
Setelah memisahkan di tempat tempat yang berbeda, Qian hanya merebus tiga bahan yang dihaluskan dan hanya menyisakan Daun Ginseng Merah yang sudah di haluskan. Setelah merebus ketiga bahan itu selama hampir setengah hari, ketiga bahan itu di tiriskan lalu dibiarkan dingin.
Selagi menunggu, Qian memeras tumbukan Daun Ginseng Merah dan hanya mengambil sarinya saja, dan perasaan sari Daun Ginseng Merah tersebut direbus dengan suhu sedang dan menunggu hingga perasan sari Daun Ginseng Merah mendidih dan agak kental.
Setelah sari itu mendidih dan agak kental, Qian mulai mencampurkan ketiga bahan yang sudah ditiriskan lalu mengaduknya hingga sari Daun Ginseng Merah benar-benar terserap sepenuhnya hingga yang tersisa hanyalah ketiga bahan yang mulai menggumpal.
Setelah sudah benar-benar menggumpal, Qian mengeluarkannya dan meletakkannya di atas selembar daun, setelah agak dingin, Qian mulai membentuknya menjadi bulat dengan menggunakan tangan.
Pil bulat berwarna merah seukuran ibu jari kini sudah berada di telapak tangan Qian, bentuknya tidak sepenuhnya bulat, dan kulit bagian luar sangat kasar, walau aroma obatnya sudah terasa, namun Qian hanya menggelengkan kepalanya.
"Saat Pangeran merebus ketiga bahan itu, seharusnya Pangeran jangan dulu mengaduknya hingga ada busa merah yang keluar, kesalahan tadi memang kecil, namun kesalahan kecil itu membuat bahan tidak sepenuhnya menjadi sangat halus saat sudah matang, dan tidak akan ada hasilnya," kata Li Xhiang.
"Terima kasih Tabib Li!" kata Qian dan kemudian dia mencoba membuatnya lagi.
Dua hari telah berlalu, dan Qian sudah tiga kali gagal membuat Pil Giok Darah, dan itu terus berlanjut ke hari-hari berikutnya. Wajah Qian dipenuhi noda hitam karena arang, penampilannya selama beberapa hari berada di depan tungku api benar-benar sangat berantakan.
Meskipun gagal berkali-kali, Lin Qian tidak menyerah. Dia terus mencoba dan mencoba lagi, menganalisis setiap langkahnya, dan mencari tahu di mana kekeliruan yang dia lakukan sekaligus menggali pengetahuannya sendiri melalui eksperimen.
Lin Qian belajar dari kegagalan-kegagalannya dan membuat perbaikan kecil setiap kali dia mencoba lagi. Dia menyesuaikan suhu, jumlah bahan yang digunakan, dan proporsi campuran untuk mencapai hasil yang diinginkan.
Setelah selama berhari-hari uji coba dan usaha yang tak kenal lelah, Lin Qian akhirnya berhasil menciptakan Pil Giok Darah.
"Akhirnya aku berhasil juga..!" kata Qian yang langsung membaringkan tubuhnya di atas tanah dengan tangan kanan menggenggam Pil buatannya.
Membuat satu Pil di peringkat satu saja sudah memakan banyak waktu usaha dan pikiran, Qian tidak bisa membayangkan akan seperti apa Pil di peringkat dua dan selanjutnya, pastinya akan lebih sulit lagi.
"Selamat Pangeran, akhirnya pangeran berhasil membuatnya, kamu hanya membutuhkan waktu tujuh hari baru bisa menyempurnakannya. Padahal saya dulu membutuhkan waktu hingga satu bulan saat membuat Pil pertama ku!" kata Li Xhiang seraya memperhatikan Pil merah di tangan Qian.
__ADS_1
Pil Giok Darah buatan Qian adalah produk biasa, namun Pil Giok Darah sangat berguna bagi para Pendekar. Dalam medan pertempuran, cedera serius adalah hal yang tidak bisa dihindari. Para Pendekar seringkali berhadapan dengan musuh yang tangguh dan berbahaya, dan luka-luka yang membutuhkan penanganan cepat bisa menjadi perbedaan antara hidup dan mati.
"Pil Giok Darah ini sangatlah efektif dalam menghentikan pendarahan dengan cepat dan efisien. Dalam beberapa detik, darah yang tadinya mengalir deras akan terhenti, memberikan kesempatan bagi para Pendekar untuk memulihkan diri dan melanjutkan pertarungan. Selain kemampuannya dalam mengatasi luka-luka, Pil Giok Darah juga sangat praktis digunakan. Setiap pil dikemas secara terpisah dan mudah dibawa ke medan pertempuran. Para Pendekar hanya perlu mengonsumsi satu pil ketika mereka mengalami pendarahan luka, dan pil ini akan memberikan efek seketika," kata Li Xhiang.
Qian memperhatikan Pil di tangannya, walau Pil itu memiliki khasiat yang lumayan menguntungkan, namun Pil Giok Darah hanya khusus mengobati luka dan menghentikan pendarahan saja, terlebih lagi Pil di tangan Qian hanyalah Pil di peringkat satu.
"Setidaknya usaha ku menuai hasil!" gumam Qian lalu dia menyimpannya di dalam botol dan akan menjadikannya sebagai kenang-kenangan atas usaha Pertamanya.
"Pangeran sudah bekerja keras, bersihkan diri dulu lalu segera beristirahat!" kata Li Xhiang.
Qian mengangguk lalu dia segera pergi untuk membersihkan diri sekaligus beristirahat, kali ini Qian benar-benar sangat kelelahan, dan dalam sekejap saja dia tertidur dengan sangat lelap.
