Pejantan Yang Tergadaikan

Pejantan Yang Tergadaikan
bab 23


__ADS_3

Miranda, masih betah berada di sebuah jembatan kecil yang menghubungkan rumah nyaman suaminya dan jalan menuju hutan.


Di bawah jembatan seukuran jalan setapak, terdapat sungai mengalir dengan air jernih.


Miranda, begitu menghayati suara gemercik air di bawahnya yang terdapat bebatuan hitam, juga pemandangan yang begitu menyejukkan mata wanita itu.


Tanpa wanita itu sadari, beberapa orang kini menetapkannya heran. Orang tersebut, baru saja pulang dari dalam hutan, untuk bekerja di ladang.


Terlihat 4 orang berjalan menuju jembatan. Tatapan mereka begitu waspada, takut Miranda akan melakukan hal nekad.


"Dia siapa?" Tanya seorang wanita dari keempat orang tersebut.


Ia begitu lekat, menatap Miranda yang terlihat termenung. "Entah, mungkin dia ingin mengakhiri hidupnya," celetuk seorang wanita lain dengan raut sinis.


"Liliana, jaga ucapanmu. Sebaiknya kita mendekatinya dan menasehati wanita itu," sahut seorang pria berusia 57 tahun.


"Kenapa aku harus melakukannya, dia bukan urusanku." Wanita bernama Liliana menjawab dengan wajah judesnya.


Wanita itu juga melewati Miranda begitu saja dengan tatapan sinis juga bibir mencebik.


Beruntung, Miranda belum menyadari wanita itu berhenti di belakang tubuhnya.


Liliana pun berjalan menuju rumah, di mana Hans masuk.


Kini sisa tiga orang yang masih terdiam, untuk memantau Miranda.


Pria paruh baya itu, sekarang berjalan mendekati, lantas bertanya dengan suara lembut.

__ADS_1


"Nak!" Seru pria tersebut dengan suara begitu lembut. Kini sudah berada sangat dekat dengan Miranda, kedua wanita beda usia di belakangnya pun ikut berdiri di sisi Miranda.


Miranda menolehkan wajahnya dan ia tampak terdiam dengan tatapan menelisik ke arahnya ketiga orang di sampingnya itu.


"Tidak baik seorang wanita cantik seperti nona sendiri di tempat ini." Pria itu berkata dengan senyum yang terus mengembangkan di wajah.


Miranda masih terus memandangi orang di sampingnya dengan sangat lekat, ia masih diam dengan ekspresi yang tidak terlihat di wajah wanita itu.


"Anda bisa mampir di gubuk kami nona," sela wanita yang berada di samping pria yang menegur Miranda.


Wanita itu masih diam, namun ia pun mengenali ketiganya saat pria itu menuju rumah yang Hans dekati tadi.


Miranda dapat menebak, ketiganya adalah keluarga suaminya.


"Mari kak, aku akan membantumu ke gubuk kami!" Seru seorang gadis berwajah imut dan manis. Gadis itu kini berada di belakang kursi roda Miranda dan tanpa persetujuan Miranda, gadis berusia 18 tahun, mendorong kursi roda Miranda mendekati rumah sederhana mereka.


"Hans!" Seru wanita yang kini berdiri di balik pintu dan terkejut melihat seorang pria di kediaman mereka.


Hans membalikkan badannya dan seketika senyum pria itu mengembang sempurna.


"Bibi Liliana," balas Hans. Pria itu segera berjalan mendekati wanita yang berwajah judes, yang merupakan bibi Hans.


"Keponakan, bibi yang tampan," ucapannya dengan wajah yang terlihat berpura-pura bahagia di balik punggung Hans, saat keduanya berpelukan.


"Bibi, bagaimana kabarmu?" Tanya Hans yang segera melepas pelukan dan menatap wajah bibirnya yang tampak bersedih.


"Seperti yang kamu lihat, keadaan bibi hanya seperti ini dan tanpa berubah sedikitpun. Coba kita memiliki banyak harta, pasti kita tidak akan terus tinggal di desa membosankan ini." Dengan wajah jengah, bibi Liliana mengeluarkan pendapatnya hidup di desa.

__ADS_1


Hans hanya bisa tersenyum, ia sudah tahu watak bibinya yang begitu cerewet dan berbicara dengan ucapan tanpa memahami perasaan seseorang terlebih dahulu.


"Bersabarlah bi, suatu saat kita akan hidup tenang dan nyaman," sahut Hans yang menjawab ucapan bibi-nya dengan menghiburnya.


"Ck! Aku begitu muak hidup seperti ini," gumam wanita tersebut dengan bibir mencebik miring.


"Kau bersama kekasih kayamu?" Tanya bibi Liliana tiba-tiba. Wajahnya pun berubah sumringah, saat mengingat kekasih keponakannya itu seorang kaya raya.


"Tidak! Aku bersama istriku," jawab Hans dengan nada lembut juga tersenyum terpaksa.


"What, kalian sudah menikah? Jadi… sekarang aku memiliki menantu seorang wanita kota dan kaya? OH Tuhan, berkatilah keponakanku ini." Bibi Liliana begitu antusias juga wajah terus tersenyum sumringah.


"Kau tahu, kekasihmu begitu cantik dan sempurna, dia wanita berkelas dan anggun. Kalian terlihat begitu serasi." Celetuk bibi Liliana kembali.


Hans hanya bisa tersenyum, melihat wajah penuh harap bibi-nya itu. Yang begitu menginginkan dirinya menikah dengan Rosella.


Bibi-nya bahkan selalu memberikan dukungan untuk terus mendapatkan perhatian Rosella dan agar bisa menjadi seorang menantu kaya.


"Di mana istrimu?" Tanya bibi Liliana dengan wajah yang tidak sabar, menoleh ke sekitar rumah mencari keberadaan istri Hans.


"Hans!" Teriak wanita yang merupakan ibu Hans yang kini berjalan dengan cepat, menghampiri putranya.


"Mom," sahut Hans yang bergerak juga untuk memeluk sang mommy. Yang sudah lama tidak ia temui.


Keduanya saling berpelukan untuk melepas rindu selama hampir 1 tahun lamanya.


Bibi Liliana begitu sinis melihat adegan haru itu, ia begitu tidak menyukai mommy Hans yang terlihat lebih dominan di rumah tersebut.

__ADS_1


__ADS_2