
"Kalian sebaiknya beristirahat dulu untuk memulihkan tenaga kalian! Aku harus pergi membantu Yui Lin mengatur persiapan," kata Lian Bai seraya bangkit.
Qian dan Yu Lang serta yang lainnya bangkit seraya menangkupkan tangan mereka, dan Lian Bai segera meninggalkan tenda Li Xhiang.
Li Xhiang mengajak Yu Lang dan ketiga saudaranya ke salah satu tenda lainnya agar beristirahat, sedangkan Qian yang sendirian di dalam tenda Li Xhiang mengeluarkan banyak tanaman obat serta Pil milik Li Xhiang dari dalam cincin nya, saat Li Xhiang kembali ke tendanya, dia terperangah melihat begitu banyak Tanaman obat di hadapan Qian.
"Ini semua tanaman Obat milik Tabib, ada beberapa Pil dan obat-obatan lainnya yang aku ambil dari rak, mudah-mudahan semua ini bisa membantu para Prajurit yang terluka," kata Qian seraya tersenyum lebar kepada Li Xhiang yang membeku.
Li Xhiang sedikit bingung bagaimana cara Qian membawa barang sebanyak itu, padahal saat datang, Li Xhiang tidak melihat Qian membawa barang apapun di tangannya. Li Xhiang mungkin mengesampingkan hal itu, yang ada di pikirannya saat ini adalah Tanaman Obat berbagai jenis yang begitu banyak itu, jelas sekali jika Qian telah memanen seluruh tanaman obat miliknya.
"Apakah.. apakah Pangeran menggunduli kebun obat saya?" tanya Li Xhiang dengan cemas.
Qian tersenyum canggung melihat ekspresi Li Xhiang, dia menghela nafas panjang seraya berkata, "Mana mungkin aku melakukan itu Tabib Li! Aku tahu jika harta paling berharga milik Tabib Li adalah kebun obat itu, jadi saya tidak mungkin mengambil semuanya, masih ada sedikit yang aku sisakan!" jawab Qian yang membuat Li Xhiang hampir muntah darah setelah mendengarnya.
Li Xhiang hanya bisa mengutuk dalam hatinya, andai Qian bukan putra Song Guo Li, Li Xhiang pasti sudah memarahinya. Li Xhiang hanya bisa pasrah atas perbuatan Qian yang membuat dirinya bangkrut, namun disisi lain bahan-bahan yang dibawa Qian juga bermanfaat, itu karena obat-obatan yang Li Xhiang bawa sendiri memang cukup untuk mengobati banyak prajurit, bisa dibilang obat-obatan yang Qian bawa sangat membantunya, walau Li Xhiang masih bingung akan bagaimana cara Qian membawa barang yang banyaknya hampir setengah kereta.
"Pangeran bisa istirahat disini saja, saya masih harus pergi membantu tabib yang lainnya," kata Li Xhiang yang hanya di jawab dengan anggukan oleh Qian setelah itu Li Xhiang keluar dengan kerutan wajah yang terlihat lebih tua.
Qian hanya beristirahat sekitar dua jam saja, dia merasa tidak tenang kemudian pergi menuju ke tempat para Prajurit di rawat. Qian hanya bisa diam dengan perasaan tenggelam saat melihat para ratusan prajurit yang terluka, suara rintihan dan tangis kesakitan membuat hati siapapun yang mendengarnya akan ikut terasa sakit. Berbagai jenis luka para prajurit di sepanjang mata memandang menjadi pemandangan yang menyakitkan, ada yang kehilangan satu tangan, ada yang kehilangan kaki, ada juga yang tubuhnya masih tertancap oleh anak panah, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Qian melihat para Tabib yang salah satunya adalah Li Xhiang benar-benar disibukkan dengan para prajurit yang cidera, jumlah mereka terlalu banyak sehingga Qian ikut membantu para Tabib.
"Kenapa anda berada disini? Sebaiknya anda istirahat dan biarkan kami para tabib yang melakukannya," kata Li Xhiang.
"Tidak apa-apa Tabib Li, aku hanya ingin sedikit membantumu," jawab Qian.
Li Xhiang tidak bisa berkata apa-apa lagi, dia membiarkan Qian membantunya dengan kemampuan yang Qian kuasai. Walau dalam kemampuan medis Qian masih belum sehebat Tabib Li Xhiang, setidaknya dia bisa memberikan sedikit bantuan.
"Andai aku tahu seperti ini, aku pasti akan membuat Pil Giok Darah sebanyak mungkin!" batin Qian.
