
Setelah kepergian Rolex dan nyonya Jill, Hans berusaha bangkit dengan tertatih. Ringisan kesakitan tidak luput keluar dari mulutnya yang juga mengeluarkan cairan merah.
Pria tinggi tegap, berusaha menuju meja kerja untuk menggapai ponsel miliknya yang adil di sana. Hans merangkak tertatih menuju kursi kerja.
Ia pun bertempuh pada dudukkan kursi untuk memudahkan nya berdiri.
Hans menghempaskan tubuh tingginya di atas kursi dengan nafas yang ngos-ngosan. Penampilannya berantakan dengan luka juga memar memenuhi wajah. Setelan rapi kini terlihat lusuh tidak beraturan, bahkan kemeja putih yang ia kenakan kotor.
Hans mencoba menghubungi sahabatnya Robben, untuk meminta bantuan membawanya ke rumah sakit. Ia juga mencoba mengirim pesan kepada istrinya dengan alasan akan melakukan perjalanan bisnis.
Hans tidak mungkin bertemu dengan Miranda dengan wajah babak belur, ia tidak ingin membuat istrinya khawatir.
Setelah mengirim pesan kepada istrinya, Hans merebahkan punggung lebarnya di belakang kursi. Menarik nafas, memikirkan rencana untuk menggagal rencana licik kedua, ibu dan anak itu.
Hans menarik nafas dalam, menahan sejenak, lalu menghembuskan perlahan. Kedua mata terpejam dan bayangan istrinya tiba-tiba muncul.
"Sayang." Pria itu bergumam lirih.
Memikirkan nasib pernikahannya yang memiliki harapan indah berdua dengan istri tercinta.
Di tengah pikiran berkecamuk, ponsel yang ada di depannya bergetar dan berdering, Hans menegakkan punggungnya dengan menahan rasa sakit.
__ADS_1
Pria itu tercengang, melihat nama kontak di layar ponselnya.
Sebelum menjawab panggilan dari Miranda, istrinya, Hans kembali menarik nafas terlebih dahulu, untuk menetralisir kegugupannya.
🌹🌹🌹
Nyonya Jill dan Rolex, berjanji menuju pintu lobby dengan langkah elegan juga wajah arogan. Semua karyawan menunduk hormat kepada nyonya Jill, yang dikenal sebagai ibu dari pemimpin perusahaan.
Namun pandangan beralih kepada sosok pria yang berjalan di sebelah nyonya Jill dengan penampilan santai namun wajahnya tertutup oleh masker.
"Mama!" Seru Rolex memanggil sang mama.
Nyonya Jill yang siap untuk memasuki mobil, terdiam sambil memandang wajah tertutup putranya.
"Mama pulanglah, terlebih dahulu. Aku masih ingin menyelesaikan sesuatu," ujar Rolex dibalik masker hitam yang ia pakai.
Mendengar putranya berkata, nyonya Jill hanya berdecak lidah dan mendelik kesal.
"Ingat, kau harus memikirkan untuk menyingkirkan wanita itu setelah semua sudah kita kuasai!" Pinta nyonya Jill dengan ucapan berbisik.
Rolex hanya diam, ia pun berdiri di tempatnya memandangi mobil sang mama.
__ADS_1
Rolex kini menunggu jemputan seseorang di sana. Sambil memainkan ponsel mewah. Beberapa karyawan yang melihat sosok tinggi atletis berdiri di sana. Membuat perhatian mereka teralihkan.
Mereka sangat yakin, di balik masker itu terdapat wajah yang sangat tampan.
Rolex sendiri masih berdiri di posisi sebelumnya, menghiraukan bisik-bisik karyawan wanita. Meskipun ia begitu terganggu dan kesal, sebisa mungkin ia menahan emosi.
Beberapa menit kemudian, jumputan Rolex pun belum juga datang, membuat pria itu begitu geram.
Di saat menahan perasaan marah, sebuah mobil mewah berhenti tidak kau darinya. Setor pria tinggi dengan wajah tegas turun dari mini. Pria yang sebagian rambutnya sudah memutih.
Pria itu adalah tuan Meta, ia sengaja mendatangi perusahaan ini untuk melakukan kerjasama, apalagi mengetahui sang pemimpin perusahaan adalah suami dari pewaris tunggal pengusaha terkaya di negara mereka
Tuan Meta berjalan penuh wibawa juga sikap tenang pun tegang. Pria itu melewati Rolex yang berdiri tidak jauh darinya. Namun tuan Meta menghentikan langkahnya, merasa sangat kenal dengan pria yang tadi ia lewati.
Pria berwajah tegas itu, membalik badannya menengok pria yang sedang memunggunginya. Kedua mata pria itu menyipit, ia begitu kenal dengan pria di sana. Pria yang selama ini ia benci.
"Apa yang dilakukan pria pecundang itu disini? Tanyanya dengan diri sendiri.
Memutar tubuh sempurna dan berjalan mendekati pria yang masih setia berdiri. Namun saat sangat dekat, sebuah mobil kini berhenti tepat di depan pria yang begitu ia benci.
Dahinya semakin mengkerut, melihat hal mencengangkan di depannya. Bagaimana tidak, pria yang ia juluki pecundang kini menggunakan mobil mewah dengan harga fantastik. Mungkin hanya ada beberapa unit di saja.
__ADS_1
Sungguh tuan Meta tidak percaya dengan apa yang kini ia lihat, pria pecundang itu pergi menggunakan mobil mewah.