Pejantan Yang Tergadaikan

Pejantan Yang Tergadaikan
bab 42


__ADS_3

"Sial, kau akan membuat wajahku semakin hancur!" Hans mengerang tertahan saat sahabatnya Robben mencoba mengobati luka yang ada di wajahnya.


"Ck, kau tidak pantas memiliki seorang wanita. Karena kau akan mendapatkan hasil memar di wajah." Robben sengaja menekan kuat kapas yang susu diberi alkohol untuk membersihkan luka di wajah Hans, pria memiliki rambut panjang itu selalu kebingungan saat dekat dengan seorang wanita maka sahabatnya ini pasti aku mendapat pukulan.


Karena terlalu kesal, Robben pun kembali menekan kapas tepat di luka Hans, membuat pria itu berteriak.


"Akh, bedebah sialan!" Maki Hans menegakkan punggung kekarnya dan membalas perbuatan Robben dengan menginjak kaki pria itu.


"Cih, dasar pria payah," Robben berkata sambil berdecak kesal.


"Berhentilah mencintai seorang wanita," Robben menyela dengan wajah begitu muak. Selalu saja dirinya yang menjadi pelarian sahabatnya saat mendapat masalah.


Hans menatap Robben lekat dan detik berikutnya ia pun berdesis kesal.


"Jadi kau menyuruhku mencintai seorang wanita?" Sahut Hans sambil tersenyum sinis.


"Yap, setidaknya kau tidak akan mendapat tindakan penganiayaan," sahut pria berwajah tampan dengan memperlihatkan tubuh bagian atas tanpa memakai apapun.


"Tapi aku masih mencintai seorang wanita yang begitu lembut dan indah," tandas Hans, tersenyum puas melihat wajah jengah Robben.


"Yah, selembut istrimu yang memiliki wajah kaku." Robben sungguh muak dengan sahabatnya ini yang begitu naif.


Hans hanya tersenyum, namun nyatanya istrinya benar-benar sangat berbeda, istrinya akan bersikap dingin kepada seorang asing dan istrinya akan bersikap manja saat berdua saja.


"Aku merindukanmu, sayang," gumam Hans, yang tiba-tiba merindukan istrinya itu.

__ADS_1


Robben semakin muak, pria tinggi itu berjalan menuju dapur untuk membuat sesuatu untuk sahabat bodohnya.


Sementara Hans, terus memikirkan cara untuk bisa membuat Rolex dan mamanya berhenti mengancam nyawa Istrinya.


Terdengar suara bel unit apartemen sahabat Hans. Kedua pria tampan saling menatap sambil melirik ke arah pintu.


Robben segera berjalan mendekati Hans yang sedang menyembunyikan sesuatu.


"Siapa?! Hans bertanya pelan kepada Robben


Robben menaikkan kedua pundaknya bertanda dirinya pun tidak tahu.


Robben pun memilih melihat seorang di luar sana. Robby mengintip di lubas kecil apartemennya. Pria itu tidak melihat seseorang di luar sana, namun suara bel membuat Robben terkejut.


Dengan wajah kesal, Robben membuka pintu dengan memasang wajah garang. Tiba-tiba pria itu membeku di tempatnya, melihat sosok di depan kini menatapnya begitu menakutkan.


Pria itu tidak bisa mengatakan apapun selain diam dengan wajah syok. Tubuhnya sedikit berbalik guna melihat Hans yang tatap terlihat penasaran.


Hans berusaha bangkit, berjalan mendekati sahabatnya yang tetap membeku di depan pintu.


"Siapa yang datang? Lalu apa ini, kenapa wajahmu begitu pucat," ujar Hans yang kini mendekat. Namun langkah Hans terhenti begitu saja dengan wajah syok, melihat keberadaan istrinya di depan matanya.


"Sayang!? Seru Hans dengan nada bergetar gugup.


"Hey, honey!" Sahut Miranda yang sekarang mulai mendorong kursi rodanya mendekati Hans.

__ADS_1


"Kau tidak ingin memelukku?" Nada bicara Miranda terdengar begitu manja. Kini Miranda berada tepat di depan — Hans.


Hans tersadar dari keterkejutan ketika merasakan sentuhan lembut di telapak tangan kekarnya.


Hans menatap telapak tangan yang kini di genggaman erat oleh Miranda.


"Sayang, kenapa kau bisa mengetahui aku ada disini?" Hans kini bertanya sambil mengusap wajah Miranda.


Miranda tersenyum, memandangi wajah suaminya yang cukup parah. Wanita itu mengulurkan salah satu tangannya untuk menyentuh luka di wajah sang suami.


Hans menjadi kelabakan, saat menatap, tatapan tajam dari istrinya.


"Apa yang terjadi? Kau terluka?" Tanya Miranda menyoroti wajahnya lebam suamiku.


Hans semakin tidak tenang dan saling menatap dengan Robben.


Pria itu bingung harus memberikan alasan apa.


"Hm … ini hanya luka kecil sayang, mungkin seminggu lagi akan membaik," ujar Hans yang memaksa tersenyum dan memegang luka di wajahnya.


Tatapan Miranda begitu lekat, menatap kondisi wajah suaminya.


Hans menjadi salah tingkah ditatap begitu serius oleh istrinya.


"Sebaiknya kita masuk sayang!" Seru Hans, memposisikan diri di belakang kursi roda istrinya lalu mendorong masuk kedalam.

__ADS_1


__ADS_2