PANGERAN PENDEKAR NAGA

PANGERAN PENDEKAR NAGA
Mempermalukan Keluarga Chu


__ADS_3

***


Aksi Qian melawan para pendekar Pedang Hitam mulai menyebar dengan cepat, tentu saja yang menyebarkannya kabar itu dengan cepat keluar adalah dari para prajurit, terutama para Prajurit Song yang melihat langsung pertarungan tersebut. Kabar yang tersebar seperti hembusan angin yang menyebar hingga ke tempat-tempat perguruan yang ada di Wilayah Song.


Di saat semua orang masih membicarakan nama sosok sang Pemuda Jenius itu, Qian sendiri sedang duduk di kamarnya dengan ditemani oleh Tabib Li Xhiang yang memeriksa kondisinya. Qian tidak menyadari jika di luar namanya di luar menjadi bahan perbincangan semua orang sehingga dia tetap santai sembari mengobati luka-lukanya serta mengembalikan kondisinya.


"Anda memiliki tubuh yang kuat, jika orang biasa, mungkin tidak akan mampu bertahan setelah mengalami beberapa urat syaraf yang terputus, tetapi anda justru mampu bertahan, ini benar-benar sangat tidak masuk akal!" kata Tabib Li Xhiang.


"Apakah Kakak Qian akan cepat pulih Tabib Li?" tanya Xihua.


"Tuan Putri tidak perlu khawatir!" jawab Li Xhiang dengan tersenyum hangat.


"Hei..! Jangan meremehkan saudaraku ini," kata Fa Xian seraya merangkul Qian sembari tertawa.


"Kakak Fa Xian, hati-hati!" kata Fa Xeiyin yang takut Qian akan kesakitan karena rangkulan Fa Xian.


"Tuan Putri, Yang Mulia meminta Tuan Putri dan Tuan Muda Qian untuk datang ke Aula Utama!" kata seorang pelayan wanita paruh baya yang berdiri di pintu kamar seraya membungkukkan badan.


"Apa kamu tidak melihat Kakak Qian masih dalam perawatan?" bentak Xihua dengan kesal.


"Maafkan hamba Tuan Putri, hamba hanya menjalankan perintah!" kata Pelayan tersebut yang ketakutan.


"Ayah ini..!" 


Xihua yang marah berniat untuk pergi ke Aula Utama, namun Qian segera menghentikannya. "Xihua, tidak apa-apa! Ayo kita kesana saja," kata Qian lalu dia menoleh ke arah Fa Xian dan Fa Xeiyin. "Kalian berdua juga ikut dengan kami saja ke Aula Utama," ajak Qian.


"Kalau begitu saya akan mempersiapkan beberapa obat untuk anda," ucap Li Xhiang.

__ADS_1


"Terima kasih Tabib Li, kalau begitu kami ke Aula dulu," kata Qian lalu dia bersama dengan Xihua dan Fa Xeiyin serta Fa Xian pergi secara bersamaan ke Aula Istana.


Di Aula utama Istana sudah ada Raja Song, Pangeran Han Li Guo dan kedua Panglimanya, Panglima Huan Gong dan Lian Bai, Fa Lio Bai, beberapa menteri dan kedua Selir Raja yang berada sedikit jauh dari singgasana.


Raja Song tersenyum melihat kedatangan Qian dan Xihua, walau dia tidak melihat pertarungan Qian, namun dia sudah mendengar sendiri akan sepak terjang pemuda tersebut.


"Ayah, kenapa ayah memanggil Kakak Qian? Dia itu perlu istirahat," kata Xihua yang langsung protes.


"Xihua, jangan bicara seperti itu kepada Ayahmu!" Lio Xiayi menegur Xihua karena dia tidak ingin putrinya berbicara kasar kepada ayahnya di depan banyak orang.


Xihua mengabaikan perkataan ibunya yang membuat Lio Xiayi hanya menggelengkan kepalanya, sedangkan di sampingnya Yie Ling Yi memperhatikan Qian yang hanya berdiri diam, dia tentu masih ingat dengan pemuda tersebut, pemuda yang sempat menguping pembicaraannya bersama Liu Sheng.


"Benar-benar tidak berguna! Mengurus pemuda itu saja mereka tidak bisa," batin Yie Ling Yi seraya menatap Qian dengan tatapan tajam.


"Hahaha..! Tidak apa-apa, aku rasa seorang Pendekar itu pasti memiliki fisik yang kuat, walau aku bukan seorang pendekar, namun aku mengetahui sedikit mengenai tubuh seorang Pendekar," kata Raja Song yang tertawa lepas sebelum akhirnya dia berjalan turun menghampiri Qian seraya berkata, "Aku sangat bangga padamu! Di usia semuda ini kamu memiliki kemampuan yang sangat besar, aku yakin kelak di masa depan kamu akan menjadi seorang yang hebat," kata Song Guo Li.


"Paduka terlalu memuji hamba, semua ini hanyalah keberuntungan hamba Paduka," kata Qian.


