
Ronald dan kekasihnya, tidak dapat menyembunyikan rasa terkejut, melihat kejadian di hadapan mereka.
Seorang yang sangat mereka kenal, tidak memiliki apa-apa kini, sedang menenteng tas sedang yang berisikan uang.
Keduanya hanya bisa tercengang dengan wajah tidak percaya, seorang Hans yang terkenal miskin, kini memiliki cukup uang dan pria itu di hormati juga dihargai oleh staf Bank besar itu.
"Ini tidak mungkin." Ronald menatap Hans dengan tatapan tidak percaya.
"Dia hanya seorang yang miskin, darimana dia mendapatkan uang itu?" Tanyanya pelan.
Sedangkan wanitanya begitu tertarik dengan tas yang ada di tangan Hans, wanita yang terkenal, matrealistis itu, mengacuhkan ucapan kekasihnya.
"Apa dia melakukan penipuan? Atau melakukan kriminal?" Ronald terus meracau dengan wajah yang begitu tidak percaya.
Ia tercengang, terpaku dan membeku melihat keajaiban di depannya ini.
Sosok yang selalu dihina, kini memiliki kehormatan dan uang.
"Ck!" Wanita Ronald berdecak kasar, sambil menatap kekasihnya sinis.
"Setidaknya, ia memiliki cukup uang dan tidak sepertimu yang selalu mengemis kepada orang tuamu sebelum mendapat sesuatu yang berharga." Sela wanita Ronald dengan wajah mencemooh.
Tentu pria bertubuh tinggi kekar itu tidak terima dengan ucapan kekasihnya. Apalagi di bandingkan dengan pria seperti — Hans.
"Apa katamu, hah!" Bentak Ronald kepada kekasihnya.
Wnqita itu hanya mendelik sinis dengan wajah mencemooh kepada Ronald.
"Ingat, kau hanya anak sambung dari keluarga Meta," celetuk wanita berpakaian sedikit terbuka di bagian depannya.
"Tutup mulutmu, *******!" Gertak Ronald dengan wajah merah padam dan ingin sekali mencekik leher kekasihnya itu.
Wanita bertubuh langsing itu, segera menjauhi Ronald. Ia berjalan mendekati Hans yang sedang berjalan untuk menuju keluar pintu bank.
Ronald yang melihat kekasihnya lebih memilih Hans, tidak terima. Ia pun hanya bisa menahan rasa amarahnya dengan tatapan dendam kepada — Hans.
Sedangkan wanita yang penampilannya seksi, kini melangkah lebih dekat kepada Hans sambil membenarkan letak pakaiannya. Ia akan menggoda Hans dan menawari pria yang baru saja ia gunjing dan hina itu, untuk menghabiskan malam panjang hangat.
__ADS_1
Namun niatnya berujung kekesalan, ketika salah satu penjaga keamanan, menahannya untuk mendekat kepada Hans yang kini dikawal juga dihormati para staf Bank tersebut.
Hans sendiri menghentikan langkahnya, ia membalikkan badan sambil menggerakkan jari telunjuknya untuk memanggil wanita itu mendekat ke arahnya.
Dengan wajah puas dan berjalan dengan menggoda, kekasih Ronald kini berdiri di hadapan — Hans.
Hans memindai penampilan wanita itu dengan tatapan hina, ia membuka tas yang berisikan uang. Pria itu, mengambil beberapa gepok uang dan melemparkan tepat di wajah wanita tersebut.
"Buatmu, j*Lang," bisik Hans dengan senyum hina.
Ia segera melanjutkan langkahnya untuk keluar dari bank itu, ia terlihat seperti seorang penguasa yang melakukan penyamaran.
Hans menolak menggunakan mobil mewah, ia lebih memilih menggunakan taksi umum yang ada di sana.
Sedangkan kekasih Ronald kini mengambil gepokan uang yang berada di atas lantai. Ia tidak memperdulikan hinaan Hans, ataupun tatapan para staf band juga pengunjung bangun itu.
Yang penting, ia kini mendapatkan banyak uang dari sosok pria yang selama ini ia hina bersama kekasihnya.
….
Hans kini berhenti di sebuah butik terkenal di kota tersebut, ia keluar dari taksi dan berdiri tepat di depan bangunan berlantai 3 itu.
Pintu butik terbuka secara otomatis, seseorang menyambutnya dengan ramah dan mempersilahkan Hans masuk.
