PANGERAN PENDEKAR NAGA

PANGERAN PENDEKAR NAGA
Dukungan orang kuat tambahan


__ADS_3

Di Luar Kota Xianyang, dua sosok sedang duduk di atas batu besar, seorang wanita yang terlihat berusia 50 tahunan berpakain hijau dengan warna bibir hitam serta kuku jarinya juga menghitam sedang memegang botol kecil seraya memperhatikan beberapa anggotanya yang berada di sampingnya. Tidak jauh dari tempat wanita itu, seorang pria tua gemuk memakai jubah berwarna merah juga duduk dengan tenang.


"Mereka sudah datang!"


Kedua sosok itu segera menoleh ke arah kota dimana terlihat sekelompok sosok manusia yang datang ke arah mereka, setelah cukup dekat, ternyata kelompok itu adalah kelompok yang dibawa oleh Huandi.


"Tuan Xan, Dewi Racun Hitam! Kenapa kalian berdua tidak datang? Kami sudah susah payah menciptakan kekacauan hingga kehilangan Dua Pendekar Jiwa Raja dan empat Pendekar Jiwa Ahli serta lebih dari tiga puluh anggota kami mati di sana! Kenapa kalian berdua justru masih santai di tempat ini?" Huandi segera melayangkan protesnya kepada kedua sosok di hadapannya.


"Sebenarnya kami sudah berusaha untuk mencegahmu, tapi kamu sudah lebih dulu pergi dan memasuki istana!" kata Pria tua bertubuh gemuk tersebut seraya membelai janggut putihnya, pria itu menatap Huandi serta sisa anggotanya seraya bertanya, "Apakah kamu melihat keberadaan dua pengawal Pangeran ketiga itu?" tanya Pria tua itu yang tidak lain adalah Xan Tiandi.


"Dua Pengawal?" Huandi menaikkan sebelah alisnya mendengar pertanyaan Xan Tiandi, dia yang juga penasaran hanya bisa mengangguk seraya menjawab, "Iya! Kedua pengawal itu sangat kuat, bahkan Pangeran Ketiga pun juga sama hebatnya, memangnya kenapa?" tanya Huandi.


"Itulah alasan kami tidak datang, bahkan kami ingin menghentikan mu karena mereka berdua!" Xan Tiandi terdiam sesaat seraya menggelengkan kepala sebelum melanjutkan kembali akan siapa sebenarnya kedua sosok tersebut. "Mereka berdua adalah Dua Panglima terkuat kedua dari lima Panglima Gerbang Kekaisaran, yang paling tua bernama Meng Yuan, dia adalah Panglima terkuat dari gerbang kedua, dan yang satunya adalah Ling Quan, Panglima terkuat dari Gerbang Ketiga, keduanya sama-sama berada di Puncak Jiwa Raja, jika mereka berdua bergandengan tangan, bahkan aku tidak cocok untuk berhadapan dengan mereka, saat keduanya melakukan kolaborasi bersama, kemampuan mereka hampir setara dengan seorang Pendekar Menengah Jiwa Kaisar," kata Xan Tiandi yang mengakhiri penjelasannya.


"Pantas saja salah satu dari mereka mampu mengalahkan dua Pendekar Jiwa Raja seorang diri dengan mudah, ternyata mereka memang memiliki kemampuan ilmu beladiri yang sangat tinggi, apalagi Pangeran itu, dia hanya butuh sedikit lagi untuk menerobos ke Jiwa Kaisar," kata Huandi.


Xan Tiandi hanya tertawa pelan mendengar keluhan Huandi, dia menghela nafas seraya berkata, "Anggap saja dirimu masih beruntung Tuan Jia Xi Huandi, mereka masih menahan diri karena disini bukan wilayah mereka, jika mengenai Pangeran itu, aku juga tidak menduga jika dia juga sudah menjadi sekuat itu dalam beberapa tahun terakhir ini, walau aku tahu jika Pangeran Han Li Guo adalah jenius muda yang sangat berbakat, namun aku tidak menyangka jika dia mengalami peningkatan sebesar ini," kata Xan Tiandi.


"Ngomong-ngomong soal jenius termuda, sepertinya di Wilayah Song ini sudah muncul jenius termuda baru, usianya masih sekitar 17 tahunan, walau masih muda, dia sudah membuat dua Pendekar Jiwa Ahli ku mati di tangannya," kata Huandi yang membuat Xan Tiandi dan Dewi Racun Hitam terkejut mendengarnya.


"Benarkah? Siapa nama pemuda itu? Jika dia memang jenius muda baru, seharusnya namanya sudah kami dengar!" tanya Dewi Racun Hitam.


