PANGERAN PENDEKAR NAGA

PANGERAN PENDEKAR NAGA
Pendekar bayaran


__ADS_3

Sembari menunggu Li Xhiang kembali, Qian menyibukkan dirinya dengan membuat berbagai macam jenis obat, mulai dari yang serbuk, obat cair dan juga Pil. Beberapa kegagalan masih tetap terjadi, namun Qian berusaha memperbaiki beberapa kesalahannya sebelum akhirnya dia berhasil membuat berbagai macam jenis obat.


Sudah sepuluh hari berlalu, namun Li Xhiang belum juga kembali, sedangkan Qian yang tinggal sendirian disana terkadang disibukkan oleh beberapa pasien yang mengalami beberapa luka ringan, yang bisa diatasi akan diobatinya, namun jika sangat sulit, Qian akan menolaknya secara halus.


Disamping itu, Qian juga berusaha mempelajari lebih dalam lagi tentang ilmu pengobatan dan hal-hal membuat obat, sedangkan sisanya akan dia gunakan untuk latihan serta mengkonsumsi beberapa tanaman secara bertahap.


Di hari ke 12, Qian sedang beristirahat setelah selesai mengobati satu pasien terakhirnya, dia menghela nafas panjang sembari membaringkan tubuhnya disamping rumah seraya bergumam, "Ternyata tidak mudah menjadi seorang tabib," gumamnya seraya menatap langit-langit rumah.


Selama dua belas hari ini Qian sudah mengalaminya sendiri, dia sampai harus membagi waktu antara mengobati orang, belajar, membuat obat, dan berlatih. Waktu yang dia miliki sangatlah sedikit sehingga Qian mulai merasakan akan beratnya menjadi seorang tabib. Qian sedikit heran bagaimana cara Li Xhiang membagi waktunya selama menjadi seorang tabib, mengingat ilmu pengobatan Li Xhiang sangat tinggi sehingga mampu membuat Pil di peringkat Lima, pasti sangat sulit bagi Li Xhiang untuk mencapai ke tingkat tersebut.


"Kenapa Tabib Li tidak juga pulang? Sebenarnya dia pergi kemana?" kata Qian yang teringat kembali kepada Li Xhiang yang tidak kunjung pulang.


Qian duduk kembali sembari memperhatikan ke sekelilingnya, dia mencari-cari sesuatu, tentu saja yang dicarinya adalah sebuah petunjuk, siapa tahu ada petunjuk yang ditinggalkan oleh Li Xhiang sedangkan Qian sebelumnya tidak teliti dalam memeriksa seluruh ruang kerja milik Li Xhiang.


Namun seperti sebelumnya, Qian sama sekali tidak menemukan apapun sehingga perasaan Qian semakin khawatir. Karena tidak menemukan apapun, Qian keluar dari sana dan saat akan pergi ke tempat penyimpanan obat, Qian mendengar suara langkah kaki kuda.


Qian keluar untuk melihat akan siapa yang datang, dan ternyata yang datang adalah salah satu prajurit istana. Prajurit itu segera turun dari kudanya kemudian dia menghampiri Qian.


"Apakah kamu datang kesini untuk mencari Tabib Li?"


Saat prajurit itu baru tiba di hadapan Qian, dia sudah lebih dulu menanyakan maksud kedatangan Prajurit itu. Prajurit tersebut segera menangkupkan tangan ke pada Qian seraya berkata, "Saya adalah Prajurit Pengirim Pesan yang diutus oleh Tabib Li untuk mengantar surat ini kepada Pendekar Muda!" kata Prajurit tersebut seraya menyerahkan gulungan kertas yang diikat dengan tali kuning.


"Kamu diutus Tabib Li? Apakah Tabib Li ada di istana?" tanya Qian seraya menerima gulungan surat tersebut.


"Tabib Li saat ini berada di perbatasan, perang besar telah membuat banyak kerugian, itu sebabnya Tabib Li mendapatkan perintah dari Raja untuk segera turun tangan menolong para prajurit yang terluka, karena tabib yang ada disana tidak mampu mengatasi banyaknya prajurit yang terluka," jawab Prajurit tersebut.


Qian mengangguk setelah mendengar penjelasan Prajurit tersebut, setelah itu prajurit pengantar pesan itu segera meminta izin untuk segera kembali, dan Qian mempersilahkannya.


Qian segera membuka surat tersebut yang ternyata adalah pesan permintaan maafnya karena pergi tanpa meninggalkan surat kepada Qian, sebab dia sudah tidak sempat karena keterbatasan waktu. Tabib Li juga berpesan jika Qian sudah keluar dari latihan tertutupnya untuk segera menyusulnya ke perbatasan, karena perang besar yang terjadi telah kehilangan banyak prajurit dan para pendekar yang gugur, dan jika dibiarkan, bisa-bisa Kerajaan Song akan kalah.