"Pedang Naga Api? Owh pedang itu! Pedang itu adalah pemberian kakek ku," jawab Qian, namun bukan berarti dia tidak tahu akan alasan Han Li Guo menanyakan Pedang tersebut.


Tentunya Qian tidak akan lupa jika Pedang Naga Api sebenarnya berasal dari Kekaisaran Han, pastinya sebagian besar orang-orang di kekaisaran Han mengetahui akan Pedangnya itu.


"Siapa nama kakekmu?" tanya Panglima Meng Yuan Chi.


"Feng Feng, sedangkan nenekku bernama Yuwen," jawab Qian.


"Feng Feng dan Yuwen..!?"

__ADS_1


Meng Yuan Chi, Ling Quan dan Han Li Guo saling berpandangan, mereka bertiga sama sekali tidak mengenal seorang pendekar bernama Feng Feng dan Yuwen di Wilayah Han, karena itulah mereka kebingungan karena belum pernah mendengar kedua nama tersebut.


"Maaf Panglima Meng! Memangnya kenapa dengan Pedang itu?" tanya Lian Bai.


Meng Yuan Chi menatap Qian sesaat lalu dia menjawab pertanyaan Lian Bai, "Itu adalah Pedang Naga Api milik sang legenda Xio Lang, dia juga memiliki nama julukan Pendekar Naga Langit! Aku rasa kamu pasti mengetahui hal itu adik kecil? Tidak mungkin kamu tidak mengetahui pemilik asli Pedang itu," kata Meng Yuan Chi.


"Saya sudah tahu itu karena kakek sudah menceritakan semuanya," jawab Qian.


Mendengar jawaban Qian, mereka bertiga yakin jika orang yang bernama Feng Feng dan Yuwen kemungkinan besar adalah Pendekar Gui Shan dan Istrinya Sui Xien, sepasang pendekar dari Perguruan Naga Langit yang sudah hancur, dan sepasang Pendekar itu juga pernah menggemparkan Kekaisaran Han karena menghancurkan Perguruan besar Pedang Darah hanya berdua saja, namun setelah itu sepasang Pendekar itu menghilang tanpa jejak.


"Feng Feng, Yuwen!" Meng Yuan Chi hanya tersenyum tipis seraya menggelengkan kepala.


"Qian, apakah kamu mau menjadi Pengawal Pribadi Keluarga kami?" tanya Song Guo Li.


Qian terkejut mendengarnya, dia melirik Xihua yang mengangguk-anggukkan kepalanya yang mengisyaratkan agar Qian setuju, namun Qian belum memiliki rencana untuk tetap tinggal di istana, bagaimanapun juga dia harus berlatih dan mencari tahu akan kekuatan dari tanda lahir di pundaknya.


"Maafkan hamba Paduka, bukannya hamba tidak senang atas tawaran Paduka Raja, hanya saja hamba masih harus berlatih agar semakin kuat! Sekali lagi hamba minta maaf!" ucap Qian.


"Berani sekali kamu menolak tawaran Yang Mulia! Memangnya siapa kamu?" Perdana Menteri Chu Wei Xha membentak Qian.


"Tuan Chu Wei Xha Tua! Saya tidak bermaksud untuk menolak tawaran Yang Mulia! Ah sudahlah, anda ini hanyalah seorang Perdana Menteri yang tidak mengetahui apapun tentang kebutuhan seorang Pendekar, jika anda tidak mengerti, sebaiknya anda tidak perlu ikut campur urusan orang lain, urus saja pekerjaan anda sendiri! Owh iya ada lagi, sebaiknya anda urus putra anda yang sering berkeliaran dengan angkuh di luar sana," jawab Qian yang akhirnya tidak mau lagi berbicara sopan kepada Chu Wei Xha.


"Kamu…!" 


Chu Wei Xha yang merasa dipermalukan menatap Qian dengan marah, sedangkan Qian hanya tersenyum tipis lalu mengabaikan tatapan marah Chu Wei Xha. Tentu Qian melakukannya dengan sengaja, karena dia sangat membencinya, Qian benar-benar ingin mempermalukan Keluarga Chu, sebab Qian benar-benar tidak menyukai sikap orang tua itu, apalagi dia memang memiliki kesan buruk terhadap anak Sang Perdana Menteri tersebut.


Cheng Wu hanya tertawa kecil melihat Chu Wei Xha yang di permalukan, tidak hanya Cheng Wu, bahkan beberapa Perdana Menteri juga ingin tertawa, namun mereka menahannya.

__ADS_1


Chu Wei Xha semakin kesal karena Cheng Wu menertawakannya, dia menatap Qian dengan nafsu membunuh, namun saat dia menatap pemuda itu dengan tajam, tiba-tiba saja dia merasakan hawa dingin, saat dia menoleh ke arah Xihua, ternyata Xihua sudah menatapnya dengan sangat dingin yang membuat Chu Wei Xha hanya bisa menahan amarahnya di bawah tatapan Xihua.


"Karena kamu berani mempermalukan ku, maka kamu harus menerima akibatnya, tunggu saja pembalasan dariku!" batin Chu Wei Xha seraya mengepalkan kedua tangannya dengan erat.


__ADS_2