
Hans kembali menggendong istrinya keluar dari kamar mandi dan menduduk tubuh mungil istrinya itu di atas ranjang sederhana.
Hans melakukannya dengan begitu lembut, meski terkadang harus menghadapi sikap cuek istrinya.
Hans membantu mengeringkan rambut basah Miranda, pria itu dengan lembut mengusap rambut kecoklatan milik istrinya. Ia bahkan melakukan dengan senyum di kedua sudut bibir.
Sedangkan Miranda hanya memperlihatkan wajah datar dan tidak acuh, namun wanita itu tidak sedikitpun ingin jauh dari sosok suami tampannya itu.
"Kau ingin memakai pakaian yang mana?" Hans yang kini membuka koper pakaian milik istrinya, pria itu hanya sekedar bertanya pakaian yang akan sang istri pakai, takut dirinya akan salah dan mendapat murka dari wanita di hadapannya.
Miranda yang sejak tadi tidak berhenti mengikuti langkah suaminya, hanya diam. Wanita itu hanya menunjukkan pakaian yang ingin ia pakai dengan menggunakan jari telunjuk.
Hans pun mengangguk, ia kembali mendekati sang istri dan pria itu kini berdiri di hadapan istrinya itu.
Miranda mendongak kepalanya ke atas, kembali menatap wajah suaminya.
Hans pun mulai memakaikan pakaian Miranda, di mulai dari dalaman terlebih dahulu. Meskipun ini begitu menyiksa batinnya sebagai pria normal, Hans mencoba untuk menekan keinginannya itu.
Setiap kali jari-jarinya tidak sengaja menyentuh permukaan kulit lembut Miranda, Hans hanya mampu menahan nafas sesaat dan menghembuskan dengan perlahan.
Apalagi saat membantu istrinya itu, memakai dalam untuk menutupi **** *****-nya. Hans sekuat tenaga menahan naluri kelaki-lakiannya.
Miranda yang mengetahui itu, hanya bisa tersenyum dalam hati, ternyata pria ini begitu menghormati wanita. Entah apa yang terjadi padanya kalau di posisi Hans adalah seorang pria brengsek.
"Sudah!" Seru Hans terbata dengan hembusan nafas lega.
"Apa tubuhku begitu buruk? Hingga kau begitu tidak tertarik? Apa karena aku hanya wanita cacat?" Rentetan pertanyaan Miranda, sukses membuat Hans diam.
Ternyata perbuatannya baiknya malah, membuat istrinya tersinggung. Hans pun menggaruk tengkuknya.
Entah apa yang harus ia jelaskan kepada istrinya ini.
"Bukan seperti itu," sahut Hans.
"Lalu seperti apa? Kau bahkan memalingkan wajah, padahal apa yang ada di tubuhku sudah menjadi hak atas dirimu," terang Miranda, tatapan matanya begitu tajam ke arah Hans.
Hans kini berjongkok di depan istrinya itu, ia meraih kedua telapak tangan dingin sang istri. Ia mengecup keduanya terlebih dahulu dengan senyum merekah ia terbitkan untuk istrinya.
"Aku pria normal dan juga memiliki hasrat, jujur, aku begitu menahannya untuk menghargaimu sebagai istri, aku tidak akan melakukannya sebelum kau menerima aku sebagai suami dan kau siap untuk melakukannya." Hans begitu sangat lembut mengatakan alasannya kepada Miranda.
Tatapannya bahkan begitu menyentuh, perasaan paling dalam seorang wanita arogan dan dingin, seperti Miranda.
__ADS_1
Entah mengapa, semakin hari ia begitu tertarik dengan suaminya ini. Sikap lembut dan hangat Hans membuatnya luluh.
Miranda yang termenung, tersadar saat merasakan sentuhan halus di atas kepalanya, wanita itu menoleh dan mendapati Hans sedang menyisir rambutnya itu.
Pria itu begitu penuh perhatian dan hangat memperlakukan sang istri. Pantas saja Rosella begitu mencintai Hans, ternyata pria itu begitu lembut dan penyayang.
"Istirahatlah terlebih dahulu, aku akan menyiapkan makan malam untukmu! Atau kau ingin bergabung di meja makan?" Hans memindahkan istrinya dengan benar di atas ranjang.
Miranda tampak menggelengkan kepala dan memilih untuk beristirahat saja.
Hans hanya mengangguk, setelah membuat posisi tidur istrinya aman dan nyaman, Hans meninggalkan sang istri di dalam kamar. Lantas pria itu keluar dari kamarnya dan berjalan menuju dapur.
Di dapur, mommy, adik perempuan, dan bibinya kini sibuk menyiapkan makan malam.
Sementara sang daddy sedang santai di ruangan keluarga mungil mereka. Melihat itu, Hans tersenyum. Sudah lama ia tidak menyaksikan ini semua.
"Nak!" Tegur sang mommy, saat melihat putranya itu bergeming di depan pintu masuk dapur.
