PANGERAN PENDEKAR NAGA

PANGERAN PENDEKAR NAGA
Merasakan efek Pedang


__ADS_3

"Huff…! Betapa tak terduga di hari pertama aku bekerja sudah harus menghadapi kekacauan besar seperti ini," gumam Fa Lio Bai seraya menatap ketiga Pendekar Jiwa Ahli di hadapannya.


Qian hanya tersenyum pahit, dia juga tahu sejak awal jika hal ini tetap akan terjadi, penyambutan di hari pertama dirinya tiba di rumah sungguh di luar dugaan, dia hanya menarik nafas dalam-dalam seraya melirik ke arah Xihua yang dibantu oleh Ling Quan menghadapi anggota Pedang Hitam yang berdatangan.


"Xeiyin, kamu lindungi Yang Mulia, cari tempat yang lebih aman sekaligus membawa para Tuan Putri pergi ke dalam!" kata Fa Lio Bai.


"Baik ayah!"


Xeiyin bergegas pergi membawa Raja Song bersama Lie Hua dan Xi Yifei, mereka berempat segera pergi ke sebuah pintu yang di mana sudah ada Luan Xui dan belasan prajurit yang melindungi tempat itu sekarang, dan kondisi tempat itu saat ini masih terlihat aman.


"Dua Pendekar Puncak Jiwa Ahli dan satu Pendekar Awal Jiwa Ahli, ini benar-benar berat!" gumam Fa Lio Bai tanpa daya.


"Qian, bisakah kamu mengaktifkan kekuatan misterius mu saat ini?" tanya Fa Xian.


Qian terdiam sejenak sembari memperhatikan kekacauan yang sedang terjadi, saat ini masih ada sosok-sosok yang berdatangan dari luar, mungkin jika semuanya dikumpulkan saat ini harusnya ada puluhan sosok dengan kemampuan yang berbeda-beda, masalahnya ada beberapa sosok anggota Racun Kalajengking yang membawa busur panah. Karena banyak prajurit pertahanan yang sudah di lumpuhkan oleh anggota Racun Kalajengking, dengan kemampuan mereka dalam hal racun, tentu sangat sulit bagi para prajurit untuk melawannya.


"Pedang Naga Api ini terlalu menyulitkan ku, tanpa kekuatan itu, mustahil bagiku untuk bisa melakukannya, tapi akan aku coba membukanya dengan darahku, mungkin itu akan berhasil," batin Qian.


Melihat Qian yang tiba-tiba saja mengigit ibu jarinya hingga terluka dan memasukkan kedalam pakaian di dalam bahunya membuat ketiga Pendekar Raja itu hanya tersenyum mengejek. "Membuang-buang waktu saja. Bunuh mereka bertiga!" seru salah satu Pendekar Jiwa Ahli.


Ekspresi Ayah dan anak langsung berubah dingin melihat ketiga Pendekar Raja itu maju secara bersamaan, keduanya terpaksa maju melawan Tiga Pendekar Jiwa Ahli sekaligus.


Fa Lio Bai dengan gesit memutar tongkatnya melepaskan serangan pukulan yang cukup kuat, namun serangannya mampu ditahan oleh salah satu Pendekar Puncak Jiwa Ahli dengan pedangnya dan disusul serangan dari rekannya. Fa Lio Bai bukan orang yang baru melawan musuh dua orang sekaligus yang memiliki kemampuan yang sama, dengan bermodalkan banyak pengalaman bertarungnya, Fa Lio Bai mampu menahan setiap serangan kedua lawannya, hanya saja sangat sulit untuk bagi Fa Lio Bai untuk mendaratkan serangannya.


Fa Xian yang berhadapan dengan Seorang Pendekar Awal Jiwa Ahli sangat sulit untuk mengimbangi lawannya, tidak hanya tingkat kemampuannya yang berbeda, bahkan serangan lawannya jauh lebih cepat, gesit, dan juga kuat.


"Jurus Pedang Bulan Suci."


Fa Xian melompat ke udara dan melepaskan serangan pedang berputar ke arah lawannya, sayangnya serangan kuat Fa Xian ditahan dan justru terkena serangan balasan dari lawannya. Sabetan pedang dengan kecepatan kilat segera mengenai paha Fa Xian serta dia mendapatkan satu tendangan saat tubuhnya masih berada di udara, tendangan itu membuat Fa Xian terhempas dan jatuh meringkuk dengan rasa sakit di perut dan paha yang terluka.

