
"Tidak apa-apa! Justru aku sangat mendukung mu, semakin hebat dirimu di masa depan, maka Xihua akan lebih aman bersamamu! Hahaha…!" kata Song Guo Li.
"Ayah..!"
Wajah Xihua memerah mendengar itu, dia hanya menundukkan wajahnya karena malu, namun diam-diam dia melirik Qian yang hanya tersenyum menanggapi ucapan ayahnya.
"Fa Lio Bai, kedua anakmu juga memiliki bakat, aku akan membantu memberikan sumber daya kepada mereka berdua, aku berharap kamu tidak menolaknya juga," kata Song Guo Li seraya menatap kearah Fa Xian dan Fa Xeiyin yang sejak tadi hanya berdiri saja.
"Terima kasih atas kebaikan Yang Mulia!" kata Fa Lio Bai yang langsung berlutut dengan satu kaki seraya menangkupkan kedua tangannya.
Fa Xian dan Fa Xeiyin jelas sangat senang mendengarnya, keduanya juga ikut berlutut mengikuti ayahnya seraya mengucapkan terima kasih, sedangkan Qian hanya tersenyum melihat kedua temannya yang akan mendapatkan sumber daya dari ayahnya.
Dengan sumber daya yang di bawa oleh Han Li Guo, kemungkinan besar Fa Xian dan Fa Xeiyin akan mengalami kemajuan, tentu saja Qian juga menginginkan itu, hanya saja Qian memiliki jalannya sendiri untuk bisa memiliki tubuh Naga.
"Yang Mulia, mungkin hari ini hamba akan meninggalkan Istana!" kata Qian yang membuat Song Guo Li dan Xihua serta semuanya terkejut mendengarnya.
"Kenapa begitu cepat, bukankah kamu masih butuh istirahat?" tanya Song Guo Li.
"Kakak Qian! Memangnya kamu ingin pergi kemana? Bukankah Paman Fa Lio Bai sudah berada disini?" tanya Xihua.
"Hamba sudah melakukan janji dengan Tabib Li Xhiang, setelah Tabib Li selesai membuat obat untuk hamba, kami berdua akan pergi malam ini!" jawab Qian.
"Tabib Li? Apakah kamu ingin mengikutinya?" tanya Song Guo Li.
"Hamba hanya ingin mempelajari beberapa ilmu pengobatan saja," jawab Qian dengan tersenyum tipis.
"Owh, itu bagus sekali!" kata Song Guo Li.
Berbeda dengan Song Guo Li, Xihua justru tidak senang mendengarnya, tentu saja Xihua tidak ingin Qian pergi darinya, dia takut di masa depan tidak bisa bertemu lagi dengan Qian.
"Karena kamu sudah sangat berjasa, tentu aku tidak akan berpangku tangan setelah menerima kebaikan mu! Sebagai tanda terima kasih ku, aku akan memberikanmu hadiah, jadi kamu cukup katakan saja hadiah apa yang kamu inginkan," kata Song Guo Li.
"Tidak Paduka, hamba tidak menginginkan apa-apa! Semua ini hamba lakukan semata-mata hanya ingin memberantas kejahatan saja," jawab Qian yang membuat Song Guo Li tertawa mendengarnya.
Song Guo Li menepuk tangannya dua kali dan kemudian seorang pelayan keluar dengan membawa sepuluh biji Tail Emas dan Sepuluh Biji Tail Perak, tentu saja Qian tidak mengerti untuk apa benda itu, sebab ini baru pertama kalinya melihat benda seperti itu.
"Apa ini?" tanya Qian dengan sangat lugu yang terlihat dari ekspresi nya yang kebingungan.
"Ini adalah Uang Tail Perak dan Emas! Satu biji Tail Perak sebanding dengan Koin Perak sebanyak 1000 Koin, begitu juga dengan Tail Emas, dengan ini kamu bisa membeli kebutuhan apapun di luar sana tanpa perlu repot-repot membawakan tumpukan Koin," kata Song Guo Li.
__ADS_1
Qian yang masih sangat awam dengan benda-benda tersebut hanya bisa bengong, dia sama sekali tidak memperdulikan keterkejutan orang-orang di sekitarnya yang memandang dirinya seperti orang pedalaman yang baru melihat dunia luar.
Berbeda dengan orang-orang di sekitarnya, Song Guo Li justru memahami akan keterkejutan Qian, sebab Uang Tail hanya dimiliki oleh orang-orang yang berada, tentu saja semua orang tahu akan hal itu, kecuali orang itu memang benar-benar dari daerah pedalaman yang hanya mengetahui tentang uang Koin saja.