Seorang pegawai wanita yang baru saja mendapat pekerjaan sebagai karyawan magang di butik tersebut.
"Saya menginginkan satu set pakain formal," ujar Hans, mengelilingi butik itu yang tertata rapi pakaian mewah dengan harga yang begitu mahal.
Hans meletakkan, tas yang berisikan uang di atas sofa yang dikhususkan untuk pengunjung butik. Hans meninggalkan begitu saja tasnya sambil berkeliling di dalam butik tersebut yang tepat, berada di lantai bagi tamu eksklusif.
Hans memilah beberapa jas yang menurutnya bagus dan sesuai dengan ukuran tubuhnya. Ia juga memilih beberapa setelan jas dengan harga yang begitu mahal.
Karyawan senior di butik itu terus mengawasi Hans, dengan wajah mencibir.
Tidak lama, datang seorang wanita cantik dengan penampilan menarik mendekati karyawan magang dan menariknya ke tempat lain.
"Lain kali, kamu harus memperhatikan tamu yang datang. Butik ini, bukan diperuntukan untuk tamu seperti dia. Disini hanya orang-orang tertentu yang bisa berkunjung." Wanita itu yang merupakan manajer butik begitu marah, saat karyawan magang, menerima tamu rendah seperti Hans yang penampilannya begitu sederhana.
__ADS_1
"Maaf, tapi dia terlihat begitu ingin membeli beberapa setelan jas," ucap pegawai magang dengan wajah ketakutan.
Sang menejer, segera mendekiti Hans yang masih memilih beberapa potong jas mewah.
"Saya menginginkan ini semua!" Pinta Hans sambil menujuk beberapa setelan jas.
Sang manajer hanya menatap Hans sinis, tanpa mengerjakan permintaan pelanggannya.
"Apa anda tidak salah memasuki toko tuan? Apa anda tidak membaca merk toko ini? Yang memiliki cabang di beberapa tempat dan hanya pelanggan yang berdompet tebal yang bisa memasuki toko ini." Sang manajer butik berkata cemooh kepada Hans. Ia juga memindai penampilan Hans begitu sinis.
Hans hanya tersenyum, ia mendekati sofa dan membuka tas yang berisikan uang.
"Dasar pria pecundang, begitu beraninya dia masuk kesini, apa dia sanggup membayangkan semua setelan mahal ini? Harga dirinya saja tidak akan sanggup membayarnya," ucap manajer itu pelan, namun masih didengar oleh Hans.
Hans masih terdiam, ia membuka lebar tas miliknya di depan karyawan butik juga manajer.
"Saya bahkan bisa membeli harga diri anda nona," sela Hans yang berhasil membuat kedua wanita di dekatnya syok dengan mulut menganga.
"Apa uang ini cukup? Membayar setelan yang saya pilih? Atau harga diri anda, apakah cukup uang ini? Aku bahkan mampu membeli butik ini dan menghancurkannya," ucap Hans, senyum miring terlihat di wajah tampannya.
"Saya akan membungkusnya untuk anda tuan!" Seru karyawan magang dengan sopan dan ramah.
Hans tidak menjawab apapun, ia hanya melirik para karyawan sombong yang kini terlihat tercengang, mata terbuka lebar melihat tumpukan uang di dalam tas Hans.
Hans melemparkan beberapa gepok uang kepada sang manajer yang masih tercengang itu.
"Apakah itu cukup? Untuk membayar harga dirimu, wanita sombong." Hana berkata kasar kepada manajer.
Wanita yang mengenakan seragam rapi itu, masih terdiam dengan ruqt wajah tidak nyaman.
"Ini tuan, barang milik anda," timpal sang karyawan magang. Meletakkan di hadapan Hans, beberapa tas belanja berwarna coklat yang di dalamnya terdapat kotak setelan jas.
"Terima Kasih, dan ini untukmu," ucap pria itu sambil menyerahkan tip kepada karyawan magang dengan sopan dan wajah ramah.
Hans pun keluar dari butik tersebut dengan bantuan beberapa pegawai yang membawa tas belanjaan Hans.
Saat ini Hans menggunakan kendaraan sport mewah, juga seorang sopir yang mengendarai mobil tersebut.
__ADS_1
Semua mata menatap takjub kepada Hans, tatapan hina yang selalu ia dapatkan dulu, kini berubah tatapan kagum.