PANGERAN PENDEKAR NAGA

PANGERAN PENDEKAR NAGA
Pertempuran Besar 1


__ADS_3

***


"Lapor Panglima! Menurut laporan pasukan pengintai, musuh saat ini sudah mengerahkan seluruh kekuatannya, semuanya berjumlah lima ribu prajurit dalam hitungan kasar, kemungkinan ini adalah serangan terakhir," kata salah satu prajurit yang melaporkan kepada Lian Bai.


"Bagaimana dengan para Pendekar di pihak mereka, apakah para Pendekar Jiwa Kaisar yang mereka miliki juga ikut dalam barisan?" tanya Lian Bai.


"Benar Pangeran, beberapa di antara mereka adalah ketua dari Lembah Tengkorak, dan Bulan Kematian," jawab prajurit tersebut.


"Apakah maksudmu Pendekar Tengkorak Api dan Pendekar Sabit Jiwa Kutukan?" tanya salah seorang pendekar wanita setengah tua dengan pakaian biru.


"Benar sekali Pendekar Ling!" jawab prajurit tersebut.


Perempuan yang dipanggil Pendekar Ling bernama Ling Mei, dia adalah adik Ling Yang ketua dari perguruan Bunga Biru, dan Ling Mei merupakan seorang Pendekar Jiwa Raja.


"Ternyata dua Iblis Tua itu keluar setelah bertahun-tahun tidak menampakkan diri! Kerajaan Qin ini, bagaimana dia bisa mendapatkan dukungan dari dua Iblis Tua itu?" gumam Ling Mei.


"Mereka tinggal di wilayah Song namun membantu para pemberontak, benar-benar sangat keterlaluan!" salah satu Pendekar berpakaian seperti Pendeta berbicara dengan nada datar.


"Pendeta Yu, dan Pendeta Shan, sepertinya kalian akan segera bertemu dengan musuh bebuyutan kalian!" kata Han Yue.


Pendeta Yu Kang dan Pendeta Shan Gu hanya bisa menghela nafas panjang, walau keduanya sama-sama Pendekar Jiwa Raja, namun mereka sudah sama-sama mencapai Puncak, dan keduanya mungkin sanggup untuk melawan seorang Pendekar Jiwa Kaisar, hanya saja musuh bebuyutan mereka adalah perguruan Lembah Tengkorak, sedangkan sosok yang disebut sebagai Tengkorak Api adalah seorang Pendekar Puncak Jiwa Kaisar yang tidak mungkin mampu untuk mereka hadapi.


"Apa boleh buat, sepertinya aku harus meminta bantuan saudara ketiga!" gumam Shan Gu lalu dia melirik ke sosok pria tua yang masih duduk dengan memejamkan mata,sosok itu adalah saudara ketiga yang bernama Tao Lao, salah satu Pendeta tertua dari tiga Pendekar terkuat yang merupakan Pendekar Menengah Jiwa Kaisar.


Tao Lao yang masih memejamkan matanya mengerutkan sebelah alisnya, dia membuka mata dan menoleh ke arah Yu Kang dan Shan Gu tanpa ekspresi lalu dia mengambil pernafasan sebelum akhirnya dia bangun. Tao Lao menghampiri kedua saudara seperguruannya seraya berkata, "Aku memang bukan tandingan Tengkorak Api, namun Tengkorak Api juga tidak akan dengan mudah untuk mengalahkanku, selama tidak ada Pendekar Jiwa Kaisar lainnya yang ikut campur, aku yakin akan mampu menahannya," kata Pendeta Tao Lao.


"Prajurit musuh sudah mendekat..! Prajurit musuh sudah mendekat..!" prajurit yang ada di menara segera memberikan peringatan.

__ADS_1


Suara genderang perang dari luar tembok mulai terdengar, hal itu membuat wajah semua para prajurit tegang, dan jantung mereka berpacu lebih kencang.


"Semuanya, bersiap untuk berperang, siapkan perisai kalian dan tunggu perintah ku untuk membuka pintu!" kata Lian Bai.


Yui Lin sendiri sudah berada di atas tembok bersama para pasukan pemanah yang tergabung antara prajurit pria dan wanita, ada juga rakyat biasa yang menjadi pasukan pemanah, walau tidak begitu mahir, setidaknya mereka masih bisa menarik busur.


Beberapa Pendekar yang ahli dalam memanah juga bersiap di posisi mereka, semuanya hanya tinggal menunggu perintah dari Yui Lin untuk melepaskan anak panah mereka.


"Kalian semua jangan terlalu gegabah, lepaskan anak panah jika musuh sudah berada di dalam jangkauan, terus perhatikan situasi dan jangan lengah," kata Yui Lin.


Saat ini pertempuran jarak jauh akan sangat membantu, namun para pasukan pemanah tidak boleh menyerang secara acak dan memanah secara membabi buta, bagaimanapun juga mereka tidak boleh membuang-buang anak panah sehingga akan terbuang sia-sia.


Saat gendrang musuh semakin cepat, beberapa batu besar yang dilemparkan dengan ketapel melayang dan menghantam tembok, hantaman tersebut membuat tembok bergetar hebat, namun tembok yang menjadi Benteng pertahanan itu sangatlah tebal dan kokoh sehingga tidak mudah untuk bisa menembusnya walau harus menggunakan ketapel.


Lemparan batu ketapel terus berdatangan menghantam tembok tersebut, bahkan ada batu yang sudah di selimuti api datang dan menghantam tembok bagian atas, beruntungnya para pasukan di atas tembok sudah waspada sehingga mereka dengan cepat menghindarinya sehingga tidak ada satupun korban jiwa.


