
"Jadi, pria itu memiliki tunangan?" Robben yang juga terkejut dengan curhatan sahabat dan pria itu kini mencoba meyakinkan pendengarnya.
Hans kini hanya bisa memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut, mendapatkan kenyataan, kalau pria yang begitu mirip dengannya sudah memiliki tunangan.
"Akh! Kenapa mereka tidak mengatakan kepadaku terlebih dahulu!" Hans mengerang kesal sambil menjambak rambutnya sendiri, lantas bangkit dan berjalanlah menuju dapur.
Menuangkan air putih di gelas dan meneguknya sekaligus. Wajah Hans terlihat begitu frustasi. Ia merasa dijebak dalam keadaan ini.
"Bukankah, aku sudah memperingatimu? Agar memikirkan semuanya, namun kau terlihat begitu ambisius, lagi pula, wanita itu sudah menikah. So, apa yang masih kau harapkan?" Robben mendekati Hans yang masih berdiri di dekat meja makan.
Robben menepuk pundak sahabatnya itu, untuk membuat pikiran pria itu membaik.
"Kau, tidak memiliki pilihan lain untuk menolak, bro. Apalagi uang yang kau hamburkan tidak sedikit, jadi terimalah semua ini." Robben memberi saran bijak kepada Hans.
Hans sendiri masih diam, entah apa yang harus ia lakukan selain menerima semuanya.
"Kapan kau akan menikah?" Robben bertanya dengan sebuah piring berisi cemilan di tangan. Pria berambut panjang itu, meletakkan piring tersebut di atas meja, setelah itu ia mendudukkan dirinya di kursi, menunggu sahut Hans yang masih membisu.
"Besok pagi," ucap Hans dengan nada malas. Ia juga ikut mendudukkan dirinya.
"Benarkah? Wah, selamat bro," sahut Robben dengan tawa lepas.
Hans hanya mencebikkan bibirnya dan menatap sahabatnya itu jengah.
"Apa kau mengenalinya?" Kembali Robben bertanya.
"Tidak, namun sepertinya dia nona muda kaya," jawab Hans dengan raut wajah cuek.
"Really?" Sentak Robben dengan wajah terkejut. Namun beberapa detik kemudian wajahnya berubah.
"Bukankah, itu artinya kau begitu beruntung?" Seloroh Robben, dengan alisnya yang naik-turun.
"Apa maksud kamu?" Kali ini Hans yang bertanya dengan penasaran.
"Kau bisa memanfaatkan kekayaan wanita itu untuk menjadi lebih hebat dan kaya," pungkas Robben, wajahnya penuh dengan rencana.
Hans yang memikirkan ucapan sahabatnya itu, seketika tersenyum penuh arti dan ia pun melakukan tos tinju. Dan kedua pria itu pun tertawa.
Mereka berpikir, ini adalah kesempatan atau keberuntungan nyata. Namun, mungkin saja kehidupan yang mereka impikan meleset jauh. Bisa saja ini awal dari kehidupan tersulit — Hans.
Apalagi ia belum melihat secara langsung wanita yang akan dinikahi esok pagi. Yang ia ketahui, wanita itu seorang nona muda terpandang.
__ADS_1
…..
Di sisi lain, tepatnya di sebuah ruangan rahasia. Kini terlihat tatapan mata tajam seorang pria tampan.
Pria itu begitu bahagia bisa memainkan permainan hidupnya dengan begitu mudah.
Ia terlihat merayakan kehidupan bebas yang selama ini ia dambakan, tanpa dibebankan oleh urusan perusahaan juga pernikahan.
Ia dengan mudah bisa menikmati hidup bebasnya dengan uang terus mengalir di dompetnya. Apalagi sebentar lagi ia akan menjadi seorang pria paling kaya di dunia.
Wajah itu, kini terlihat menerbitkan senyum miring, ia juga kini menikmati dengan begitu tenang, minuman mahal miliknya.
Pria yang di ketahui orang terdekatnya sedang dalam keadaan koma dan entah kapan ia akan terbangun.
Namun siapa yang menduga, pria itu hanya melakukan sandiwara untuk bisa terbebas dari tekanan kerja, juga tuntutan perjodohan dari kedua orang tuanya.
Rolex kini bisa terbebas dari tekanan itu semua dan ia akan menikmati hari-harinya dengan kebebasan.
Beruntung ia memiliki sebuah ide cemerlang, sebelum pernikahan dengan seorang wanita cacat itu terlaksana.
