PANGERAN PENDEKAR NAGA

PANGERAN PENDEKAR NAGA
Pertempuran Besar 2


__ADS_3

Walau pintu gerbang berkali-kali di dobrak, nyatanya mereka belum bisa menghancurkannya. Pintu yang sangat tebal terbuat dari bahan logam itu tidak hanya kokoh, namun juga dibuat untuk menahan segala jenis benturan biasa. Belajar dari peperangan sebelumnya, Lian Bai sudah memiliki rencana untuk melakukan penyerangan balasan, Lian Bai menunggu waktu yang tepat untuk membuka pintu tersebut.


Di samping itu, ada dukungan serangan dari atas tembok yang terus menghujani pasukan pendobrak, hal itu membuat banyak jasad yang menyulitkan pasukan musuh untuk terus mendobrak.


"Hati-hati, Batu api segera datang..!" seru salah satu prajurit.


Semuanya melihat ke arah beberapa Batu Api yang mengarah langsung ke atas tembok, semua para prajurit dan Pendekar berbalik ke perlindungan, dan seketika itu juga, Batu Api itu mulai menghancurkan apapun di atas tembok. Belasan tubuh para prajurit dan beberapa Pendekar yang belum sempat berlindung terbang berhamburan, dan dalam sekejap, belasan prajurit dan beberapa Pendekar yang terkena langsung gugur.


Tidak peduli sekuat apa para pendekar Jiwa Raja dan Jiwa Kaisar, mereka tentu tidak cukup bodoh untuk menahan Batu Ketapel yang besar dan diselimuti api, Batu besar yang melesat dengan kecepatan tinggi tidak bisa dihentikan dengan Tenaga Dalam biasa, mungkin jika beberapa Pendekar Jiwa Kaisar bersatu untuk menghalau satu batu kemungkinan masih bisa, namun jika lebih dari satu, kemungkinan merekalah yang akan binasa.


Para Tabib selain Li Xhiang bergerak menyelamatkan para prajurit yang masih bisa diselamatkan, sedangkan Li Xhiang sebagai kepala utama para Tabib berusaha membantu memberikan arahan kepada para prajurit.


Beberapa saat kemudian, sejumlah pendekar Jiwa Raja dan Jiwa Kaisar mulai berkumpul di atas tembok, bahkan para Pendekar Jiwa Ahli dan Jiwa Petarung sudah mulai membentuk barisan, bukan tanpa alasan, Tie Hu Jia sudah mengkonfirmasi jika Para Pendekar di pihak musuh sudah bergerak.


"Adik Qian! Ternyata kamu sudah berada disini?" Zhao Yu yang melihat Qian langsung menyapanya.


"Kalian sangat cocok mengenakan pakaian itu!" kata Qian yang memperhatikan pakaian keempat bersaudara, pakaian mirip seragam para prajurit, namun sedikit berbeda, pakaian berwarna kuning terang itu memiliki warna sedikit mencolok dari seragam para prajurit biasa.


"Itu adalah seragam pasukan elit yang di khususkan untuk para pendekar bebas tanpa perguruan, sedangkan bagi Pendekar yang memiliki perguruan masih mengenakan pakaian khas perguruan mereka masing-masing," kata Li Xhiang.


Qian mengangguk kemudian dia memperhatikan seorang pria berpakaian hitam dengan garis putih serta gambar dua ikan melingkar di punggungnya sedang menatap ribuan prajurit musuh tanpa ekspresi. Qian sama sekali tidak bisa mengukur tingkat kemampuan sosok tersebut, biasanya orang seperti itu sudah mencapai ke Kelas yang sangat tinggi.


Li Xhiang yang melihat Qian memperhatikan para pendekar mulai menjelaskan nama-nama para pendekar yang menjadi ujung tombak mereka saat ini.

__ADS_1


Empat Pendekar Jiwa Kaisar yang diperkenalkan oleh Li Xhiang antara lain, Pendeta Tao Lao, Ling Yang dari Bunga Biru, Zhai Luo dari Pedang Emas, dan Feng Zian yang berasal dari salah satu perguruan aliran Bebas, Perguruan Bulan Suci.


