
Melihat Qian yang hanya terdiam, Permaisuri tersenyum hangat, dia membelai rambut Qian seraya berkata dengan penuh kesedihan dan penyesalan. "Kamu dan Ibumu pasti sangat menderita selama 17 tahun ini, ibumu adalah wanita yang sangat baik dan lembut, dia telah memberikan harapan ayahmu sehingga kamu membuat Istana ini hidup, sayangnya malam tragedi itu membuat kalian berdua harus hidup menderita! Ini semua karena salahku, andai aku tidak membawa ibumu dulu ke istana, mungkin dia tidak akan menderita, dan kamu tidak perlu mengalami nasib seperti ini," mata Permaisuri berair dengan suara yang mengandung penyesalan yang sangat dalam.
Tanpa terasa air mata Qian juga keluar, selama ini hanya ada dua kejadian yang membuat Qian meneteskan air matanya, yang pertama saat mengetahui akan kebenaran dirinya serta kematian ibunya, dan yang kedua adalah Wanita yang saat ini ada di hadapannya.
Permaisuri segera merangkul Qian yang mulai terisak, dengan belaian lembut penuh kasih sayang, keduanya sama-sama melepaskan kesedihan, sedangkan Permaisuri hingga saat ini masih belum mengetahui jika Lin Fei sebenarnya sudah meninggal.
"Kamu tumbuh menjadi pemuda yang gagah dan perkasa, Ibumu pasti telah merawatmu dengan sangat baik! Katakan padaku, bagaimana kabar ibumu saat ini? Apakah dia baik-baik saja?" tanya Permaisuri.
"Ibu meninggal di pagi hari setelah kejadian malam itu," jawab Qian.
Permaisuri terkejut mendengarnya, dia memperhatikan tubuh Qian serta wajahnya seraya bertanya, " Lin Fei sudah meninggal?" tanyanya dengan tidak percaya.
"Iya Ibu Ratu, ibu terluka sangat parah, saat itu kami hanyut di sungai hingga pagi hari, untungnya ada Nenek Yuwen dan Kakek Feng Feng yang menemukan kami, hanya saja Ibu tidak terselamatkan, hanya ini satu-satunya peninggalan yang ibu tinggalkan untuk ku," kata Qian seraya menunjukkan jepit rambut milik ibunya.
"Ini Memang jepit rambut milik Lin Fei, ada empat jenis jepit rambut dengan warna yang berbeda, punyaku berwarna emas, sedang Yie Ling Yi berwarna Merah, Ibumu berwarna Biru, dan Lio Xiayi berwarna Hitam! Jepit rambut dengan lambang ekor Burung Merak ini tidak dijual dimanapun, dan dengan ini kamu bisa membuktikan jika kamu benar-benar adalah Putra mahkota, tentu saja bukti yang lebih kuat adalah tanda lahir di bahumu," kata Permaisuri.
"Ibu Ratu, saat ini aku belum bisa membuka identitasku! Aku masih harus mencari pelaku yang sudah membuat ibuku meninggal dan membuatku menderita! Ibu Ratu pasti mengerti akan alasanku ini bukan?" tanya Qian.
"Aku mengerti, akan tetapi kamu tetap harus berhati-hati, sebab pelakunya ada di dalam istana, dan orang itu juga yang menjebak dan memfitnahku hingga aku berakhir disini," kata Permaisuri yang mendukung rencana Qian.
"Ibu Ratu yakinlah, aku pasti akan membebaskan Ibu Ratu!" kata Qian.
"Aku percaya padamu! Namun untuk bisa melakukan semua itu, maka kamu harus menjadi lebih kuat agar bisa mengalahkan musuh-musuhmu," jawab Permaisuri.
"Terima kasih atas dukungan Ibu Ratu!" kata Qian.
"Qian, kamu jangan memanggilku Ibu Ratu, jika kamu tidak keberatan, panggil aku Ibu saja, lagi pula Ibumu dan aku sangat dekat, dan kamu juga anak dari Suamiku, jadi maukah kamu memanggilku Ibu?" tanya Permaisuri.
