Pejantan Yang Tergadaikan

Pejantan Yang Tergadaikan
bab 46


__ADS_3

Seperti biasa, Rosella setiap paginya harus memaksakan diri untuk mengerjakan tugas rumah tangga. Meskipun kondisi tubuhnya yang sangat lemah, wanita itu memaksa tubuhnya bergerak.


Rosella ingin mengakhiri semua derita ini dengan pergi jauh, namun ia harus memikirkan keadaan daddynya.


Ia takut, ibu tirinya melakukan sesuatu yang dapat membahayakan nyawa daddynya, seperti ancaman yang selalu ia dengar dari mulut ibu sambungnya.


Dengan keadaan lemah dan wajah pucatnya, Rosella membuat menu sarapan pagi ini sesuai jadwal yang sudah sang ibu tiri buat.


Tidak hentinya Rosella menghela nafas lelah dan mencoba menguatkan diri, di mana tubuh dan pandangannya membuat tubuhnya hampir ambruk.


Dengan penglihatan mengabur dan berputar-putar. Rosella mencoba untuk bertahan.


Butuh waktu 1 jam wanita itu menyiapkan sarapan yang diinginkan oleh keluarganya.


Rosella melirik jam yang menempel di dinding yang menunjukkan angka 06:30 pagi.


Wanita itu mendesah panjang, berarti saatnya ia bersiap-siap untuk menuju hotel. Hari ini ia memiliki pertemuan penting dengan klien penting.


Rosella berjalan menuju kamarnya dengan langkah kontai, mengusap keringat yang membasahi dahinya.


Wanita itu berhenti tepat lima langkah dari pintu kamarnya. Dahi wanita itu mengerut, melihat pintu kamarnya terbuka sedikit.


"Aku merasa menutupnya rapat?" Gumam wanita itu yang kembali melanjutkan langkahnya.


Rosella masuk begitu saja tanpa mengetahui keadaan di dalam kamarnya.

__ADS_1


"Mommy?! Serunya dengan wajah heran, saat mendapati ibu tirinya berada di dalam kamarnya dengan keadaan berantakan juga terlihat gugup dan salah tingkah.


Ia kini melirik suaminya yang terlihat begitu santai duduk d atas sofa sambil memainkan ponselnya.


"Mommy sedang apa di kamar aku?" Tanya wanita itu dengan heran.


Nyonya Soraya kembali memperlihatkan wajah sengitnya, padahal ia begitu gugup tadi. Ia bahkan melirik sinis anak tirinya.


Baru saja ia akan bercumbu dengan menantunya, Rosella datang dan mengacaukan segalanya. Membuat rasa kesalnya naik ke ubun-ubun. Apalagi sudah dua hari dirinya tidak bertemu dengan menantunya itu.


"Bukan urusanmu, mommy hanya membutuhkan bantuan suamimu!" Sentak nyonya Soraya sambil mencebikkan bibir dan berjalan menuju pintu kamar dengan mulut bersungut-sungut.


Rosella terus menatap punggung ibu tirinya tanpa merasakan sesuatu ganjal.


Carlos sendiri kini sedang melakukan video call dengan mertuanya sendiri, di mana wanita di dalam layar ponselnya sedang melakukan gerakan irotis. Membuat darah Carlos berdesir.


Carlos melirik ke arah kamar mandi, seketika pria itu tersenyum, saat memiliki kesempatan berdua dengan mertuanya sebelum Rosella keluar dari kamar mandi.


Pria itu segera berjalan menuju pintu kamar dan berjalan ke arah salah satu kamar paling pojok, di mana nyonya Soraya sudah menunggu di dalam sana dengan wajah mendamba.


🌹🌹🌹


"Eh, ke mana dia?" Rosella terheran, saat tidak menemukan Carlos di dalam kamarnya.


"Apa mungkin dia ke kamar mandi lain?" Gumamnya sambil terdiam. Rosella pun berjalan menuju ruangan ganti untuk menyiapkan keperluan pribadi juga suaminya.

__ADS_1


"Kau darimana?" Rosella begitu terkejut, saat melihat keberadaan Carlos di dalam kamar dengan wajah lelah dan puas, kulit wajah suaminya pun terlihat lembab, begitu juga bagian lainnya, hingga membuat kaos putih yang dikenakan Carlos basah.


"Bukan urusanmu," sahut Carlos yang berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati kamar mandi, pria itu bahkan sengaja menyenggol pundak istrinya.


Rosella yang terdiam, merasa baik-baik saja, ia sudah terbiasa menerima perlakuan suaminya seperti ini.


Carlos sendiri terdengar berdecak, saat Miranda terjatuh.


"Dasar wanita payah dan lemah," hina Carlos, menatap remeh dan jijik pada istrinya sendiri.


Rosella hanya tersenyum miris, mendapat perlakuan seperti itu dan kata hina dari sang suami.


Sedangkan di kediaman mewah lainnya. Tampak kehangatan juga keromantisan di sana.


Di mana seorang wanita cantik kini memasang dasi suaminya yang berjongkok di hadapannya.


Hans memandangi wajah cantik istrinya sambil merapikan rambut lembab Miranda.


"Kau, jadi keluar kota?" Tanya Miranda dengan suara lembut.


"Entah, mungkin aku harus melihat jadwalku terlebih dahulu," sahut Hans, kepala mendongak ke atas, saat Miranda mencoba menyimpul dasi suami.


"Kabari aku, kalau kau benar akan pergi!" Pinta Miranda.


"Tentu, sayang," Hans mencium kening istrinya.

__ADS_1


__ADS_2