Pejantan Yang Tergadaikan

Pejantan Yang Tergadaikan
bab 43


__ADS_3

Miranda begitu serius mengobati luka di beberapa bagian wajah suaminya, wanita itu begitu lembut mengoleskan salep luka, bibir ranum merekah itu senantiasa menghembuskan nafas untuk mengurangi rasa perih yang suaminya rasakan.


Miranda menatap suaminya, saat merasakan kecupan di pipi. Senyum indah pun terbit dan diberikan kepada suaminya yang sejak tadi tidak dapat memalingkan wajah.


Hans sungguh mengagumi wajah cantik alami istrinya yang hanya di olesi sedikit makeup, kedua pipi istrinya terdapat rona merah muda alami dengan bibir yang terlihat begitu menggoda.


"Terima kasih, sweetie," ucap Hans sambil mengecup kening istrinya.


Kedua pipi Miranda pun begitu merona dengan panggilan kekasih yang ditujukan kepadanya.


Miranda pun mencoba menguasai diri sambil berdehem, melirik suaminya yang sedang berbaring di sofa. Suaminya itu masih saja memandanginya.


"Kau ingin makan sesuatu?" Tanya Miranda gugup, ia juga sambil merapikan kotak obat milik Robben.


Pria itu entah kemana, padahal sejak tadi pria itu keluar dan pamit membeli sesuatu.


Hans terlihat tersenyum misterius sambil menatap lekat istrinya itu. "Memakanmu, aku hanya ingin memakan istriku," selorohnya sambil terkekeh.


Miranda mendelik dan memberikan cubitan di perut suaminya. "Akh, sakit sweetie," keluhnya sambil meringis.


"Oh astaga, maaf, aku tidak sengaja," sahut Miranda yang begitu panik dan sedikit mendekati suaminya, memeriksa perut suaminya itu.


Hans mengambil kesempatan untuk mencium ubun-ubun istrinya itu penuh kasih sayang.


"Dasar penipu!" Pekik Miranda yang merasa ditipu oleh suaminya.


Hans tertawa lepas, melihat reaksi istrinya dan wajah merengut kesal.


"Kemarilah!" Hans meminta Miranda untuk duduk di sebelahnya, pria itu kini dalam posisi duduk setelah merasakan lebih sedikit membaik.


Hans lalu membantu istrinya agar mudah duduk di sampingnya, sungguh pria itu begitu merindukan tubuh mungil sang istri untuk ia peluk.


"Kau tahu sweetie, seharian ini aku begitu merindukanmu," ungkap Hans sambil memeluk istrinya yang kini berada di atas pangkuannya.


Miranda terlihat mendelik tidak percaya, "bukan semua pria memang pada dasarnya sangat pandai mengambil perhatian wanita?" Sahutnya sambil terkekeh.


Mendengar jawaban sang istri, Hans lebih mengeratkan pelukannya sambil menghujami puncak kepala wanita itu dengan ciuman.

__ADS_1


"Aku tidak peduli kau percaya atau tidak, yang jelas aku sungguh merindukanmu," ucap Hans tidak peduli dengan raut ragu istrinya.


Miranda yang meletakkan wajah di dada bidang Hans, kini mendongak untuk melihat wajah suaminya itu, wanita itu menegakkan punggung hingga jarak dekat mereka terpisah.


Miranda menyentuh lembut setiap luka yang ada di wajah suaminya itu. "Apa ini masih sakit?" Tanyanya lembut, menyentuh luka itu dengan perasaan marah.


Hans menggeleng sambil meraih telapak tangan istrinya yang berada di wajahnya lalu mengecupnya.


"Tidak, berkat sentuhan lembut penuh cinta darimu, luka ini mendadak pulih." Hans berkata diiringi kekehan pelan.


Miranda pun kembali menyusupkan kepalanya di dalam dada bidang suaminya sambil menepuk dada itu. "Ahk, kau menyakitiku sweetie," ringis Hans.


"Maaf!" Sahut Miranda, mengusap dada suaminya yang tampak memar, Miranda bahkan meninggal kecupan kecil di sana.


"Kali kau memancing, sayang," ujar Hans dan lagi-lagi pria itu terkekeh.


"Pria aneh," sahut Miranda dengan dengusan kesal.


Keduanya terdiam, di mana Hans terus membelai rambut lembut dan wangi istrinya itu, menghujami kecupan berulang kali di puncak kepala wanitanya.


Sedangkan Miranda mengusap memar yang ada di dada suaminya, tampak terlihat bekas injakan kuat.


