Pejantan Yang Tergadaikan

Pejantan Yang Tergadaikan
bab 39


__ADS_3

"Brak." Hans begitu terkejut, melihat berkas di lemparkan begitu saja diatas meja kerjanya. Pria itu mengalihkan perhatian dari laptop menatap sosok wanita di hadapannya.


Wajah Hans tampak terkejut, melihat pria yang bersama dengan sang wanita yang tampak sudah berusia setengah abad.


Hans segera bangkit, dengan raut wajah syok. Pria itu tidak percaya dengan apa yang ia lihat ini.


"K-kalian …."


"Kami tidak butuh mendengar perkataanmu, sekarang bawa berkas ini kepada wanita cacat itu dan perintahkan agar memberikan tanda tangannya di sana." Sang wanita kini berbicara dengan nada perintah yang terdengar arogan.


Hans masih diam, ia kini menetap lekat sosok pria yang sekarang duduk di sofa, dengan wajah sinis.


"Apa maksud semua ini, k-kenapa dia berada disini? Sejak kapan dia pulih?" Hans tidak menyimak dengan baik ucapan wanita tersebut, ia hanya fokus kepada sosok pria yang begitu mirip dengannya.


Wanita di hadapannya tersenyum remeh, memandangi wajah yang yang masih terlihat begitu syok. Nyonya Jill dan putranya, Rolex Dark Jill, datang ke perusahaan untuk menemui — Hans.


Keduanya ingin meminta suatu penting kepada Hans yang sekarang menjadi suami dari seorang wanita kaya raya yang separuh dari kekayaan di kota itu ia kuasai. Wanita cacat yang ia hina, merupakan wanita yang memiliki kekayaan yang begitu berlimpah. Kekayaan yang berasal dari warisan kakek dari sang ibu. Jadi Miranda adalah satu-satunya pewaris tunggal dari kekayaan tersebut, setelah sang ibu meninggal. Dan ayahnya tidak memiliki hak. Ayah Miranda hanya menjadi benalu di kehidupan putrinya.


Nyonya Jill dan Rolex, ingin Hans mengambil alih semua kekayaan Miranda atas nama … Rolex tentunya. Apalagi mendengar hubungan Miranda dan Hans begitu harmonis dan hangat. Membuat kedua, ibu dan anak itu semakin yakin ingin mendapatkan kekayaan berlimpah milik —- Rosella.


Dengar suara tawa membahana di ruangan itu, Rolex begitu geli hingga menggelitik perut ingin tertawa, melihat wajah Hans. Pria itu bahkan bertepuk tangan, melihat wajah naif Hans.


Nyonya Jill pun ikut terkekeh, melihat wajah Hans yang sungguh begitu bodoh.

__ADS_1


"Dasar pria payah dan naif. Apa kau pikir aku setuju, putraku menikahi seorang wanita cacat?" Nyonya Jill berlagak arogan di depan Hans yang hanya bisa bungkam dengan raut semakin tercengang.


"Sungguh sangat miris, aku memiliki menantu cacat, kalau bukan karena kekuasaan dan harta, aku bahkan tidak sudi melihatmu di sini, dasar pria bodoh, sampah." Kali ini nyonya kill berkata kasar dan sarkas.


Menghina Hans juga istrinya Miranda.


"Jaga ucapan anda nyonya, istri saya wanita terhormat. Tidak pantas anda menghina juga mengejeknya," sahut Hans. Begitu geram saat sang istri dihina di depan matanya sendiri.


Tawa Rolex semakin kencang, pria yang begitu mirip dengan wajah Hans, terlihat begitu menikmati drama yang ia ciptakan sendiri. Pria yang kini berpenampilan tertutup, agar tidak ada satu orang yang mengetahui mendatangi perusahaannya.


"Wah, wah, wah. Ternyata ada yang begitu marah mendengar istriku yang cacat di hina," Rolex menimpali dengan wajah yang meremehkan seorang Hans.


Hans sungguh tidak terima, saat Rolex mengatakan Miranda adalah istrinya, hingga tatapan pria itu kini semakin lekat ke arah — Rolex.


