
Hans dan Miranda terlihat sedang memasuki sebuah bangunan megah yang merupakan Mansion. Keduanya sedang menghadiri undangan pesta pernikahan rekan kerja Miranda.
Wanita itu tampak terlihat sangat cantik dengan balutan gaun sederhana yang membungkus tubuh rampingnya.
Sedangkan Hans mengenakan setelan jas mewah, yang memiliki warna senada dengan gaun istrinya.
Pasangan itu kini menjadi pusat perhatian para tamu undangan dari berbagai perusahaan lain. Mereka menampilkan wajah ramah juga senyum pada saat Miranda dan suaminya melintas di hadapan mereka.
Hans setia mendorong kursi roda istrinya tanpa merasa risih, ia bahkan terus mengusap pundak sang istri. Karena ia tahu, istrinya sangat tidak nyaman dengan tatapan para tamu yang lain.
"Kau baik-baik saja?" Hans menghentikan gerakan kursi roda istrinya, ia kini berjongkok di depan Miranda. Bertanya dengan nada lembut juga sentuhan halus di wajah cantik istrinya.
Miranda hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Meskipun kenyataan dia memang sangat tidak percaya diri berada di keramaian seperti ini.
"Kau tidak bisa membohongiku, honey. Aku tahu kau tidak sedang baik-baik saja. Jangan khawatir, aku akan selalu berada di sisimu dan menjagamu." Hans menggenggam lembut kedua telapak tangan istrinya, menatap, memberikan senyum menenangkan. Tidak lupa pria itu juga mengecup kening istrinya.
Miranda merasa lebih tenang, ia begitu beruntung memiliki pria sebaik Hans yang kini sangat menyayanginya.
"Sekarang perlihatkan wajah arogan istriku ini, agar mereka tidak menggunjing dirimu. Ingat, kau memiliki kekuasaan untuk menekan mereka yang menatap tidak suka padamu," ujar Hans. Agar Miranda lebih percaya diri dan memperlihatkan kekuasaannya pada tamu undangan yang memandang dirinya hanya sekedar wanita cacat.
Miranda mengangguk yakin, ia pun akan melakukan perintah suaminya. Benar apa yang dikatakan oleh Hans. Ia seharusnya tidak minder pada mereka yang menatapnya sinis, karena ia memiliki kekuasaan di sini.
"Kita temui mereka!" Hans mengajak istrinya untuk menemui pemilik acara mewah ini.
Dari kejauhan, Rosella bisa melihat betapa Hans sangat menyayangi istrinya. Ia juga merasa aneh dengan perubahan wajah juga sikap Hans
__ADS_1
Padahal mereka baru saja bertemu kemarin dan menghabiskan malam panjang, tapi Hans terlihat begitu mencintai istrinya.
"Apa ini hanya sekedar sandiwara? Dia mungkin bersikap seperti itu karena terpaksa," gumam Rosella, terus memandangi pasangan di depannya.
Ia dan keluarganya juga menghadiri acara mewah itu. Dan keluarga besar Rosella sungguh terkejut saat melihat Hans dengan penampilan menarik berada di acara tersebut.
"Kau senang melihatnya ada di sini?" Carlos tiba-tiba berbisik di dekat telinga Rosella, membuat wanita itu terloncat kaget. Wajah Rosella terlihat menahan rasa sakit, saat salah satu tangan Carlos di bawah sana, menggenggam kuat pergelangan tangannya.
Rosella hanya bisa terdiam, sambil berusaha menahan rasa sakit dan memaksakan senyum saat beberapa rekan kerjanya menyapa.
"Carlos, kau di sini?" Carlos melepaskan genggaman tangan besarnya di pergelangan tangan Rosella. Saat nyonya Soraya datang menyapa.
Rosella menghela nafas lega, sambil mengusap pergelangan tangannya yang tampak membekas merah. Ia mengabaikan suami dan ibu tirinya yang entah ke mana. Wanita itu lebih fokus mengawasi gerak-gerik Hans dan Miranda.
Ia tidak percaya, ternyata ibu tiri, daddy dan suaminya kini berada di sekitar Hans.
🌹🌹🌹
"Wah lihat, siapa yang datang ke acara mewah seperti ini sayang!" Seru nyonya Soraya pada suaminya yang kini berada di belakang Hans.
Hans segera membalikkan badan tanpa memutar kursi roda istrinya.
Pria itu sedikit terkejut, melihat keberadaan keluarga besar mantan kekasihnya.
Meskipun begitu Hans mencoba bersikap profesional di depan orang-orang yang selalu menindasnya.
__ADS_1
"Ada apa sayang?" Tanya Miranda menyela sambil membalikkan kursi rodanya sendiri.
Membuat keluarga besar Rosella terkejut mendengar seruan Miranda dan kini menatap lekat ke arah wanita yang duduk di kursi roda.
Posisi mereka sedang berada jauh dari kerumunan tamu. Hans yang berniat mengambil jus buah istrinya juga beberapa menu dessert kesukaan sang istri. Namun baru saja ia mengambil beberapa dessert untuk Miranda, tiba-tiba ia dikejutkan oleh kehadiran keluarga besar Rosella.
"Bukankah, dia pria payah itu?" Tanya Carlos, mendekati Hans dengan wajah menyelidik penampilan berbeda Hans.
Ia juga kini melirik Miranda dengan kening mengkerut heran.
"Apa mereka kurang penjagaan ketat? Kenapa ada pria sampah di sini?" Nyonya Soraya menimpali dengan wajah sinis ke arah Hans.
"Mungkin dia ingin menikmati makanan mewah secara gratis," seloroh daddy Rosella, sambil tersenyum miring.
"Jaga ucapan kalian!" Sentak Miranda dengan tatapan tajam, yang ditujukan pada ketiga orang di hadapannya.
Kini tatapan ketiga teralihkan pada wanita cantik yang sedang duduk di kursi roda. Pandangan nyonya Soraya memindai penampilan Miranda yang tampak sederhana.
Tidak lama, terdengar kekehan ketiganya. Saat melihat pemandangan yang sangat menghibur di hadapan mereka.
Hans yang mulai merasakan tidak nyaman, ia yakin istrinya akan menjadi sasaran ejekan mereka.
"Sayang, sebaiknya kita mencari tempat aman untukmu," Hans mengajak istrinya sambil membalikkan kursi roda Miranda dan bersiap untuk mendorong kursi roda istrinya.
Carlos dengan liciknya, menahan kursi roda Miranda sambil tersenyum miring. Ia merasa saatnya ia mempermalukan Hans, apalagi pria miskin ini bersama dengan wanita cacat.
__ADS_1
Tanpa ketiganya ketahui, siapa Miranda sebenarnya. Yang mana sebagian tamu begitu sengan pada wanita itu. Juga mereka tidak tahu, status Hans sekarang yang menjadi peran pengganti juga suami dari seorang penguasa kaya raya.