Pria yang sudah menjadi pemilik hatinya yang selama ini mati rasa yang berhubungan dengan perasaan.


Namun dengan suaminya ini, hatinya mulai tersentuh dengan sikap dan perlakuan pria kesayangannya. Hingga rasa ingin memiliki sebagai pemilik hati hanya ia tujukan kepada pria yang sekarang ini memeluk tubuh mungilnya itu dengan hangat.


Sebuah pelukan yang selama ini ia dambakan setelah kehilangan sosok daddy yang sudah berubah menjadi sosok yang ambisius dan pengecut.


Miranda begitu merindukan sosok yang selalu memberikan perhatian dan kenyamanan, hingga penantian itu pun ia temukan dan itu semua ada pada sosok pria yang sekarang memeluknya erat.


"Kau tidur?" Suara itu, suara lembut yang begitu Miranda sukai yang mampu menggelitik hati dan perasaannya.


"Sweetie, apa kau sudah tidur?" Sekali lagi suara lembut nan berat itu mampu membuat dada Miranda bergetar hebat.


"Sweetie," ucap Hans kembali, saat tidak mendapat sahutan dari istrinya.


"Hum!" Gumam Miranda sambil mempererat pelukannya.

__ADS_1


"Kenapa kau diam, hum?" Tanya Hans, meraih selimut yang ada di atas meja lalu menutupi tubuh mereka.


"Aku mendengar suara detak jantungmu, membuatku damai," jawab Miranda dengan nada pelan.


Hans tersenyum, pria 35 tahun itu pun memaksa Miranda untuk menatapnya. "Yah, karena di dalam sini hanya ada dirimu," ujarnya sambil meletakkan telapak tangan Miranda di dadanya, tepat di mana jantung itu berada.


"Kau benar-benar pria yang begitu hebat dalam merayu," pungkas Miranda dengan bibir mencebik kesal.


Melihat itu Hans membawa salah satu telapak tangannya di tengkuk Miranda, mendorong kedepan hingga ia mudah mengecup bibir ranum istrinya itu.


"Aku hanya menggoda istriku apa itu salah nona?" sahut Hans dan sekali lagi mencium bibir istri dan kali ini dengan sesapan di bagian bibir bawah Miranda.


Miranda semakin mencebik kesal, namun wajah kesal itu membuat Hans tidak tahan untuk mencium bibir istrinya.


"Aku menyayangimu, sweetie," bisik Hans, membawa istrinya kembali ke pelukannya.


"Aku juga menyayangimu." Miranda membalas ucapan sang suami, sungguh ia begitu menikmati momen romantis mereka, meskipun harus melakukannya di tempat yang salah.


Rosella terlihat mondar-mandir di depan sebuah lift, sudah pukul satu malam, namun wanita itu masih berada di hotel miliknya. Rosella ingin menemui pria yang dalam pikirannya adalah Hans.


Bahkan ponselnya terus bergetar dan mendapat panggilan telepon dari suaminya, juga beberapa pesan yang hanya berisik makian dan umpatan kasar dari Carlos, suaminya.


Rosella begitu penasaran dengan apa yang dilakukan sosok pria yang ia anggap sebagai Hans di dalam kamar hotel sejak pagi tadi.


Tidak mungkin pria itu menghabiskan waktu terus melakukan percintaan panas, kalau benar iya, sungguh Rosella begitu tidak percaya.


Karena sosok Hans bukanlah seorang maniak, pria itu bahkan sangat menghormati kehormatan wanitanya, terbukti, selama menjalin hubungan kekasih, tidak sekalipun Hans menginginkan tubuhnya, walaupun Rosella sendiri menginginkan hal tersebut.


Dengan sikap Hans seperti itu yang membuat Rosella begitu menyia-nyiakan pria itu.


Ia begitu menyesal, seharusnya dirinya memperjuangkan hubungan mereka, bukan harus memilih pikiran salah dengan menghinanya.


"Apa dia melakukan ini karena bentuk kekecewaan nya? Tapi … bagaimana dengan istrinya?" Rosella berkata dalam hati.


Tidak lama ia mendengar pintu terbuka dan disusul sosok yang sejak tadi ia tunggu keluar seorang diri dengan wajah pun penampilan berbeda.


Rosella bersembunyi saat Rolex berjalan menuju lift, pria itu tampak sedang berteleponan dengan seseorang. Pria itu pun mengatakan sebuah club malam yang mewah.

__ADS_1


Sungguh Rosella terkejut, saat mendengar perkataan pria itu tentang, pesta wanita.


__ADS_2