PANGERAN PENDEKAR NAGA

PANGERAN PENDEKAR NAGA
Keberuntungan yang tidak terduga


__ADS_3

Qian buru-buru masuk ke dalam gudang dan segera meraih tangan Xihua, hal itu juga membuat Xihua terkejut setelah tangannya di pegang begitu saja oleh Qian. Pipi Xihua langsung memerah seperti buah tomat, namun sebelum dia terlarut begitu dalam, Qian sudah lebih dulu berbicara padanya.


"Kita harus segera keluar!" kata Qian dengan wajah yang sedikit panik.


Xihua langsung tersadar, namun masih ada sisa merah merona di pipinya, hanya saja dia segera menekannya setelah melihat raut wajah Qian yang sedikit serius. "Ada apa, kenapa kamu tiba-tiba terlihat serius?" tanya Xihua dengan sedikit menekan perasaannya saat melihat wajah Qian.


"Kita harus kembali ke Halaman! Sepertinya akan terjadi sesuatu, mungkin sejenis kekacauan. Sudahlah, ayo bergegas," kata Qian.


Xihua tidak banyak lagi bertanya, dia segera meraih beberapa kotak yang dia pilih dan menyimpannya di dalam pakaiannya sebelum akhirnya mengikuti Qian. Banyak pertanyaan di dalam pikiran Xihua, namun melihat ekspresi Qian, sepertinya pemuda di hadapannya itu telah melihat sesuatu yang tidak dia ketahui.


Qian tentu memikirkan keselamatan ayah dan kedua kakak perempuannya, walau Qian tidak sepenuhnya yakin apakah kemunculan sosok hitam yang mengendap-endap itu berniat membuat kerusuhan atau tidak. Andai hanya tiga orang saja, mungkin Qian tidak akan bertindak seperti itu, apalagi Qian merasakan ketiga sosok hitam itu yang merupakan para pendekar Jiwa Pemula Kelas 3, Qian pasti akan langsung mengejarnya, namun dia merasa ada lebih selusin sosok yang diam-diam bergerak.


Qian khawatir di antara mereka ada pendekar Jiwa Petarung atau mungkin Ahli, jika itu benar, maka ini akan menjadi kekacauan pertama untuk dirinya saat pertama kali tiba di Istana.


"Bukankah sudah kubilang kita akan membatalkan rencana ini? Kenapa kalian masih bersikeras untuk membuat keributan?"


"Putri! Kami hanya melaksanakan perintah pimpinan, walau putri sudah membatalkan rencana itu, namun pimpinan sudah memiliki keputusannya sendiri."


Saat melewati jalan, samar-samar Qian mendengar ada yang sedang berbicara di balik dinding, dia melambatkan langkah kakinya dengan ragu setelah itu dia menarik Xihua dan berbisik padanya, "Kamu harus kembali ke Halaman, lindungi kedua kakak perempuanmu, jangan lengah sedikitpun, apa kamu mengerti?" kata Qian dengan suara pelan.


"Bagaimana denganmu?" tanya Xihua yang masih belum memahami situasinya.


"Kamu duluan saja, nanti aku akan menyusul!" jawab Qian.


Xihua masih terlihat ragu, di samping masih belum mengerti, hanya saja dia tidak bisa meninggalkan Qian begitu saja, dia takut para prajurit berprasangka yang bukan-bukan saat melihat Qian berkeliaran sendirian di dalam istana.


"Jangan menunda-nunda lagi, cepat!" kata Qian namun masih berbisik.


Setelah melihat keseriusan dan kesungguhan di wajah Qian, Xihua meyakinkan dirinya lalu dia bergegas pergi meninggalkan Qian. Setelah Xihua pergi, Qian secara perlahan-lahan pergi menyelinap untuk bisa mendengarkan obrolan yang mencurigakan itu dari balik dinding yang lain.

__ADS_1


"Benar-benar bodoh, apakah kamu pikir dapat dengan mudah melakukannya? Apa kamu tidak melihat ratusan prajurit di luar, belum lagi Panglima Lian Bai, ditambah dengan Huan Gong, apakah kalian benar-benar kehilangan akal?" kata suara wanita itu.


"Kami sudah memperhitungkannya, mengenai para prajurit itu, tidak ada yang perlu dikhawatirkan, sebentar lagi mereka semua akan segera tertidur semuanya!" jawab suara pria itu.


"Tertidur semua? Apa maksudmu?"