Di hari-hari berikutnya, Qian sudah mampu membuat lima Pil Giok Darah dalam satu hari, bahkan kualitas Pil nya semakin baik, kemajuan Qian dalam mempelajari ilmu pengobatan benar-benar sangat cepat, namun Qian tidak begitu berlarut-larut dalam mempelajari ilmu pengobatan.
"Sudah waktunya bagiku untuk mengkonsumsi Pil Matahari Emas!" kata Qian yang duduk sendirian di belakang rumah Li Xhiang.
Qian bangkit dan pergi menemui Li Xhiang yang saat ini masih mengobati seorang pasien. Melihat Li Xhiang yang masih sibuk, Qian tidak ingin mengganggunya sehingga hanya bisa menunggu hingga Li Xhiang selesai.
"Owh tentu saja ada Pangeran! Apakah Pangeran berencana untuk naik ke Jiwa Ahli?" tanya Li Xhiang.
"Mudah-mudahan saya beruntung!" jawab Qian seraya mengangguk pelan.
"Kalau begitu baiklah, tunggu sebentar!" kata Li Xhiang yang masih sibuk membereskan barang-barang yang berserakan, dan setelah itu dia membawa Qian ke belakang rumahnya dan dia berhenti di sebuah tanah kosong lalu Li Xhiang membersihkan tanaman liar dan terlihatlah sebuah kayu papan kotak.
Li Xhiang mengangkat papan tersebut yang ternyata itu adalah sebuah ruangan bawah tanah dengan tangga besi yang menancap di dindingnya. Li Xhiang turun dan diikuti oleh Qian yang masih keheranan karena tidak menduga jika ada ruang bawah tanah di tempat itu.
"Pangeran bisa berlatih dengan tenang disini, tidak akan ada satu orangpun yang akan mengganggu pangeran, karena tempat ini adalah tempat saya ketika melakukan latihan tertutup!" kata Li Xhiang yang menjelaskan sembari berjalan dengan membawa obor.
__ADS_1
Qian tidak banyak bertanya walau pikirannya dipenuhi dengan banyak pertanyaan, dia hanya bisa berdecak kagum melihat ruang bawah tanah yang memiliki ruang cukup luas dengan jalan lorong yang sedikit menurun, dan setelah itu mereka tiba di sebuah ruangan yang sangat lebar dan luas, namun hawa nya sedikit pengap.
Setelah menyalakan beberapa obor di setiap dinding, Qian melihat ada sebuah batu lebar sebesar meja di kamar Qian, dan disampingnya ada beberapa kendi air.
"Bagaimana Pangeran, apakah Pangeran bersedia melakukan latihan tertutup di ruang bawah tanah ini?" tanya lagi Li Xhiang.
Li Xhiang menanyakan itu bukan tanpa alasan, ruang bawah tanah agak sedikit pengap, jika orang tidak terbiasa pasti akan merasa kegerahan pada akhirnya akan memilih untuk keluar.
"Tidak masalah Tabib Li, tempat ini sangatlah cocok, aku benar-benar menyukainya!" jawab Qian.
"Hahaha… Sudah ku duga! Kalau begitu baiklah, Pangeran bisa melakukannya, saya akan segera kembali ke atas, dan setiap hari saya akan mengantarkan makanan kesini untuk pangeran," kata Li Xhiang.
"Tabib Li, mungkin saya akan berlatih cukup lama, selama saya melakukan latihan ini, bisakah saya meminta satu permintaan lagi?"
"Apa itu pangeran? Katakanlah, saya akan melakukannya jika saya bisa," jawab Li Xhiang.
"Aku hanya ingin meminta bantuan Tabib Li untuk mengamati perkembangan keluargaku, takutnya kejadian kemarin akan terulang kembali," kata Qian.
"Owh, kalau hanya itu Pangeran tidak perlu khawatir, kebetulan tiga hari lagi saya akan ke istana untuk mengobati para prajurit yang baru kembali dari medan perang," jawab Li Xhiang.
"Terima kasih banyak atas bantuan Tabib Li, kebaikan Tabib Li akan saya ingat selamanya," kata Qian.
"Tidak perlu berkata seperti itu Pangeran, sudah menjadi kewajiban saya untuk membantu Pangeran! Kalau begitu silahkan Pangeran memulai latihannya, saya pamit kembali ke atas," kata Li Xhiang setelah itu dia pergi dengan membawa beberapa kendi air yang kosong untuk diisi kembali.
Qian menghela nafas panjang setelah Li Xhiang menghilang di lorong ruang bawah tanah itu, setelah itu dia mengeluarkan semua kotak kayu yang dia ambil dari istana sekaligus mengeluarkan Pedang Naga Api nya serta Kitab Naga Langit.
Sebelum Qian mengkonsumsi Pil Matahari Emas nya, dia akan lebih dulu berlatih beberapa jurus yang belum begitu dikuasainya, dan dengan semangat yang menggebu-gebu, Qian memulai latihannya.
__ADS_1
Qian lebih dulu akan berlatih salah satu Jurus Pedang Naga Api nya, salah satu jurus yang di gunakan saat melawan Pendekar Awal Jiwa Ahli "Tebasan Lidah Naga Api" adalah salah satu dari jurus Pedang Naga Api yang paling pertama. Jurus tersebut sebenarnya adalah jurus paling mudah untuk di kuasai karena gerakannya tidak sesulit gerakan jurus Pedang di tahap berikutnya.
Walau jurus yang akan dia pelajari adalah Jurus dari Pedang Naga, namun Qian memilih untuk menggunakan Pedang biasa, dia tidak mau menggunakan Pedang Naga Api, karena resikonya sangat tinggi.