Pejantan Yang Tergadaikan

Pejantan Yang Tergadaikan
bab 24


__ADS_3

"Apa! Jadi kau menikahi seorang wanita cacat dan lumpuh seperti dia!" Wanita itu begitu terkejut, saat mendengar ungkapan keponakannya.


Hans berdiri di belakang kursi roda istrinya dan memperkenalkan Miranda sebagai istrinya.


Meskipun, Hans harus menahan rasa ketakutan juga gugup, karena ia takut istrinya itu menolak dengan pengakuannya.


Namun wanita itu hanya diam dengan ekspresi tidak tertebak oleh siapapun. Tidak ada tatapan peringatan, yang ada hanya tatapan tidak acuh.


Kedua orang tuanya begitu bahagia mendengar ungkapan dan sikap putranya itu, menikahi seorang wanita cantik dan dari kalangan biasa saja.


Kedua orang tuanya, menolak hubungannya dengan Rosella dahulu. Kedua pasangan suami-istri itu, merasa tidak pantas berada di tengah-tengah keluarga besar di kota.


Apalagi kemunculan seseorang menemui mereka dan menyerahkan cover berisi uang. Sebagai seorang dari kalangan bawah, kedua orang tua Hans, sempat terbuai dengan jumlah uang tersebut.


Beruntung, mereka masih memperjuangkan harga dirinya dan menolak tawaran itu.


Oleh sebab itulah, keduanya sangat melarang hubungan putra mereka dengan Rosella.


Dan kali ini mereka begitu bersyukur, Hans menikahi wanita lain dan setara dengan kehidupan mereka. Begitu pikiran kedua orang tua — Hans.


Namun siapa yang menduga, kalau putra mereka menikahi seorang taipan kaya di negara tersebut, status istri Hans tidak terkalahkan dengan status konglomerat mantan kekasih putra mereka.


"Selamat nak, kami begitu bahwa bisa memiliki menantu secantik dia!" Seru wanita yang berpakaian sederhana layaknya seorang pekerja kasar di desa, namun wajahnya terlihat begitu lembut dan bersahaja.

__ADS_1


Wanita itu menghampiri Miranda dan berjongkok di depannya, ia segera memeluk menantunya itu juga mencium keningnya.


Hans kini terlihat tegang, melihat mommynya begitu berani. Pria itu tidak bisa melakukan apapun selain berdoa agar istrinya tidak mengeluarkan perkataan sarkas.


Miranda mendapatkan pelukan hangat dan tulus, hanya diam. Apalagi ia mendapat kecupan di kening. Seketika ia teringat oleh mommynya.


"Yang di katakan istriku benar, kau wanita cantik nak," timpal daddy Hans. Pria bijaksana yang kini mengusap kepala Miranda dan tersenyum lembut.


Miranda merasa sentuhan kedua orang tua suaminya, mengingatkan masa lalunya yang penuh kebahagiaan dan kehangatan setelah kedatangan seorang wanita pengganggu yang merusak kebahagiaan keluarganya, mommynya bahkan bubu diri atas pengkhianatan itu.


Tiba-tiba ekspresi wajah Miranda berubah, tatapan matanya begitu tajam dengan wajah merah dengan kedua garis wajahnya mengeras, salah satu tangannya mengepal kuat di Pegangan kursi roda.


Hans menyadari itu, ia segera mendekati istrinya dan berusaha untuk bisa membawa istrinya itu.


Wajahnya bahkan terlihat panik, melirik diam-diam istrinya yang tatapannya menerawang tajam.


"Sebaiknya, dia istirahat dulu. Istriku terlihat kelelahan," lanjut Hans yang kini berada di belakang istrinya, siap untuk mendorong kursi roda Miranda.


Kedua orang tuanya hanya mengangguk dan tersenyum mengerti. Namun tidak dengan bibi Liliana, wanita itu terlihat begitu tidak terima menantunya menikah dengan wanita cacat dan miskin. apalagi sejak tadi ia di acuhkan.


"Ini tidak bisa terjadi, aku harus melakukan rencana agar keponakan bodohku itu, menikah di dengan Rosella, agar aku bisa merasakan kehidupan mewah." Wanita yang masih berdiri di tengah ruangan rumah sederhana itu berusaha merencanakan sesuatu, ia kini melirik tajam ke arah Hans juga Miranda yang melewatinya begitu saja.


"Cih! Wanita cacat yang tidak tahu etika," gumamnya dengan wajah mencibir.

__ADS_1


Beruntung Miranda tidak mendengar juga memperhatikan wajah wanita berusia 40 tahun itu. Wanita yang merupakan adik dari daddy — Hans. Wanita yang masih tinggal di rumah saudaranya.


Ia merasa berhak, tinggal di rumah sang kakak. Karena dirinya, merupakan saudara satu-satunya dari daddy — Hans. Dan sudah menjadi tugas pria bijaksana itu untuk menjaga dan memenuhi kebutuhannya.


___


"Kalian terlihat bahagia, mendapat menantu cacat dan miskin sepertinya." Bibi Liliana menghampiri kedua orang tua Hans, yang sedang duduk di ruang tamu dengan wajah bahagia mereka.


Mommy Hans hanya tersenyum mendengar perkataan kasar adik iparnya itu. Sudah menjadi kebiasaan ia mendengar kata-kata hina dari adik suaminya. Juga sudah mengenal karakternya.


"Tidak masalah, putra kami memiliki istri seperti dia. Yang terpenting, Hans bahagia dan hidupnya tenang," tutur daddy Hans dengan ucapan bijaksana.


Mendengar itu, bibi Liliana semakin meradang. Yang jelas dirinya tidak rela memiliki seorang keluarga baru yang cacat fisik dan status.


"Cih, seharusnya, kalian bangga memiliki menantu seperti Rosella yang kaya raya. Agar bisa mengangkat derajat kita di mata semua warga di sini." Bibi Liliana terlihat begitu emosi, menyahuti ucapan sang kakak.


"Mungkin mereka tidak digariskan untuk berjodoh," sela mommy — Hans dengan perkataan tepat.


Bibi Liliana yang ingin meluapkan emosinya harus berhenti, saat ia ditinggalkan sendiri di ruang tamu.


Wanita dengan wajah kusut itu dan pakaian sederhana, terlihat mengerang tertahan dengan sorot mata nyalang ia tujukan kepada kakak iparnya.


"Aku akan mengubah garis jodoh keponakanku sendiri dengan wanita yang tepat." Ucap bibi Liliana dalam hati. Namun raut wajahnya begitu terlihat marah.

__ADS_1


__ADS_2