
"Di depan ada sungai, kamu bisa membersihkan tubuh dan mengganti pakaianmu di sana," kata Yu Lang.
Qian hanya mengangguk, setelah menghabisi seluruh anggota Pedang Darah, mereka kembali melanjutkan perjalanan mereka, tentu saja mereka tidak mengubur kesepuluh jasad tersebut, sebab tubuh mereka pasti akan ditemukan oleh anggota Pedang Darah yang lainnya.
Mereka berlima membersihkan diri di sungai yang tidak begitu besar, dan setelah membersihkan diri serta mengganti pakaiannya, Qian tidak mau tinggal terlalu lama, dia khawatir anggota Pedang Darah lainnya yang jauh lebih hebat akan mengejarnya, begitu selesai semuanya, mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ke Kota Lanzao.
Setelah kejadian penyerangan anggota Pedang Darah, tidak ada lagi penyerangan susulan, mereka terus memacu kuda mereka dan hanya beristirahat saat makan hari saja, dan setelah melakukan perjalanan selama Lima hari, mereka bisa melihat Kota Lanzao dari kejauhan.
Qian mempercepat memacu kudanya agar lekas tiba di Kota Lanzao, dan kelimanya akhirnya tiba di pintu gerbang kota. Ada beberapa prajurit yang berjaga di gerbang tersebut, begitu mereka melihat kelompok Qian yang hanya berjumlah lima orang, para Prajurit tersebut segera menghentikan Qian dan kelompoknya.
"Berhenti! Siapa kalian?" tanya salah satu prajurit yang penuh kewaspadaan, sedangkan beberapa prajurit di belakangnya juga berbaris dan semakin memperkuat penjagaan mereka.
"Nama saya Qian! Kami datang kesini untuk ikut membantu mempertahankan Perbatasan!" jawab Qian.
"Qian?" Salah satu prajurit seperti mengingat sesuatu sebelum akhirnya Joy terlintas di matanya. "Iya aku ingat, kamu Qian seorang pemuda yang dipesankan oleh Tabib Li Xhiang itu bukan? Ah maafkan kami, Silahkan lewat, anda langsung saja menuju ke benteng, Tabib Li Xhiang sudah menunggu anda disana," kata prajurit tersebut.
"Terima kasih!" ucap Qian kemudian dia dan kelompoknya langsung memasuki kota dan mereka menuju ke benteng.
"Qian? Berarti dia adalah pemuda yang telah menyelamatkan Istana dari serangan Pedang Hitam itu bukan?" tanya salah satu prajurit setelah Qian dan kelompoknya menghilang.
"Kabarnya begitu, hanya saja aku tidak tahu secara pasti apakah dia benar-benar melakukannya atau tidak? Dilihat dari manapun, dia itu masih begitu muda, tidak mungkin rasanya dia mampu melakukannya!" jawab prajurit lainnya.
"Lupakan saja! Sebaiknya kita kembali ke tugas kita," prajurit yang lain segera mengajak rekan-rekan nya untuk kembali bekerja.
Qian dan kelompoknya melihat asap hitam dari luar tembok besar, Yu Lang memberikan gambaran jika asap-asap hitam itu berasal dari medan peperangan yang mungkin sudah berakhir, Yu Lang menjelaskan jika di medan perang, bahaya tidak hanya berasal dari lawan di depan mata, masih ada ancaman lain seperti Panah, Panah Api, Ketapel Batu besar, dan Ketapel Batu Api.
__ADS_1
Walau Yu Lang belum pernah sekalipun ikut berperang, namun dia sering mendengar cerita akan situasi di medan Perang, situasinya sangat menyeramkan, di medan perang, nyawa manusia sama sekali tidak berharga, jika satu manusia mati, mayatnya akan di injak-injak oleh para prajurit dan kuda yang masih berperang.
Qian mengangguk setelah mendengar penjelasan dari Yu Lang yang memberikan sedikit gambaran tentang pertempuran, di sisi lain, Kota Lanzao benar-benar seperti kota mati yang tak berpenghuni, namun Qian mengerti jika penduduk Kota Lanzao pasti sudah mengungsi.
Qian tiba di Benteng yang berada tepat di balik tembok, banyak sekali prajurit yang berada di sana, mereka semua terlihat sangat gagah dengan seragam kuning keemasan, namun di balik seragam mereka yang terang, terukir wajah pucat dan juga tatapan kosong, jelas hati mereka sangat tertekan dan mereka seperti kurang bersemangat.
"Pendekar Muda Qian, anda juga datang?"
Saat Qian dan yang lainnya baru menyerahkan Kuda mereka kepada para prajurit, Panglima Lian Bai menyapanya. Qian menoleh dan melihat Panglima Lian Bai bersama beberapa prajurit serta wanita yang juga mengenakan Zirah layaknya seperti seorang Panglima.
"Panglima Lian Bai! Siapa mereka ini?" tanya wanita di sebelah Lian Bai.
"Dia adalah Pahlawan Muda yang pernah aku ceritakan itu padamu, namanya Lin Qian!" jawab Lian Bai lalu dia memperkenalkan Wanita di sebelahnya itu kepada Qian. "Pendekar Muda, ini adalah Panglima Yiu Lin," kata Lian Bai.
Yiu Lin tersenyum seraya berkata, "Aku sudah mendengar tentang kehebatan mu darinya! Kamu benar-benar masih muda, dan kamu lebih muda dari yang aku bayangkan!" kata Yui Lin seraya tertawa kecil.