__ADS_1
Qian yang terkejut terdiam sejenak, namun dia juga merasa Ibu Ratu yang sebenarnya memiliki nama Wang Hua Yin adalah sosok yang sangat baik, terlebih lagi hanya Wang Hua Yin satu-satunya orang yang langsung mengenali dirinya hanya dengan merasakan aura panas dari tanda lahirnya.
"Bagaimana?" tanya lagi Hua Yin.
Qian mengangguk sehingga membuat raut wajah Hua Yin yang terlihat kusut kembali cerah seraya berkata, "Aku ingin kamu memanggilku Ibu!" kata Wang Hua Yin.
"Ibu..!"
"Anak ku..!" Wang Hua Yin tersenyum bahagia dengan berlinang air mata, dia segera memeluk Qian dengan erat seakan-akan tidak ingin melepaskannya lagi.
Terbayang di mata Wang Hua Yin saat Qian masih bayi dulu, saat Wang Hua Yin menggendongnya, Wang Hua Yin sangat senang dan terus menerus memeluk Qian yang masih bayi, itu karena dirinya hanya memiliki seorang putri sehingga saat Qian lahir Wang Hua Yin sama sekali tidak menganggap Qian sebagai anak tirinya, melainkan sebagai Putra nya sendiri.
Sekarang Bayi kecil itu telah besar, namun perasaan Wang Hua Yin tetap sama walau sudah tidak bertemu selama 17 tahun lamanya, dan mengenai alasan Wang Hua Yin bisa mengetahui aura panas itu, karena Wang Hua Yin juga berasal dari Kekaisaran Han yang sedikit banyak mengetahui akan tanda lahir yang di miliki oleh Qian.
Setelah saling melepaskan rindu dan melepaskan kesedihan mereka dengan berubah menjadi kebahagiaan, keduanya kembali mengobrol dengan menanyakan akan rencana Qian kedepannya. Karena sekarang Qian sudah menganggap Wang Hua Yin sebagai pengganti ibunya, Qian pun menceritakan akan rencananya.
Setelah mengetahui rencana Qian, Hua Yin merasa berat hati karena Qian berencana untuk pergi lagi, namun Hua Yin mengerti jika semua itu Qian lakukan untuk menjadi seorang Pendekar yang hebat agar bisa menghadapi musuh-musuhnya di masa depan.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkan ibu, walau ibu di penjara, ibu sama sekali tidak merasa sedih, apalagi sekarang aku sudah tahu jika kamu sudah kembali lagi! Song Guo Li memang memenjarakan ku, namun dia juga memperlakukan ibu dengan sangat baik, sebab ayahmu juga percaya jika ibu hanyalah difitnah," kata Hua Yin seraya menatap langit-langit penjara dan kembali berkata, "Sebenarnya Ayahmu juga masih berusaha mencari pelakunya, dan dia juga sadar jika orang itu akan mencelakaiku, satu-satunya tempat yang paling aman hanyalah disini, hanya saja Ibu tidak tenang karena orang itu mungkin berusaha untuk mencelakai ayahmu," kata Hua Yin.
"Orang itu sangatlah licik, dia mampu menyembunyikan wajah aslinya di dalam istana, benar-benar tidak bisa dibiarkan!" kata Qian.
"Karena kamu sudah memiliki rencana, maka lakukanlah, jangan lagi memikirkan Ibu, andaipun ada masalah besar, Ibu masih bisa melarikan diri dari sini, karena ayahmu sudah memberitahu ibu tentang beberapa jalan rahasia di dalam penjara ini, dan hanya keluarga asli Song yang mengetahui jalur itu," kata Hua Yin.
Qian mengangguk dengan sedikit merasa lebih lega setelah mengetahui jika ada jalan rahasia untuk keselamatan Hua Yin, jika memang saat dirinya nanti tidak ada dan ada kejadian yang tidak terduga, setidaknya keluarganya masih bisa selamat.
"Baiklah sudah waktunya untuk keluar, jika terus berlama-lama disini, takutnya Xihua akan memaksa masuk," kata Qian.
__ADS_1
Hua Yin tertawa kecil mendengarnya, dia menepuk pundak Qian seraya berkata, "Kamu harus kuat saat berada di sisi adikmu itu!" ucapnya.
