
Hans terkejut, saat merasakan sentuhan juga kecupan di punggung terbukanya, pria itu membalikkan badan dan melihat istrinya sudah tampak seger dengan rambut berbalut handuk.
Segera Hans bangkit dan memandangi sang istri yang kini tersenyum manis kepadanya.
"Pagi!" Seru Miranda yang wajahnya tampak berseri, wanita itu juga mengecup sekilas bibir suaminya yang masih terdiam.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu!" Perintah Miranda dan sekali lagi wanita itu mengecup seluruh wajah tampan suaminya itu.
Hans masih terdiam di posisinya dengan kening mengerutkan, mengikuti pergerakan kursi roda yang membawa sang istri ke dalam kamar ganti.
Hans begitu heran, darimana istri bisa melakukan see sendiri? Maksudnya, bukankah selama ini dirinya yang membantu istrinya membersihkan diri dan bangu? Terus yang pria itu lihat sekarang? Sungguh membuat Hans kebingungan.
"Sejak kapan dia bisa melakukannya?" Batin Hans dalam hati, terus menatap pintu kamar ganti mereka.
"Kau belum bergerak, honey?" Hans begitu terkejut, mendengar suara istrinya, pria itu semakin terkejut, melihat penampilan sang istri yang begitu anggun. Miranda mengenakan gaun sederhana dengan potongan sampai di bawah paha dan berlengan Sabrina. Warna gaun wanita itu juga kontras dengan warna kulit Miranda yang putih pucat.
Hans terus menatap wajah istrinya yang begitu natural dan tampak sangat cantik, dengan bibir ranum yang warnanya begitu membuat Hans terpana.
Pria itu akhirnya bangkit dari ranjang, membiarkan tubuh tingginya yang hanya mengenakan boxer berjalan mendekati sang istri yang sedang mengeringkan rambut.
Miranda tersentak, merasakan kedua tangan suaminya kini berada di perutnya dan merasakan kecupan basah di punggungnya yang terekspos.
Pria itu juga mengecup tengkuk sang istri dengan bertubi-tubi, Miranda hanya mampu memejamkan kedua matanya dengan senyum mengembang, mencoba menikmati perlakuan manis suaminya ini.
"Kau begitu cantik dan wangi, baby," Hans berbisik, tepat di atas pundak mulus istrinya, menyentuh kulit lembab dan mulus itu.
Miranda hanya tersenyum dan membiarkan suaminya bermanja-manja, sementara ia kini mencoba mengeringkan rambut.
"Biar aku yang melakukannya," timpal Hans yang suara begitu membuat darah Miranda kembali berdesis.
Wanita itu mendongak kepala ke belakang dan ia mendapat satu ciuman dari Hans tepat di kening.
__ADS_1
"Terima Kasih," ucap Miranda dengan kedua matanya tertutup.
"Tidak masalah, sayang. Aku akan selalu melakukannya untukmu," sahut Hans, pria itu kini mengeringkan rambut istri dengan lembut, menggunakan pengering rambut khusus. Hans melakukannya begitu hati-hati dan penuh kelembutan.
Sedangkan Miranda menatap suaminya melalui cermin di meja riasnya.
Begitu bahagianya wanita itu mendapatkan sosok suami yang memperlakukan dirinya begitu spesial dan penuh kehangatan juga kelembutan.
Entah mengapa, ia kini benar-benar mencintai suaminya dan wanita itu tidak akan membiarkan suami manisnya ini berpaling darinya dan memberikan celah untuk wanita lain mengambil perhatian sang suami.
"Kau hanya milikku, aku tidak akan membuatnya kembali mengusikmu." Miranda bermonolog dalam hati.
______
"Biar aku membantumu!" Pinta Miranda, saat melihat suaminya kini berdiri di depan cermin dengan memasang dasi.
"Terimakasih, seharusnya kau tidak melakukan ini semua, baby. Aku tidak ingin kau terluka," ujar Hans lembut, berjongkok di depan istrinya yang kini memasangkan dasinya.
Sementara Hans begitu tersentuh dengan usaha istrinya yang ingin berubah, dari wanita dingin menjadi wanita ceria juga hangat.