Saat ini Qian memang memiliki sekitar tiga puluh butir Pil Giok Darah, Qian hanya mengeluarkan sepuluh butir saja untuk membantu para prajurit yang mengalami luka paling parah, sedangkan dua puluh Pil yang tersisa untuk dirinya nanti saat sudah berperang.
"Sebanyak tujuh ratus para prajurit yang terluka, dan yang gugur lebih dari empat ratus, belum lagi yang mengalami luka ringan! Hampir sebagian para prajurit yang gugur adalah rakyat biasa yang tidak memiliki keahlian apapun. Saat ini kita memiliki prajurit sebanyak tujuh ribu yang tersisa, menurut kabar, Panglima Huan Gong sedang dalam perjalanan ke tempat ini dengan membawa lima ribu prajurit," kata Li Xhiang.
__ADS_1
"Apakah para Prajurit yang dibawa Panglima Huan Gong juga rakyat biasa?" tanya Qian yang di jawab dengan anggukan oleh Li Xhiang.
Qian tidak bisa berkata apa-apa lagi setelah mengetahui hal itu, dia saat ini tidak bisa berbuat apa-apa, menurutnya ayah nya sekalipun pasti tidak memiliki jalan keluar atas situasi yang seperti ini.
"Tabib Li, sekuat apa para pendekar di pihak kita?" tanya Qian.
"Kita memiliki lebih dari tiga ratus Pendekar Jiwa Petarung, Seratus Jiwa Ahli, dan Tiga Puluh Jiwa Raja!" kata Li Xhiang.
"Hanya sebanyak itu?"
"Pangeran, para Perguruan aliran Putih dan Netral telah berusaha memberikan kontribusi mereka! Lagi pula mereka tidak mungkin mengirimkan seluruh pakar yang dimiliki oleh seluruh perguruan," jawab Li Xhiang.
"Apakah pihak musuh juga memiliki jumlah pendekar yang sama banyaknya?"
Li Xhiang hanya tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, dia menjelaskan jika para pendekar di pihak pasukan Qin tiga kali lebih banyak dari pada di pihaknya, belum lagi ada informasi jika masih ada sekitar tujuh Pendekar Jiwa Kaisar yang belum menampakkan diri.
"Benarkah? Sebenarnya mereka mendapatkan dukungan para pendekar itu dari mana saja?" gumam Qian yang mulai merasa sakit kepala.
"Kita juga memilikinya, namun kita hanya memiliki empat Pendekar Jiwa Kaisar saja!" jawab Li Xhiang.
Qian hanya bisa meringkuk bibirnya mendengar jawaban Li Xhiang, setelah selesai mengobati satu prajurit, Qian mencuci tangannya lalu dia memperhatikan Li Xhiang seraya bertanya, "Aura Tabib ini seharusnya berada di Awal Jiwa Kaisar bukan?" tanya Qian.
"Anda terlalu berlebihan! Saya sendiri sebenarnya juga ingin segera naik ke Kelas itu, namun pada kenyataannya, saya hanya berada di Puncak Jiwa Raja, dan selama lima tahun ini, saya belum bisa berhasil naik," jawab Li Xhiang.
"Owh..!"
Qian tidak lagi banyak bertanya kepada Li Xhiang, dia berpikir semakin banyak bertanya akan semakin membuatnya sakit kepala, setidaknya dia sudah mengetahui sedikit kekuatan yang dimiliki di pihaknya, walau jumlah kekuatan yang dimiliki hanya memiliki peluang kemenangan tiga dari sepuluh, setidaknya masih ada tembok benteng yang tidak mudah untuk ditembus oleh pasukan musuh.
"Andai saja ada satu saja Pendekar Legenda di pihakku, mungkin para pasukan musuh yang begitu banyak tidak terlalu mengkhawatirkan!" batin Qian.
Pendekar Legenda yang Qian maksud adalah Pendekar Jiwa Pertapa, di kabarkan Pendekar Jiwa Pertapa tidak hanya memiliki ilmu beladiri yang sangat tinggi, bahkan bisa mengubah perubahan energi, tentu saja Tenaga Dalam seorang Pendekar Jiwa Pertapa sangatlah banyak, walau belum di ketahui seberapa banyak jumlah Pusaran Tenaga Dalam yang dimiliki oleh Pendekar Jiwa Pertapa, namun dikatakan jika seorang Pendekar Jiwa Pertapa mampu berdiri di atas selembar daun yang terbang di udara.
