
"Carlos, lepaskan! Ini sungguh sakit." Rosella yang diseret kasar oleh suaminya terus memohon untuk dilepaskan. Namun pria tinggi di depannya ini tidak menghiraukan permintaannya.
Ia terus diseret layaknya seekor binatang peliharaan yang sedang lepas. Bahkan menjadi pusat perhatian para pelayan yang berada di Mansion Rosella sendiri.
"Bugh." Suara hempaskan kuat terdengar, di susul suara erangan kesakitan juga isakan lirih. Rosella hanya bisa menitik air mata, saat di hempaskan kuat di atas lantai oleh Carlos. Membuat dahinya terbentur keramik dan membuat dahinya memar.
Carlos sendiri kini berkacak pinggang di depan istrinya yang terkulai lemas di atas lantai. Tatapan pria tinggi itu begitu nyalang, seakan ingin mencabik-cabik seluruh tubuh sang istri.
"Akh, lepaskan Carlos, ini benar-benar sakit!" Pinta Rosella dengan wajah sembab dengan menahan rasa sakit akibat tangan suaminya yang menarik kuat rambut bagian belakangnya.
Wajah Rosella mendongak ke atas dan menatap kedua mata suaminya yang merah. Dia tahu sekarang Carlos sedang marah padanya dan sudah Rosella pastikan ia akan mendapat hukuman fisik dan batin.
"Kau sudah berani bermain nakal di belakangku, honey? Kau diam-diam mengikuti pria pecundang itu? Kau masih mengharapkannya? Apa sentuhanku setiap malam belum cukup memuaskanmu, hum?" Carlos kini berucap tepat di depan wajah istrinya dengan suara pelan namun terdengar mengerikan di telinga, Rosella.
Wanita itu hanya bisa meneteskan air mata sambil menggelengkan kepala. Menahan rasa sakit di bagian belakang kepala yang seakan seluruh rambutnya tertarik.
"Kau ingin menjadi wanita murahan sekarang? Apa hukuman yang aku berikan selama ini belum cukup, huh!" Gertak Carlos lantang di depan wajah Rosella, pria itu bahkan mendorong belakang kepala istrinya kembali di atas lantai.
"Carlos, aku mohon maafkan aku, ini semua hanya salah paham," pinta Rosella dengan suara sesegukan dengan raut wajah yang berantakan.
"Diam! Plak!" Bukannya melepaskan istrinya, Carlos bahkan menampar wajah Rosella dengan begitu kuat. Membuat wajah wanita itu membekas merah dan sudut bibirnya terluka.
Rosella hanya bisa menangis dalam diam, berteriak pun dan memohon pun tidak ada gunanya.
Memiliki seorang suami yang memiliki temperamental kasar seperti Carlos membuat hari-hari Rosella begitu menyedihkan. Tidak ada satu sela Oun di bagian tubuhnya terdapat luka memar. Mungkin 90 persen bagian tubuhnya terdapat bekas kekerasan, Carlos.
Belum lagi ia harus mendapat luka batin, di mana ia harus mendengar hina juga cacian dari mulut suaminya.
Yang semakin membuat Rosella sakit hati adalah sikap masa bodoh daddy dan ibu sambungnya. Yang ikut menyalahkannya dan menganggap ia seorang wanita yang harus selalu tunduk kepada suaminya.
Kembali tubuh lemah Rosella diseret kasar oleh Carlos ke dalam kamar. Rosella hanya bisa diam dan pasrah. Karena setelah ini ia pasti akan mendapat hukuman yang paling membuatnya hancur dan menganggap dirinya seorang wanita murahan.
__ADS_1
Sementara Hans dan Miranda sudah tiba di kediaman pribadi mereka. Kali ini kehidupan wanita lain yang jauh berbeda yang dialami wanita sebelumnya.
Di mana seorang pria begitu penuh kasih sayang memperlakukan istrinya.
Wanita ini begitu diratukan oleh sosok pria bersahaja dan lemah lembut juga penyayang.
Jika wanita sebelum terus meneteskan air mata kesedihan, maka yang ini terus menebar senyum bahagia. Di mana ia begitu disayangi oleh suaminya sendiri.
Sikap manis, perhatian, romantis dan kasih sayang, terus dilimpahkan oleh suaminya. Seakan ia tidak ingin kebahagiaan ini berlalu begitu saja. Sungguh sosok pria yang jarang ditemui di zaman sekarang.
"Dear!" Panggil lembut membuat lamunan Miranda buyar. Sungguh suara lembut suaminya mampu menghangatkan hati dan jiwanya.
