
"Wajah kalian begitu mirip!" Seorang wanita dengan paras anggun, kini tercengang, melihat gambar wajah Hans dengan putranya sendiri.
Setelah mendengar, ungkapan putranya, nyonya Jill mencoba mencari kebenaran, ia tidak ingin, sang putra kembali menipunya.
Setelah melihat rekaman video Hans dengan Rolex, di malam saat Hans di sergap dengan pelayan setianya, nyonya Jill akhirnya percaya.
Wajahnya begitu terkejut, memilih juga bersama dengan sosok pria yang begitu sama persis dengan putranya itu.
"Ck! Rolex berdecak sinis ke arah wanita yang sudah melahirkannya itu.
"Berarti, selama ini mommy tidak mengenal diriku dengan baik." Rolex berucap dengan wajah kesal.
Nyonya Jill kini memiringkan kepala ke arah putranya dan memperhatikan seksama wajah tampan Rolex dengan Hans.
"Tidak ada yang membedakan kalian," sahut nyonya Jill dengan wajah begitu lekat, untuk memindai wajah putranya dan Hans.
"Sejak kapan, mama bisa mengenalku dengan baik? Sedangkan, mama sibuk dengan karir juga kesenangan mama." Rolex bangkit, setelah menyinggung sang mama.
Yang sejak dulu selalu diabaikan oleh kedua orangtuanya juga tidak pernah mendapat kasih sayang dari sang mama.
Yang hanya sibuk dengan dunia mereka masing-masing. Rolex hanya disuguhkan dengan kekayaan juga kemewahan. Menjadikan, sosok Rolex tumbuh menjadi pria egois dan sesuka hatinya.
"Mama begitu ingat, kalau mama hanya melahirkan satu putra. Tapi … kenapa wajah kalian begitu mirip?" Nyonya Jill masih begitu penasaran dengan sosok pria yang begitu mirip dengan putranya.
"Kami memiliki, netra berbeda." Sela Rolex, wajahnya begitu sinis ia berikan kepada mama-nya.
__ADS_1
"Benarkah?! Nyonya Jill bereaksi terkejut, ia pun kembali menatap lekat wajah putranya dan Hans.
"Tapi semua berpikir dia adalah, kau!" Sentak nyonya Jill dengan ekspresi syok.
"Bukankah, itu adalah keberuntungan untukku?" Seloroh Hans.
Nyonya Jill kembali memiringkan kepala dan menatap lekat putranya itu.
"Dengan begitu aku tidak perlu menikah dengan wanita cacat, aku hanya, perlu diam dengan kesenanganku dan kertas Dolar terus mengalir di rekening ku." Rolex begitu bangga atas rencana brilian yang sudah membuatnya begitu bahagia.
Nyonya Jill juga menerbitkan senyum licik dan keduanya kini tertawa lepas. Merasa rencana mereka berhasil tanpa harus menganggap wanita cacat sebagai bagian dari keluarga mereka.
"Mama juga tidak setuju kau menikah dengannya yang hanya seorang wanita sombong. Wanita yang tidak patut di banggakan selain, harta dan kekayaannya." Terang nyonya Jill.
"Yah, setelah kita berhasil menguasai seluruhnya, kita akan menyingkirkan keduanya dengan begitu mudahnya," terang nyonya Jill.
…
Di wilayah lain, tepatnya di kediaman Miranda. Kini tampak terlihat sosok pria yang dengan penuh kelembutan, melayani wanita yang sejak tadi menatapnya tajam.
Hans hanya bisa terdiam dengan wajah kaku, mendapat tatapan tajam dari istrinya sendiri. Hans tidak bedanya seorang pelayan setia yang mengubah status menjadi — suami.
Hans hanya bisa terdiam, sambil memikirkan sesuatu untuk bisa keluar dari perangkap yang menyiksanya.
Apalagi Miranda tidak pernah, memperlakukan dirinya seorang suami, ia hanya mendapat bentakan, teriakan, umpatan, juga makian, setiap harinya.
__ADS_1
Ia harus melayani istrinya, dari awal pagi hingga malam, saat wanita berwajah cantik namun dingin itu.
"Apa kamu memikirkan sesuatu untuk bisa keluar dari sini?" Hans tiba-tiba terkejut, saat sesuatu hangat menerpa salah satu daun telinganya.
Sebuah bisikan yang membuatnya merinding, seketika dan ia menjadi pucat. Apalagi melihat senyum seringai, Miranda.
"Tidak! Aku tidak memikirkan itu. Aku hanya memikirkan kedua orang tua aku." Hans mencoba mengelak dengan nada gugup.
Alis Miranda bertautan, ia semakin menatap Hans dengan begitu lekat.
"Kau masih memiliki mereka?" Tanya Miranda yang kurang percaya dengan pengakuan suaminya itu.
Hans memindahkan istrinya ke atas ranjang dengan gerakan pelan juga lembut.
Miranda bisa merasakan hangatnya nafas Hans, juga aroma maskulin suaminya itu. Ia begitu terlena dengan leher panjang Hans yang di matanya begitu seksi, apalagi cangkung suaminya itu.
"Iya, mereka masih ada dan di sebuah desa kecil," sahut Hans.
Pria itu kini menjauhkan tubuhnya dari Miranda, namun wanita itu menahan telapak tangan Hans dan memerintahkan untuk berbaring di sampingnya.
Hans dengan patuh menaiki ranjang dan membaringkan, tubuh kekar profisionalnya itu di samping sang istri.
Hans terdengar menghembuskan nafas tegang, juga wajahnya terlihat canggung.
Namun tiba-tiba ia terkejut, saat merasakan tangan istrinya kini melingkar di atas perutnya.
__ADS_1
Wajah pria itu pun semakin tegang dan mulai gugup bercampur ketakutan.