
Qian memang baru naik ke Kelas Awal Jiwa Ahli, namun walau masih baru dan juga awal, Qian memiliki satu kelebihan yang tidak dimiliki oleh para Pendekar pada umumnya, kelebihan tersebut adalah Tulangnya. Kebanyakan para pendekar di dunia persilatan mengutamakan untuk menambah Tenaga Dalam sebanyak mungkin tanpa memperdulikan kualitas dari kemampuan yang akan mereka dapatkan, di samping itu ada beberapa persyaratan lain yang hanya ditekuni oleh para pendekar berilmu tinggi, yaitu pembentukan Pondasi Jiwa.
Pondasi Jiwa termasuk masalah yang paling utama, tidak banyak yang berhasil membentuknya kecuali hanya mereka yang benar-benar menekuninya. Ada tujuh jenis Pondasi Jiwa yang harus dibentuk, jika seseorang berhasil membentuknya dengan sempurna, orang itu akan benar-benar menjadi Pendekar nomor satu di dunia persilatan.
Saat ini Qian masih belum membentuk satupun dari salah satu Pondasi Jiwa tersebut, namun sebagai gantinya, Qian berhasil meningkatkan kualitas tulangnya sehingga Qian akan mampu berhadapan dengan Pendekar Menengah Jiwa Ahli. Kelebihan dari tulang Qian yang sudah ditingkatkan ke Tulang Naga Muda, dia akan memiliki kekuatan untuk melepaskan serangan tiga kali lipat lebih besar dari pada kekuatan Pendekar Awal Jiwa Ahli yang sebenarnya.
Saat ini Pendekar Menengah Jiwa Ahli yang ingin membalas dendam atas kematian kedua rekannya melepaskan serangan dengan menggunakan jurus permainan pedang yang cukup gesit. Di samping itu, Tenaga Dalam yang dialirkan cukup banyak sehingga Pedang Pendekar tersebut memancarkan cahaya kuning agak redup.
"Membelah Matahari."
Pedang yang sedikit memancarkan cahaya kuning melepaskan serangan kuat ke arah Qian, tanpa pikir panjang, Qian langsung menahannya dengan salah satu pedangnya dan berencana akan menggunakan pedang yang satu lagi untuk memberikan balasan, namun sayangnya, sebelum Qian sempat melakukannya, Pedangnya yang menahan serangan itu langsung retak sebelum akhirnya patah menjadi dua.
Qian melompat mundur menjaga jarak setelah merasakan kedahsyatan serangan tersebut, dia memperhatikan sisa pedangnya yang tinggal setengah itu dan menemukan ada sedikit asap dari bekas patahannya, Qian yakin jika Tenaga Dalam yang dialirkan itu mengandung unsur Api sehingga membuat Pedang nya yang hanya merupakan pedang biasa harus patah.
"Seni Pedang yang menarik!" gumam Qian lalu dia juga mengalirkan Tenaga Dalam nya ke pedang yang tersisa sehingga Pedang itu mulai memerah. Qian akan mencoba menggunakan jurus Pedang Naga Api tanpa harus menggunakan Pedang pusakanya, dia ingin melihat apakah cara tersebut berhasil atau tidak.
Mata Pendekar tersebut menyipit setelah melihat Pedang di tangan Qian menyala sedikit kemerahan seperti bara api, dia baru sadar jika ternyata unsur Tenaga Dalam pemuda tersebut ternyata mengandung unsur Api. Tanpa mengatakan sepatah katapun, pendekar tersebut kembali menyerang Qian dengan jurus yang sama, sedangkan Qian juga maju menyambut serangan tersebut dengan Pedang yang bercahaya.
"Membelah Matahari."
"Tebasan Lidah Naga Api."
Qian dan Pendekar tersebut sama-sama beradu pedang sehingga suara besi keras menciptakan riak gelongbang angin panas yang menyebar, serangan Api melawan Api benar-benar membuat suhu sedikit lebih hangat.
Benturan kedua pedang menciptakan suara besi yang hancur, sedangkan kedua penggunanya sama-sama terpental mundur beberapa langkah. Pedang Qian langsung hancur berkeping-keping, sedangkan pedang lawannya terpotong menjadi dua.
Qian tidak menunggu waktu setelah berhasil menstabilkan tubuhnya, dia kembali maju dengan tangan kosong dan mulai memperpendek jarak dengan lawannya. Melihat Qian yang sudah berada cukup dekat, Pendekar tersebut tidak memiliki waktu untuk terkejut atas pedangnya yang sudah terpotong menjadi dua, dia menyadari jika serangan sesama Pendekar Jiwa Ahli akan berakhir demikian.