"Pasukan pemanah, serang bagian pendobrak itu!" seru Yui Lin.


beberapa bagian pasukan pemanah segera membidik ke arah barisan pendobrak pintu, dan seketika itu juga, Hujan Panah segera mengguyur mereka dibawah.


Beberapa pasukan musuh ada yang terkena panah, dan kebanyakan panah-panah itu ditahan dengan tameng mereka sehingga tidak begitu banyak memakan korban.


Dari bawah, pasukan pemanah musuh juga membalas serangan dengan melepaskan hujan panah untuk menghentikan lawan, semua pasukan pemanah di atas tembok segera berlindung, namun hujan panah terlalu banyak sehingga panah-panah itu mulai mendapatkan korbannya.


Melihat semua itu, Yui Lin hanya bisa menahan diri, dia sadar jika pasti ada kematian dari para prajuritnya, namun dia tetap untuk berpikir tenang di tengah-tengah rintihan kesakitan para prajuritnya.


Yui Lin mengamati para pasukan pendobrak pintu yang sudah mulai mendekati pintu gerbang, Yui Lin dengan tangannya bersiap untuk memberikan kode perintah, dan tepat saat pasukan pendobrak sampai di pintu gerbang, Yui Lin segera melepaskan tangisan perintahnya. "Lepaskan sekarang..!"

__ADS_1


Sebuah tali yang sudah dipersiapkan segera dipotong, dan kemudian beberapa drum kayu berisi minyak ditumpahkan ke bawah dimana pasukan pendobrak sudah berkumpul. Pasukan pemanah segera menyalakan Api di ujung panah mereka lalu mulai memanahi musuh yang sudah basah kuyup oleh minyak di bawah.


Api dengan cepat menyala membakar puluhan prajurit dengan suara jerit yang memilukan di dalam lautan kobaran api, bau daging terbakar segera menyebar, dan pasukan Yui Lin terus memanahi pasukan musuh di bawah.


Panah musuh segera memberikan balasan ke arah tembok, kini panah-panah itu tidak hanya mengarah ke para pasukan Yui Lin, melainkan keseluruh yang ada di atas tembok, bahkan sampai melewati tembok tersebut.


Yui Lin segera memberikan aba-aba kepada Lian Bai, setelah melihat itu, Lian Bai segera memberi perintah untuk memasang pertahanan perisai pelindung, dan hujan panah segera berjatuhan ke arah pasukan di balik tembok.


***


"Selama masih ada tembok ini, kita masih bisa bertahan! Setidaknya untuk sementara waktu saja," kata Li Xhiang kepada Qian.


Qian memperhatikan lautan pasukan Kerajaan Qin di depan, dia menyaksikan pertempuran jarak jauh itu yang mulai jatuh korban dari kedua belah pihak, bau daging terbakar memang sedikit mengganggunya, namun dia tidak memiliki waktu untuk memperdulikannya, sebab ada hujan panah yang mulai datang ke arahnya.


Panah-panah yang tak terhitung jumlahnya itu segera ditepis oleh para pendekar, ada yang menggunakan Pedang, cambuk dan bermacam senjata untuk di jadikan alat untuk menghalau panah yang berdatangan.


Qian sendiri mengeluarkan dua pedang dan mulai menepis setiap anak panah yang datang dengan kedua pedangnya, begitu juga dengan Li Xhiang. Para pendekar termasuk Qian mungkin masih bisa memblokirnya, namun tidak bagi para prajurit yang sebagian besar adalah orang biasa, belasan hingga puluhan prajurit mulai terluka dan beberapa mulai gugur, hal itu membuat para Pendekar berilmu tinggi mulai menggunakan keahlian mereka untuk mengembalikan serangan itu dengan jurus-jurus unik mereka masing-masing. Kebanyakan yang mampu melakukannya adalah mereka yang berada di kelas Puncak Jiwa Ahli ke atas.


Para pasukan pendobrak pintu sudah banyak yang mati, namun segera digantikan oleh pasukan yang lain sehingga pintu gerbang mulai bergetar karena didobrak beberapa kali.


"Sepertinya beberapa Pendekar sudah mulai bergerak!" kata Tie Hu Jia yang memperhatikan para pendekar dari pihak lawan yang bergerak dan berusaha untuk menaiki tembok.


"Panglima Yui, pusatkan kepada para pendekar yang ingin memanjat itu!" kata Li Xhiang.


"Apa tidak sebaiknya kita bersiap membantu Panglima Lian Bai Tabib Li?" tanya Qian.


Li Xhiang menoleh ke arah pintu gerbang, dia hanya menggelengkan kepalanya seraya berkata, "Tidak perlu, Pintu gerbang itu sangat kuat, mereka tidak akan mudah untuk mendobraknya, lagi pula, Panglima Lian Bai tahu apa yang harus dia lakukan, tugas kita disini terus mengamati para pendekar di pihak musuh, jika sudah tiba waktunya nanti, barulah kita akan turun untuk menyerang mereka,"kata Li Xhiang.

__ADS_1


Qian mengangguk, saat ini pengalamannya tentang pertempuran besar masih sangat minim, dia cukup kagum kepada Li Xhiang, dimana dia sebagai tabib serta pendekar memiliki wawasan serta pengamatan yang luar biasa, Qian merasa jika Li Xhiang memiliki pengalaman yang sangat banyak terlepas dari statusnya yang merupakan seorang Tabib.


__ADS_2