"Qian, karena kamu akan melakukan perjalanan, kamu pasti membutuhkan uang untuk membeli kebutuhanmu, Tail Emas dan Perak ini akan mempermudah mu untuk membeli segala kebutuhanmu, jadi terimalah!" kata Fa Lio Bai.
Qian akhirnya mengangguk dan segera menangkupkan tangan kepada Song Guo Li seraya berkata, "Terima kasih atas hadiahnya Paduka, kalau begitu hamba tidak akan sungkan lagi," ucap Qian yang akhirnya menyadari jika dia memang membutuhkan itu.
Qian tidak langsung memasukkan semua Tail itu ke dalam Cincinnya, dia tidak mau menunjukkan itu sebab terlalu aneh, jangankan orang-orang yang ada disana, bahkan Qian selaku pemilik Cincin Langit itu juga masih merasa aneh dengan cara kerja Cincin hitamnya yang seperti Cincin berkemampuan Sihir.
"Yang Mulia, jika sudah tidak ada lagi yang ingin dibahas, hamba mohon pamit karena sudah waktunya mengobati luka-luka hamba sekaligus mempersiapkan diri untuk perjalanan nanti malam," kata Qian.
Raja Song Guo Li mengangguk, dia juga tahu jika Qian masih belum pulih sepenuhnya, karena itulah dia mengizinkan Qian untuk pergi beristirahat, dan Qian bersama Xihua serta dua Fa bersaudara keluar dari dalam Aula utama.
"Kamu benar-benar ingin berencana pergi malam ini?" tanya Xihua saat di perjalanan menuju ke kamar Qian.
"Iya!" jawab Qian dengan singkat.
Fa Xeiyin hanya diam saja, dia juga tidak ingin berpisah dengan Qian, namun Fa Xeiyin hanya bisa diam menahan perasaannya, sebab dia juga mengerti jika Qian harus menjadi lebih hebat agar bisa membuka identitas nya di masa depan.
Tanpa kemampuan maka Qian tidak akan pernah bisa mendapatkan kembali hak-hak yang seharusnya menjadi miliknya, hanya jika memiliki kemampuanlah semua bisa terwujud. Karena saat ini masih ada Xihua, jadi Fa Xeiyin hanya bisa menunggu untuk mengucapkan selamat tinggal kepada Qian, sedangkan Fa Xian hanya bisa mengelus punggung adiknya karena dia juga mengerti akan perasaan adiknya.
Fa Xeiyin mengangguk kepada kakaknya seraya tersenyum sedih, dan kakaknya hanya bisa menguatkan adiknya dengan dukungan serta memberikan isyarat untuk tetap bersabar.
"Tidak perlu, hadiah dari ayahmu sudah sangat banyak, untuk beberapa tahun kedepan uang ini tidak akan habis, jadi kamu tidak perlu membayar apapun!" jawab Qian yang hanya dijawab dengan anggukan oleh Xihua.
"Owh iya Xihua! Kemana kedua kakak perempuanmu? Sepertinya mereka tidak ada disana?" tanya Qian yang teringat jika Lie Hua dan Xi Yifei tidak ada di Aula.
"Lie Hua Jiejie mungkin menemui Ibu Permaisuri di penjara, sedangkan Xi Yifei Jiejie ada di kamarnya!" jawab Xihua.
"Permaisuri di penjara? Kenapa bisa seperti itu?" tanya Qian yang terkejut mendengarnya.
"Ceritanya sangat panjang dan juga sangat aneh!" jawab Xihua yang sepertinya tidak mau menceritakan kejadian yang sebenarnya, alasannya karena ada Fa Xian dan Fa Xeiyin di belakang mereka.
"Bolehkah aku bertemu dengannya?" tanya Qian.
"Bertemu dengan siapa? Lie Hua Jiejie atau Ibu Permaisuri?" tanya Xihua yang terkejut.
"Permaisuri!" jawab Qian.
__ADS_1
Qian sudah mendengar dari Tabib Li Xhiang jika Permaisuri adalah wanita yang sangat baik, namun dia tidak tahu jika Permaisuri berada di dalam penjara, Qian yakin jika Permaisuri adalah orang yang bisa dipercaya, pastinya dia banyak mengetahui kejadian masa lalu ibunya.
Xihua terlihat ragu sejenak sebelum akhirnya dia setuju untuk membawa Qian bertemu dengan Permaisuri, ini juga sebagai bentuk perkenalan, dia tidak mau dirinya dianggap gadis egois yang tidak ingin memperkenalkan anggota keluarga nya walau sosok tersebut dituduh sebagai seorang penjahat, sebab Xihua yakin jika Permaisuri yang memiliki hati lembut tidak mungkin akan melakukan tindak kejahatan seperti yang dituduhkan.