__ADS_1


Qian menutup surat tersebut kemudian dia berbalik dan pergi ke kebun tanaman untuk mengambil tanaman obat sebanyak-banyaknya untuk dibawa ke Perbatasan. Tentu saja Qian tidak akan mungkin tinggal diam setelah mengetahui jika Kerajaan nya berada di ambang kehancuran.


Qian berencana akan pergi dua hari lagi ke perbatasan karena dia akan lebih dulu membuat banyak obat serta Pil untuk persediaan dirinya dan juga untuk para Prajurit yang bertempur di perbatasan. Qian juga menutup pintu dengan memberikan pesan tertulis jika tidak ada orang di rumah, walau Qian sendiri masih belum berangkat, dia tidak memiliki waktu untuk menerima pasien.


Dua hari kemudian, Qian yang sudah mempersiapkan semua yang dia butuhkan segera keluar dari rumah Li Xhiang dan pergi ke pasar Kota Chang untuk membeli seekor kuda, namun saat di jalan, langkah Qian tiba-tiba saja di hentikan oleh empat sosok pria bertubuh besar dan kekar.


"Hei! Bukankah kamu adalah pemuda yang waktu itu melemparkan obat bius kepada ku?" kata salah satu pria berbadan kekar itu.


"Itu memang dia..! Kebetulan sekali, aku ingin membalas anak ini karena telah mematahkan tulang lenganku," ucap rekannya.


Qian menatap mereka berempat yang mulai melepaskan niat membunuh, Qian tentu mengetahui keempat sosok di hadapannya, mereka adalah para Pengawal Chu Hao yang dijuluki sebagai Empat Tubuh Kebal Bersaudara.


"Ternyata kalian! Saat ini aku tidak ingin melawan kalian, minggir jangan halangi jalanku!" kata Qian yang mengabaikan mereka berempat.


"Ternyata kamu lebih sombong daripada kami. Tapi… baiklah, kami akan membiarkanmu pergi dari sini, tapi dengan satu syarat, tinggalkan satu tanganmu kepada kami, maka kami tidak akan lagi mengganggumu! Bagaimana?"


Qian hanya diam mendengar permintaan mereka, dia hanya menggelengkan kepalanya lalu dia menatap ke arah pendekar yang tangannya masih diikat. Qian tertawa kecil melihat pendekar tersebut seraya berkata, "hehehe..! Sepertinya sejak tanganmu patah kamu pasti sangat menderita, kasihan sekali!" kata Qian seraya tertawa.


"Kasihan sekali anak muda itu, dia sudah pasti akan mati oleh kekejaman mereka!"


Semua warga yang melihat itu mulai saling berbicara satu sama lain, obrolan itu juga terdengar oleh Qian, namun Qian tidak memperdulikannya.


Mata Pendekar yang lengannya patah langsung memerah, dia dengan marah berkata, "Baik! Karena kamu sendiri yang memintanya, jangan salahkan kami jika kamu harus mati disini," kata pendekar yang pernah berhadapan dengan Fa Lio Bai.


"Hahaha..! Jika keempat temanmu ada disini, mungkin kami masih mempertimbangkan penyerangan ini, namun karena kamu hanya sendirian, bersiaplah untuk menerima pembalasan kami berempat," kata Pendekar yang pernah terkena obat bius Qian setelah itu mereka berempat maju bersamaan dengan serangan tapak mereka.


"Waktu itu saja aku mampu melumpuhkan kalian, begitu juga dengan sekarang, karena diriku yang saat ini sudah berbeda dengan yang dulu," kata Qian lalu dia melompat saat keempat serangan tapak mereka hampir mendarat di tubuh Qian.


Dengan bantuan pijakan dari salah satu lengan Pendekar itu, Qian melompat lebih tinggi lagi lalu dia muncul tepat di belakang Pendekar yang hanya memiliki satu tangan untuk menyerangnya.

__ADS_1


Qian menargetkan Pendekar yang lengannya patah dengan melakukan gerakan cepat nya, Qian sudah berhasil berada di belakang Pendekar tersebut. Jelas pendekar tersebut terkejut dengan ilmu meringankan tubuh Qian yang semakin meningkat, dan belum sempat dia menoleh ke belakang, Qian sudah lebih dulu menarik lengan pria yang patah itu hingga pengikatnya terlepas.


