
"Kenapa kita ke sini?" Hans begitu heran, saat berada di depan Mansion megah yang didominasi warna putih dan abu-abu, memiliki desain modern juga sentuhan sedikit klasik, pada ukiran di setiap tiang kokoh.
"Aku butuh privasi denganmu, apa kau keberatan?" Miranda berbalik bertanya kepada suaminya.
Hans yang berada di belakang kursi roda istrinya, hanya bisa tersenyum, mengusap puncak kepala Miranda juga meninggalkan kecupan mesra.
"Aku serahkan semuanya kepadamu, yang terpenting kau nyaman juga merasa aman," sahut Hans, pria itu kini mendorong kursi roda sang istri memasuki Mansion pribadi milik, mommy — Miranda.
Seorang pelayan tampak berusia sekitar 45 tahun berdiri di balik pintu, menyambut mereka dengan sikap ramah dan hormat.
"Selamat datang kembali, nona dan …."
"Panggil dia tuan, pria ini suamiku dan sekarang kalian harus melayaninya," tandas Miranda tegas, melirik kepala asisten rumah tangga di Mansionnya tajam.
"Baik, nona," sahut kepala pelayan yang mengenakan pakaian rapi dan anggun, berbeda dengan pakaian yang di kenakan para pelayan muda yang memakai pakaian khas seorang pelayan.
Hans begitu takjub dengan kemewahan Mansion memiliki istrinya itu, sungguh begitu luas dan megah.
Kepala pelayan menuntut mereka mendekati lift khusus untuk sang tuan.
Hans dengan setia berdiri di belakang kursi roda istrinya sambil mendorong memasuki lift, pintu besi itu pun tertutup. Hans dapat merasakan pergerakan menuju ke atas.
Hans begitu lembut memperlakukan istrinya, saat keluar dari lift. Pria itu benar-benar sosok yang lembut juga penuh pengertian, membuat perasaan Miranda terus, berbunga-bunga.
__ADS_1
🌹🌹🌹🌹
"Kau ingin membersihkan tubuh?" Hans baru saja keluar dari kamar mandi, bertanya kepada istri yang sedang mengerjakan sesuatu di laptop nya.
Miranda yang masih betah di kursi roda mengalihkan pandangan ke samping, di mana suaminya berdiri sambil mengeringkan rambut basah dan tubuhnya yang lembab hanya dibalut handuk, bagian tubuh bawahnya.
Darah Miranda terasa berdesir hebat, ia merasakan ribuan semut seakan berjalan, menggelitik perutnya.
Sungguh, postur tubuh sang suami begitu membuat jantung berdebar-debar, wajahnya terasa panas hingga menjalar di kedua cuping telinga.
Aroma sabun menguar di dalam kamar saat suaminya melintas di hadapan, wangi mint mendominasi seluruh permukaan kulit tubuh suaminya.
Tiba-tiba sisi liar dalam dirinya bangkit, sebagai wanita normal, Miranda memiliki sifat alamiah dalam diri seseorang.
Miranda terus mengikuti pergerakan suaminya, yang dalam pandangannya begitu menggoda.
Hans berniat masuk ke dalam ruangan ganti, namun gerakannya terhenti saat mendengar seruan istrinya.
"Hans!" Panggil wanita itu yang memutar kursi rodanya, lurus ke hadapan sang suami.
Hans juga membalikkan tubuh tinggi tegapnya itu, memandang wajah merona sang istri yang begitu terlihat tatapan mendamba istrinya itu.
"Kemarilah!" Pinta Miranda, merentangkan kedua tangannya agar bisa merasakan berada di pelukan hangat suaminya itu lagi.
__ADS_1
Hans masih terdiam di tempatnya, wajah tampan pria itu terlihat mengkerut keheranan, tapi Hans tetap mendekati sang istri. Tidak lupa pria itu juga menampilkan senyum menawan.
"Kau menginginkan sesuatu, hum?" Sambil mengangkat tubuh ramping sang istri, Hans bertanya, takut istrinya membutuhkan sesuatu.
Miranda hanya diam, menikmati aroma mint di tubuh atas suaminya yang polos, sungguh begitu hangat dan nyaman berada di pelukan suaminya ini
Kedua tangan Miranda, berada di leher suaminya dengan wajah tepat di depan dada bidang Hans.
Sementara Hans tidak hentinya, mengecup kening sang istri, pria itu belum tahu keinginan sebenarnya Miranda.
Hans membaringkan tubuh mungil istrinya dengan hati-hati. Saat akan melepaskan kedua tangan istrinya di leher, Hans merasakan tubuhnya tertarik dan sedetik berikutnya, kedua bibir mereka kini menempel.
Hans begitu tertegun, saat merasakan ******* lembut Miranda di bibir bagian bawahnya. Pria itu ikut terbawa arus keinginan sang istri, hingga tubuh tinggi tegapnya kini menindih tubuh istrinya.
Hans membalas ciuman Miranda tak kalah lembutnya, salah satu tangannya bahkan kini melepas tali piyama tidur yang istrinya itu kenakan.
Hans melepaskan tautan bibir mereka, pria itu menatap sang istri dengan mata sayu yang juga sudah mulai terbakar api hasrat.
"Aku akan melakukannya saat kau …."
"Lakukan lah, bukankah aku istrimu sekarang? Kau bebas melakukannya, berikan aku kenikmatan itu, yang selalu di eluh-eluhkan para pasangan suami-istri." Miranda kini mengizinkan Hans menyentuhnya, wanita itu kini memainkan garis wajah suaminya itu, dengan tatapan begitu dalam.
"Apa kau yakin?" Suara bariton Hans terdengar tercekat, mencoba menahan sesuatu.
__ADS_1
Miranda menganggukkan kepalanya, pertanda ia siap memberikan kehormatannya yang pertama hanya kepada — Hans.
"Aku akan melakukannya dengan perlahan, karena aku pun belum pernah melakukannya," bisik Hans, sebelum kembali menciumi seluruh tubuh istrinya itu.