PANGERAN PENDEKAR NAGA

PANGERAN PENDEKAR NAGA
Pasien pertama


__ADS_3

"Hanya perlu mengkonsumsi banyak sumber daya atau banyak berlatih untuk bisa naik ke Tingkat Menengah!" Qian tersenyum-senyum sendiri saat merasakan Tenaga Dalam nya yang semakin banyak, dia menggerak-gerakkan tubuhnya dengan beberapa keterampilan jurus yang dikuasainya.


"Hehehe…! Bagus sekali bocah kecil, kecepatan mu sangat pesat hanya dalam waktu sembilan puluh hari!"


Qian yang masih memperagakan gerakan keterampilan jurus Cakar Naga Tahap 1 terkejut saat mendengar sebuah suara tawa seorang pria tua yang menggema, Qian merasa seperti pernah mendengar suara tersebut ,hanya saja Qian lupa.. "Siapa yang bicara barusan?" tanya Qian namun dengan penuh kewaspadaan.


"Cks..! Siapa diriku itu tidak penting, aku disini hanya ingin mengingatkanmu agar jangan dulu merasa berpuas diri, karena ini baru awal. Ingatlah masih ada Pendekar yang lebih kuat darimu, jika kamu ingin mengimbangi lawan di kelas yang lebih tinggi, kamu harus kuatkan keterampilan Jurus Pedang Naga Kelima."


"Jurus Pedang Naga Kelima? Saya sudah menguasainya!" jawab Qian.


Jurus Pedang Naga Kelima adalah Jurus Tarian Pedang Naga, jurus ini pernah digunakan oleh Gui Shan (Feng Feng) saat bertarung melawan Xan Tiandi. Jurus ini memiliki gerakan yang agak rumit, itu sebabnya Qian hanya baru menguasai beberapa gerakan saja.


"Aku sudah mengetahuinya, namun kamu masih baru menguasai sepertiga dari jurus itu, jika kamu belum menguasai setidaknya lima puluh persennya, sebaiknya kamu mencari dukungan lain, bisa dengan cara mempelajari keterampilan yang lain selain dari keterampilan Kitab Naga Langit," kata suara misterius tersebut.


"Sebenarnya siapa anda? Tolong keluarlah agar saya bisa meminta pencerahan kepada anda secara langsung," kata Qian yang semakin penasaran.


Suara tersebut mirip seperti suara Kakek Pengemis yang misterius, hanya saja ada sedikit perbedaan, itu sebabnya Qian tidak begitu yakin apakah itu suara si Kakek Pengemis itu atau orang lain? Masalahnya suara tua itu sepertinya sudah mengetahui banyak hal dari Qian, padahal sejak awal hanya dia dan Li Xhiang saja yang berada di dalam ruangan bawah tanah itu.


"Tidak perlu! Aku datang kesini hanya ingin mengingatkanmu saja, semuanya terserah padamu apakah mau mendengarkan nasehatku atau tidak! Sampai jumpa," kata suara tersebut.


"Tunggu dulu..! Setidaknya beritahu saya nama senior," kata Qian namun suara itu sudah benar-benar lenyap.


"Sebenarnya siapa dia? Sudah dua kali aku bertemu dengan orang misterius, dan kedua-duanya sama-sama mengetahui akan Kitab Naga Langit ini!" batin Qian seraya memperhatikan Kitab Naga Langit nya, semakin lama dia berpikir, semakin sulit juga untuk memecahkannya.

__ADS_1


Qian tidak langsung keluar dari dalam ruang bawah tanah itu setelah berhasil naik ke Kelas Awal Jiwa Ahli, dia masih ingin melatih keterampilannya sekaligus akan menghabiskan sisa tanaman obat pemberian Li Xhiang.


Selama tiga hari berikutnya, Qian sudah kehabisan tanaman obat nya, dia hanya memiliki beberapa kotak Pil serta empat botol racun, anehnya selama tiga hari itu Li Xhiang tidak juga datang. Qian akhirnya memutuskan untuk keluar dari dalam Ruang bawah tanah itu, karena dia sudah terlalu lama berada di dalam ruangan pengap tersebut.


"Tabib Li..!"


Qian yang sudah berada di luar segera mencari keberadaan Li Xhiang, namun setelah menelusuri rumah tersebut, Qian tidak melihat keberadaan Li Xhiang. Tidak ada pesan apapun yang ditinggalkan oleh Li Xhiang sehingga Qian berpikir jika Li Xhiang mungkin sedang pergi mengobati pasiennya di tempat lain.


Kebun tanaman obat yang dimiliki oleh Li Xhiang masih terlihat segar, Qian mengumpulkan tanaman-tanaman itu untuk persediaannya. Setelah menyimpannya di dalam Cincin Langit nya, Qian berencana untuk membuat Pil, namun baru saja dia akan pergi ke belakang, tiba-tiba saja ada suara seorang wanita yang memanggil-manggil Li Xhiang.


"Tabib Li…! Apakah anda berada di rumah?" tanya suara wanita tersebut.


Qian bergegas ke depan dan melihat seorang wanita yang datang bersama seorang anak laki-laki berusia 15 tahun dengan memegang perut yang mengeluarkan darah. Qian segera menghampiri keduanya dan menyapanya, "Maaf nyonya, Tabib Li tidak ada di rumah," kata Qian.


"Saya tinggal bersama Tabib Li disini!" jawab Qian.