Pendekar yang lainnya juga belum sempat bereaksi saat melihat tangan Qian yang dengan lihainya menarik, memelintir, dan menekan lengan rekannya yang patah. Suara teriakan kesakitan yang luar biasa membuat Pendekar itu hanya bisa menjerit-jerit, namun Qian sama sekali tidak memperdulikan jeritannya.


"Lepaskan saudara kami..!" teriak yang lainnya dengan marah, namun mereka tidak berani mendekat karena takut Qian akan lebih menyakiti saudara seperguruan mereka.


Qian hanya melirik yang lainnya dengan acuh, lalu dia melebarkan telapak tangannya dan kemudian menekan tangan pria di hadapannya dengan keras hingga suara-suara seperti tulang yang diremas terdengar oleh mereka semua. Teriakan pendekar itu semakin menjadi-jadi yang membuat ketiga saudaranya menelan ludah, mereka tidak bisa membayangkan rasa sakit yang diderita oleh saudara mereka saat ini.


Qian *******-***** seluruh lengan tersebut kemudian dia menariknya sebentar sebelum akhirnya dia melepaskannya. Pendekar itu segera mundur dengan wajah ketakutan bercampur dengan amarah.


"Apa kamu baik-baik saja?" tanya salah satu rekannya.


Dengan nafas yang masih berat serta keringat yang masih membasahi wajahnya, pria itu mengangguk pelan lalu mereka berempat ingin kembali menyerang Qian, namun salah seorang dari mereka terkejut saat melihat lengan saudaranya yang patah sudah bisa di gerakkan.


"Lenganmu..? Apakah lengan mu sudah sembuh?" tanyanya yang membuat mereka berempat sama-sama terkejut.


Pria itu juga sama terkejutnya sebab dirinya tidak menyadari jika lengan nya yang patah kini sudah bisa digerakkan lagi, dia menggerak-gerakkan lengan nya beberapa kali dan baru menyadari jika lengan nya sudah pulih sepenuhnya.


"Sepertinya tadi dia itu bukan berniat untuk mencelakai ku, melainkan mengobatiku," kata Pria tersebut yang membuat mereka semua terkejut dan baru menyadari jika pemuda yang ingin mereka bunuh justru membantu mereka.


Mereka berempat sama-sama mengangguk setelah menyadari semua itu, mereka tidak lagi berniat untuk menyerang Qian, justru sebaliknya mereka menghampiri Qian lalu menangkupkan tangan seraya berkata, "Maafkan atas sikap kami Pendekar Muda, kami telah dibutakan oleh amarah sehingga tidak menyadari niat baik Pendekar Muda," kata pria tersebut.


Qian mengangguk dengan tersenyum, dia sama sekali tidak berniat untuk bermusuhan dengan keempat Tubuh Kebal Bersaudara itu, mungkin sebelumnya mereka memang telah terlibat perselisihan, namun masalah itu disebabkan oleh Chu Hao, mereka berempat hanya menuruti perintah pemuda dari keluarga Chu, dan secara alami mereka akan mematuhi perintah sang majikan.


"Kalian kembali ke Keluarga Chu dan titip pesan untuk Chu Hao, katakan untuk segera berhenti bersikap arogan jika tidak ingin keluarganya hancur," kata Qian.


Mereka berempat saling berpandangan satu sama lain lalu pria yang terlihat lebih tua usianya berbicara kepada Qian, "Maaf Pendekar Muda, kami sudah tidak lagi bekerja dengan Keluarga Chu, sejak kami dikalahkan oleh Pendekar muda di hari itu, kami sudah dianggap gagal dan di keluarkan!" ucapnya seraya menggelengkan kepala.


Banyak orang yang terkejut mendengar hal itu, mereka semua tidak mengetahui jika sebenarnya keempat Pendekar itu sudah tidak lagi menjadi pengawal Keluarga Chu, selama ini mereka berempat juga merahasiakan semuanya dari publik demi citra mereka, namun sekarang mereka sudah mengatakannya di depan umum.

__ADS_1


"Owh seperti itu rupanya! Jika kalian benar-benar sudah tidak bekerja untuk Keluarga Chu, bagaimana kalau kalian berempat ikut denganku ke perbatasan? Kalian berempat memiliki kemampuan yang hebat, dan keahlian kalian sangat dibutuhkan oleh Kerajaan ini, bagaimana?" tanya Qian.


Mereka berempat hanya bisa saling berpandangan satu sama lain, mereka berempat adalah Pendekar yang bebas dan tidak memiliki keterikatan dengan segala aturan, mereka bisa juga disebut sebagai Pendekar bayaran.


__ADS_2