Pejantan Yang Tergadaikan

Pejantan Yang Tergadaikan
bab 27


__ADS_3

Setelah menyuapi istrinya, Hans kembali ke dapur, menyimpan bekas beralasan makan malam Istrinya, tidak lupa, pria itu membersihkan sendiri bekas istrinya, setelah itu ia baru menikmati makan malam juga.


Hans hanya duduk seorang diri di meja makan, menikmati makan malam dengan tatapan menerawang jauh ke masa lalunya dengan mantan kekasih.


Pria itu tidak bisa menyimpan rasa rindu begitu berharga terhadap wanita yang sampai sekarang ia cintai itu.


Namun pria itu berusaha keras untuk melupakan Rosella, namun kenangan indah itu begitu sangat berarti, membuat perasaan cinta masih ada untuk, sosok wanita dalam hatinya.


Hans tidak ingin menjadi sosok pria brengsek, dengan menjadikan sang istri sebagai pelampiasan rasa rindu. Atau hanya pelarian semata.


Dalam hatinya ada terbesit doa yang sifatnya egois, keinginan agar mantan kekasihnya itu berpisah dengan suaminya, hingga ia bisa kembali merajut kisah percintaan mereka.


Di tengah khayalannya, Hans mendengar pintu lemari es di sudut dapur berbunyi, pria berwajah tampan itu menolehkan wajah.


Hans melihat sang bibi sedang menatapnya sambil mengambil beberapa buah segar hasil ladang perkebunan buah milik keluarga.


"Seharusnya kau lebih memperjuangkan nya, bukan melarikan diri dan menikahi seorang wanita yang tidak ada apa-apanya." Sang bibi berkata sarkas sambil duduk di samping keponakannya itu.


Hans diam, pria itu terlalu malas untuk menimpali ucapan wanita berwajah sinis di sebelahnya.


"Bibi yakin, dia masih mencintaimu," sela bibi Liliana, mencoba menghasut keponakannya itu.


Hans hanya tersenyum simpel menanggapi perkataan bibi-nya, biarlah, hanya dirinya yang menyimpan sendiri masa-masa perjuangannya untuk bersama mantan kekasihnya itu.


"Bibi berharap, kalian berdua bisa bersama," timpal sang bibi kembali.


Kali ini hanya menimpali ucapan bibi-nya, bagiamanapun hubungan itu tidak akan mungkin.


"Itu tidak akan mungkin bi, kami sudah memiliki pasangan masing-masing," sahut Hans yang menolehkan wajah sejenak kepada sang bibi.


Bibi Liliana terlihat terkejut, mendengar kabar pernikahan Rosella.


"Jadi dia sudah menikah?! Sentak sang bibi, dengan reaksi terkejut.


Hans mengangguk kepalanya dan ia begitu tenang, namun hatinya masih terluka dan sesak.


"Seharusnya kau lebih akresif, nak. Bukan malah pasrah!" Bentak bibi Liliana kepada Hans, ia begitu marah mendengar kabar itu.

__ADS_1


"Dia lebih menyukai pria yang sederajat dengannya," balas Hans dengan nada lembut.


"Dan kau, mendapatkan wanita lebih buruk," celetuk sang bibi tajam.


Hans menatap bibi-nya dengan tidak suka, mendengar sang bibi lagi-lagi menghina istrinya itu.


"Dia lebih berharga dari Rosella bi, dia bukan dari keluarga biasa, Miranda jauh lebih berharga dari Rosella," sahut Hans lirih dan segera bangkit berjalan ke arah Wastafel dapur.


Membersihkan piring sisa makanannya, setelah itu berlalu dari dapur, meninggalkan sang bibi yang terlihat menatap punggung lebar Hans tajam.


"Kita lihat saja, aku akan menyatukan kalian dan menyingkirkan wanita cacat itu." Gumam bibi Liliana yang menampilkan ekspresi wajah licik.


Hans membaringkan tubuh tingginya itu di samping Miranda yang sudah sejak tadi terlelap. Perjalanan cukup jauh, membuat wanita itu tertidur lebih awal di tambah efek obat yang harus rutin ia konsumsi.


Hans menjadikan tangan kanannya sebagai bantal, dengan tatapan mengarah ke atas langit-langit kamar sederhananya.