__ADS_1
Keduanya kembali saling serang dengan serangan pukulan dan tendangan, Pendekar itu yakin jika Qian adalah Pendekar Ahli Pedang, jadi tanpa pedang, dia meyakini jika Qian bukanlah tandingannya.
Keduanya sama-sama menyerang serta bertahan, setelah lebih dari sepuluh jurus, Pendekar tersebut terkejut setelah merasakan jika Qian menggunakan jurus yang aneh yang belum pernah dia lihat selama dirinya menjadi seorang Pendekar.
Qian dengan tangan yang membentuk tiga cakar seperti Elang namun gerakan berbeda dari jurus Elang membuat Pendekar tersebut sulit untuk membaca gerakan serangan Qian, belum lagi pukulan yang Qian lepaskan bertolak belakang dengan jurus pertama sehingga Pendekar tersebut sadar jika Qian telah menggunakan beberapa jurus yang berbeda-beda.
"Pukulan Penghancur Gunung."
Sekali lagi Qian melepaskan pukulan yang lebih kuat lagi, dia mengandalkan kekuatan Fisik nya untuk melepaskan serangan terakhirnya, namun sayang Pendekar tersebut mampu menahannya.
Qian dan lawannya sama-sama mundur setelah beradu serangan, sedangkan Pendekar itu merasakan telapak tangannya sedikit kebas yang disertai rasa nyeri yang menjalar keseluruh lengannya seperti mati rasa.
"Bocah ini..! Sepertinya ada kekuatan lain yang mendukungnya, tapi apa?" batin pendekar tersebut seraya memperhatikan Qian yang mulai menelan Pil.
Satu hal yang membuat Pendekar itu bingung, tenaga pemuda di hadapannya terasa jauh lebih besar dari pada tenaga para Pendekar Awal Jiwa Ahli pada umumnya, menurutnya Qian memiliki tenaga dalam yang lebih banyak dari pada dirinya yang merupakan Pendekar Menengah Jiwa Ahli.
"Bocah, terimalah kematianmu..!" seru Pendekar tersebut seraya bergerak dengan tombaknya ke arah Qian.
Qian menghirup nafas dalam-dalam kemudian dia membungkukkan badannya seraya mengarahkan satu tangan ke belakang dengan tangan yang seperti menggenggam pedang, tentu saja pendekar tersebut tidak begitu peduli dengan gaya gerakan Qian yang aneh, walau pemuda itu memposisikan tangannya seperti memegang pedang, nyatanya tidak ada apapun yang dia genggam.
Dengan niat membunuh yang kuat, Pendekar itu dengan cepat memperpendek jarak keduanya dan langsung melancarkan serangan tusukan tombaknya yang sangat kuat dan juga cepat. Qian hanya memiringkan tubuhnya ke samping kanan menghindari tombak tersebut kemudian dengan tangan kirinya dia menangkap tombak tersebut yang membuat pendekar itu terkejut.
Pendekar itu jelas tidak bisa melepaskan tombaknya dari genggaman Qian, sedangkan Qian mengangkat sudut bibirnya menunjukkan senyum dingin yang membuat Pendekar tersebut membeku sebelum akhirnya ucapan Qian mengejutkannya.
"Hasil akhir belum diputuskan akan siapa mencabut nyawa siapa!"
Setelah suara pelan Qian terdengar, sebuah keanehan mengejutkan pendekar tersebut, Sebilah pedang tiba-tiba saja muncul dari ruang kosong dan sudah berada di tangan Qian. Pendekar itu baru sadar jika sebenarnya dirinya telah masuk perangkap pemuda tersebut, dia melepaskan pegangan tombaknya dan berniat untuk mundur, namun sayang jaraknya dengan pemuda itu masih terlalu dekat sehingga dia berusaha secepat mungkin keluar dari jarak serangan Qian.
__ADS_1
"Mau menghindari ku? Sudah terlambat..!" kata Qian seraya bergerak maju dan melepaskan serangannya yang tidak mungkin bisa dihindari oleh lawannya.
"Seni Pedang Naga - Gelombang Api Satu Arah."
Qian mengayunkan Pedangnya yang sedikit bercahaya merah itu ke arah Pendekar yang sudah berada dalam jarak lebih dua meter di hadapannya, serangan Qian itu seharusnya tidak akan sampai ke Pendekar itu sehingga Pendekar itu sangat percaya diri jika dia sudah berada di jarak aman. Namun sedetik kemudian dia terkejut ketika melihat energi merah melengkung seperti bulan sabit melesat ke arahnya dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Pendekar tersebut belum sempat mencerna situasinya sebelum akhirnya energi merah itu melewati tubuhnya.