Hans menoleh dan senyum rupawannya pun terlihat, pria tinggi tegap itu berjalan menghampiri ke tiga wanita yang ada di dapur.
"Malam, mom, bibi, Stefani!" Sapa Hans.
Mommy tersenyum, begitu juga adik perempuannya. Namun tidak dengan sang bibi yang masih terlihat kesal.
Bibir sang bibi terus mencibir dan menatap Hans kesal, ia juga memasang wajah merajuk kepada keponakannya itu.
"Istrimu mana nak?" Tanya sang mommy, melihat menantunya tidak ikut serta bersama putranya.
"Untuk apa dia kesini, dia tidak akan berguna berada di dapur, kecuali dia menjadi nyonya dan terus mematung di kursi terhormatnya itu." Wanita berwajah sinis itu mengeluarkan komentar yang begitu sarkas.
Hans yang mendengar ucapan sang bibi, berubah tegang. Takut sang istri akan muncul tiba-tiba dan mendengar ucapan bibi-nya.
"Bi," sela Hans sambil menatap bibi-nya dengan wajah memelas.
"Jangan bicara buruk tentang istriku, bagaimanapun, dia tanggung jawab aku," ucap Hans dengan nada lemah lembut.
"Jaga sikap kamu kepada menantu kita, lili," timpal sang mommy, menegur adik iparnya itu.
Sang bibi lagi-lagi hanya mencebikkan bibirnya dengan wajah sinis.
"Seharusnya kau menikah dengan kekasihmu terdahulu, yang lebih sempurna juga kaya," bibi kembali menimpali dengan ucapan sinisnya.
__ADS_1
Hans hanya bisa menghela nafas panjang dan sang mommy begitu marah mendengar ucapan adik iparnya itu.
"Ini sudah garis jodoh putraku menikahi istrinya, tidak ada yang salah disini, siapapun dia, dan bagiamanapun fisiknya, dia tetap istri putraku pun menantu di sini." Sang mommy yang mulai tidak sabar menanggapi sikap adik iparnya mulai membalas setiap kata-kata kasar sang adik ipar.
Hans mulai panik, suasana pun semakin memanas. Apalagi melihat ekspresi wajah bibi yang tidak terima dengan ucapan mommy-nya.
"Aku hanya memperdulikan keponakanku untuk mendapat yang terbaik, bukan seperti kehidupan kita!" Sentak sang bibi mulai menaikkan suaranya.
"Tidak perlu mengurusi kehidupan putraku, dia akan baik-baik saja dan bahagia, kau tidak akan mengerti, karena kau tidak ada di posisi itu," sahut mommynya Hans tak kalah sengitnya.
Bibi Liliana semakin tidak terima atas ucapan kakak iparnya yang sudah menyinggung perasaannya itu.
"Apa maksudmu, hah! Kau menghinaku secara halus sebagai seorang wanita tidak menikah!" Bentak bibi Liliana, ia mulai memasang wajah sedih ketika daddy mendekat ke dapur.
Wanita itu pun mulai menangis tersedu-sedu, mencari perhatian kepada kakaknya itu. Ia ingin memprovokasi keadaan.
Semuanya hanya terdiam, sudah mengetahui tabiat wanita itu. Tidak ada yang memperdulikan perlakuannya.
"Nak, bawa ini dan berikan kepada menantuku!" Titah sang mommy, sengaja menekan kata menantu.
Hans pun mengambil nampan yang berisikan beberapa menu makan malam sederhana, terdapat juga makanan kesukaannya itu.
"Terimakasih, mom," ucap Hans, mengecup kening sang mommy dan berlalu menjauh dari dapur yang suasana begitu mencekam.
Sebelum masuk ke dalam kamar, Hans lebih dahulu menarik nafas dan mencoba untuk biasa saja.
Pria itu masuk ke dalam kamar, ia melihat istrinya masih membuka mata sambil memainkan ponselnya.
Miranda menoleh saat menyadari suara langkah kaki mendekat ke arahnya.
Wanita itu tetap memasang wajah datar, namun ia terus menatap lekat wajah suaminya.
"Makan malam sudah siap, maaf hanya ini yang bisa kami berikan, semoga kau menyukainya," Hans duduk di ranjang di depan istrinya itu.
Miranda terlihat ingin bangkit, dengan sigap, Hans membantu istrinya itu dan menyadarkan punggung Miranda di sandaran ranjang.
"Kau ingin makan sekarang?" Hans bertanya, saat kedua mata istrinya terus memandangi menu makan malam.
"Bentuknya memang sederhana dan tidak semewah yang biasa tersaji di Mansion, tapi … aku yakin, kau akan tertarik dan bahkan ketagihan dengan rasanya." Hans begitu bersemangat menjelaskan kepada Miranda yang hanya diam.
"Bantu aku menyantapnya!" Titah Miranda. Jujur ia begitu tertarik dengan menu sederhana di depannya ini.
__ADS_1
Hans mengiyakan keinginan istrinya dengan perasaan bahagia dan lega.
Pria itu pun dengan penuh lembut dan hati-hati menyuapi sang istri.