
"Kau harus memikirkannya kembali, Hans." Robben kini mencoba membujuk sahabatnya itu. Keduanya kini sudah berada di salah satu kamar di kediamannya mewah itu.
Keduanya tidak bisa keluar lagi dari Mansion seorang penguasa wilayah tersebut. Mereka tidak memiliki pilihan yang menjamin kebebasan keduanya.
Tapi Hans masih beruntung, bisa miliki kesempatan untuk memilih yang menguntungkan untuknya. Siapa yang akan menolak, sebuah penawaran yang begitu menggiurkan. Hanya bersikap, sebagai peran pengganti dari sosok pria koma.
"Kita tidak memiliki pilihan, lagipula ini adalah pilihan yang begitu tepat. Bisa merasakan hidup mewah dengan menjadi peran pengganti. Bukan itu saja, kita akan mendapatkan imbalan yang begitu menggiurkan. Hans begitu antusias mengatakan kepada sahabatnya, bukankah, kesempatannya untuk memperlihatkan keberhasilan untuk keluarga mantan kekasihnya.
Robben menatap sahabatnya, entah mengapa, ia merasakan ketidaknyamanan dengan semua ini.
"Entahlah, aku merasakan hal buruk akan terjadi," gumam Robben.
"Tenanglah, bro. Kita hanya perlu mengikuti cara hidup mereka dan kita akan hidup mewah dengan limpahan harta, pria itu. Bukan kesempatan tidak datang dua kali?" Seloroh Hans dan tertawa lepas.
Robben pun hanya bisa tersenyum terpaksa, benar, mereka hanya perlu menikmati kesempatan yang diberikan.
Tidak lama, suara ketukan pintu membuat obrolan mereka terhenti, Hans mengedikkan kepala kepada Robben, untuk membuka pintu kamar yang mereka tinggali sekarang.
"Yah!" Seru Robben, ketika membuka pintu kamar, pria pemilik rambut panjang itu tersentak kedatangan seorang wanita cantik dengan pakaian khas seorang pelayan khusus.
"Makan malam sudah kami siapkan, tuan," pelayan itu berkata, sambil tersenyum ramah.
Robben hanya termangu melihat wanita cantik di depannya tanpa mengatakan sepatah katapun, pria berpenampilan urakan itu begitu terpesona dengan sang pelayan cantik.
Pelayan wanita pun pergi, setelah mengatakan tujuannya dan ia hanya tersenyum sinis melihat Robben.
"Apa yang kamu katakan, benar. Kitab harus memanfaatkan kesempatan yang tidak akan datang dua kali," celetuk pria itu.
Hans menukik alis sambil menatap sahabatnya, ia mengangkat kedua pundak, tidak acuh dengan perkataan — Robben.
Keduanya kini berjalan melewati setiap lorong lantai dengan hiasan dinding mewah dan berharga. "Sayang sekali, kediaman mewah ini hanya ditempati oleh pria koma." Robben dan Hans berkata lirih dengan pandangan terus menilai benda-benda berharga yang terdapat di setiap ruangan.
"Selamat malam, tuan Pent!" Sapa Hans dan Robben bersamaan.
__ADS_1
Pria yang merupakan pelayan setia pria koma hanya mengangguk kepala tanpa mengeluarkan kata-kata. Begitu juga saat memerintahkan kedua pria terlihat berantakan dengan iringan kode tangan.
Hans dan Robben kini saling berhadapan dengan pelayan setia duduk di kursi terdepan.
Hans begitu takjub melihat tatanan beberapa menu masakan mewah, membuat perut keduanya berbunyi tanpa. Membuat kedua pria itu tersenyum, canggung.
"Selamat, menikmati makan malam," pria yang duduk di kursi depan, memberikan perintah.
Robben dan Hans begitu lahap, menikmati berbagai menu masakan yang begitu sangat lezat dan mewah. Baru kali ini mereka bisa menikmati makanan semewah ini. "Dan ini sungguh lezat," batin Robben dengan mata terpejam, menikmati menu makanan seafood.
Hans terdiam, memandang satu menu makanan yang merupakan kesukaan mantan kekasihnya, ia hanya bisa tersenyum miris dan detik berikutnya ia mengepalkan kedua tangannya dengan pandangan nyalang kepada menu masakan tersebut.
