Pejantan Yang Tergadaikan

Pejantan Yang Tergadaikan
bab 31


__ADS_3

Hujan deras mengguyur desa tempat kelahiran seorang Hans. Pria itu kini sedang memindah buah yang sudah dipetik ke dalam gudang penyimpanan. Pria itu tidak mempedulikan tubuhnya kini kebasahan dan akan mengakibatkan tubuhnya terserang demam.


Hans mengabaikan kesehatannya, agar tidak membuat kedua orang tuanya resah dan khawatir dengan buah blueberry yang habis dipetik.


Pria tampan dengan penampilan sederhana begitu serius melakukan pekerjaannya. Tanpa menyadari, sosok wanita kini berdiri di belakangnya dengan tengah hujan deras.


Wanita itu menatap Hans dengan perasaan rindu yang begitu dalam. air matanya kini menyatu dengan air hujan membasahi wajah cantik — Rosella


Ingin rasanya wanita itu berlari dan memeluk pria yang sangat berarti dalam hatinya. Rosella tidak memperdulikan perasaan wnqita lain apabila ia kembali mendekati atau mendapatkan Hans kembali.


Rosella merasa rapuh dengan perpisahannya dengan Hans, ia merasa tidak berdaya dan begitu tersiksa.


Melihat Hans membalikkan badannya, Rosella tersenyum saat pandangan mereka bertemu.


Hans yang melihat wanita masa lalunya kini berdiri di hadapannya, hanya bisa terdiam dengan wajah tidak terbaca.


Ada perasaan rindu yang mengusik hatinya, namun perasaan bersalah mendominasi pikiran dan hati Hans. Mengingat tanggung jawabnya sebagai seorang suami.


Hans juga tidak mungkin mengharap banyak dari sosok wanita masa lalunya yang juga sudah memiliki kehidupan lain.


Hans melihat Rosella berlari ke arahnya yang masih diam membeku, pria itu tidak merespon tatapan rindu Rosella dan ingin memasuki pelukannya.


"Hans!" Seru Rosella saat jarak mereka begitu dekat, hingga Hans bisa melihat kedua kelopak mata Rosella membekas air mata.


Namun Hans berusaha untuk tidak tersentuh dengan mengingat segala perjuangannya yang sia-sia dan dibalas oleh pengkhianatan.


Melihat tatapan datar Hans, membuat hati Rosella ngilu. Apa pria yang merupakan cinta pertamanya ini sudah tidak mencintainya lagi?

__ADS_1


"Hans!" Panggil Rosella sekali lagi.


Namun bukannya membalas sapaan mantan kekasihnya itu, Hans lebih memilih berlalu dengan melewati — Rosella begitu saja.


"Aku minta maaf." Rosella mencegah pergelangan tangan Hans saat melintasinya begitu saja.


Wanita itu menggenggam pergelangan tangan Hans begitu kuat dan kini wanita itu kembali berdiri di depan pria kesayangannya.


Hans menatap Rosella saat mendengar perkataan maaf wnqita itu, namun Hans hanya membuang pandangannya dan tidak memperdulikan ucapan Rosella.


"Maafkan aku Hans, aku sudah membuat kesalahan dan membuatmu terluka," pungkas Rosella dengan air mata begitu mengalir deras.


Wanita itu kini meraih salah sebelah tangan Hans dan meletakkan di wajahnya yang begitu terlihat sedih.


"Aku melakukannya untuk kebaikanmu, sayang. Aku hanya ingin melihatmu bahagia dan tidak mendapat perlakuan kasar dari mereka." Rosella menjelaskan dengan isak tangis yang membuat siapapun mendengarnya akan tersentuh.


Begitu juga dengan Hans, pria itu tersentak mendengar tangisan wanita yang dahulu ia jaga dan tidak membiarkan setetes air mata pun jatuh dari matanya.


Rosella pun menangis sejadi-jadinya di pelukan Hans. Berharap Hans membalas pelukannya.


Namun Hans masih terdiam, guna melawan perdebatan kata hati dan pikirannya.


Antara bahagia bisa bertemu dengan mantan kekasihnya juga akan kembali memadu kasih dengan wanita masa lalunya dan menjauh dari kehidupan istrinya yang arogan.


Namun pikirannya juga lubuk hati mengatakan semua kejadian ini salah, ia akan membuat seorang wanita merasa kecewa dan membuat seorang pria lain terluka.


Hans menggelengkan kepalanya lalu melepaskan pelukan Rosella di tubuhnya. Pria itu memandangi wajah sembab Rosella yang terlihat bergeming dan terkejut, melihat respon Hans.

__ADS_1


"Maaf, kisah kita sudah berakhir dan kita memiliki kehidupan masing-masing. Jadi mari kita jalanin dan menjaga hubungan baru ini," tandas Hans yang mengatakan dengan ekspresi wajah serius.


Setelah mengatakan itu, Hans pun berlalu meninggalkan Rosella sendiri disini dengan tangisan yang semakin menyedihkan. Tubuh wanita itu kini meluruh di atas tanah dan meluapkan segala kesakitannya dengan berteriak histeris.


Adegan pertemuan itu tidak luput dari pandangan seorang wanita yang duduk di kursi rodanya.


Miranda yang sempat merasakan sakit hati dan tidak terima, saat suaminya bertemu dengan mantan kekasih secara diam-diam. Namun saat melihat respon penolakan suaminya, membuat Miranda merasa lega.


"Tidak ada yang bisa menyentuh sesuatu yang menjadi kesayanganku," monolog wanita itu dengan tatapan tajam ke arah Rosella.


Wanita itu kembali mendorong kursi rodanya memasuki kamarnya. Kondisi Miranda saat ini sedang basah kuyup. Ia memperhatikan suaminya di balkon kamar yang bisa melihat secara langsung yang adegan menyakitkan itu.


Miranda segera meraih handuk yang tergantung di tempat khusus, ia kini menanti suaminya dan menyambut dengan kehangatan.


Senyum wanita itu terlihat cerah, saat melihat suaminya memasuki kamar dengan tatapan kosong. Hingga Hans tidak menyadari keberadaannya.


"Sayang!" Seru Miranda dengan ucapan yang terdengar kaku namun berhasil membuat Hans menoleh.


Hans begitu terkejut, mendengar panggilan istrinya yang ditujukan kepadanya.


"Kau tidak ingin memelukku?" Tanya wanita itu dengan nada protes.


Melihat tingkah tidak biasa sang istri, membuat Hans sedikit keheranan.


"Sayang," panggil Miranda kembali, kali ini dengan nada manja.


Hans yang mendengar nada manja istrinya, tersenyum dan segera mendekati sang istri yang kini merentangkan kedua tangannya.

__ADS_1


"Kau membuat mood ku rusak," ketus Miranda dengan wajah kesal dengan bibir mungilnya yang mengerucut.


Melihat itu, Hans tertawa lepas dan melupakan masalah pertemuannya dengan — Rosella.


__ADS_2