Qian terkejut setelah mengetahuinya, Perguruan Bulan Suci adalah Perguruan di mana semua murid-muridnya adalah wanita, dan ilmu beladiri nya pernah digunakan oleh Fa Lio Bai dan kedua anaknya, karena mendiang istri Fa Lio Bai adalah mantan murid dari perguruan Bulan Suci.


Barisan Pendekar Jiwa Raja sudah bersiap di posisi mereka, begitu juga dengan Pendekar yang lainnya termasuk para Pendekar Jiwa Kaisar, mereka memperhatikan para Pendekar Jiwa Raja dan Jiwa Kaisar yang datang dengan melompati tameng para prajurit dan mulai mendekati Tembok, jumlah pendekar di pihak musuh memang jauh lebih banyak.


Semua para Pendekar termasuk Qian menahan nafas melihat barisan pendekar yang tiga kali lebih banyak, Qian bersimulasi andaikan dia menggunakan kekuatan rahasianya sekalipun tidak akan mungkin mampu bertahan terlalu lama jika harus berhadapan dengan para Pendekar Ahli yang begitu banyak serta para prajurit di belakangnya, namun tidak ada pilihan lain bagi mereka semua selain terjun ke medan perang.


Ketika para Pendekar sudah cukup dekat dengan tembok, keempat Pendekar Jiwa Kaisar lebih dulu memimpin dengan melompat dari atas tembok kemudian disusul oleh semuanya.


Melihat Li Xhiang yang juga ikut melompat, Qian juga menyusulnya. Begitu kaki mereka semua menginjak tanah, mereka segera disambut dengan serangan musuh yang dikombinasikan dengan serangan tombak para prajurit.


"Sekarang saat nya..!" teriak Yui Lin kepada Lian Bai dan kemudian Pintu Gerbang dibuka, begitu terbuka, pasukan panah yang sudah Lian Bai siapkan mulai melepaskan anak panah mereka ke arah para prajurit yang berada di kereta pendobrak, barisan paling depan yang sudah Lian Bai persiapkan memegang tombak serta tameng bergerak seraya menahan hujaman tombak dan panah musuh, begitu sampai di barisan depan musuh, tombak-tombak mulai di hujamkan berusaha menerobos ke pertahanan musuh seraya terus mendorong maju.


Di tempat lain, para Pendekar sudah menghadapi lawan mereka masing-masing, hanya saja mereka semua kalah jumlah serta kekuatan, begitu juga dengan Para Pendekar Jiwa Kaisar yang harus menghadapi dua Pendekar Jiwa Kaisar sekaligus, letusan Aura Kematian menyebabkan orang yang memiliki kemampuan Jiwa Raja kebawah akan kesulitan bernafas sehingga mereka memisahkan diri dan memberikan ruang tersendiri bagi para Pendekar Jiwa Kaisar itu untuk bertarung. Situasi tersebut juga terjadi di pertarungan para Pendekar Jiwa Raja, mereka juga memisahkan diri bertarung melawan kekuatan yang setara.


"Tebasan Sayap Berputar."


Qian yang berhadapan dengan tiga Pendekar Jiwa Ahli sekaligus melepaskan serangan Tarian Dua Pedang nya dengan serangan berputar, serangan yang begitu kuat itu seharusnya mampu membuat Pendekar di tingkat yang sama akan terpojok, namun karena Qian diserang oleh tiga lawan sekaligus, serangannya mengalami kesulitan.


"Baru di Awal Jiwa Ahli semata! Ayo kita habisi anak muda ini agar segera membantu yang lainnya," kata salah satu dari ketiga musuh Qian.


"Ckh!" Qian hanya berdecak karena ketiga lawannya meremehkannya, namun dia juga akui jika melawan tiga Pendekar Jiwa Ahli sekaligus sangatlah sulit, belum lagi salah satu dari mereka bertiga adalah Pendekar Menengah Jiwa Ahli.

__ADS_1


Ketiga pendekar tersebut yang memiliki senjata berbeda-beda mengangkat senjata masing-masing setelah itu ketiganya bekerjasama menyerang Qian. Serangan kombinasi ketiganya membuat Qian hanya bisa bertahan tanpa bisa memberikan perlawanan.