__ADS_1


"Xian..!"


Fa Lio Bai terkejut, namun saat akan menghampiri Fa Xian, sebuah serangan pedang hampir saja mengenai lehernya, untungnya Fa Lio Bai dengan cepat menghindarinya, sayangnya dari arah belakang satu serangan sudah menyusup.


Raut wajah Fa Lio Bai benar-benar sangat tenggelam, dia memiringkan tubuhnya hingga pedang itu hanya menggores sedikit bajunya, dengan demikian bisa terlihat jika kemampuan kedua lawannya benar-benar sangat sulit untuk dihadapi seorang diri.


"Ayah, aku baik-baik saja. Fokus saja terhadap mereka," kata Fa Xian yang baru saja bangkit dengan menahan rasa sakit.


"Anak yang tangguh, sosok pemuda seperti mu mungkin akan menjadi seorang pendekar hebat kelak di masa depan, tapi sayang kamu hanya bisa hidup hari ini saja, karena nyawamu sudah ada di ujung pedangku," kata Pendekar tersebut dengan tersenyum tipis kemudian dia menarik pedangnya ke belakang seraya berkata, " Matilah..!" serunya seraya bergerak maju dengan mengayunkan pedangnya.


Fa Lio Bai jelas panik melihat Fa Xian yang masih belum pulih sudah mendapatkan serangan pendekar tersebut, sayangnya dia juga tidak bisa melindunginya karena dua lawannya sama sekali tidak memberikannya kesempatan.


"Pengecut, beraninya kamu ingin membunuh generasi muda..!" kata Fa Lio Bai dengan penuh amarah, namun tangisan marahnya sama sekali tidak di pedulikan oleh pendekar yang akan segera membunuh Fa Xian.


Fa Xian hanya tersenyum pahit, dia tahu jika dirinya bukanlah lawan Pendekar di hadapannya, namun dia sudah berusaha menahannya sebisa mungkin, walau demikian tidak terlihat rasa takut sedikitpun dari wajah Fa Xian.


Serangan Pendekar itu yang hampir sampai ke kepala Fa Xian tiba-tiba saja terhenti, matanya berputar dan melihat seorang pemuda berpakaian biru dengan pedang merah panas sudah menancapkan ujung pedang panas nya ke perut Pendekar itu.


"Argh…!"


Rasa sakit dan panas segera menyerang ke sekujur tubuh Pendekar itu, dia mengerang kesakitan dengan berjalan mundur serta pedang yang sudah terlepas dari genggamannya, dia benar-benar tidak merasakan gerakan Pemuda berpakaian biru itu sebelumnya sehingga dia tidak merasakan tanda bahaya apapun.


"Qian, akhirnya kamu bisa menggunakannya," kata Fa Xian yang merasa senang.


Sebuah garis merah menyala di pergelangan tangan Qian berkedip-kedip dengan melepaskan sedikit hawa panas, aura Kematian sedikit gelap juga menyelimuti tubuh Qian, di tambah dengan Pedang sedikit merah menyala yang memiliki aura kuat serta hawa panas membuat Fa Xian berkeringat karena kepanasan.


"Ini hanya sementara saja, tapi aku merasa memiliki banyak Tenaga Dalam dan tidak akan membuang-buang kesempatan ini," kata Qian seraya memperhatikan pedangnya lalu dia menatap ke arah Pendekar yang hampir membunuh Fa Xian seraya berkata, "Serahkan dia padaku," kata Qian setelah itu dia menyeret pedangnya dan segera berlari menyerang Pendekar yang sudah dia lukai.


"Tebasan Lidah Naga Api!"

__ADS_1


Walau Qian belum pernah memperagakan jurus Pedang Naga, namun di setiap malam dia sudah sering membacanya sehingga dia tahu sedikit gerakannya, saat ini Qian yakin akan bisa menggunakan satu atau dua lebih jurus Pernah Naga dengan bantuan dari Tanda Lahir nya, tentu saja Tenaga Dalam nya tidak akan dengan cepat diserap.


Raut wajah Pendekar itu tenggelam melihat aura gelap serta merasakan hawa panas dari Qian, dia berusaha menahan rasa panas di perutnya dan mengambil pedangnya yang terjatuh, begitu serangan Tebasan Qian sudah sangat dekat, Pendekar itu dengan cepat menahan serangan tebasan Qian dengan pedangnya.


