
"Kau sudah siap?" Hans menemui istrinya yang sedang berada di dalam kamar. Miranda menoleh ke arah suaminya yang kini sudah bersiap dengan pakaian ala petani di desa.
"Beginilah, penampilan para pria di desa, jauh dari kata gagah dan sempurna," terang Hans, saat memahami tatapan sang istri.
"Kenakan, ini!" Pinta pria itu sambil membantu istrinya, mengenakan baju hangat.
"Meskipun cuaca hangat, tapi udara disini begitu dingin," jelas Hans, melihat ekspresi wajah tidak suka Miranda.
Wanita itu hanya diam sejak tadi, hanya kata penting saja yang keluar dari mulut wanita itu. Bibi Liliana bahkan menjulukinya si bisu.
"Maaf, sikap bibi tadi. Pribadi beliau memang seperti itu. Aku harap kau bisa memakluminya." Hans mencoba memberi pengertian kepada Miranda akan sosok sang bibi.
"Semua orang memiliki batas kesabaran, kau pasti tahu, aku tidak memiliki batas kesabaran itu." Lama terdiam sejak kemarin, Miranda akhirnya mengeluarkan suara, namun sekali berucap, kata-kata wanita itu begitu sarkas.
Hans hanya bisa menelan ludahnya, bagaimanapun ia sudah tahu tabiat istrinya yang begitu arogan dan bengis.
"Kita berangkat sekarang!" Sela Hans, memposisikan tubuh tingginya di belakang kursi roda Miranda, mendorong kursi roda itu dengan penuh kehati-hatian.
_____
Sepanjang jalan menuju perkebunan buah blueberry milik keluarganya, hanya banyak berkisah tentang masa kecilnya hidup di desanya.
Miranda hanya diam menjadi pendengar setia dengan kisah suaminya yang begitu penuh perjuangan.
Sepanjang perjalanan menuju perkebunan dan ladang, Miranda bisa menikmati pemandangan di sekitarnya. Begitu indah dan menyejukkan.
Wanita itu melupakan sejenak, pikiran yang selama ini ia lalui. ia merasa begitu tentram, berada di pedesaan. Apalagi udaranya begitu sejuk dan alami.
__ADS_1
"Kita sudah sampai!" Seru Hans, membuyarkan lamunan sang istri.
Hans mendorong kursi roda istrinya lebih mendekat ke arah perkebunan blueberry. Begitu terlihat indah.
Miranda bahkan memejamkan matanya saat angin menghembuskan dan menerpa wajah putihnya.
Wanita itu menatap punggung suaminya yang mengambil sebuah alat untuk memetik buah blueberry yang siap untuk dipanen.
"Cobalah, ini begitu manis." Hans muncul dan menyerah segenggam buah blueberry kepada istrinya.
Miranda mengambil satu biji buah berwarna biru tersebut, mencicipinya dengan wajah penasaran akan rasa blueberry yang baru saja di petik langsung.
"Bagaimana? Manis bukan?" Tanya Hans dengan wajah antusias.
Wanita itu tersenyum tipis dan menganggukkan kepalanya, Hans juga merasa bahagia melihat wajah istri kaku-nya tersenyum.
Kedua orang tua Hans tampak bahagia melihat putranya begitu terlihat menyayangi sang istri.
Hans melanjutkan kegiatan untuk memetik buah blueberry dengan bantuan alat, yang memudahkan pria itu untuk memanen semua buah yang siap dipanen tersebut.
Miranda terus memandangi suaminya yang tampak terlihat serius dan sekali-kali pria itu akan melambaikan tangannya untuk sekedar menyapa sang istri.
Wanita itu tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, mendapat perlakuan manis dan lembut dari sosok Hans — suaminya.
Matahari semakin tinggi dan waktunya untuk istirahat sejenak, Hans yang dari kejauhan berjalan mendekati sang istri, dengan membawa beberapa bunga yang ia temukan di area perkebunan.
"Untukmu!" Seru Hans, menyerahkan beberapa rangkai bunga indah kepada Miranda.
__ADS_1
Wanita itu segera mengambilnya, mengendus sejenak bunga itu. "Kau menyukainya?" Tanya Hans yang kini duduk di atas tanah yang berumput.
Miranda tidak menjawab dan wanita itu hanya diam, pandangannya hanya fokus ke wajah lelah sang suaminya.
"Apa kau lelah?" Hans kembali bertanya kali ini menatap istrinya dengan khawatir.
"Tidak!" Jawab Miranda seadanya.
"Tapi kau harus istirahat, tidak baik terlalu lama duduk, bisa membuat pinggang mu sakit," ujar Hans, kepalanya sedikit terangkat agar bisa melihat wajah istrinya.
"Kau menyinggungku yang tidak bisa melakukan apapun?" Sentak Miranda tiba-tiba.
Hans yang mendengar ucapan sang istri dinginnya, mulai tegang, pria itu merutuki perkataannya yang lupa dengan tabiat sang istri yang begitu sensitif.
"Bukan begitu maksud aku," elak Hans dengan nada terbata.
"Aku hanya mengkhawatirkan kesehatanmu, itu saja. Maaf kalau perkataan ku membuatmu tersinggung." Hans kini berlutut di depan istrinya. Meraih kedua telapak tangan sang istri.
"Maaf!" Ucap Hans lirih.
Untuk pertama kalinya, Miranda berinisiatif untuk menyentuh wajah suaminya. Wanita itu melihat wajah kotor sang suami dan menyingkirkan kotoran yang ada di wajah Hans.
Hans tentu saja terdiam dengan wajah tegang, pria itu masih terlihat canggung dengan sikap kaku istrinya ini.
"Sebaiknya kita pulang. Aku merasa lapar." Miranda menarik tangan suaminya agar berdiri dan meminta Hans menggendongnya.
"Aku lelah duduk sejak tadi," ucap Miranda yang terdengar sedikit manja.
__ADS_1
Hans tersenyum lebar, dengan senang hati pria itu melakukan perintah istrinya. Hans tidak akan terbebani dengan bobot tubuh mungil istrinya untuk sampai ke rumah sederhana mereka.
Karena jarak untuk sampai tidak lah jauh. Hanya butuh lima menit berjalan, maka mereka akan sampai ke dalam rumah.