Di Wilayah Song sendiri, jumlah Pendekar Jiwa Pertapa masih bisa dihitung dengan satu tangan saja, karena keahlian yang dimilikinya sangat besar, sangatlah wajar jika Pendekar Jiwa Pertapa jarang menampakkan diri, bisa dikatakan Pendekar seperti itu adalah kekuatan di puncak tertinggi di dunia persilatan.
__ADS_1
Saat sudah sore, Qian ingin berjalan keluar seraya beristirahat setelah hampir setengah hari membantu Li Xhiang mengobati para prajurit yang terluka, dia melihat pagar tembok yang menjulang tinggi dan panjang dengan memperkirakan ketinggiannya yang kurang lebih mencapai 10 meter. Dengan tembok setinggi itu, seorang Pendekar Jiwa Raja sekalipun tidak akan dengan mudah melompatinya, sekalipun mereka mampu, mereka pasti akan di sambut dengan hujan panah sebelum tubuh mereka mencapai ke atas tembok.
"Benar-benar layak untuk di pertahankan sebagai perbatasan!" gumam Qian kemudian dia ingin berbalik, namun tiba-tiba saja suara lonceng peringatan dari salah satu menara pengawas berbunyi.
Qian yang tidak mengerti hanya melihat ke salah satu puncak menara yang tinggi sebelum akhirnya banyak para prajurit yang mengambil alat-alat perlengkapan mereka dan bergerak ke satu arah yang sama.
"Tabib Li, itu suara untuk apa?" tanya Qian tiba di sampingnya dengan wajah serius.
"Itu adalah lonceng peringatan jika pasukan musuh mulai bergerak!" jawab Li Xhiang.
Qian terkejut mendengarnya, dia melihat para prajurit yang mengalami luka ringan dan masih memiliki kemampuan untuk berperang mengambil senjata mereka, terlihat mereka yang memaksakan diri untuk berperang.
"Ayo kita ke atas tembok!" ajak Li Xhiang.
Qian mengikuti Li Xhiang pergi ke atas tembok, setibanya dia disana, Qian melihat banyak sekali para pendekar dari berbagai perguruan yang sudah berada disana, raut wajah mereka terlihat sangat serius, dan mereka semua fokus menatap ke satu arah.
Qian menyipitkan matanya melihat ke arah tanah lapang yang masih menyisakan bekas-bekas sisa perang, dia melihat debu dari ujung tanah yang luas itu, debu tersebut mirip seperti badai yang bergerak secara perlahan menunju ke arahnya.
"Tabib Li! Sepertinya kali ini Pihak lawan mengerahkan sekitar lima belas ribu prajurit, ini benar-benar kekuatan sangat besar," kata salah satu pendekar yang seumuran dengan Li Xhiang.
Li Xhiang hanya menghela nafas panjang mendengarnya, sedangkan Qian menahan nafasnya setelah mendengar banyaknya prajurit musuh yang akan datang.
"Kita amati dulu situasinya, jika kita mampu, usahakan untuk tetap bertahan hingga bantuan dari Panglima Huan Gong tiba, sebelum itu aku minta padamu untuk jangan dulu mengerahkan para pendekar," kata Li Xhiang.
"Baiklah aku mengerti! Hanya saja apakah kita sanggup bertahan?" tanya Pendekar tersebut.
"Jika kita tidak gegabah, seharusnya kita bisa! Aku percayakan semua urusan pengaturan para pendekar padamu Saudara Tie, kita tidak bisa membebankan semua ini kepada Panglima Lian Bai!" kata Li Xhiang.
Pendekar tersebut mengangguk, dia bernama Tie Hu Jia, salah satu Pendekar Menengah Jiwa Raja dari perguruan Pedang Emas, sedangkan di belakang ada seorang pria paruh baya yang mengikuti Tie Hu Jia, dia adalah Hao Chen yang pernah ikut membantu menyelamatkan istana saat penyerangan 17 tahun yang lalu.
"Sepertinya aku tidak akan bisa pernah beristirahat!" gumam Li Xhiang dengan tersenyum pahit, dia melirik Qian yang masih membeku menatap ke arah sekumpulan debu yang semakin mendekat, Li Xhiang memahami akan apa yang Qian rasakan saat ini, dia menepuk pundak Qian seraya berkata, "Seperti inilah situasinya Pangeran, saya harap Pangeran mampu bertahan saat perang telah di mulai!" kata Li Xhiang.
Qian hanya bisa menahan tubuhnya agar tidak terus gemetar, jujur saja dia akui, sejak dirinya turun Gunung, baru kali ini dia akan mengikuti perang sebesar itu, Perang Besar yang belum di ketahui akan siapa pemenangnya, dan Qian tidak yakin apakah dia mampu bertahan atau tidak.
__ADS_1