Pejantan Yang Tergadaikan

Pejantan Yang Tergadaikan
bab 37


__ADS_3

"Plak." Suara tamparan begitu terdengar nyaring di ruang makan, kediaman besar tuan Meta. Tubuh ramping putrinya pun terdorong sedikit ke belakang, membentur pinggir meja makan yang membuat Rosella meringis sakit.


Wanita itu memegangi wajahnya yang tampak merah dengan bekas tangan sang daddy, belum hilang memar di wajah akibat ulah suaminya, sekarang ia tiba-tiba mendapatkan tamparan dari daddynya.


Rosella menghapus air matanya, meskipun wajah cantiknya ia sembunyikan di dandanan begitu dramatis, tetap saja jejak kepiluan juga kesedihan tetap terlihat.


Wanita itu masih berdiri di posisinya dengan kepala menunduk, tidak satu orang pun yang mencoba untuk melerai sang daddy untuk tidak menyakiti putrinya itu, sang ibu sambung hanya terdiam dengan senyum sinis, sementara suaminya asyik menikmati sarapan pagi.


Sementara tuan Meta kembali ke kursi namun masih menatap putrinya dengan begitu sengit.


Pagi ini pria berusia lebih setengah abad mendapat pengakuan dari menantunya — Carlos, yang mengatakan bahwa Rosella menyusul mantan kekasihnya di sebuah desa. Betapa murkanya tuan Meta saat mendengar ungkapan menantu kebanggaannya.


Pria itu lantas memanggil putrinya yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga. Wanita itu diseret kasar oleh ayahnya sendiri dan menghempaskan tubuh lemah Rosella tepat di depan suaminya yang hanya mendesis sinis.


Tuan Meta sungguh sudah di butakan oleh ucapan bualan sang istri juga menantunya, hingga tega memperlakukan kasar putri semata wayangnya itu.


Pria yang masih terlihat bugar dan gagah di usianya mencapai lebih dari setengah abad itu, perbuatan sang putri sungguh sudah mencoreng nama baiknya kepada sang menantu.


"Seharusnya kau bersyukur mendapat Carlos sebagai suamimu, bukan mengejar pria pecundang kampung itu." Nyonya Sarah, ibu sambung Rosella mengeluarkan pendapat yang semakin memperkeruh keadaan, sambil menatap menantunya yang juga meliriknya dengan tatapan aneh, salah satu kaki nyonya Meta kini bermain-main di area terlarang menantunya sendiri, berusaha menggoda pria tampan di hadapan yang sungguh membuatnya menggila.


Carlos sendiri yang sudah biasa dengan godaan sang ibu mertua hanya menanggapinya biasa, ia bahkan begitu menikmati sentuhan sang ibu mertua.


Rosella duduk di samping suaminya dengan isakan lirih, setelah menyiapkan sarapan, sang ibu sambungnya sengaja tidak menerima pelayan untuk bekerja di kediaman mewah mereka, karena ingin membuat Rosella begitu tersiksa, layaknya seorang pelayan di kediamannya sendiri.

__ADS_1


Wanita itu hanya sabar melakukannya, ia berpikir sudah kewajiban dirinya untuk melayani keluarga dan setelah itu berangkat ke hotel untuk melakukan pekerjaan, menambah pundi-pundi kekayaan untuk sang ibu sambung nikmat berfoya-foya tanpa melakukan apapun.


Ia hanya bersenang-senang di luar sana dengan geng sosialita dan bahkan melakukan hiburan khusus dewasa juga mempunyai sosok pria muda untuk melayaninya dengan puas di ranjang.


Sementara tuan Meta tidak mengurusi kesenangan sang istri kedua, ia hanya bisa melakukan berbagai bisnis dengan terus menekan sang putri agar bisa membuat mereka lebih sukses, tanpa mempedulikan kebahagiaan putrinya sendiri dan hanya menginginkan, Rosella mengikuti semua perintahnya juga menjadi anak penurut.


Rosella hanya diam, wanita itu mulai melayani suaminya yang tidak bisa apa-apa tanpa pelayanan sang istri. Rosella terus menahan rasa sakit hatinya yang begitu sesak, melihat wajah cuek sang suami dan sikapnya yang enggan.