Ia juga tidak ingin menolak pernikahan itu, karena ia tahu, wanita yang akan menjadi istrinya adalah, seorang pewaris tahta perusahaan besar. Dan Rolex bisa memanfaatkan, kondisi wanita itu yang memiliki kekurangan. Yaitu kelumpuhan.
"Apa kau melakukannya sesuai rencana?" Rolex kini sedang bersiap untuk meninggalkan negaranya. Pria itu akan menikmati hari-hari bebasnya tanpa beban dan tentu ia tidak akan kehilangan segalanya.
Ia bahkan akan terus mendapatkan kemewahan melimpah. Apalagi ia akan menikahi seorang wanita kaya.
Pria itu terkekeh, memikirkan rencananya yang berjalan dengan lancar. Ia juga menertawakan pria yang memiliki rupa yang begitu sama dengannya.
"Sudah tuan muda, anda tinggal menikmati semuanya dan bersenang-senang," ucap tuan Pen, pelayan setia Rolex.
"Bagaimana dengan pria bodoh itu?" Rolex kini bertanya sambil berjalan, menuju landasan pribadi miliknya.
"Dia melakukan tugasnya dengan baik, bahkan terlihat begitu bersemangat," jawab pelayan setia tersebut.
Rolex terlihat tertawa, menertawakan kehidupan yang akan Hans hadapi setelah ini.
"Dia mungkin belum melihat sosok wanita mengerikan itu. Dan menganggap dirinya begitu beruntung," tukas Rolex. Pria tampan itu mulai menaiki sebuah helikopter milik pribadinya.
"Awasi terus dia, jangan sampai membuat masalah dan semua akan menjadi tahu," titah Rolex, kini ia dalam mode datar.
"Dasar pria naif, namun selama menikmati kesengsaraan," Rolex berkata dalam hati.
__ADS_1
Rolex kini sudah berada di atas awan cerah, menikmati pemandangan indah dengan perasaan begitu bahagia.
Namun tidak dengan Hans, pria itu kini terlihat membeku dengan wajah syok. Melihat wanita yang baru saja menjadi istrinya.
Wanita yang kini duduk di kursi roda dan dibantu seseorang untuk mendekat kepadanya.
Wajah Hans begitu terkejut, ia tidak menyangka, wanita yang harus dinikahi adalah, seorang wanita cacat.
Namun Hans tidak mampu melakukan apapun, selain menerima nasibnya. Ia masih berpatokan kepada istrinya yang berasal dari keluarga kaya.
Sementara, wanita yang duduk kursi roda itu, terus menatapnya lekat. Seakan mengamati sesuatu dalam dirinya.
Hans menjadi salah tingkah dan ia begitu ketakutan melihat wajah istrinya.
Wanita cacat dengan pandangan sangar, wajah istrinya itu cantik, namun terlihat kaku.
Wanita yang bernama, Miranda Albert sosok wanita yang terkenal memiliki emosi yang tidak stabil. Ia akan mengamuk saat hatinya begitu gelisah, hingga ia tidak segan-segan untuk membunuh seseorang.
Wanita yang memiliki wajah cantik dan manis, namun memiliki kepribadian aneh. Hingga ia selalu merasa terisolasi di lingkungan sekolah pada saat itu.
Miranda wanita buas, yang selalu haus akan darah, dia seorang wanita psikopat.
Wanita yang berusia 23 tahun dan menghabiskan hari-harinya di kursi roda.
Miranda mengalami kecelakaan saat, melakukan perjalanan menuju sebuah perkemahan di bukit. Ia mengendarai mobil bersama Rolex yang merupakan tunangannya.
Namun ditengah perjalanan mereka terlibat adu mulut, hingga berakhir tragis. Miranda harus menghabiskan hari-harinya di kursi roda dan Rolex koma.
"Kau gugup, Rolex?" Miranda bertanya kepada pria di sampingnya itu.
Hans menoleh dan ia bisa melihat jelas wajah cantik istrinya itu, namun sayang Hans tidak begitu tertarik.
Hans hanya tertarik dengan kedudukan juga harta, wanita cantik ini.
Apalagi dia hanya seorang wanita cacat.
"Pasti dia tidak akan mudah melakukannya, dan terpaksa, menyerahkan semuanya kepadaku." Hans membatin, sambil memindai lekat wajah istrinya.
Mereka hanya melakukan pernikahan dengan tertutup. Hanya perlu menandatangani berkas pernikahan dan keduanya kini sudah sah menjadi pasangan.
"Hey, siapa yang memberikan kamu perintah untuk menatapku seperti itu?" Miranda membuat Hans terkejut, dengan nada ucapan Miranda yang terkenal cantik itu.
__ADS_1