
"Maaf, kalau anda terganggu dengan sikap kedua orang tua saya." Hans kini berada di dalam kamar miliknya yang begitu sederhana.
Kedua mata indah Miranda, merotasi setiap sudut kamar suaminya itu. ia hanya melihat ranjang berukuran kecil, yang hanya bisa menampung satu orang saja.
Juga di sudut kamar terdapat lemari dua pintu yang sudah kusam. Tatapan Miranda berlanjut ke arah sekitarnya yang tidak ada yang membuatnya menarik, selain pemandangan menyenangkan di balik jendela terbuka.
Miranda mencoba mendorong kursi rodanya sendiri mendekati jendela, mengabaikan wajah panik Hans.
Melihat sang istri hanya diam tanpa menanggapi ucapannya, Hans menghela nafas syukur. Pria itu melihat wajah biasa istrinya.
Hans mengambil sesuatu di dalam lemari usang di pojok kamar sederhana itu, pria bertubuh tinggi tegap, berusaha mengambil sesuatu di antara susunan rapi pakaian hangat miliknya.
Hans berjalan penuh kehati-hatian mendekati istri arogannya itu, mencoba menyematkan baju hangat di tubuh istrinya dengan perasaan kikuk.
"Maaf, tapi udara begitu dingin. Tidak baik dengan kondisi kamu." Meskipun dilanda perasaan was-was, Hans memberanikan diri untuk menyampirkan baju hangat di pundak istrinya itu.
Miranda masih diam dengan raut tidak peduli, wanita itu bahkan merapatkan pakaian itu ke tubuhnya, saat udara dingin di daerah tersebut, menusuk seluruh permukaan kulit tubuh.
Hans melanjutkan langkah, menuju perapian yang ada di kamar sederhana itu, pria itu menjalankan untuk menghangatkan suhu ruangan. Hans bukan, lah pria kaya yang memiliki barang berharga untuk sekedar menghangatkan kamarnya.
Namun ia juga begitu sungkan, melihat istrinya yang terlihat tidak biasa dengan keadaan di dalam rumah sederhana itu.
Merasakan kehangatan di balik punggung, Miranda menoleh, wanita bermata almond dengan iris biru terang itu, menatap lekat kepada suaminya.
Wajah tampan Hans begitu sangat tampan terterpa hawa panas dari perapian, membuat wajah itu kemerah-merahan.
Kedua kelopak mata indah itu, memindai tubuh kekar suaminya itu, ia membayangkan, betapa hangat berada di pelukan suaminya.
Miranda mendorong kursi rodanya perlahan mendekati suaminya, tanpa ingin dibantah wanita itu memanggil suaminya.
Mendengar suara dingin sang istri, Hans menolehkan kepala dan ia segera bangkit, melihat kedua tangan wanita cantik itu terangkat ke atas.
"Gendong aku!" Pinta Miranda dengan ekspresi datar.
Hans tersenyum tipis sambil mengangguk, ia mendekati istri dinginnya itu dan mulai meletakkan salah satu tangannya di bawah paha istrinya, dan tangan lain berada di balik punggung ramping — Miranda.
Miranda meletakkan kedua tangannya di ceruk leher panjang suaminya itu, mendekatkan wajahnya di sana, sambil menikmati aroma tubuh suaminya yang mampu membuatnya tenang.
__ADS_1
Hans berjalan mendekati sofa tunggal yang ada di depan perapian, menggendong tubuh mungil istrinya dengan mudah.
"Kau harus memeluk sampai tertidur," Hans mendengar gumaman istrinya itu, yang merupakan sebuah perintah.
Miranda menolak turun dari gendongan suaminya yang hangat dan nyaman, wanita itu meminta, agar Hans memeluk tubuhnya dengan posisi duduk.
Hans tidak dapat menolak, demi ketenangan jiwanya daripada ia harus melihat wajah garang istrinya itu, ia lebih baik mengiyakan.
Kini pria bertubuh tegap itu, mendudukkan dirinya di sofa, dengan Miranda memeluk tubuhnya begitu erat.
Hans pun mendekap tubuh mungil itu begitu lembut, dagunya kini berada di atas kepala istrinya.
Miranda bagaikan seorang bayi yang begitu manja di pelukan ayahnya.
Wanita itu begitu menikmati pelukan hangat suaminya, juga sentuhan lembut di salah satu lengannya.
Hans sendiri melupakan siapa yang ada di dekapannya itu, tanpa sadar mendaratkan kecupan berkali-kali di puncak kepala Miranda.
Hans teringat memon kebersamaannya dengan mantan kekasih yang begitu amat dicintainya. Momen penuh kemesraan juga suasana romantis seperti sekarang ini.
Namun pria itu tersadar, saat wanita di dalam pelukannya membuka suara dingin.