Salah satu telapak tangan pria itu kini meraih belakang tengkuk sang istri dan membawa ke arahnya, mencium dengan penuh kasih sayang kening sang istri lama, menyerap semua energi positif yang ada pada diri sang istri pagi ini, agar ia selalu tenang dan terutama selalu menjaga hati hanya untuk istrinya.
"Aku menyayangimu," bisik Hans tepat di depan wajah melanda.
Wanita itu hanya tersenyum-senyum dengan rona merah begitu terlihat jelas di wajahnya.
"Sebaiknya, kita turun untuk sarapan, aku takut kau akan telat nanti," balas Miranda.
Hans pun terkekeh, entah mengapa ia ingin berlama-lama dengan istrinya ini, meskipun tidak sesempurna dengan wanita lain, Hans sungguh bersyukur memilikinya.
"Bolehkah, aku hari ini tidak ke perusahaan? Aku rasa ingin bersamamu saja," ucap Hans, wajah pria itu mendambakan kesetujuan istrinya dengan kedua alis tebalnya naik-turun.
__ADS_1
"Tidak!" Tolak Miranda dan wanita itu terdengar terkekeh.
Melihat istrinya yang terkekeh, sungguh membuat dada Hans berdesir hebat. Posisi pria itu masih berjongkok di depan sang istri yang duduk di kursi roda.
"Kau memiliki jadwal pertemuan penting, bukan? Aku akan berkunjung ke perusahaan, nanti," pungkas Miranda, wanita itu kini merapikan rambut suaminya yang tertata rapi, mengusap seluruh wajah tampan pria-nya DNA tidak lupa meninggalkan kecupan di kedua pipi.
"Aku juga menyayangimu," bisik memandangi di dekat sudut bibir suamiku dengan pandangan saling beradu.
Hans pun kini segera meraup bibir ranum istrinya itu, ********** lembut dan menyesapnya bibir bawah istrinya dengan sangat lembutnya, meninggalkan gigitan kecil di sama, membuat Miranda, hanya bisa meremas rambut — Hans.
🌹🌹🌹🌹
Di sisi lain, tepat di kediaman mewah dan di dalam kamar luas, kini terdengar tamparan begitu kasar yang dilakukan seorang pria kepada sosok wanita yang terjungkal di atas ranjang.
"Dasar wanita murahan, jadi kau disana hanya ingin menemui pria sialan itu, hah!" Carlos, suami Rosella kini menjambak rambut istrinya dan menariknya kasar, membuat setengah tubuh wanita itu terangkat, sungguh, pemandangan yang begitu terlihat mengerikan.
Rosella diam, penampilannya begitu kacau yang tidak mengenakan apapun, suaminya pagi ini kembali memaksa melakukan hubungan intim, namun wanita itu menolak dengan alasan ingin segera berangkat ke hotel.
Namun Carlos sungguh tidak ingin dibantah dan segera mendorong istrinya yang sudah rapi dan merobek pakaian istrinya, dengan kasar, Carlos melakukan penyatuan membuat Rosella berteriak kesakitan.
Belum usai rasa sakit di area intimnya, kembali Rosella mendapat perbuatan kasar dari Carlos, saat pria itu mengetahui tujuannya ke desa — Hans, melalui orang suruhan suaminya.
"Aku akan menghancurkan keluargamu dan pria itu, kalau kau berani macam-macam, murahan," bisik Carlos sarkas, menghempaskan tubuh istrinya di atas ranjang dengan kasar dan meninggalkan tubuh lemah Rosella begitu saja.
Wanita itu hanya bisa menangisi nasibnya yang begitu menyedihkan, demi kebahagiaan keluarga, wanita itu rela membuang batu berharga, demi mendapatkan sebuah bongkahan buruk.
Sungguh kehidupan yang Rosella sangat di luar impiannya. Rosella kini hanya bisa menangisi nasib pernikahan yang penuh siksaan itu.
"Aku merindukanmu, Hans," ucap Rosella lirih.
"Aku sungguh merindukanmu, maafkan aku yang dahulu memberikan luka kepadamu, hingga kehidupanku sungguh penuh dengan luka." Lanjutnya wanita itu sambil menangis tersedu-sedu.
__ADS_1