"Hahaha… Di Halaman sudah kami sebarkan aroma Bunga Mimpi, dengan bius yang digunakan oleh Racun Kalajengking, semua para prajurit biasa akan segera tertidur lelap, kecuali mereka yang kuat setidaknya memiliki kemampuan Pendekar Jiwa Petarung, mereka mungkin bisa bertahan. Sayangnya semua prajurit kerajaan hanyalah rakyat biasa yang tidak memiliki kemampuan, adapun ada hanyalah sekuat Pendekar Jiwa Pemula Kelas 1 dan 2, belum lagi para pendekar-pendekar dari berbagai perguruan tidak akan mungkin datang. Semua itu sudah kami perhitungkan!" kata suara pria tersebut.


"Kenapa kalian tidak memberikan kabar rencana ini sebelumnya padaku?" tanya pemilik suara wanita itu.


"Kejadian terakhir adalah sebagai pelajaran! Sekarang kesabaran Pimpinan sudah habis, terlalu lama menunggu hanya akan membuat sakit kepala, jadi hari ini adalah hari yang tepat, berhasil atau tidak, yang penting kekacauan ini akan membuat kesan bagi Pangeran dari Kekaisaran Han itu," kata pria tersebut.


Qian yang mendengarkan obrolan mereka dari sebelah dinding mengerutkan dahinya, ingin rasanya dia melihat sosok wanita itu. Qian berusaha mencari celah lubang agar bisa melihat wajah wanita yang dia yakini sebagai pengkhianat, mata Qian jatuh pada titik lubang yang sangat kecil, dia menempelkan matanya dan berusaha mencari sosok wanita itu.


Dengan penglihatan yang terbatas di lubang kecil itu, cukup sulit bagi Qian untuk menemukan lokasinya, dan setelah berusaha menjelajahi ruangan yang memiliki pandangan terbatas itu, Qian akhirnya melihat sosok wanita bergaun merah, namun dia hanya bisa melihat bagian pinggulnya saja, karena wanita itu membelakanginya, Qian sama sekali tidak bisa melihat apapun selain pinggul ramping gaun berwarna merah, dari pakaiannya sangat jelas jika wanita itu pasti orang dalam yang memiliki status tidak biasa.


"Apakah kamu sudah puas melihatnya?"


"Sial, ternyata keberadaanku sudah disadari!" gumam Qian dengan wajah suram.


Qian buru-buru bangkit dan berniat untuk pergi, namun belum jauh dia berlari tiba-tiba saja sebuah pisau menembus dinding dan melesat lurus ke arah Qian. Beruntungnya Qian cukup cepat sehingga dia menarik wajahnya dan pisau itu bergerak sekitar setengah jari dari wajah Qian sebelum akhirnya menancap di tiang.


"Hmp..!"


Suara dengusan terdengar dari dalam ruangan sebelum akhirnya ada pisau yang menembus dinding lalu merobek dinding tersebut, dan tiga sosok berpakaian hitam dengan wajah ditutup kain hitam berjalan keluar, salah satu sosok itu segera memblokir jalan di depan Qian, dan satu lagi bergerak ke belakang Qian sedangkan sisanya berjalan dengan tatapan mata dingin dengan aura hitam yang cukup pekat.


Raut wajah Qian sangat suram, dia bisa merasakan jika sosok yang berjalan itu adalah seorang Pendekar Puncak Jiwa Ahli, sedangkan dua lainnya adalah Pendekar Jiwa Ahli biasa, walau demikian ketiganya adalah Pendekar Jiwa Ahli, jika Qian bertarung melawan salah satu saja dengan mereka, jelas Qian tidak akan memiliki peluang untuk bisa menang kecuali dia menggunakan cara licik seperti racun, hanya saja racun milik Racun Kalajengking yang dia miliki hanyalah racun-racun yang tidak bisa digunakan seperti Bubuk hitam dan serbuk bius.


"Tidak diduga ada orang luar yang berani menyelinap dan menguping pembicaraan kami, benar-benar sangat berani!" kata sesok wanita yang mengenakan gaun biru, hanya saja saat ini dia sudah menutup wajahnya dengan cadar sehingga Qian tidak bisa melihat wajah wanita itu.

__ADS_1


"Liu Sheng, selesaikan tugas mu," kata Wanita itu lalu dia melangkah meninggalkan mereka semua.


Sosok yang di panggil Liu Sheng hanya mengangguk lalu dia mengeluarkan pisau pendek seraya menatap Qian, walau wajahnya tidak terlihat, namun Qian dapat merasakan niat membunuh dari mata Liu Sheng.


"Hanya Jiwa Petarung semata! Kalian berdua pergi saja, biar aku saja yang membereskannya!" kata pria yang menghadang jalan Qian.