"Apa momen ini mengingatkan mu dengan sesuatu hal menyenangkan?" Miranda yang merasa aneh dengan sikap suaminya, mencoba mencari tahu.
Wanita itu menjauhkan wajah dari pelukan Hans, kini tatapan lekatnya ia tujukan kepada suami.
Sekilas, wajah Hans berubah pucat, namun segera menguasai diri dan berusaha untuk tetap tenang. Pria itu tahu, istrinya begitu sangat teliti.
"Tidak! Apa yang harus aku ingat? Momen indah sangat jauh dari hidupku." Hans mencoba memberikan alasan tepat.
Namun tatapan selidik istrinya membuat dentukan jantungnya semakin kencang.
"Aku hanya memeluk istriku, jadi itu tidak masalah bukan?" Hans melanjutkan ucapannya.
"Benarkah?" Miranda mendekatkan wajahnya di depan wajah Hans, hingga posisi itu tidak berjarak. Keduanya saling menatap dengan nafas saling menyapa di permukaan kulit wajah keduanya.
"Hum, tidak akan ada yang tertarik dengan pria miskin sepertiku," sangkal Hans. Padahal ia memiliki kisah cinta indah namun berakhir menyedihkan.
__ADS_1
Miranda mendekatkan bibirnya di atas bibir sensual suaminya itu, wanita itu sengaja bermain-main lembut di atas permukaan bibir bawah suaminya.
"Bagaimana dengan putri tuan Meta? suamiku?" Ungkap Miranda di atas bibir suaminya, wanita itu mengecup sekilas bibir suaminya.
Kedua mata Hans terbelalak, mendengar ungkapan istrinya itu. Darimana wanita di pangkuannya ini tahu tentang — Rosella Meta.
Hans masih menatap istrinya yang tersenyum sinis kepadanya itu. Dengan kasar, Miranda menggenggam belakang rambut suaminya dan mendorongnya ke depan.
Hingga bibir keduanya bertemu, Miranda mengecup, bahkan menyesap bibir bawah suaminya dengan begitu lembut. Wanita itu terlihat masih amatir, itu karena ini hal pertama baginya. Namun godaan bibir sensual Hans, membuat jiwa liarnya meronta-ronta ingin mencicipi bibir dengan warna kemerahan itu.
Hans tercengang dengan aksi istrinya, tubuhnya sedikit tegang, namun saat merasakan ciuman kaku Miranda, Hans mengerti, hal ini baru pertama untuk istrinya.
Hans meletakkan salah satu telapak tangannya di belakang kepala Miranda dan membalas ciuman lembut istrinya itu.
Mata Hans terpejam, menikmati belahan bibir lembut dan manis istrinya. Hans kini menyesap bibir bawah sang istri yang bervolume itu, bergantian bibir atas yang tipis.
Hans melakukannya begitu lembut dan penuh perasaan. Tangan yang sejak tadi di punggung istrinya, kini bergerak naik-turun dengan lembut.
Membuat sesuatu desiran menyenangkan yang Miranda rasakan. apalagi merasakan sesapan lembut prianya itu. Juga saat lidah hangat Hans membelai seisi rongga mulutnya.
Miranda terlena dan ia mulai mengerat pelukan hingga tubuh mereka begitu menempel. Cumbuan itu semakin memanas dengan di lengkapi suasana romantis dan hawa mendukung.
Tautan mereka terlepas, keduanya kini berlomba mengatur nafas dengan kening menyatu, Hans memandangi wajah cantik istri yan mata terpejam juga nafas tersengal-sengal.
Pria itu mengusap pinggiran bibir istrinya dari saliva keduanya. Ia juga menyentuh bibir lembut istrinya begitu penuh perasaan, membuat mata Miranda yang sempat terbuka kembali terpejam.
"Apa aku harus membantumu mandi?" Tanya Hans di depan wajah istrinya yang begitu merah merona.
Kedua mata indah Miranda terbuka dan Hans bisa menikmati keindahan kedua iris mata istrinya.
Miranda masih menatap suaminya dengan tatapan lembut, berbeda dengan sebelumnya. Wanita itu begitu menyukai pengalaman pertamanya ini.
"Apa kau ingin membersihkan diri, hum?" Sela Hans, membuyarkan lamunan istrinya yang masih setia dengan posisi sebelumnya.
Hans kembali menyentuh bibir bawah istrinya itu dan meninggalkan kecupan singkat. Entah dari mana keberanian Hans dalam melakukan tindakan lancang itu.
Apa ia lupa dengan tabiat istrinya yang kejam dan arogan? Entahlah, namun mereka tampak menikmati suasana juga hawa dingin di lingkungan rumah sederhana tersebut.
__ADS_1