Pejantan Yang Tergadaikan

Pejantan Yang Tergadaikan
bab 28


__ADS_3

Cahaya matahari kini bersinar cerah, memberikan kehangatan di seluruh penjuru bumi lainnya. salah satu di kawasan rumah sederhana yang terletak di pedesaan asri dan begitu sejuk.


Membuat sosok wanita cantik yang sejak tadi menikmati kehangatan sinar matahari melalui jendela kamar begitu damai.


Miranda begitu menikmati suasana di tempat tinggal suaminya, begitu nyaman dan menenangkan. Miranda tidak akan mendengar berbagai rengekan dari seorang yang begitu ia benci.


Pandangannya begitu jernih, melihat berbagai tumbuhan hijau di sekitar rumah sederhana itu.


Namun tiba-tiba sebuah tangan kekar mengusap kepalanya dan sebuah kecupan hangat kini mendarat di kening.


Miranda mendongkak, melihat wajah suaminya yang baru saja bangun, lantas mendekatinya.


"Selamat pagi!" Ucap Hans begitu lembut di atas puncak kepala sang istri.


Miranda tidak menjawab, namun wanita itu begitu menyukai perlakuan lembut suaminya.


"Kau ingin membersihkan diri?" Tanya Hans, merapikan rambut istrinya dan menggulung ke atas.


Miranda belum menjawab, wanita itu masih terdiam dengan tatapan terus mengarah kepada Hans.

__ADS_1


"Hari ini, aku akan ikut dengan mommy dan daddy ke perkebunan buah blueberry," ujar Hans, pria itu sambil merapikan ranjang dan kamarnya.


Miranda mengikuti suaminya, wanita itu terus memperhatikan gerakan sang suami yang begitu terlihat, sudah terbiasa melakukan hal seperti yang ini.


"Kau ingin ikut bersama kami?" Tanya Hans, yang kini berdiri di depan istrinya.


Miranda hanya menganggukkan kepala, untuk menyahuti suaminya itu.


Hans tersenyum, ia lalu berjalan ke kamar mandi yang berukuran kecil itu. Menyiapkan sang istri air untuk keperluan sang istri, tidak lupa menyiapkan pakaian istrinya.


"Sebaiknya, aku membantu membersihkan tubuhmu!" Seru Hans, mendorong kursi roda istrinya mendekati kamar mandi.


____


"Lihatlah, menantu yang kau banggakan itu, sekarang dia belum keluar dari kamarnya!" Seru bibi Liliana, menatap sinis kamar milik Hans.


Mommy Hans hanya terdiam dengan wajah tidak suka dengan adik iparnya yang selalu ikut campur dalam urusan pribadi sang putra.


"Sebaiknya, kau segera habiskan sarapanmu, jangan mengurusi mereka," timpal sang daddy yang begitu bijaksana.

__ADS_1


"Aku akan terus berbicara seperti ini, karena keponakan ku begitu kasihan tidak mendapat pelayanan dari istri sempurna." sahut bibi Liliana.


"Sudah lah, lili. Lebih baik kau memikirkan nasibmu yang tidak menikah hingga sekarang," seloroh sang mommy, yang seketika membuat bibi Liliana bungkam.


"Sarah!" Bentak sang bibi dengan wajah geram.


"Cukup!" Kepala rumah tangga di kediaman sederhana itu, melerai berdebat istri juga adiknya.


"Kalian seharusnya malu dengan menantu kita," ujar pria berusia 50 tahun itu.


Bibi Liliana dan sang mommy saling menatap sinis. Tidak lama kemudian, pasangan suami-istri itu pun muncul dan mendekat ke arah meja makan.


Hans dengan setia mendorong kursi roda istrinya dengan senyum cerah mengembang di wajah.


"Selamat pagi semua!" Sapa Hans kepada keluarganya, pria itu mengecup kedua pipi sang mommy dan bibi Liliana.


Miranda hanya bisa diam, sambil memandangi Hans yang begitu hangat kepada keluarganya.


"Kemarilah, sayang!" Pinta mommy Sarah, kepada menantunya itu.

__ADS_1


Hans membawa istrinya mendekati sang mommy, Miranda hanya diam sejak tadi. Tidak ada ekspresi apapun di wajah wanita itu. Membuat bibi Liliana semakin sinis.


"Seharusnya seorang wanita yang melayani pemimpin rumah tangga!" Seru bibi Liliana yang sengaja menyinggung Miranda.


__ADS_2