"Saya juga tidak tahu namanya, pemuda ini tiba-tiba saja muncul dengan Pedang anehnya yang bisa menyala merah dan mengeluarkan hawa panas, bahkan Pedang Mo Cheng yang merupakan Pusaka Bumi peringkat kedua saja hancur oleh Pedang Merah bergagang Kepala Naga milik pemuda itu," kata Huandi.


Xan Tiandi mengerutkan keningnya mendengar cerita Jia Xi Huandi, dia seperti mengenali ciri-ciri Pedang tersebut. "Apakah Pedang itu agak lebar dengan warna logam normal kemerahan?" tanya Xan Tiandi yang dijawab dengan anggukan oleh Jia Xi Huandi.

__ADS_1


Xan Tiandi menghirup nafas dalam-dalam setelah memastikan jawaban Huandi, dan dengan ekspresi suram, Xan Tiandi berbicara dengan nada berat, "Jika dugaanku tidak salah, seharusnya itu adalah Pedang Naga Api milik saudara seperguruan ku Gui Shan! Pemuda itu mungkin pemuda yang waktu itu melemparkan sarang lebah saat aku bertarung melawan Gui Shan," kata Xan Tiandi.


Xan Tiandi menatap langit dengan pandangan tajam seraya bergumam dalam hati, "Akhirnya aku menemukan anak itu, jika Pedang Naga Api ada padanya, seharusnya Kitab Naga Langit juga berada di tangannya! Kali ini kamu benar-benar sangat ceroboh saudaraku," batinnya seraya tersenyum lebar.


Dewi Racun Hitam dan Jia Xi Huandi saling berpandangan melihat tingkah Xan Tiandi, mereka berdua jelas tidak tahu apa yang ada di dalam pikiran Pria tua gemuk di hadapannya sembari bertanya, "Apakah Tuan mengenal Pemuda itu?" tanya Huandi.


"Iya, bisa dibilang aku ini adalah paman gurunya!" jawab Xan Tiandi.


"Pantas saja tidak ada yang mengenal pemuda hebat itu, ternyata pemuda itu juga berasal dari Kekaisaran Han," kata Dewi Racun Hitam yang menduga jika pemuda itu juga berasal dari Kekaisaran Han.


Setiap ada pendekar jenius muda yang masih baru pasti akan menciptakan kegemparan di Wilayah Song, salah satu contohnya adalah Murid Perguruan Bunga Biru yang bernama Han Yue, saat masih muda, Han Yue berhasil menjadi Pendekar Jiwa Ahli di usia 25 tahun, dan berhasil menjadi Pendekar Jiwa Raja di usia 30 tahun, pencapaian tersebut memang sedikit lebih cepat dari para Pendekar pada umumnya, banyak yang meyakini jika Han Yue yang merupakan murid dari Ling Yang itu akan menjadi Pendekar hebat yang akan menggantikan Ling Yang memimpin perguruan Bunga Biru di masa depan.


"Hari ini banyak kejutan baru yang di dapat, kita mungkin mengalami kerugian, namun setidaknya kita sudah mendapatkan beberapa informasi! Ayo kita kembali ke Markas, mungkin saat ini Zhi Zhen sudah tiba di markas, kabar ini juga harus kita beritahukan kepada Ketua utama, aku yakin ketua akan sangat tertarik mendengarnya!" kata Dewi Racun Hitam.


Huandi mengangguk, dia memang berencana untuk memberitahukan akan kemunculan Pemuda itu kepada Ketua utama Partai Tiga Pedang, apalagi pemimpin Pedang Hitam Zhi Zhen juga ada disana, Huandi yakin Zhi Zhen pasti akan segera mencari pemuda itu yang sudah membunuh dua orang terbaiknya.


Walau Faksi ini memiliki nama Partai Tiga Pedang, namun yang berada di dalamnya tidak hanya Tiga Pedang saja, masih ada beberapa kelompok yang juga bergabung di dalamnya, salah satunya adalah kelompok Racun Kalajengking yang dipimpin oleh Dewi Racun Hitam, namun Dewi Racun Hitam bukanlah Pemimpin atau pendiri Perguruan Racun Kalajengking, melainkan hanya pengganti sementara saja.


Di Istana sendir saat ini masih kacau, sejak Huandi menarik semua anggotanya, situasi masih tetap tegang, banyak prajurit yang mati akibat penyerangan tersebut, dan korban kebanyakan adalah para prajurit yang terkena pengaruh dari kabut yang mengandung obat tidur.