Xihua segera membawa Qian menuju ke arah ruang penjara yang berada agak jauh di belakang Istana, setelah meminta para penjaga untuk membukakan Pintu penjara, ternyata disana sudah tidak ada Lie Hua, yang ada hanyalah seorang wanita paruh baya dengan pakaian kusut serta rambut yang agak berantakan.
"Xihua! Kenapa kamu datang kesini? Untuk apa kamu datang membawa teman-temanmu?" tanya wanita itu dengan suara lemah namun sedikit lembut.
"Ibu Permaisuri, maafkan Xihua! Ini adalah teman Xihua yang ingin bertemu dengan Ibu Permaisuri," kata Xihua kemudian dia menyuruh Qian untuk maju.
"Teman mu?" Sang Permaisuri mengerutkan kedua keningnya.
"Terimalah Hormat hamba Yang Mulia Permaisuri!" kata Qian seraya membungkuk.
Wanita itu dengan tatapan sedikit buram berusaha melihat pemuda itu dengan jelas, dia sedikit terkejut karena ternyata Xihua membawa teman laki-laki ke dalam istana.
"Apakah ayahmu sudah tahu akan Pemuda ini?" tanya Permaisuri.
"Ayah sudah mengetahuinya, bahkan ayah memberikan dukungan setelah dia berhasil melindungi ayah dan istana dari penyerangan para penjahat!" jawab Xihua.
"Owh, kakakmu tadi juga menceritakan itu padaku, jadi ternyata pahlawan muda itu adalah kamu? Siapa namamu?" tanya Permaisuri.
"Lin Qian Yang Mulia," jawab Qian.
"Lin Qian? Kenapa namamu tidak begitu asing?" ucap Permaisuri lalu dia memperhatikan sosok pemuda itu secara seksama.
"Mata pemuda ini mirip Song Guo Li, begitu juga dengan beberapa gerakannya," batin Sang Permaisuri lalu dia mengulurkan tangannya seraya berkata, "Mendekatlah kemari Lin Qian!" kata Sang Permaisuri.
Qian segera menurutinya, dan setelah berada di dekat hadapan Permaisuri, tangan Sang Permaisuri menyentuh pundak Qian. Walau Qian sempat terkejut dan khawatir, namun Qian sama sekali tidak melawan dan membiarkan Permaisuri itu memegang pundaknya sekaligus mengusap kepalanya.
Ada ekspresi sedikit terkejut di wajah Permaisuri, walau itu tidak begitu pasti, namun Sang Permaisuri seperti melihat sesuatu. Permaisuri menoleh ke arah Xihua dan kedua temannya yang ada di belakang Xihua seraya berkata, "Kalian bertiga tunggu diluar dulu, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepada Lin Qian!" kata Permaisuri.
Xihua dan Fa Xian serta Fa Xeiyin sedikit ragu, namun mereka tidak bisa mengabaikan perintah Permaisuri itu sehingga ketiganya segera keluar dan meninggalkan Qian bersama Sang Permaisuri.
Setelah mereka bertiga berada di luar, Qian segera bertanya kepada Sang Permaisuri, "Apa yang ingin Yang Mulia tanyakan kepada Hamba?" tanya Qian.
Permaisuri hanya tersenyum mendengarnya, dia memperhatikan telapak tangannya yang sebelumnya digunakan untuk menyentuh pundak Qian seraya berkata, "Sudah 17 tahun berlalu, tidak kusangka kamu benar-benar masih hidup Song Lin Qian putra Lin Fei!" kata Permaisuri yang membuat Qian terkejut.
"Apa yang Yang mulia bicarakan?" tanya Qian yang berpura-pura tidak mengerti.
__ADS_1
"Kamu mungkin bisa menyembunyikan identitas mu dari ayahmu, namun tidak dari ku, dengan tangan ini aku menggendong tubuh mungil mu, dan aku dapat merasakan pancaran hawa panas di pundakmu, aku yakin hawa panas ini berasal dari tanda lahirmu itu, apakah aku benar Pangeran Song Lin Qian?" kata Sang Permaisuri dengan menunjukkan senyuman lebar dibalik raut wajahnya yang kusut.
Qian benar-benar terkejut dan tidak menduga jika Permaisuri dapat mengetahui identitasnya hanya dengan meraba pundaknya saja, baru kali ini Qian bertemu dengan Sang Permaisuri, namun baru pertama kali bertemu, Sang Permaisuri langsung dapat mengenalinya, seolah-olah Permaisuri itu mengetahui banyak rahasia akan dirinya.