
Hans kembali menjadi figur tuan muda Dark Jill, salah satu keluarga terpandang di negara tersebut. Pria itu turun dari mobil dan berjalan ke arah lobby perusahaan Dark Jill, perusahaan yang bergerak di ekspor dan salah satu perusahaan coklat terkenal.
Hans bersikap seperti seorang Rolex, dingin dan arogan, terbukti semua para karyawan kini mendudukkan kepala kepada kepadanya.
Hans terus berjalan, memasuki lift dan mencoba menarik nafas setelah sendiri di dalam lift, sungguh begitu sulit menjadi karakter seseorang. Ia harus terus bersikap datar kepada orang-orang, padahal sikap pribadinya sendiri begitu bersahaja.
"Selamat, pagi tuan." Seorang wanita berpenampilan rapi dan anggun menghampirinya dan menyapa Hans.
Seperti biasa, Hans harus berakting menjadi sosok kejam, arogan dan dingin.
"Bacakan jadwalku!" Perintah Hans dengan nada dingin, tanpa memandang wajah wanita cantik di sampingnya.
Wanita yang merupakan sekertaris Rolex membacakan jadwal kegiatan yang harus Hans selesaikan.
"Persiapan semua, kita akan berangkat 20 menit lagi," ujar Hans yang lagi-lagi tidak memandangi wajah sekretaris itu.
"Baik tuan," sahut sang sekretaris yang merasa kecewa oleh sang Presdir.
"Tuan Rolex semakin tampan." Gumam wanita tersebut, sambil tersenyum kagum.
__ADS_1
Hans melonggarkan dasi yang menjerat lehernya, pria itu menarik nafas berat, memikirkan begitu beratnya tanggung jawab yang akan ia pegang.
Namun semua ini adalah kesalahannya sendiri, menerima tawaran yang membawanya kepada kehidupan baru.
"Setidaknya, aku memilikinya," gumam Hans, membayangkan wajah sang istri pagi ini yang terlihat berbeda.
"Kenapa aku begitu merindukannya, padahal belum satu jam kami berpisah." Pria itu kembali bergumam pelan.
Tiba-tiba ponsel yang ada di atas meja kerjanya berdering, Hans yang menyandarkan punggungnya kini menegakkan, melihat nama yang tertera di ponselnya.
Lagi-lagi Hans menghela nafas saat, melihat nama yang tertera di sana.
"Ya, tuan!" Seru Hans sambil melangkah ke luar.
"Aku sedang di perusahaan dan sekarang aku harus menemui salah satu Klein kita," sahut Hans pelan dengan memijat keningnya, mendengar seorang pria di seberang sana untuk mencari tahu kegiatan yang Hans lakukan.
Hans meletakkan kembali ponselku saat telepon dimatikan secara sepihak dari seberang sana.
Hans menjadi dilema dengan perkataan, pelayan setia tuan muda Rolex.
__ADS_1
Bagaimana tidak, Hans diberikan perintah untuk meminta sejumlah uang kepada sang istri, juga meminta tanda tangan — Miranda, agar seluruh harta Miranda jatuh di tangan Rolex.
"Apa aku harus melakukannya? Tidak, istriku begitu banyak berubah." Hans begitu kebingungan dengan semua ini.
"Tidak! Aku tak akan pernah melakukannya, semuanya milik istriku dan aku tidak berhak melakukan kejahatan kepadanya." kembali Hans bergumam dalam hati, ia tidak akan mungkin mengurangi istrinya sendiri, Miranda.
Kepala pelayan setia Rolex, memberikan perintah kepadanya agar bisa mendatangkan tanda tangan Miranda sebagai ahli waris dari perusahaan Wings, sebuah perusahaan terbesar di beberapa negara, perusahaan yang merupakan aset keluarga mendiang mommy, Miranda. Itu berarti, seluruhnya merupakan milik wanita yang duduk di kursi roda.
Ayah Miranda, hanya seorang pria pecundang yang menjadi benalu di keluarga besar mendiang sang —- mommy.
Sebab itulah, Rolex dan mama-nya berharap kepada Hans agar bisa mengambil alih kekayaan — Miranda, istrinya.
Pintu ruangannya di ketuk dari luar, dan tidak lama sang sekretaris wanita masuk ke dalam ruangannya.
"Waktunya untuk melakukan pertemuan, tuan," terang wanita di hadapan Hans yang memamerkan senyum.
Hans hanya menampilkan wajah biasa saja, berjalan'mendahului sekertarisnya yang mengikutinya dari belakangnya.
Hari ini Hans akan melakukan pertemuan kerjasama dengan salah satu keluarga terkaya.
__ADS_1
"Di mana pertemuannya?" Hans bertanya dengan tatapan enggan melirik ke arah sang sekretaris.
" Sebentar lagi tuan," sahut sekretaris Hans.