Kebanyakan dari mereka gugur karena terkena panah dari Racun Kalajengking sehingga mereka yang terkena bius tidak akan bisa melindungi diri dan mati keracunan, penyerangan itu jelas sudah direncanakan dengan sangat rapi, dan seperti biasa, mereka yakin ada orang dalam yang telah membantu mereka sehingga lolos dari Pengawasan yang sangat ketat.


Di dalam kamar, Qian yang sudah membersihkan diri dengan dibantu oleh Fa Xian saat ini sedang diobati oleh Tabib Li Xhiang, sedangkan di luar, Xihua dan Fa Xeiyin sedang menunggu di depan pintu kamar dengan penuh ke khawatiran, padahal sudah jelas jika Qian hanya mengalami beberapa luka ringan, namun kedua gadis itu tetap saja terlihat cemas.


"Kamu ini..!?"

__ADS_1


Qian buru-buru mengangkat jarinya kepada Tabib Li Xhiang yang melihat tanda lahir di pundak Qian, tentu saja secara alami Li Xhiang mengenali tanda lahir tersebut, sebab saat acara kelahiran Qian, Tabib Li Xhiang juga ikut hadir dan memberikan berkat kepada Qian.


"Pangeran Song! Jadi ini benar-benar anda?" kata Li Xhiang dengan suara pelan dan setelah itu dia buru-buru mundur untuk berlutut.


Dengan cepat Qian meraih Tabib Li Xhiang yang ingin segera berlutut, dia tidak ingin saat ini statusnya terbongkar oleh orang lain, andai tidak karena luka di tubuhnya, Qian pun tentu tidak mau dirawat oleh orang lain, semua itu karena permintaan Xihua yang memanggil Tabib Li Xhiang untuk mengobati Qian, walau jaraknya sangat jauh, namun Tabib Li Xhiang tetap datang.


"Pangeran, hamba tidak menyangka jika Pangeran benar-benar masih hidup! Ternyata keyakinan Yang Mulia selama ini memang benar! Tapi kenapa Pangeran masih merahasiakan ini?" tanya Tabib Li Xhiang.


Qian yang luka-lukanya sudah dibalut dengan kain mengenakan kembali pakaiannya yang sudah dibeli beberapa hari yang lalu di pasar Keluarga Chang, setelah mengenakan pakaiannya, dia meminta Fa Xian untuk keluar dan menjaga pintu agar tidak ada orang yang menguping pembicaraannya.


"Tuan Tabib..!"


"Panggil saja Tabib Li saja Pangeran," kata Tabin Li Xhiang.


"Ah baiklah Tabib Li! Sebelumnya saya ingin bertanya kepada anda, apakah saat penyerangan 17 tahun yang lalu tabib mengetahuinya?" tanya Qian.


"Tentu saja Pangeran, saat itu hamba juga datang setelah melihat ledakan kembang api!" jawab Tabib Li Xhiang.


Qian mengangguk sesaat, dia juga sudah mendengar tentang Tabib Li Xhiang di hadapannya ini dari Xihua, melihat wajah lelaki tua yang tubuhnya bau obat, Qian yakin Tabib di hadapannya adalah orang yang baik. Setelah mempertimbangkan keputusannya selama beberapa saat, Qian pun akhirnya menjelaskan akan alasan dirinya masih menyembunyikan indentitasnya. Tentu saja Qian meminta Tabib Li Xhiang untuk merahasiakannya juga, ditambah lagi Qian berencana untuk mempelajari beberapa ilmu pengobatan dan cara-cara membuat ramuan kepada Tabib Li Xhiang, Qian dapat merasakan jika Tabib Li Xhiang adalah seorang Pendekar hebat, kemungkinan antara Puncak Jiwa Raja atau mungkin sudah berada di Jiwa Kaisar.


"Tabib Li! Apakah tabib sudah mengerti? Saya harap Tabib memahaminya dan bersedia membantu saya menjaga rahasia ini serta membantu saya mencari tahu akan Penghianat di istana ini," kata Qian.


"Pangeran! Hamba sudah bertahun-tahun melayani keluarga Pangeran, yakinlah saya Li Xhiang pasti akan menjaga rahasia ini dan akan dengan senang hati membantu pangeran!" kata Li Xhiang dengan hormat.


"Terima kasih Tabib Li!" kata Qian.

__ADS_1


Saat ini sudah ada orang tambahan yang mengetahui identitasnya, namun itu tidak masalah bagi Qian, sebab cepat atau lambat, identitasnya pasti akan tetap terbongkar, namun untuk saat ini orang-orang yang berada di sampingnya adalah orang yang baik dan setia untuk ikut menjaga dan membantu dirinya, setidaknya ada dukungan orang kuat tambahan lainnya yang berada di sisinya.


__ADS_2