Miranda yang sedang duduk di kursi roda sambil menghadap jendela kamar mereka, membalikkan badan. Dadanya berdesir aneh, saat melihat penampakan suaminya yang sungguh membuat sisi lain dari dirinya terpancing.
"Kau menginginkan sesuatu? Hum? Hans kini berjongkok di depan istrinya dengan penampilan segar. Ia baru saja selesai mandi dan hanya mengenakan handuk yang menutupi tubuh bagian bawahnya.
"Aku menginginkanmu," Miranda membeo sambil terus memperhatikan wajah tampan suaminya.
"Kau mengatakan sesuatu?" Sentak Hans, merapikan rambut Miranda yang menutupi salah satu pipinya.
Hans hanya tersenyum, ia mengecup sekilas pipi istrinya sebelum bangkit dan berjalan menuju ruangan ganti.
"Tunggu di sini, aku akan memakai pakaianku terlebih dahulu," ujar Hans, mengusap puncak kepala istrinya dan sekali lagi meninggal kecupan di sana.
Miranda hanya bisa memejamkan kedua matanya, merasakan hangatnya kecupan penuh kasih sayang yang diberikan suaminya itu.
"Oh Tuhan, dia manis sekali. Aku semakin jatuh cinta padanya," gumam Miranda yang wajahnya sudah bersemu merah. Merasakan kebahagiaan yang belum pernah ia rasakan dan dapatkan.
"Segelas jus tomat untuk wanitaku tercinta!" Hans kini meletakkan segelas jus yang diminta oleh istrinya, pria itu lantas duduk di samping Miranda yang kini menikmati jus buatan Hans.
Keduanya kini berada di ruangan keluarga, menikmati kebersamaan dengan saling bercanda dan bergurau. Miranda bahkan tidak hentinya memeluk tubuh kekar Hans. Sungguh ia sangat menyukai berada di pelukan hangat suaminya.
__ADS_1
"Sayang!" Seru Hans di atas puncak kepala Miranda.
"Hum, kau ingin mengatakan sesuatu?" Sahut Miranda sambil mendongak kepalanya, posisinya kini sedang meringkuk di pelukan suaminya.
Hans tersenyum, mendekatkan wajahnya lebih di atas wajah Miranda, memainkan hidung mancungnya di hidung istrinya itu, pria itu juga mengecup kening Miranda lama.
"Aku hanya ingin mengatakan sesuatu padamu, karena aku baru mengingatnya. Mungkin besok aku akan melakukan perjalanan bisnis untuk waktu beberapa hari ke depan," ujar Hans, memperhatikan perubahan raut wajah istrinya yang terlihat terkejut.
"Pergi?! Miranda terdengar mencicit, pelukannya merenggang. Ia tiba-tiba linglung saat mendengar suaminya akan pergi.
"Hum, ada sesuatu yang akan aku selesaikan," sela Hans, yang segera menarik kembali tubuh istrinya ke dalam pelukannya.
"Apa itu harus?" Tanya Miranda dengan kedua mata mulai berkaca-kaca.
"Hum, aku hanya pergi sebentar. Kalau kau keberatan, aku tidak akan pergi," sahut Hans, mengusap air mata yang jatuh di ekor kelopak mata istrinya.
Miranda terdiam, ia menyusupkan wajahnya di dada suaminya, memikirkan sesuatu lain yang tentunya akan dialami suaminya.
Miranda yakin, ini semua pasti rencana licik Rolex untuk membuat suaminya kembali terbebani.
"Baiklah, aku tidak akan pergi!" Seru Hans tiba-tiba, yang berpikir istrinya keberatan ia pergi jauh.
"Aku tidak keberatan kau pergi, asal aku ikut denganmu," seloroh Miranda dengan wajah kembali menatap suaminya.
"Kau serius ingin ikut bersamaku?" Sentak Hans yang tidak percaya.
"Hum, apa kau lupa, kalau aku tidak bisa jauh darimu sekarang," sahut Miranda, yang kini mengalungkan kedua tangannya di leher Hans.
Hans hanya tersenyum sambil mengangguk, lantas pria itu berdiri lalu berjalan ke arah kamar mereka dengan tertawa bahagia.
Sedangkan Rosella hanya bisa meneteskan air mata dengan keadaan yang sangat menyedihkan di atas ranjang. Ia sungguh mengutuk perbuatan bejat suaminya yang sekarang sedang tertidur pulas setelah puas menghancurkan perasaannya.
__ADS_1
Miranda hanya bisa mengingat ujung bantal sambil menangis tertahan, kedua tangan terkepal erat dengan tatapan penuh dendam.
Terbesit keinginan untuk mengakhiri penderitaannya dengan membiarkan nyawanya pergi untuk selamanya saja. Daripada dirinya terus mendapat penderitaan dan terluka.