
"Kau yakin ingin menyerahkan tanggung jawab perusahaan pada suamimu?" Mark Taylor, ayah Miranda Albert, bertanya saat mereka sedang berada di ruangan tertutup.
Miranda hanya diam, wanita itu terlalu muak melihat wajah daddynya. Sosok yang sangat ia benci, setelah apa yang daddynya itu perbuat pada mommynya sebelum mengakhiri hidupnya.
"Aku berhak memutuskan sesuatu yang aku inginkan. Anda tidak memiliki hak untuk mengaturku. Ingatlah, semua yang anda nikmati bersama gundik anda berasal dari keluarga mommyku." Miranda begitu mudahnya mengatakan ucapan kasar pada daddynya sendiri.
Menurut Miranda, ia tidak perlu mematuhi seorang pria pengkhianat dan licik seperti daddynya.
"Yap, aku tahu itu. Daddy juga butuh waktu untuk mengambil cuti panjang." Tuan Mark Taylor, menyahuti perkataan putrinya. Namun dalam hati, pria itu tersenyum puas. Akhirnya rencana jahatnya bersama keluarga Rolex akan segera terwujud.
Setelah mendapatkan seluruh harta warisan peninggalan istrinya, Mark akan membuang putrinya ini.
Ia tidak perlu mengikuti kata hati sebagai seorang ayah, karena Miranda sendiri bukanlah putri kandungnya.
Miranda merupakan darah daging kekasih istrinya. Kalau bukan karena harta, Mark enggan menikahi istrinya yang sedang hamil anak saudara kembarnya.
Mark terpaksa menikahi Julia Albert, mommy Miranda, karena keadaan mendesak. Ia menjadi pengantin pengganti saudara kembarnya yang mengalami kecelakaan saat perjalanan menuju tempat berlangsungnya hari pernikahan.
Tidak memiliki pilihan lain, Mark pun menerima perintah dari kedua orang tuanya dengan tekanan keluarga besar Albert.
Mereka akan menghancurkan perusahaan keluarga Mark, apabila ia menolak menikahi Julia. Keluarga Albert pun tidak ingin mengambil resiko dengan mempertahankan nama baik keluarga besar mereka, dengan kejadian yang menimpa putri semata wayangnya. Apalagi putri mereka sedang mengandung.
Dengan penuh kebencian, Mark mengucapkan sumpah dan janji pernikahan. Meskipun ia harus mengabaikan perasaan kekasihnya yang merupakan sahabat Julia sendiri yang tengah menjadi bridesmaid.
__ADS_1
🌹🌹🌹
"Akhirnya, impian kita akan segera terwujud sayang." Istri tuan Mark bersorak kegirangan, saat mendengar ucapan suaminya. Mereka sedang berada di sebuah villa, melakukan pertemuan penting untuk membicarakan sesuatu tentang rencana mereka.
Rolex dan ibunya pun berada di sana, menikmati minuman alkohol untuk menghangatkan tubuh di musim semi.
"Kapan dia akan menandatangani surat hak waris seutuhnya pada pria payah, itu?" Rolex membuka suara, setelah lama terdiam.
"Bertepatan hari ulang tahun mommynya, juga ulang tahun perusahaan." Tuan Mark menjawab.
Keempatnya saling memandang dan tersenyum sinis. Semua ini adalah konspirasi mereka untuk bisa mengambil alih seluruh kekayaan yang dimiliki keluarga besar Albert, yang mana kekayaannya menguasai sebagian wilayah negara mereka.
"Oh Tuhan, akhirnya, impianku menjadi wanita terkaya di negara ini akan segera terjadi," seloroh istri tuan Mark, yang tidak sabar ingin segera memiliki kekayaan Miranda.
"Lalu, apa yang akan kita lakukan pada mereka?" Ibu Rolex menimpali.
"Kita habisi mereka, maka ancaman akan hilang," sela Rolex.
Tuan Mark dan ibu Rolex saling melempar senyum licik. Sungguh begitu sangat mudah bagi mereka menguasai semuanya.
Keempatnya pun kembali berpesta malam ini. Merayakan keberhasilan sebelum semuanya akan terwujud. Menjadikan impian serakah mereka menjadi kenyataan.
Tanpa mereka sadari, apa yang keempatnya bicarakan bisa di dengar baik juga jelas oleh Miranda dan Hans.
__ADS_1
Wanita itu meninggal alat perekam transparan di kalung istri Mark. Miranda memerintahkan salah satu pelayan yang mana pagi tadi menyiapkan keperluan wanita itu.
Hans menutup mulut tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Sementara Miranda hanya terdiam, seakan ia terbiasa dengan rencana licik mereka.
Nyatanya tuan Mark dan istrinya setiap harinya akan memikirkan cara untuk melenyapkan nyawa Miranda.
Wanita itu mengalami kecelakaan, karena rencana licik mereka yang membuat Miranda mengalami lumpuh, hingga akhirnya, tuan Mark mengambil alih pimpinan perusahaan untuk sementara waktu.
Bukan hanya itu, mereka bahkan berniat membuat wanita itu lumpuh selamanya dengan mengganti obat-obatan Miranda dengan obat yang akan membuat wanita itu tidak akan pernah pulih.
Satu hal yang tuan Mark sadari, bahwa Miranda memiliki pemikiran cerdas juga licik. Ia hanya berpura-pura untuk tidak mengetahui apapun, untuk bisa membongkar semua rencana jahat tuan Mark.
"Kau tidak apa-apa?" Hans menghampiri istrinya yang termenung di depan jendela. Pria itu berjongkok di depan Miranda, memberikan tatapan penuh kasihan pada istrinya ini.
"Jangan memandangku seperti ini, aku bukan wanita lemah, ini sudah terbiasa bagiku. Bahkan setiap pergerakanku adalah ancaman." Miranda merengkuh erat pundak Hans. Meletakkan wajah di dada hangat suaminya itu.
"Apa yang akan kau lakukan? Apa kita harus menunggu rencana mereka?" Hans mendorong pelan tubuh istrinya, menatap lekat wajah Miranda.
"Kita akan melihatnya nanti," sahut wanita itu, meminta pada Hans untuk membawanya ke atas ranjang.
"Aku lelah," keluhnya, saat sudah terbaring di atas ranjang.
Hans pun ikut merebahkan tubuh tingginya di samping sang istri, memeluk tubuh ramping Miranda dari belakang. Mengusap lembut telapak tangan istrinya sesekali mengecup pundak terbuka, Miranda.
__ADS_1
"Tidurlah, aku akan menjagamu," bisik Hans, meninggalkan ciuman di pipi sang istri.
"Aku juga akan melindungimu dari mereka." Hans berkata dalam hati, mengeratkan pelukannya, merasakan betapa rapuhnya kehidupan istrinya selama ini. Ia hanya di paksa untuk selalu bersikap kuat dan tangguh. hidupnya bahkan selalu dan ancaman.