"Aku akui kamu memang sangat hebat, mampu menjadi Pendekar Jiwa Ahli di usia muda memang sangatlah langka, tapi sayang kamu harus mati disini!" kata salah satu dari mereka seraya melepaskan ayunan kapaknya yang cukup besar dan kuat.


Qian sama sekali tidak menanggapinya, dia masih berusaha mencari celah untuk memberikan serangan balasan dengan bergerak mundur dan menjadikan kedua pedangnya sebagai pertahanan. Qian akui ketiga pendekar itu sangat hebat dan tidak menunjukkan celah sama sekali, namun Qian yakin serangan mereka pasti memiliki tempo ataupun sekedar berhenti sejenak untuk mengatur pernafasan.


Qian mungkin terlihat tidak berdaya dan hanya mampu bertahan dari tiga serangan ganas, namun tidak ada yang mengetahui jika sebenarnya Qian sengaja melakukan itu untuk menghemat Tenaga Dalam nya, Qian membiarkan ketiganya menyerang secara bringas, semakin besar nafsu mereka, maka akan semakin terkuras Tenaga Dalam mereka, Qian sadar andaipun dia berhasil mengalahkan ketiganya, dia masih harus berhadapan dengan yang lainnya, itu sebabnya dia tidak mau membuang-buang Tenaga Dalam nya begitu saja.


Setelah menahan puluhan jurus ketiganya, akhirnya kesempatan yang ditunggu-tunggu oleh Qian datang juga, dia melihat salah satu lawannya yang mulai kelelahan, saat salah satu berhenti menyerang untuk mengambil nafas, Qian melepaskan pertahanannya kemudian dia menghentak kakinya dan bergerak dengan kedua pedang yang sudah disilangkan.


"Kepakan Sayap Pedang Kembar."


Qian yang sudah mengalirkan Tenaga Dalam nya ke kedua pedang nya serta kakinya bergerak secepat mungkin dengan tubuh posisi membungkuk, kedua lawannya mengira jika Qian akan menerobos di tengah-tengah mereka dengan kedua pedangnya yang disilangkan, mereka berdua dengan cepat menahan serangan itu dengan memfokuskan ke tengah-tengah dari kedua celah, namun sayangnya Qian yang mereka kira akan menerobos mendadak membelokkan tubuhnya lalu bergerak ke samping salah satu dari keduanya dan melepaskan tebasan pedang tepat di perut bagian samping salah satu dari mereka.


Qian melewati tubuh Pendekar tersebut kemudian dia kembali bergerak menyerang pendekar yang sebelumnya ingin mengisi sedikit Tenaga Dalam nya, Pendekar tersebut yang sejak awal terkejut atas serangan balik Qian tidak sempat mengangkat palu besarnya sehingga kedua Pedang Qian dengan cepat memotong kedua lengan Pendekar Palu itu hingga lengan dan palunya jatuh.


"Argh..! Sialan kamu.."


Pendekar itu berteriak kesakitan seraya mengutuk Qian dengan marah, sedangkan Qian tidak mau ambil pusing, dia dengan cepat menebas leher Pendekar yang sudah tidak memiliki lengan itu sehingga pendekar tersebut mati dengan kepala terlepas dari tubuhnya.


Qian berbalik dan melihat pendekar yang perutnya sudah dia lukai, pendekar tersebut jatuh dengan isi perut yang keluar, sedangkan rekannya hanya bisa mematung sebelum akhirnya menyadari jika kedua rekannya sudah dikalahkan oleh Pemuda yang sebelumnya sudah mereka remehkan.


Kini tinggal Satu Pendekar yang merupakan Pendekar Menengah Jiwa Ahli yang masih berdiri, wajahnya sangat suram dan aura kematian langsung dia arahkan ke Qian, dengan niat membunuh, Pendekar itu maju menyerang Qian dengan pedangnya seraya berkata, "Akan aku pastikan kamu mati di tanganku," serunya dengan niat membunuh yang sangat besar.

__ADS_1


__ADS_2