"Owh..!" Wanita itu terkejut lalu kembali bertanya kepada Qian, "Apakah kamu murid nya Tabib Li?" tanyanya, namun belum sempat Qian menjawab, wanita itu justru kembali berbicara, "Adik, tolong selamatkan putra ku ini, dia telah dianiaya oleh para anak buah Tuan muda Chu Hao hanya karena anakku ini yang tidak sengaja menyenggolnya," kata Wanita tersebut.


Alis Qian mengkerut mendengarnya, dia jelas sangat mengetahui akan sikap arogan Chu Hao, sebelumnya dia pernah terlibat masalah dengan Chu Hao di Desa Woizhi, dan Qian tidak akan pernah melupakan kejadian tersebut.


"Keluarga Chu ini benar-benar kelewatan!" gumam Qian seraya mengepalkan tangannya erat-erat lalu dia segera memperhatikan anak laki-laki dengan wajah pucat serta meringis kesakitan di hadapannya. "Nyonya, saya tidak begitu mahir dalam pengobatan, tapi saya akan mencoba mengobatinya, ayo bawa dia ke dalam," kata Qian.


Setelah anak laki-laki itu dibaringkan, Qian segera memeriksa luka tusukan di bagian perut anak tersebut, untungnya tusukannya mengenai pinggiran perut sehingga anak tersebut masih bisa bertahan namun tetap mengeluarkan banyak darah. Qian juga menemukan beberapa luka lebam di dada dan punggung serta di beberapa titik tubuh lainnya, terlihat dengan jelas jika anak laki-laki itu sudah dipukuli terlebih dahulu sebelum akhirnya di tusuk.

__ADS_1


Qian dengan hati-hati membersihkan luka tusukan di perut anak itu, setelah itu Qian mencari beberapa alat di rak kayu, yang Qian butuhkan adalah jarum dan benang untuk menjahit luka anak itu. Ini adalah pertama kalinya Qian mengobati orang lain dengan hanya bermodalkan nekat, namun beberapa cara sudah pernah dia lihat saat Li Xhiang mengobati pasien yang mengalami luka seperti anak laki-laki tersebut, Qian mengikuti langkah-langkah seperti yang Li Xhiang lakukan, namun tetap dengan sangat berhati-hati sekali.


Setelah selesai menjahit luka anak wanita itu, Qian menutupinya dengan perban kain yang sudah diolesi obat milik Li Xhiang yang berada di rak kerjanya, terakhir Qian mengoleskan obat mirip salep ke setiap luka memar anak itu, begitu semuanya selesai, Qian mengeluarkan sebutir Pil Giok Darah buatannya dan menyuruh anak itu untuk segera menelannya.


Wanita itu menghela nafas lega setelah melihat putranya yang berhasil diobati oleh Qian, wanita itu melihat wajah anaknya yang sebelumnya sangat pucat karena kehilangan banyak darah kini sudah mulai segar, dan itu berlangsung sangat cepat seolah-olah darah anaknya yang hilang sudah kembali.


"Untungnya tusukannya tidak melukai ususnya, jika tidak, bahkan saya sendiri tidak akan bisa menolongnya! Sekarang adik ini akan baik-baik saja, setelah beberapa hari beristirahat, seharusnya kondisinya sudah pulih, namun Nyonya harus sering memeriksa perbannya, jika obatnya sudah mengering, anda ganti perbannya dengan mengoleskan obat ini di bekas jahitan itu," kata Qian seraya mengambil kain untuk menyeka keringat nya.


"Terima kasih banyak Adik, jika tidak ada kamu tadi disini, aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa nasib anakku ini!" kata Wanita tersebut lalu dia mengeluarkan kantong koin nya dan menyerahkannya kepada Qian seraya berkata, "Disini ada 27 koin perak, apakah bayaran ini cukup? Jika masih kurang saya akan kembali lagi nanti untuk membayar sisa kekurangannya," kata Wanita tersebut.


Qian memperhatikan kantong uang tersebut lalu dia melihat penampilan wanita itu yang terlihat seperti orang biasa yang mungkin berada di kalangan bawah. Qian tersenyum seraya mendorong tangan wanita itu yang masih memegang kantong uang nya seraya berkata, "Nyonya tidak perlu membayar, simpan saja uang nyonya untuk kebutuhan keluarga nyonya," kata Qian dengan sopan.


"Bagaimana bisa seperti itu? kamu sudah menyelamatkan anak ku, jadi sudah sepantasnya anda menerima upah jasa!" kata Wanita itu yang semakin berbicara dengan sangat sopan.


"Baiklah..!" kata Qian lalu dia mengambil kantong tersebut lalu mengeluarkan sekeping koin perak dan sisanya dikembalikan lagi kepada wanita itu seraya berkata, "Saya sudah mengambil upah saya, silahkan anda simpan kembali sisanya," kata Qian seraya tersenyum hangat.


Wanita itu hanya bisa terdiam dengan pikiran rumit, melihat Qian yang hanya mengambil sekeping koin perak saja, Wanita itu hanya bisa terdiam seraya menerima kantong itu dari Qian.


"Baiklah adik muda, kalau begitu kami mohon pamit!" kata Wanita tersebut.


"Iya silahkan, semoga adik lekas sembuh," kata Qian seraya menatap anak itu yang juga menatap Qian seraya tersenyum ramah dan menganggukkan kepalanya.


Setelah kedua ibu dan anak itu pergi, Qian langsung menghela nafas lega, ini untuk pertama kalinya dia mengobati seorang pasien, dan pasien tersebut adalah pasien pertama Qian setelah dirinya memahami ilmu pengobatan.

__ADS_1


__ADS_2