
Hans menjatuhkan tubuhnya di samping istrinya setelah penyatuan untuk pertama kalinya pasangan itu merasakan kenikmatan itu.
Sisa kenikmatan masih tampak jelas terlihat di wajah keduanya, dengan deru nafas ngos-ngosan, tersirat kebahagiaan di wajah — Hana. Mengetahui dirinya pertama kali menyentuh istrinya itu.
Hans menoleh ke samping, di mana sang istri terlihat meringis, pria itu pun segera mengubah posisinya menjadi miring dengan sebelah tangan menyanggah kepalanya.
Hans meraih tubuh istrinya itu yang masih membeku, pria itu mencoba menenangkan istrinya.
"Maaf, kalau aku menyakitimu." Pria itu berbisik di atas puncak kepala istrinya.
Miranda yang masih terdiam hanya menggelengkan kepala. Sungguh pengalaman ini membuatnya campur aduk, kesakitan, gugup, tegang dan kenikmatan. Hingga ia bisa merasakan pelepasan yang sungguh membuatnya menginginkan sentuhan suaminya lagi.
"Tidak, aku sungguh menikmatinya. Terimakasih, kau membuatku merasakan kenikmatan itu," ujar Miranda, mendongakkan kepalanya, hingga pandangan keduanya saling berasumsi.
"Tidak sekarang, kau butuh istirahat sayang," sahut Hans, mengecup kening istrinya, lalu membenarkan letak selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
Miranda segera merengkuh tubuh kekar suaminya itu dan mengeratkan pelukan, sungguh hati dan perasaannya kini berbunga-bunga.
__ADS_1
"Apa kau tidak menyukai tubuhku, Karena cacat?" Miranda membuat gambar asal di atas kulit dada suaminya itu dengan menggunakan jari telunjuk.
Hans menjauhkan wajah istrinya dari dadanya, menatap lekat wajah Miranda.
"Apa aku pernah berkata seperti itu?" Sungguh Hans tidak menyukai pertanyaan istrinya itu.
Miranda terdiam, mendengar perkataan suaminya, wanita itu hanya ingin mengetahui perasaan Hans kepadanya.
"Ingat, aku memang terpaksa melakukan pernikahan ini, bukan berarti aku juga akan mempermainkanmu. Pernikahan adalah ikatan suci, dan aku bukan lah pria seperti itu. Bagiku kau istri dan tanggung jawab aku, apalagi aku sudah mengambil kehormatanmu," terang Hans dengan ungkapan tulus juga tatapan yang begitu penuh keseriusan.
"Apa masih sakit?" Tanya Hans berbisik dengan suara serak.
Miranda pun tidak bisa berbohong dengan rasa nyeri di bawah inti tubuh.
"Baiklah, kita melakukannya lagi nanti," ucap Hans, membuat wajah Miranda tiba-tiba merona.
"Tidurlah!" Pinta Hans lembut kepada istrinya dengan posisi mengusap pelan punggung mulus — Miranda.
__ADS_1
Keduanya akhirnya tertidur dengan raut begitu bahagia, pengalaman pertama ini, sungguh menyakinkan perasaan Hans untuk selalu bersama sang istri.
______
Lain halnya di hunian lain. Terlebih sosok pria kini menggauli istrinya begitu menggila, membuat sosok wanita rapuh di bawahnya tidak mampu mengucap apapun.
Sungguh wanita itu bisa gila, terus melayani keintiman sang suami yang begitu hyper.
Namun sosok wanita di bawah sana hanya bisa berpura-pura menikmati semua permainan kasar suaminya, dia tidak akan berhenti apabila Rosella tidak memberikan ekspresi nakal.
Terdengar erangan tertahan dan kuat berasal dari kedua pasangan sungguh menikmati pelepasan.
Rosella hanya terdiam, wanita itu sungguh membenci sosok pria yang kini sudah tertidur di sebelahnya. Ingin rasanya membunuh pria ini. Namun, Rosella juga harus melakukannya demi kedua orang tua juga saudara yang begitu nikmat kemewahan yang sekarang mereka dapat dari menjual anak kepada seorang pria kaya.
Rosella bangkit dan berjalan dengan susah, menuju kamar mandi. Sungguh ia butuh mendinginkan tubuh juga pikirannya.
Wanita itu menoleh ke arah suaminya yang langsung tertidur nyenyak, setelah melakukan pertempuran brutal.
__ADS_1