Pejantan Yang Tergadaikan

Pejantan Yang Tergadaikan
bab 48


__ADS_3

Rosella kembali memusatkan perhatian pada sosok pria rupawan di depan sana.


Wanita itu kini sedang berada di sebuah klub bersama rekan bisnisnya. Ia terus mengamati pria yang ia anggap sebagai mantan kekasih.


"Kenapa Hans begitu berbeda? Dia bukanlah pria bebas seperti ini," Rosella berkata dalam hati, sambil menatap nanar ke depan, di mana ia melihat sosok pria yang wajahnya sama dengan Hans, sedang mencumbu teman wanitanya.


Rosella bangkit dari kursi, saat melihat Rolex melangkah ke arah toilet.


"Maaf, aku akan pulang terlebih dahulu," ucap Rosella, berpamitan kepada rekan bisnisnya.


Padahal wanita itu kini menyusul Rolex ke arah toilet. Rosella ingin meminta penjelasan pada pria yang ia pikir adalah Hans.


Rosella kini berdiri di luar pintu toilet, dengan punggung bersandar. Penampilan wanita itu tampak begitu menarik perhatian para kaum pria malam ini.


Rosella sedikitpun bebas saat ini, itu karena suaminya sedang melakukan perjalanan bisnis bersama mommynya.


Rosella tidak peduli tentang apa yang akan kedua orang itu lakukan, Rosella hanya memikirkan Hans.


Rosella menegakkan punggungnya, saat mendengar pintu kamar mandi terbuka. Ia sengaja menghalangi langkah Rolex dengan berdiri di hadapan pria tinggi di depannya.


Rolex mengernyit heran, melihat sosok cantik dan menawan di depannya. Pria itu tersenyum mesum, melihat penampilan Rosella yang begitu seksi.


"Aku ingin berbicara denganmu, Hans!" Pinta Rosella, setelah itu membalikkan badan, berjalan keluar dari toilet. Menuju parkiran.


Rolex mengerutkan wajah kebingungan, namun sebuah senyum licik terlihat di sudut bibir, saat menemukan sesuatu yang sejak tadi membuatnya bingung.

__ADS_1


"Jadi dia wanita pria pecundang itu? Lumayan, untuk dijadikan teman ranjang untuk sementara waktu. Dia cantik dan tubuhnya begitu seksi." Rolex seakan mendapat keberuntungan, saat melihat sosok Rosella yang datang kepadanya.


"Kau akan menjadi milikku malam ini, lady," ucap Rolex pelan yang diikuti senyum mesumnya.


Menyusul langkah Rosella yang menuju arah parkiran. Pria itu terus memperhatikan lekuk tubuh Rosella yang terlihat menggoda. Rolex mengikuti Rosella memasuki mobil.


🌹🌹🌹


Hanya ada kebisuan di dalam mobil, juga helaan nafas dari keduanya. Deru nafas Rolex bahkan mulai memburu, saat mengendus aroma wangi manis yang menguar dari tubuh Rosella, tatapan mata pria itu kini tertuju di kedua benda pribadi Rosella, yah semakin membuat jiwa perkasa pria itu memberontak.


Rosella sendiri masih mencoba menguasai diri sendiri dengan menghela nafas panjang. Jujur, wanita itu begitu gugup dan merasa bingung harus memulai pembicaraan terlebih dahulu.


"Hans," ucap Rosella dengan nada bergetar menyebut nama mantan kekasih yang masih sangat ia cintai.


"Aku ingin mengatakan sesuatu padamu," sentak wanita itu gugup, sambil menggeser sedikit posisinya menghadap, pria di sebelahnya. Hingga jarak wajah mereka terlihat sangat dekat.


Rolex bahkan terpukau dengan kedua iris mata hijau Rosella pun bibir sensual wanita di hadapannya.


Sungguh Rolex merasa sangat beruntung, bisa sedikit bermain dengan wanita naif ini.


"Katakanlah!" Sahut pria itu dengan intonasi suara bass yang begitu menggoda. Tidak lupa, salah satu tangan merapikan rambut sang wanita yang sedikit menghalanginya untuk menilai kekurangan wanita ini.


Rosella tertegun dengan seluruh tubuh membeku, merasakan sentuhan lembut pria di depannya yang ia sangka adalah, Hans.


Wajahnya bahkan terlihat merona, dengan deru nafas memburu. Memejamkan mata merasakan usapan lembut punggung jari Rolex. Rosella sangat merindukan momen seperti ini.

__ADS_1


Rosella membuka kedua kelopak mata, memandang penuh cinta dan kerinduan wajah Rolex.


Yah sukses membuat Rolex berdecak puas, saat melihat tatapan wanita naif di hadapannya.


"Kau ingin mengatakan apa, hum?"tanyanya lembut, sambil terus mengusap pipi Rosella hingga turun di leher jenjang wanita itu.


Rosella refleks menahan sejenak nafasnya, merasakan sentuhan lembut di bagian tulang lehernya.


"Aku merindukanmu, Hans. Kenapa kau berubah, seharusnya kau datang padaku. Aku akan memberikan semuanya untukmu, asal jangan melakukan dengan para wanita liar di luar sana.


"Aku minta maaf, apabila dengan membuatmu kecewa hingga kau berubah menjadi sosok pria liar. Tapi, aku bersumpah, masih sangat mencintaimu, aku benar-benar sangat mencintaimu, Hans." Rosella terus mengucap sederet kalimat kerinduan dan penuh cinta di hadapan Rolex. Rosella pun penuh damba, mengharap pria di hadapannya bisa kembali bersama dengannya.


Rolex sendiri semakin tersenyum licik, ia hanya sedikit menampilkan wajah bodoh yang selalu Hans perlihatkan.


"Hans …." Ucapan Rosella terhenti, saat Rolex menutup mulutnya dengan salah satu telapak tangan pria di depannya.


"Apa kau yakin? Ingin memberikan segalanya padaku? Kau tahu, aku begitu frustasi hingga melakukan ini semua. Berjanjilah, kau akan memberikannya padaku dan selalu ada untukku, agar aku berhenti dari kegilaan ini." Setelah mengatakan semua ucapan sandiwaranya, Rolex tersenyum puas dalam hati.


Apalagi melihat wajah Rosella yang menurutnya sangatlah bodoh.


"Kau akan menjadi budakku, lady. Dan pria bodoh itu yang akan menjadi kambing hitam semuanya," ucap Rolex dalam hati.


Rosella meneteskan air mata dan menganggukkan kepala. Segera wanita itu membawa tubuhnya ke dalam pelukan Rolex dengan senyum bahagia.


Rosella menganggap dirinya sudah berhasil membuat Hans kembali padanya, namun ini semua awal kehancuran wanita ini. Di mana ia hanya akan dijadikan alat permainan pria di depannya.

__ADS_1


__ADS_2