Sosok yang bernama Liu Sheng dan sosok di belakang Qian menatap rekannya yang mengajukan diri itu, setelah saling berpandangan, Liu Sheng berbalik pergi seraya berkata, "Baiklah Jie Tian! Selesaikan dengan cepat, seharusnya tidak sulit bagimu untuk membunuh nya," kata Liu Sheng sebelum akhirnya dia melompat jauh dan mendarat di atap sebelah bersama rekannya sebelum akhirnya keduanya pergi menghilang dari pandangan Qian.


"Hehehe! Karena kamu mendengarkan sedikit dari obrolan kami, maka Sang Ahli ini akan mengambil nyawamu," kata sosok yang dipanggil Jie Tian kepada Qian seraya mencabut pedangnya.


"Apakah kalian dari Pedang Hitam?" tanya Qian.


"Hmp! Jadi kamu mengetahuinya? Hehehe.. Tidak masalah aku memberitahumu, mengingat sebentar lagi kamu akan segera mati," jawab Jie Tian kemudian dia langsung bergerak dengan pedang yang sudah terhunus.


Qian melambaikan tangannya lalu pedang bergagang kepala Naga muncul dari ruang kosong, kemunculan Pedang dari ruang kosong itu membuat mata Jie Tian berkedut, keterkejutan terlintas di matanya, tentu saja itu terlihat sangat tidak wajar bagi Jie Tian.


Qian sama sekali tidak memperdulikan keterkejutan lawannya, mengingat lawannya adalah seorang Pendekar Jiwa Ahli, dengan kekuatannya secara alami tidak akan bisa bertahan untuk bertarung dalam tiga gerakan.


Qian segera mencabut pedangnya yang langsung memancarkan cahaya merah redup, Tenaga Dalam Qian segera terhisap oleh pedangnya, namun dia tidak memperdulikan itu dan segera maju menyerang Jie Tian.


Jie Tian tersadar dari lamunannya dan mata yang kini dipenuhi keserakahan segera naik saat melihat Pedang Qian yang menarik, dengan mata rakusnya Jie Tian mengayunkan pedangnya seraya berkata, "Hahaha..! Hanya seorang Jiwa Petarung biasa ingin bertingkah di hadapan ahli ini," kata Jie Tian seraya mengayunkan pedangnya dengan sangat cepat dan kuat ke arah pedang Qian.


Qian yang mulai merasakan Tenaga Dalam nya mulai di hisap berusaha bertahan sembari melepaskan serangan tebasan secara acak, arah tebasan Qian mengarah ke leher Jie Tian, namun Jie Tian menahannya dengan pedangnya.


"Trank..!!"


Suara benturan pedang terdengar, namun saat ini Pedang Qian sudah melewati pedang Jie Tian bahkan melewati tubuh Jie Tian. Tubuh Jie Tian diam membeku, bibirnya tidak bisa digerakkan, dan matanya hanya melirik Pedang Qian sesaat hanya untuk melihat darah yang menetes di pedang Qian sebelum akhirnya pandangan Jie Tian berputar ke atas dan kepalanya jatuh ke lantai dengan pedang yang terpotong menjadi dua.


Qian segera menyarungkan kembali Pedang nya karena Tenaga Dalam nya yang sudah setengah diserap oleh Pedang Naga Api nya, kali ini Qian berhasil membunuh seorang Jiwa Ahli tanpa bantuan racun, hanya dengan Pedang anehnya Qian mendapatkan keberuntungan yang mungkin tidak dimiliki oleh orang lain.

__ADS_1


Jie Tian yang sebelumnya berniat membunuh Qian dan ingin memiliki Pedang di tangan Qian tidak menduga akan mati dalam satu kali gerakan acak Qian, tentu semua itu didukung oleh Pedang Qian yang sangat tajam, tidak ada Pedang biasa yang tidak terpotong saat beradu pedang, hal itu jelas keberuntungan yang tidak terduga bagi Qian.


Qian menghela nafas lega, dia tidak hanya terbebas dari beban Pedang nya yang menyerap Tenaga Dalam nya, namun Qian juga selamat dari serangan seorang Jiwa Ahli dan membunuhnya tanpa bantuan Tanda Lahir nya yang misterius. Qian menatap tubuh Jie Tian dan kepalanya yang terpisah dari tubuhnya sesaat seraya merasakan sesuatu yang aneh masuk kedalam tubuhnya, setelah menatap mayat Jie Tian dengan bosan, Qian bergegas pergi ke Halaman samping.


__ADS_2