"Panglima Yui sangat pandai memuji, saya sungguh merasa malu mendengarnya," ucap Qian.
Lian Bai memperhatikan Yu Lang dan ketiga saudaranya seraya bertanya kepada mereka, "Sepertinya aku pernah melihat mereka! Apakah kalian dulu pernah bekerja kepada Keluarga Chu?" tanya Lian Bai.
"Salam Panglima! Benar sekali, kami empat bersaudara pernah bekerja sebagai Pelindung Keluarga Chu, nama saya Yu Lang, ini adik kedua..!"
Lian Bai mengangguk setelah Yu Lang memperkenalkan ketiga adik seperguruannya itu, dia dapat melihat jika mereka berempat serta Qian adalah Pendekar Jiwa Ahli.
"Saat itu anak ini masih berada di Pendekar Puncak Jiwa Petarung, walau sedikit aneh karena tiba-tiba saja dia bisa meningkatkan kemampuannya yang naik ke Kelas Pendekar Puncak Jiwa Ahli, namun dia kembali ke Pendekar Puncak Jiwa Petarung, namun dalam waktu beberapa bulan saja, dia sudah berhasil naik ke Kelas Pendekar Awal Jiwa Ahli!" batin Lian Bai.
__ADS_1
"Apakah Panglima melihat Tabib Li Xhiang?" tanya Qian.
Lamunan Lian Bai terpecah karena pertanyaan Qian, dia segera mengajak Qian dan yang lainnya pergi ke tempat Tabib Li Xhiang berada, sedangkan Panglima Yui Lin tidak ikut mereka karena masih banyak yang harus dia persiapkan untuk menghadapi perang berikutnya.
Dalam perjalanan menuju ke perkemahan Li Xhiang, Lian Bai juga menanyakan akan maksud kedatangan Qian dan anggotanya, dan betapa senangnya Lian Bai setelah mengetahui jika mereka datang untuk ikut berperang, tentu saja dengan tambahan Qian dan anggotanya, kekuatan di pihaknya akan sedikit memiliki tambahan, walau hanya lima orang saja, tidak peduli seperti apa mereka, kelimanya adalah para Pendekar Jiwa Ahli.
Setelah mereka tiba di salah satu tenda besar, salah satu prajurit segera memanggil Tabib Li Xhiang atas perintah Lian Bai, dan setelah itu Tabib Li Xhiang keluar dan dia terkejut setelah melihat Qian di hadapannya.
"Anda akhirnya datang juga Lin Qian, saya pikir anda masih membutuhkan beberapa hari lagi untuk tiba ke tempat ini," kata Li Xhiang dengan sedikit menghela nafas lega. Karena banyak orang disana dari para prajurit serta Lian Bai, Li Xhiang tidak memanggil Qian dengan panggilan Pangeran.
Qian mengangguk lalu dia memperkenalkan Yu Lang dan yang lainnya serta tujuan mereka ikut dengan dirinya, tentu saja Li Xhiang sangat senang, dia dan Lian Bai segera masuk ke dalam tenda.
"Tidak di duga anda benar-benar berhasil naik ke Kelas Awal Jiwa Ahli dalam waktu Tiga Bulan, ini benar-benar sangat mengejutkan," kata Li Xhiang.
"Ini hanyalah sebuah keberuntungan saya saja Tabib Li, lagi pula semua ini juga karena Tabib Li yang membantu saya, jika tidak, mungkin saat ini saya masih berada di Puncak Jiwa Petarung," kata Qian dengan tersenyum.
"Perang baru saja selesai, kami para Tabib sedang berusaha untuk mengobati para prajurit dan Pendekar yang terluka, namun kami semua tentu selalu waspada dengan serangan berikutnya!"
Li Xhiang dan Lian Bai menjelaskan situasinya kepada Qian dan yang lainnya, mereka juga menjelaskan jika mereka masih belum berhasil bisa mengungguli kekuatan musuh, di samping kekuatan musuh yang besar serta memiliki dukungan para pendekar hebat di kubu mereka, pasukan Qin juga memiliki banyak senjata ketapel, belum lagi jumlah prajurit musuh yang semakin bertambah hingga tercatat serangan yang terakhir saja berjumlah lebih dari sepuluh ribu pasukan, dan di yakini jika serangan berikutnya mungkin akan bertambah lagi jumlahnya.
Qian dan Yu Lang serta ketiga Saudaranya terkejut dan tubuh mereka menggigil setelah mendengar angka tersebut, mereka tidak bisa membayangkan setelah mengetahui jumlah pasukan musuh, walau saat ini jumlah pasukan Song masih memiliki jumlah yang hampir sama, namun jika serangan berikutnya jumlah mereka semakin bertambah, maka kekuatan musuh akan dua kali lipat lebih banyak dari pasukan Song.
Qian hanya bisa tersenyum pahit setelah mengetahui situasinya, dia jelas tidak pernah menduga akan datang ke neraka, menurutnya medan perang itu seperti neraka, walau saat ini dia masih menyembunyikan identitasnya, namun Qian tidak akan mundur, sebab ini juga demi Kerajaan nya sendiri.
"Ibu, doakan aku dari sana untuk memenangkan peperangan ini!" batin Qian seraya menghela nafas panjang.
__ADS_1