
Hans dan Miranda sudah tiba di depan rumah sederhana, keduanya berjalan sambil Hans terus berkisah tentang banyak hal.
Membuat Miranda terhibur dan terus memandangi wajah rupawan suaminya itu.
Hans bahkan sekali-kali mencuri ciuman di kening juga bibir mungil sang istri.
Pria itu tidak terlihat keberatan menggendong istrinya, ia bahkan terlihat begitu mudah membawa tubuh mungil istrinya itu. Hingga mereka kini tiba di depan pintu dan tawa Hans terdengar lepas dan renyah, saat melihat wajah menggemaskan sang istri.
Tawa dan perlakuan lembut pria itu terhadap wanita yang ada di gendongannya, membuat seorang wanita begitu terluka.
Wanita yang sejak tadi menyaksikan Hans begitu mengistimewakan sosok wanita yang ia gendong dengan mudah dan wajah pria itu begitu bahagia.
Entah mengapa sang wanita yang kini duduk di kursi sederhana yang dimiliki keluarga Hans, terluka dan menolak perlakuan pria itu kepada istrinya sendiri.
Padahal dirinya sendiri sudah menikah dan dia yang pertama melukai perasaan pria tersebut.
Hans memasuki rumah, namun berhenti saat mendengar sapaan sang bibi.
"Hans!" Seru bibi Liliana.
Hans menoleh ke samping dan seketika pria itu tercengang dengan wajah syok, melihat sosok wanita yang sekarang sedang bersama sang bibi.
__ADS_1
Hampir saja Hans menjatuhkan tubuh mungil istrinya, karena terlalu terkejut melihat wanita masa lalunya kini berada di depannya.
Beruntung, Hans masih bisa mengendalikan dirinya juga perasaannya. Pria itu seketika menatap wajah heran Miranda.
"Maaf," bisik Hans dan mencium kening istrinya itu.
Mengabaikan seruan sang bibi dan wanita masa lalunya, Hans lebih memilih membawa sang istri masuk ke dalam kamar.
Membuat Rosella menitikkan air mata melihat sikap tidak acuh pria yang sampai sekarang masih menempati hatinya.
Miranda sendiri bisa melihat suaminya dan wnqita itu memiliki masa lalu yang indah. Ia karena Miranda bisa melihat tatapan wanita itu terhadap suaminya.
Dan Miranda bisa menebak, kalau wanita itu adalah mantan kekasih sang suami.
"Apa dia wanita itu?" Tanya Miranda dengan suara tegas.
Miranda bukanlah, sosok wanita yang mudah menyimpan perasaan yang mengganjal dalam hatinya. Ia akan mengeluarkan perasaan yang begitu menyiksanya.
Mendengar pertanyaan sang istri, Hans yang menyerahkan segelas air putih kepada istrinya kini ikut menatap wanita di hadapannya dengan lekat, kemudian pria itu mengangguk kepalanya dengan tatapan segera ia alihkan ke arah samping.
Melihat itu, Miranda menjadi panas. Raut wajahnya terlihat tidak menyukai wanita itu berada di sini.
__ADS_1
"Kenapa kau berada disini? Bukankah, seharusnya kau menemuinya?" Sarkas Miranda dengan nada ketus.
Mendengar ucapan Miranda, Hans tersenyum lebar. Pria itu bahkan kini ikut berbaring di samping istrinya tanpa membersihkan diri terlebih dahulu.
Hans meletakkan kepalanya di atas pangkuan sang istri, melihat wajah jengah istrinya itu.
Kini pria itu kini meraih salah satu telapak tangan istrinya lantas mengecupnya berkali-kali.
"Aku tidak sepatutnya, menemuinya dan membiarkan mu disini sendiri. Bukankah, aku lebih berhak memprioritaskanmu? Sebagai istriku? Aku lebih berhak bersamamu daripada dengan wanita yang hanya terdapat kisah masa lalu." Ungkapan Hans, membuat Miranda tersentuh. Wanita itu kini menatap wajah suaminya dengan lega. Namun ia juga harus waspada dengan sosok wanita masa lalu suaminya itu.
"Sekarang, kau tunggu disini. Aku akan membersihkan diri dulu," ujar Hans yang segera bangkit dan sebelum itu, pria tersebut mengecup sekilas bibir istrinya.
Miranda hanya tersenyum tipis, melihat tingkah masih dan menyenangkan sang suami. Namun senyum itu meredup, saat mengingat sosok wanita di luar sana.
"Aku tidak akan membiarkanmu merebut suamiku," batin Miranda dengan tatapan tajamnya.
Wanita itu segera menghubungi seseorang di seberang sana untuk melakukan satu hal yang akan membuat Rosella segera meninggalkan kediaman sederhana suaminya itu.
Wanita itu tidak akan membiarkan siapapun mengganggu hubungannya dengan sang suami. Miranda tidak akan membiarkan Hans jatuh kembali kepada wanita masa lalunya.
"Tidak, Hans hanya suamiku dan milikku," gumam Miranda dengan tatapan tajam ke arah pintu kamar.
__ADS_1
Apalagi mendengar suara ketawa bibi bersama wanita masa lalu suaminya. Membuat gemuruh di dalam aliran darah Miranda mendidih.