Pejantan Yang Tergadaikan

Pejantan Yang Tergadaikan
bab 10


__ADS_3

"Ingat, anda harus melakukannya dengan baik!" Pelayan setia pria koma, kini memberikan instruksi kepada Hans.


Agar pria yang berwajah tampan itu bisa menyerupai penampilan juga sikap tuannya.


Hans mempelajari banyak hal, tentang pria yang wajahnya begitu persis dengannya. Bahkan ia merombak total penampilan juga wajahnya.


Hingga satu bulan sudah ia berlatih, akhirnya Hans mampu menyamai sikap juga penampilannya pria koma tersebut.


Membiarkan rambu-rambu halus menghiasi garis wajahnya, agar terlihat berkharisma seperti, sosok tuan muda tersebut.


Hans kini menatap penampilannya di depan cermin. Hari ini, pertama kali untuk menjalankan perannya sebagai tuan muda dari keluarga kaya.


Hans akan menjemput, ibu dari pria koma itu, yang hari ini akan kembali pulang.


Kini pria miskin itu, berubah drastis dengan penampilan begitu mencolok. Setiap yang melekat di tubuhnya kini sangat berharga tinggi.


Setelah yakin dengan tampilannya yang begitu mewah dan maskulin, Hans menerbitkan senyum tipis.


Mengagumi wajah tampannya yang begitu terlihat sempurna. Hans berjanji, akan memberikan kejutan kepada keluarga mantan kekasihnya.


"Anda sudah siap?" Seorang memasuki kamar mewah yang sekarang ia tempati, kamar yang merupakan milik sang tuan muda asli.


"Sudah," jawab Hans. Suaranya pun harus bisa dikendalikan, agar menyamai intonasi suara berat nan tajam pria koma itu.


"Mari, sudah waktunya anda untuk menjemput nyonya besar," pungkas pria yang lebih tua dari Hans itu.


Hans tidak menjawab, ia hanya berjalan dengan wajah datar dan pandang lekat, menuju arah pintu kamar saat di persilahkan untuk jalan.


Sepanjang lorong Mansion mewah itu, hanya disambut oleh puluhan pelayan wanita juga peka.


Hans begitu beruntung, bisa merasa terhormat seperti sekarang. Biarlah ini hanya sementara, asalkan ia bisa menikmati hidup indah ini penuh kesenangan dan kemewahan.


Kemana pun sekarang, Hans menggunakan mobil mewah berharga fantastis. Pengawalan ketat dari puluhan bodyguard selalu mengelilinginya.


Sungguh kehidupan yang begitu indah, bagaikan seorang raja yang selalu menjadi pusat perhatian dan mendapat hormat juga pujian.

__ADS_1


Hal sekecil pun Hans mendapatkan pelayanan, dari bangun tidur ia di suguhkan segelas susu hangat. Hans hanya perlu duduk manis menerima pelayanan yang begitu menyenangkan.


Hans pun di gelapkan oleh kemewahan, hingga ia begitu terkesan untuk selalu menikmati ini semuanya.


"Apakah, aku bersalah? Apabila berdoa semoga pria itu tidak bangun kembali, hingga aku bisa menikmati ini semua." Hans berkata dalam hati dengan pandangan keluar jendela.


"Semoga, anda tidak berharap banyak untuk ini semua!" Seru tuan Pent, pelayan setia tuan muda Rolex Dark Jill, pria koma tersebut.


Hans tersentak, menatap pelayan setia dengan senyum canggung.


"Tidak! Aku tidak mungkin berpikir hingga ke sana," jawab Hans.


Hans kembali terdiam dengan pandangan terus melihat keluar. Menatap, setiap jejak tempatnya sehari-hari untuk mendapatkan uang.


Jalanan adalah tempatnya terdahulu, hingga ia bertemu dengan Robben dan membawanya tinggalkan di sebuah rumah pemukiman kumuh.


Berangkat dari pedesaan yang jauh dari kota, bertekad dengan modal kepercayaan diri dan kemandirian, Hans berhasil melalui hari-hari kerasnya dengan pekerja sepanjang hari.


Berangkat dari desanya dengan bermodalkan beberapa lembar dollar dari pemberian sang ibu, juga beberapa lembar pakai juga celana lusuh, ia sampai ke kota dengan perjalanan kereta api yang ia lalui selama beberapa jam.