Tuan Pent yang melihat itu, tersenyum penuh maksud. Ia sejak tadi tidak menyentuh masakan apapun, pria berusia 40 tahun itu, sibuk memindai kedua pria di kedua sisinya.
……
"Istirahat lah, mulai besok, anda harus mempelajari banyak hal tentang pribadi dan sikap, tuan muda." Pelayan setia, mengatakan sesuatu hal penting untuk Hans lakukan keesokan harinya.
Hans hanya mengangguk kepalanya untuk menanggapi ucapan pria tersebut dan mereka memberi salam kepada, pria yang lebih tuan dari keduanya.
Hans hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah sahabatnya itu, tunggal di lingkungan kategori kumuh dan rendah, membuat keduanya begitu awan berada di lingkungan mewah seperti sekarang.
Kedua harus belajar dengan rutin untuk bisa menyesuaikan diri, untuk bisa hidup kaya dan layak.
Hans menoleh ke samping, saat mendengar Robben mendengkur, sahabatnya itu ternyata sudah terlelap nyaman.
Hans yang belum mendapatkan, rasa ngantuk, berjalan mendekati jendela. Tatapan menerawang jauh, memikirkan kekasihnya yang sedang berbahagia dengan pria pilihan kedua orang tuanya.
……
Terdengar tangisan pilu di balik selimut lembut dan hangat, sosok bertubuh mungil dengan keadaan polos, kini mengutuk dirinya sendiri.
Ia mulai bangkit dengan tubuh rapuhnya, wajah yang terdapat beberapa luka memar. Ia duduk di pinggiran ranjang setelah menyingkap selimut yang membungkus tubuh polosnya.
__ADS_1
Penampilan berantakan dan kacau, dengan air mata terus menetes membasahi kedua pipinya.
Ia mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai dan menatap sejenak, pria yang tertidur lelap, setelah mengambil kehormatannya dengan paksa.
Pria yang seminggu lagi akan menjadi suaminya itu, begitu kasarnya memaksanya untuk melakukan keintiman.
Padahal Rosella memohon agar melakukan saat mereka sudah menjadi pasangan suami-istri.
Namun pria dengan wajah rupawan itu, bersikeras untuk melaksanakannya sekarang.
Pria itu membuat Rosella begitu terhina dengan keraguan tentang harga dirinya yang masih utuh.
Demi membuktikannya, Rosella rela melakukannya di atas tekanan ibu sambungnya.
Wanita itu tidak bisa melakukan apapun, selain mengiyakan, ia sudah terlanjur hancur dan patah hati setelah menghancurkan perasaan dan kesetiaan pria yang amat dicintainya itu.
Wanita dengan tubuh mungil, berjalan menuju kamar mandi. Rosella sekuat tenaga menahan rasa perih yang begitu menyakitkan.
"Apakah, ini hukuman atas perbuatannya kepada sang kekasih tercinta? Hingga ia harus menerima kehancuran yang amat begitu pedih." Gadis itu terus menangis di bawah luncuran air shower.
"Maaf, maafkan aku yang sudah mengkhianatimu sayang," gumam Rosella yang membasahi seluruh tubuhnya dengan air dingin.
Di tengah kesedihan, sosok pria berpostur tegap, kini berdiri di belakangnya dengan pandangan lapar.
Ia mengejutkan, Rosella dengan kecupan hangat di punggung terbuka wanitanya itu.
"Air dingin tidak bagus untuk kesehatan," bisik pria itu tepat di cuping telinga Rosella dengan kedua tangan kekar itu kini meraba-raba tubuh bagian depan Rosella.
"Lepaskan aku, Lex!" Pinta Rosella berusaha menghindari pria yang kini mengurungnya di bawah kedua tangan kekarnya.
"Aku tidak akan melepaskanmu, sayang. Setelah aku puas menikmati tubuhmu," bisik pria itu sensual. Namun mampu membuat perasaan Rosella hancur.
Rosella pun akhirnya hanya bisa pasrah, saat pria itu mulai melakukan permainan kasar, pria itu bahkan membuatnya seperti binatang yang tidak berharga.
__ADS_1
Padahal Rosella adalah tunangannya dan calon istrinya. Tapi pria itu begitu kasar dan tidak berperasaan. Beda dengan mantan kekasihnya yang ia sakiti dan campakkan.