jadi harap untuk memberikan wajah Yang Mulia ini!" kata Raja Song.
"Hamba Qian akan berusaha untuk melindungi apa itu yang disebut sebagai kehormatan keluarga Yang Mulia!" jawab Qian yang langsung mengerti makna dari perkataan ayahnya sekali menyampaikan tekadnya yang akan melindungi nama kehormatan keluarganya.
"Pemuda yang cerdas dan sangat baik! Aku yakin kamu pasti memiliki orang tua yang sangat hebat, beruntung sekali mereka!" kata Raja Song sembari tertawa puas atas sikap yang di tunjukkan Qian.
Qian hanya tersenyum mendengarnya, hatinya ingin tertawa mendengar pujian dari ayahnya sendiri, hanya saat ini dia baru tahu sifat ayahnya yang memang sangat penyayang, baik hati dan tidak memandang status rendah orang lain walaupun dia itu berstatus sebagai raja.
Xihua segera melambaikan tangan memanggil Qian untuk segera datang ke sebelahnya, dan Qian sama sekali tidak menolak itu. Dia berjalan pelan menghampiri ketiga saudarinya itu seraya menyapu semua orang yang hadir dengan matanya, dia mencari keberadaan Huan Gong dan Fa Lio Bai, namun dia sama sekali tidak melihat mereka.
__ADS_1
Yang belum di ketahui oleh Qian, seorang Pengawal Pribadi Keluarga Raja adalah seorang yang memiliki tugas untuk menjadi pelindung dalam bayangan, mereka tidak harus menampakkan diri di muka umum, kecuali Raja berada dalam bahaya, tugas semacam itu adalah tugas yang berat, semua itu terlepas seberapa kuat pelindung itu memiliki kemampuan, itu tergantung lawan yang akan dia hadapi, adapun itu tidak akan berpengaruh besar, mengingat Fa Lio Bai adalah seorang Pendekar Jiwa Ahli, tentu kemampuan bertarungnya tidak diragukan lagi, namun jika sampai ada orang yang memiliki kemampuan lebih tinggi dari itu ingin mencelakai Raja, Fa Lio Bai tetap harus melindunginya walau nyawanya sendiri yang akan menjadi taruhannya.
Kedua alis Lie Hua dan Xi Yifei di rajut menjadi satu saat melihat Qian, tidak hanya tatapan matanya yang terlihat mirip seperti ayah mereka, bahkan cara berjalannya sedikit mirip.
"Qian, ini adalah kakak pertamaku Song Lie Hua, dan yang ini kakak kedua Song Xi Yifei!" kata Xihua.
"Senang bisa mengenal kedua tuan putri Song!" ucap Qian dengan tersenyum hangat.
"Karena kamu adalah kekasih adik kecil kami, maka kamu harus memanggil kami saudara juga, bukankah begitu?" kata Xi Yifei lalu melemparkan pandangannya kepada Lie Hua.
"Iya tidak masalah Lie Hua Jiejie, Xi Yifei Jiejie!" jawab Qian lalu kembali berbicara dalam hatinya, "Memang seharusnya aku memanggil kalian berdua kakak," batinnya.
"Iya sudah, silahkan duduk, tidak enak dilihat banyak orang," kata Xihua yang tidak mau terus digoda oleh kedua kakaknya itu.
Qian tersenyum lalu dia berjalan secara acak berdiri di samping salah satu pria tua yang berdiri di barisan ketiga sembari tersenyum ramah kepada pria itu.
"Entah mengapa aku merasakan sesuatu pada diri pemuda itu, ini seperti sebuah ikatan rumit yang terhubung!" batin Lie Hua dan Xi Yifei juga memiliki pemikiran yang sama.
"Ke ke.. Anak muda, kamu benar-benar beruntung bisa menarik hati Tuan Putri Xihua! Namaku Cheng Wu, salah satu dari empat Perdana Mentri di bidang Pertanian," kata pria di samping Qian.
"Cheng Wu Tua, saya Lin Qian, suatu kehormatan bisa berkenalan dengan Cheng Wu Tua!" sapa Qian dengan hormat.
"Hahaha…! Benar-benar pemuda yang sangat sopan," kata Cheng Wu seraya terkekeh lalu dia mengenalkan pria tua gemuk berbaju biru yang terlihat tanpa acuh di sebelah Qian. "Di sebelahmu itu adalah Menteri perpajakan, namanya adalah Chu Wei Xha."
Alis sebelah Qian terangkat melihat wajah yang terlihat tidak peduli itu, dari namanya sangat jelas jika pria tua itu seharusnya adalah kepala keluarga utama Keluarga Chu yang sempat memiliki konflik dengannya beberapa hari yang lalu di Penginapan Tali Emas tepatnya di Desa Woizhi, melihat sikapnya itu Qian langsung memahami jika tindakan arogan Chu Yang dan Chu Hao adalah sifat asli seluruh Keluarga Chu, walau dia menyimpan sedikit dendam, Qian tetap berusaha menyapanya dengan ramah, "Salam kenal Tuan Chu Wei Xha Tua," kata Qian yang hanya mendapatkan lirikan sinis penuh keangkuhan dari Chu Wei Xha.
Qian hanya tersenyum tipis menanggapinya, dia sadar jika Chu Wei Xha menganggap dirinya tidak lebih dari tikus gelandangan seperti yang pernah di ucapkan oleh Chu Yang saat itu, dengan menahan sedikit kekesalan, Qian hanya berusaha bersabar, karena saat ini dia hanya memusatkan perhatian melihat keluarganya, hari ini keinginan Qian untuk bertemu dengan sang Ayah sudah terwujud.
Beberapa orang ada yang saling berbincang-bincang untuk mengusir rasa kebosanan, aula istana sedikit bising karena obrolan mereka masing-masing sebelum akhirnya kebisingan itu di hilangkan setelah terdengar suara seruan dari luar.
__ADS_1
"Mereka telah datang..!"
Seruan itu membuat kebisingan langsung menjadi sunyi seketika, sedangkan Raja Song bergumam pelan, "Akhirnya datang juga! Semoga pertemuan ini bisa berakhir dengan baik," gumam Raja Song dengan sedikit gelisah dan menoleh ke arah Lie Hua yang terlihat sudah tidak begitu peduli dengan semua itu, hal itu membuat Raja Song tersenyum pahit.