Hans membuang pandangannya, mendengar ucapan Rolex, membuatnya begitu marah, apalagi membayangkan pria yang wajahnya mirip dengannya ini menginginkan posisinya.


"Tidak! Miranda hanya istriku," Hans berkata dalam hati dengan kedua tangan saling mengepal.


"Tapi, kau tenang saja, aku tidak akan tertarik dengan wanita sepertinya. Wanita cacat dan labil. Sungguh nasibku begitu buruk apabila hidup bersama wanita gila sepertinya," Rolex melanjutkan ucapnya, yang lagi-lagi membuat Hans begitu murka.


"JAGA UCAPANMU SIALAN!" Bentak Hans dengan wajah yang merah tatapannya begitu tajam.


"PLAK." Tamparan keras kini menempel di salah satu sisi wajah tegasnya, tamparan yang berasal dari nyonya Jill.

__ADS_1


"Jaga sikap dan ucapanmu, ingat, kau hanya sampah disini, yang mendapat keberuntungan bisa merasakan kehidupan seorang konglomerat. Dan kau sungguh pria bodoh, yang begitu mudah diperalat oleh seseorang hanya karena seorang wanita. Cih, pecundang yang begitu payah." Nyonya Jill menatap Hans yang hanya bisa membeku mendengar ungkapannya.


Keduanya sungguh memandang hanya tidak lebih hanya sebagai seorang pria bodoh.


Hans hanya bisa terdiam, tercengang, membuka, bungkam, syok, mendengar ungkapan nyonya Jill mengenai kebohongan pria yang mirip dengannya itu. Juga menyesali keputusannya hanya karma seorang wanita. Namun di sisi lain, Hans bersyukur bisa mengenali sang istri dan mulai memiliki perasaan.


"Miranda hanya istriku, aku tidak akan membuat mereka melukai istriku," Hans hanya bisa berkata dalam hati. Dengan pandangan kepada kedua orang di hadapannya.


"Jadi ini semua hanya rencana kalian? Menjadikan aku alat untuk mendapat apa yang kalian inginkan? Menargetkan kepada seorang wanita yang tidak bersalah, sungguh kalian semua begitu biadab dan licik," Sahu Hans, yang tidak bisa diam saja. Ia akan tetap melindungi istrinya itu meskipun ia tampak begitu lemah.


"Brengsek, jaga ucapkan sialan menjijikkan! Bugh." Rolex yang tidak terima dengan ucapan Hans segera memberikan Hans pukulan di wajah juga perutnya.


Hans hanya bisa diam saat sudah terbaring di atas lantai dan Rolex menendang punggungnya. Nyonya Jill menerbitkan senyum sinis dan segera menghentikan putranya itu.


"Hentikan, nak. Ingat, kita masih membutuhkannya," ujar nyonya Jill, menghentikan kegilaan sang putra yang ingin menghabisi Hans.


Rolex pun menghentikan gerakan kakinya di atas punggung Hans, sebelum menjauh, pria itu mendecih kasar tepat di atas tubuh Hans.


"Payah," ucap Rolex sambil tersenyum miring.


"Ingat, lakukan yang kami minta. Segera dapatkan uang itu, agar kami bisa bersenang-senang ke seluruh dunia!" Titah nyonya Jill, sombong. Memerintahkan Hans untuk meminta sejumlah uang yang tidak sedikit kepada Miranda dan melakukannya dengan atas nama sebuah proyek bernilai fantastis.


Keduanya berpikir, Miranda pasti akan sangat mudah menyetujui dan mendapatkan sejumlah uang itu, karena hubungan Hans dan Miranda begitu langgeng dan harmonis, apalagi melihat sikap Miranda yang begitu tergila-gila kepada — Hans. Oleh sebab itu, kedua ibu dan anak itu, mengambil kesempatan emas ini untuk mengikir habis harta — Miranda dengan bantuan Hans tentunya. Agar suatu saat ada yang merasa di rugikan dan mencari kebenarannya, maka yang menjadi tersangka adalah — Hans. Dan nyonya Jill dan Rolex, menikmati kekayaan yang mereka miliki. Begitu rencana keduanya untuk mendapatkan semuanya. 'Sekali tepuk, dua pulau terlampaui'

__ADS_1


__ADS_2