Qian mengangguk, dia tentu sudah tahu sikap Xihua yang sedikit manja dan juga sangat boros, namun disisi lain Xihua juga seorang pendekar Puncak Jiwa Petarung, jadi tidak ada yang perlu dikhawatirkan akan Xihua.
Setelah mengucapkan beberapa pesan serta ucapan perpisahan, Qian pun akhirnya meminta ijin untuk pergi serta meminta berkat dan doa dari ibunya, setelah itu Qian pun akhirnya keluar dimana di luar penjara, Xihua dan Fa Xeiyin serta Fa Xian masih menunggunya.
Hua Yin tersenyum setelah Qian pergi, dia terlihat lebih bersemangat seraya bergumam, "Tidak lama lagi Wilayah Song akan dibuat gempar. Qian, segeralah menjadi hebat seperti Sang Legenda itu, kami semua akan menunggu hari itu tiba," gumam Hua Yin.
Qian sudah menduga jika Xihua akan melemparkan banyak pertanyaan kepada dirinya akan apa saja yang dia bicarakan bersama Hua Yin di dalam penjara, dan Qian hanya memberikan jawaban asal-asalan saja kepada adiknya.
Setelah Tabib Li Xhiang mengobati Qian, mereka akhirnya sudah siap untuk pergi meninggalkan Istana. Raja Song dan Kedua Panglima serta beberapa pejabat serta Fa Lio Bai dan kedua anaknya juga ikut hadir untuk mengantarkan sang Pahlawan Muda.
"Jaga dirimu baik-baik Xihua, suatu hari nanti aku pasti akan kembali kesini," kata Qian.
Xihua yang biasanya banyak bicara hanya mengangguk dengan mata yang berair, sedangkan Qian hanya menggelengkan kepalanya melihat adiknya yang tidak rela melepaskan kepergian dirinya.
"Kakak Qian! Bawalah ini, kamu mungkin memerlukannya," kata Fa Xeiyin yang memberikan sebuah bungkusan kain.
Qian membukanya dan ternyata isinya adalah sebuah kitab milik Fa Lio Bai, hal itu jelas membuat Qian terkejut dan dengan bingung dia bertanya kepada Fa Xeiyin dan Fa Lio Bai. "Kenapa kamu memberikan kitab ini padaku?" tanya Qian.
"Itu adalah Kitab Tongkat Angin, aku dan Fa Xian sudah mempelajarinya, walau ini bukanlah ilmu bela diri yang hebat, namun masih sangat ampuh untuk digunakan," kata Fa Lio Bai.
"Terima kasih banyak paman, aku pasti akan mempelajarinya," kata Qian lalu dia menoleh ke arah Fa Xeiyin yang menundukkan wajahnya lalu Qian mengangkat dagu Fa Xeiyin yang terlihat matan gadis tersebut memerah dengan air mata yang mengalir di pipinya.
"Jangan bersedih, aku tidak akan melupakanmu, jika bisa, tunggulah sampai aku kembali menemuimu!" kata Qian yang sebenarnya sudah memahami perasaan Fa Xeiyin terhadapnya.
Fa Xeiyin hanya mengangguk pelan, lalu Fa Xian datang dan meninju bahu Qian dengan pelan seraya berkata, "Lekaslah kembali, aku sudah tidak sabar ingin melihatmu menjadi lebih hebat!" kata Fa Xian.
__ADS_1
Mereka berdua tertawa lepas kemudian keduanya mulai diam dan setelah itu saling berpelukan, bagaimanapun juga Fa Lio Bai dan kedua anaknya adalah orang pertama yang menjadi teman Qian, dan mereka sudah seperti keluarga.
Setelah selesai berpamitan kepada semua orang, Qian akhirnya pergi meninggalkan Istana, sedangkan di luar Gerbang Istana, Tabib Li Xhiang sudah menunggunya. Qian menoleh kebelakang sesaat, dan setelah melambaikan tangan kepada semua orang, punggung Qian akhirnya menghilang di balik Pintu Gerbang Istana.