Suara benturan pedang dengan suara besi pecah segera terdengar, Pedang Pendekar itu langsung patah sedangkan Pedang Qian langsung jatuh mengenai bahunya hingga Pedang itu tenggelam sangat dalam memotong sebagian tulang rusuknya.


Pendekar itu tidak bisa berbicara apapun, dia hanya menatap pedang merah yang masih berada di tubuhnya dengan tatapan tidak percaya, matanya sedikit sayup sebelum akhirnya jiwanya sirna dan kehidupannya benar-benar menghilang.


Qian menarik pedangnya keluar dari dalam tubuh Pendekar itu yang sudah tidak bernyawa, Qian mengayunkan Pedangnya setelah keluar dari tubuh Pendekar itu dan darah segera berceceran seperti Pedang yang baru habis di siram dengan air, bahkan ada sedikit asap dan bau darah matang dari Pedang merah itu, setelah itu tubuh Pendekar itu jatuh dengan mata masih setengah terbuka.


Kejadian itu jelas mengejutkan banyak orang, bahkan kedua Pendekar yang sedang berhadapan dengan Fa Lio Bai juga terkejut dan juga tidak menyangka melihat rekannya yang merupakan seorang Pendekar Awal Jiwa Raja harus meregang nyawa dengan satu serangan.


"Pedang itu?" Pangeran bergumam seraya memperhatikan Pedang di tangan Qian yang sudah mengambil nyawa Seorang Pendekar Awal Jiwa Ahli dengan sangat mudah.


"Hem..! Bukankah itu Pedang Naga Api? Kenapa Pedang itu bisa berada di tangan anak muda itu?" Meng Yuan Chi menyatakan pertanyaan terkejutnya dalam pikirannya.


"Benar-benar luar biasa, kemampuannya melambung tinggi hanya dengan kekuatan misteriusnya itu!" Fa Xian menatap punggung Qian dengan penuh kekaguman, dari penglihatannya, kemampuan Qian sudah setara dengan Puncak Jiwa Ahli.


Qian menekan kakinya kemudian dia melompat ke arah salah satu Pendekar Puncak Jiwa Ahli yang berhadapan dengan Fa Lio Bai, Pendekar itu terkejut setelah melihat Qian yang sangat cepat menyerang ke arahnya, dia buru-buru mengubah serangannya dan berputar menyambut serangan Qian seraya berseru, "Bocah, kamu benar-benar mencari kematian..!" serunya kemudian pedangnya sedikit bergetar dan logamnya berubah sedikit lebih gelap.


"Trank….!"


Suara benturan Pedang yang sangat nyaring menciptakan sedikit hembusan angin di sekitar mereka berdua, keduanya sama-sama terseret mundur beberapa langkah setelah beradu serangan Pedang. Mata Pendekar itu dipenuhi dengan banyak kejutan setelah selesai beradu pedang dengan Qian, pemuda itu sebelumnya jelas-jelas hanyalah seorang Pendekar Puncak Jiwa Petarung, entah mengapa kekuatan begitu besar sehingga mampu beradu serangan dengan dirinya yang merupakan seorang Pendekar Puncak Jiwa Ahli.


"Apakah pemuda ini sebelumnya menyembunyikan kekuatannya, bagaimana mungkin dia bisa mencapai Puncak Jiwa Ahli?" gumam Pendekar tersebut setelah berhasil menstabilkan tubuhnya.


Qian menahan getaran pedangnya setelah beradu Pedang dengan Pendekar di hadapannya, dia mulai merasakan Efek Pedang nya, dalam satu pertukaran saja, Qian sedikit memahami jika efek itu timbul saat dirinya beradu kekuatan dengan lawan yang sepadan, artinya semakin kuat lawannya, akan semakin besar efek yang akan dia terima, walau Qian tidak tahu efek apa nantinya yang akan dia terima, yang jelas itu bukan sesuatu yang baik.


"Aku benar-benar telah meremehkan mu bocah! Tidak kusangka di istana ini sudah memiliki bibit hebat seperti dirimu, jika kamu tetap dibiarkan hidup, kelak kamu akan menjadi ancaman bagi Pedang Hitam kami," kata Pendekar tersebut dengan pedang yang semakin menghitam.

__ADS_1


__ADS_2