Carlos bahkan menggeser kursinya agar tidak berdekatan dengan sang istri, entah apa yang ada di pikiran pria itu.


"Minta maaflah kepada suamimu dan jangan pernah menemui pria berandal itu." Tuan Meta menatap sang putri dengan tajam dan merendahkan harga diri putrinya di depan sang menantu yang sudah membuat putrinya itu terluka.


Rosella hanya diam dan tanpa menyahuti perkataan sang daddy, membuat tuan Meta begitu murka. "Cepat, minta maaf!" Bentak tuan Meta kepada darah dagingnya sendiri, membuat Rosella terkejut dan wajahnya berubah panik pun ketakutan.


"M-maaf," ucapnya dengan lirih, nadanya bergetar seakan menahan sebuah sesak di tenggorokannya.


Carlos hanya melirik tajam istrinya itu dan mengatakan sesuatu yang hanya membuat Rosella semakin bersedih.


"Aku akan memaafkanmu, kalau kau melakukan pekerjaanku di perusahaan," tandas pria itu dengan tatapan muak.


Setelah itu Carlos bangkit dengan mendorong kursi dengan kasar menimbulkan gesekan nyaring, Rosella hanya bisa memejamkan kedua matanya, sambil memegang dada yang begitu sesak dan terhimpit oleh sesuatu benda besar.


"Jadikan pelajaran, jangan jadi wanita murahan, ingat, kaj seorang istri pengusaha terpandang," timpal nyonya Meta, bangkit dan berjalan mengikuti langkah Carlos.

__ADS_1


Rosella hanya bisa menelan perkataan hina yang diucapkan sang ibu tiri, kini ia memaksa untuk menghabiskan sarapan dengan sang daddy yang hanya diam.


Rosella butuh tenaga untuk bisa melewati hari panjang kali ini, melakukan pekerjaan di dua tempat.


___


Sebuah tarikan kasar dan terburu-buru, membuat nyonya Meta ingin berteriak, namun sebuah ciuman panas dan menggebu membungkam mulutnya.


Nyonya Meta tersenyum di sela ciuman panas mereka saat melihat sang menantu kini terbakar oleh godaannya.


Keduanya kini berada di perpustakaan pribadi nyonya Meta, tempat yang biasa mereka lakukan untuk melakukan hubungan menjijikkan.


Keduanya sudah lama berhubungan, sebelum perjodohan. Carlos merupakan simpanan nyonya Meta dan wanita itu sengaja menjodohkan Carlos dengan putri sambungnya, karena harta warisan yang akan diterima sepenuhnya kepada —- Rosella.


"Aku menginginkan tubuh indahmu ini, mommy," Carlos kini membuka satu persatu helai kain di tubuh sang ibu mertua sambil berbisik dan meninggalkan kecupan di selangkanya, membuat nyonya Meta mendesis nikmat.


"Tidak sekarang, sayang, mereka masih dia sini," tolak nyonya Meta, saat Carlos mencoba menurunkan kain terakhir yang menutupi area terlarang.


Namun pria itu sudah terbakar gairah, hingga mengangkat tubuh ramping ibu mertuanya dan mendudukkan di atas nakes setinggi paha, pria itu lantas segera melakukan penerobos mendadak, membuat sang ibu mertua hanya bisa menggigit bibir bawah untuk menahan *******.


Hubungan terlarang pun terjadi pagi ini, dengan suasana begitu panas penuh nikmat, di ruangan itu hanya terdengar suara lenguhan lirih juga penyatuan. Beruntung ruangan itu rahasia untuk sang nyonya dan tentu saja kedap suara. Jadi mereka bebas berteriak dan melakukan adegan dewasa dengan brutal.


Apalagi tuan Meta begitu tidak peduli dengan keadaan sang istri dan lebih memilih memperluas kekuasaan di bidang bisnis. Obsesi pria itu begitu tinggi, hingga rela membuat putrinya menjadi batu loncatan.

__ADS_1


__ADS_2