Sesampainya di kota, Hans, tampak kebingungan harus ke mana. Hingga ia pun mendapatkan cobaan dengan cara ditipu. Seorang membawanya ke suatu tempat asing dan membuat perhitungan kepada Hans yang terlihat masih polos dan lugu di wilayah perkotaan. Semua uang yang berada di saku pun lenyap dan tas yang penuh dengan pakaian pun hilang.


Dengan wajah lusuh dengan penampilan layaknya gelendangan, Hans pertama kali bertemu dengan Rosella di depan restoran.


Wanita yang begitu tulus, melemparkan senyum kepadanya dan menawarkan makanan. Perasaan sebagai pria normal pun berbunga-bunga dan dapat merasakan degup jantung yang berdebar-debar.


Hingga suatu hari, Hans bertemu Robben yang bekerja sebagai seniman jalanan. Pria itu mendapatkan bantuan dari sahabatnya itu, saat menolong Robben yang sedang dalam kesulitan.


Hans pun kembali menata kehidupannya dengan mencari pekerjaan di dua tempat.


Awal bekerja di sebuah bar, Hans menjadi pelayan pembersih, meskipun begitu, Hans masih tetap bersyukur bisa melakukan pekerjaan tersebut.


Suatu saat Hans kembali di pertemukan dengan wanita pujaannya yang kebetulan dalam masalah. Hans membantu dengan perasaan bahagia dan mendapatkan sebuah tawaran pekerjaan di hotel — Rosella, sebagai official boy.


Hans hanya bisa mendapat pekerjaan itu, karena ia tidak memiliki latar pendidikan yang jelas.

__ADS_1


….


"Kita sudah tiba!" Terlena dengan lamunan masa lalunya, Hans terkejut dan pria tampan itu turun dari mobil dan mengikuti langkah sang pelayan setia.


Tatapan orang-orang kepadanya begitu hormat dan disegani. Tidak satupun orang yang melewatinya dengan membungkukkan badan.


Melihat itu Hans merasa beruntung dan begitu tinggi. Ia berjalan sesuai karakter sang pria koma, datar dan dingin. Penuh kewibawaan juga ketegasan.


Pria rupawan yang memiliki pesona tersendiri yang begitu banyak digilai kaum wanita.


"Putraku!" Sapa seorang wanita dengan penampilan anggun.


"Selamat datang, mama," sahut Hans dengan meraih telapak tangan kanan wanita setengah baya itu dan mengecupnya.


"Oh putraku yang tampan," ujar wanita yang begitu terlihat berkelas dengan wajah cantiknya.


Hans melakukan gerakan mencium kedua pipi wanita cantik yang ia panggil mama secara bergantian.


Sebuah gerakan wajib saat melakukan saat bertemu dengan wanita yang terlahir dari keturunan bangsawan ini.


"Mama begitu bersyukur, kamu sudah bangun dari koma." Sang wanita yang masih terlihat cantik di usia 50 tahun itu, memulai pembicaraan.


Sambil mengusap dan memindai wajah pria yang wanita itu pikir adalah putranya.


"Aku juga merasakan seperti mama rasakan," sahut Hana dengan suara beratnya.


"Kau terlihat semakin tampan, nak!" Tukas wanita itu sambil tersenyum begitu hangat.


"Yah, karena aku terlahir dari, mama," seloroh Hans tanpa sadar, mengeluarkan kata-kata naif, yang tidak biasa pria koma itu lakukan.


Wanita berkelas itu tampak heran, namun sang pelayan terlihat tegang dan menatap, Hans tajam melalui kaca spion di atas kepala.


"Ada apa? Bukankah, yang aku katakan benar?" Lanjut Hans, menghilangkan suasana canggung.


Wanita cantik dengan penampilan anggun tersenyum dan ia bahkan tertawa bahagia, putranya begitu banyak perubahan setelah terbangun dari koma.

__ADS_1


"Mama sangat senang, melihat perubahanmu ini." Wanita yang biasa di panggil, nyonya — Jill, begitu antusias.


Hans menatap pelayan setia dengan senyum miring, mengatakan kalau ia harus menjadi dirinya sendiri di suatu kesempatan. Tidak perlu menjadi pria kaku dan datar.


__ADS_2