Pria itu memikirkan ucapan sang bibi, kenangan tentang Rosella melintas dalam pikirannya, melupakan sang istri yang berada di sampingnya.


Hans terkejut, saat merasakan sebuah tangan kini melingkar di pinggangnya, juga wajah yang kini menyusut di bawah ketiaknya.


Hans pun merasa bersalah, ia menengok sang istri yang begitu damai. Pria itu memandang lekat, wajah cantik istrinya itu. Hans tersenyum kecil dan membenarkan letak posisi sang istri dan membenarkan letak selimutnya.


Miranda ternyata merasakan hal itu, terlihat, ia mengeratkan pelukannya dan meletakkan wajahnya tepat di dada sang suami.


_____


Di kamar lain, bibi Liliana kini berusaha menghubungi seseorang di seberang sana menggunakan ponsel Hans.


Wanita berpikiran licik itu, mengambil ponsel Hans secara diam-diam dan mencoba mengirimkan pesan kepada Rosella.


Wanita itu menulis sebuah pesan yang seakan-akan Hans begitu merindukannya dan ingin bertemu.


Sang bibi juga mengatakan kalau Hans sekarang berada di desa, menghabiskan waktu untuk mengingat kenangan mereka.


Setelah menuliskan pesan, bibi Liliana pun bisa tersenyum puas dan ia juga kini membaringkan tubuhnya di sebelah keponakan gadisnya itu.


"Aku yakin, wanita itu akan datang," ucapnya pelan. Ia juga mencoba melihat keponakan gadisnya, apa benar gadis itu tertidur atau hanya berpura-pura saja.

__ADS_1


Dan ia bisa bernafas lega dan tidur dengan nyenyak malam ini, wajahnya pun terus tersenyum, memikirkan rencananya akan berjalan dengan sesuai rencana.


_____


Di sisi lain.


Tepatnya, di sebuah kamar mewah dan elegan, kini hanya terdengar suara teriakan kenikmatan juga kesakitan secara bersamaan.


Sang wanita kini sedang dalam kesulitan menghadapi hasrat gila dan kasar suaminya.


Sudah dua jam ia berada di posisi membelakangi suaminya yang masih bergerak kasar di sana.


Rosella hanya bisa meringis di selingi ******* saat pria dibelakangnya sudah mendapat pelepasan untuk pertama dalam permainan selama dua jam.


Sedangkan dirinya sudah mengeluarkannya berulang kali, namun ia merasa jijik dengan dirinya sendiri, menikmati permainan kasar sang suami.


Rosella tahu ini belum berakhir, sang suami akan kembali menyerangnya saat hitungan beberapa menit saja.


Rosella mengatur nafas yang tersengal-sengal, melirik sang suami yang berjalan dengan keadaan polos ke arah bar mini yang ada di kamar mereka.


Rosella mengambil gelas yang berisi minuman yang diserahkan kepadanya.


Dengan tertatih, Rosella membangunkan tubuhnya yang lelah melayani hasrat gila suaminya itu.


Dengan sekali tegukan, Miranda menghabiskan minuman tersebut. Suaminya Carlo tersenyum dan mengecup kening istrinya.


Pria itu juga menggenggam salah satu buah indah sang istri, membuat Rosella mengeluarkan ******* tertahan.


"Kau ingin menggoda, baby?" Ujar Carlo, suami Rosella.


Wanita itu hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mencoba menghindar.


"Jangan sekarang, aku masih lelah," sahut Rosella dengan manja, berharap suaminya mengerti dan melepaskan dirinya.


Namun sepertinya pria itu mengabaikan keadaan juga ucapan istrinya itu dan dengan kasar langsung menghajar Rosella dengan kasar dengan posisi tengkurap.


Rosella hanya bisa menitik air mata, ingatannya kini hanya tentang masa lalunya dengan Hans yang penuh dengan keromantisan juga kehangatan sikap pria itu.

__ADS_1


Rosella mendekati ponselnya yang ia letakkan di atas meja rias, ia begitu penasaran saat berhubungan dengan sang suami, ponselnya terus berdeting kecil, tanda sebuah pesan masuk.


Rosella menoleh ke arah ranjang sebelum membuka pesan yang ada 10 pesan baru dari nomor yang sangat ia kenali.


__ADS_2