Pendekar itu keheranan setelah energi merah yang aneh itu melewati tubuhnya, dia sama sekali tidak merasakan apa-apa, namun tidak berselang lama, dia merasakan rasa panas di perutnya dan dia juga tidak merasakan apapun terhadap bagian bawah perut hingga kakinya. Saat akan meraba bagian perutnya, tiba-tiba saja tubuh Pendekar itu jatuh ke depan, sedangkan bagian perut kebawah sudah terpisah dan jatuh kebelakang.
"Arghh..!"
Pendekar itu baru merasakan sakit setelah tubuhnya terjatuh dan baru menyadari jika tubuhnya telah terpotong dengan bagian dalam perut nya yang masih menggantung di tubuhnya serta darah secara terus menerus mengalir.
"Ba.. bagaimana mungkin!"
Pendekar itu berusaha menoleh ke arah pemuda yang sudah memotong tubuhnya menjadi dua, dia benar-benar belum bisa mempercayai kenyataan jika dirinya telah dikalahkan oleh pemuda yang hanya berada di Kelas Pendekar Awal Jiwa Ahli.
"Bukankah sudah kukatakan! Hasil akhir belum diputuskan akan siapa membunuh siapa? Dan hasil akhirnya sudah sangat jelas!" kata Qian yang sudah berdiri di samping pendekar itu yang tergeletak tak berdaya.
Satu hal yang masih menjadi pertanyaan Pendekar tersebut, bagaimana cara pemuda itu mengeluarkan Pedang dari ruang hampa? Namun pendekar itu tidak sempat menanyakannya karena Qian sudah lebih dulu menancapkan Pedangnya tepat ke jantung pendekar itu sehingga Pendekar itu mati dengan rasa penasaran.
Setelah membunuh lawannya, Qian itu jatuh berlutut dengan satu kaki, jurus yang dia gunakan untuk mengalahkan lawannya adalah jurus keempat dari Jurus Pedang Naga, salah satu Seni Pedang yang paling banyak menguras Tenaga Dalam nya, untuk pertama kalinya Qian menggunakan jurus tersebut, namun sebagai gantinya, Tenaga Dalam nya hampir habis.
Setelah berhasil naik ke Kelas Awal Jiwa Ahli, Qian sudah memiliki Tenaga Dalam sebanyak Empat Puluh Pusaran, namun jumlah itu nyatanya tidak cukup untuk menggunakan Pedang Naga Api serta jurus-jurusnya.
Nafas Qian sudah tidak teratur, dia menancapkan Pedangnya ke tanah kemudian kembali menelan Pil pemulihan karena pertempuran masih panjang. Qian memperhatikan pertempuran yang masih kacau, malam yang gelap di warnai dengan cahaya bola api dan suara pedang serta suara prajurit dan Pendekar yang masih bertempur.
Setelah sedikit mendapatkan Tenaga Dalam nya, Qian kembali bangkit, saat baru saja dia meraih pedangnya, tiba-tiba saja beberapa tombak datang menyerang dari arah belakang. Insting Qian cukup sensitif sehingga secara reflek dia melompat ke udara dan menginjak salah satu tombak itu kemudian menjadikan tombak tersebut sebagai pijakan untuk kembali melompat lalu melepaskan tebasannya ke arah para prajurit bertombak itu sehingga beberapa prajurit yang hanya berada di Kelas Pemula Kelas satu itu langsung terhempas dengan luka tebasan yang merenggut nyawa mereka.
__ADS_1
Setelah itu datang lebih banyak prajurit Qin yang kembali menyerang Qian, bahkan beberapa pendekar dari Qin yang berada di Kelas Pendekar Petarung juga ikut menyerang Qian. Karena Pedang Naga Api terlalu sulit untuk digunakan, Qian kembali memasukkan pedang nya ke dalam Cincinnya yang membuat banyak para prajurit dan beberapa pendekar yang ingin menyerangnya terkejut setelah melihat Pedang di tangan Qian tiba-tiba saja menghilang tanpa sebab. Kesempatan itu digunakan oleh Qian untuk menyerang mereka semua dengan Tendangan Naga Terbang Berputar hingga Tendangan Naga Terbang Beruntun, serangan itu membuat banyak para pendekar tingkat rendah hingga para prajurit terhempas, dan Qian segera mengambil Pedagang salah satu Pendekar Qin yang baru saja dia jatuhkan untuk dia gunakan sebagai senjatanya, setelah membunuh beberapa pendekar, Qian kembali membantai para prajurit serta membantu beberapa prajurit dan pendekar di pihaknya yang kesulitan.