PEMBANTU KECIL JAGOANKU

PEMBANTU KECIL JAGOANKU
Bab 10. Pesta


__ADS_3

Rita berusaha menyembunyikan diri di belakang Putra, saat melihat orangtua dan saudara tirinya ada di pesta ulang tahun pernikahan orangtua Putra. Tanpa melihat kiri kanan, Rita terus melangkah dan kaget saat menabrak punggung Putra yang tiba-tiba berhenti.


Putra yang menyadari sikap Rita yang tiba-tiba berubah, menarik tubuh Rita hingga kembali sejajar dengannya. Rita merasa gugup saat beberapa orang memperhatikan Putra dan dirinya yang datang bersama.


"Pak Putra, saya ke belakang saja membantu Bibik. Saya merasa tidak nyaman berada di sini," ucap Rita gugup.


"Apa kamu lupa, kalau kamu sudah setuju dengan gaji dua kali lipat? Apakah itu kurang?" tanya Putra mengingatkan.


"Saya cabut persetujuan saya," jawab Rita memohon.


Rita menatap wajah Putra yang juga memandanginya seolah ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tetapi Rita tentu saja tidak bisa membicarakan kesulitannya pada orang lain.


"Baiklah. Kalau kamu merasa tidak nyaman di pesta ini, kamu dibelakang saja bantu bik Nah. Kita sudah menyewa pelayan, jadi kamu tidak perlu ikut melayani tamu," kata Putra sambil menghela napas.


"Terima kasih, Pak Putra."


Rita melangkah pergi meninggalkan Putra, menuju ke dapur. Di sana, sudah banyak para pelayan sewaan sekaligus pelayan rumah ini, termasuk bik Nah. Rita ikut bergabung menyiapkan makanan dan minuman untuk para tamu undangan.


"Rita, kamu cantik sekali dengan gaun dan sepatu itu. Kenapa tidak ikut bergabung dengan mereka di luar?" tanya Bik Nah.


"Tidak, Bik. Rita merasa tidak nyaman bersama orang-orang kaya seperti mereka. Lebih enakkan sama yang sederajat saja. Saya tahu batasannya, Bik," jawab Rita sambil tersenyum.


"Ya sudah, kamu di sini saja. Bibik mau ikut keluar untuk mencari tahu apa ada yang membutuhkan bibik," ucap Bik Nah lalu pergi meninggalkan Rita sendirian di dapur.


Rita duduk santai sambil minum dan makan makanan yang disediakan Bik Nah. Saat itulah, seseorang datang mendekatinya.


"Rita." Suara bariton itu mengejutkannya. Itu suara mas Yudi.


"Mas Yudi, kenapa kamu bisa kemari?" tanya Rita kaget melihat kedatangan Yudi.

__ADS_1


"Jadi benar ini kamu. Aku sungguh tidak percaya. Kamu sangat jauh berubah, Rita. Kamu dulu sudah cantik dan seksi. Sekarang, kamu seperti seorang artis papan atas. Jika begini, aku siap meninggalkan kakakmu dan aku akan menikahimu," ucap Yudi mengagumi kecantikan Rita.


"Mas Yudi, jangan sampai Mbak Desi mendengar apa yang Mas Yudi katakan barusan. Mbak Desi tidak akan memaafkan Mas Yudi," ucap Rita kesal.


"Biarin saja dia mendengar, itu malah lebih baik. Rita, ayo kita kawin lari!" ajak Yudi.


Rita tertawa mendengar ajakan Yudi.


Yudi memang laki-laki tidak tahu malu. Laki-laki bejad, masak mau ajak calon adik ipar kawin lari? batin Rita.


"Kenapa tertawa?"tanya Yudi bingung.


"Tentu saja aku tertawa. Mas Yudi, Kelakuan kamu tidak berubah. Kasihan sekali Mbak Desi, memiliki calon suami seperti mas Yudi. Ingat, ini bukan di tempatmu atau di tempat Mbak Desi, aku bisa berteriak dan mereka akan membantuku mengusir kamu dari sini," ancam Rita.


"Oh, apa kamu tidak ingat kejadian lalu? Kamu yang terusir dari rumah ayahmu, mau mencoba lagi?" Yudi juga tidak mau kalah dan mengancam balik Rita.


"Kenapa diam, takut? Makanya, turuti keinginanku, maka hidupmu akan senang dan aman," ucap Yudi sambil tertawa menyeringai.


Rita kembali tertawa kecil. Dulu saja di rumah ayahnya dia berani melawan. Apalagi ini bukan rumah keluarganya. Seandainya dia di usir oleh majikannya, mungkin itu jalan yang terbaik untuk hidupnya dan mungkin ini cara untuk dia bisa lepas dari perjanjian dengan Putra.


"Jangan mendekat!" teriak Rita saat Yudi mendekatinya dengan percaya diri tinggi.


"Rita, aku sudah tidak tahan melihat bibirmu yang terus saja menantang-ku. Bagaimana rasanya, pasti lembut," ucap Yudi sambil membasahi bibirnya.


"Gila, dasar gila," gumam Rita.


Saat Yudi semakin dekat, Rita tidka sungkan lagi memberikan satu tendangan dengan kaki kecilnya ke bagian bawah perut Yudi yang membuatnya menjerit kesakitan.


"Aw, Rita kamu terus saja menendang bagian yang sama setiap kali bertemu denganku. Aduh, ini adalah aset ku yang sangat penting bagiku. Jika tidak berfungsi, mana ada wanita yang mau menikah denganku?" ucap Yudi sambi meringis memegangi bagian bawahnya.

__ADS_1


Tendangan Rita kali ini lebih keras dari sebelumnya.


"Bodo amat. Nikmati saja hasil dari ancamanmu padaku, aku tidak takut," jawab Rita lalu melangkah pergi meninggalkan Yudi.


Rita keluar menuju acara pesta dan matanya tertuju pada ayahnya. Ingin sekali dia memeluk ayahnya. Hatinya sedih melihat ayahnya tetapi tidak bisa mendekatinya. Ibu dan saudara tirinya pasti akan menghalangi dia dekat dengan ayahnya. Kalau hanya marah padanya, dia masih bisa menerima, tetapi jika sampai mereka marah pada ayahnya, kasihan ayahnya.


Rita mengurungkan niatnya mendekati ayahnya. Tiba-tiba seseorang menamparnya dan semua mata tertuju pada Rita, termasuk Putra dan Rama yang kebetulan juga datang.


"Dasar perempuan gatal, belum cukupkah kamu di usir dari rumah, mau diusir juga dari sini? Dimanapun kamu berada, kenapa selalu menggoda calon suamiku? Kamu memang tidak pantas berada di acara ini. Laki-laki mana yang sudah kamu rayu, sehingga membawamu ke pesta ini!" teriak Desi dengan penuh emosi.


Mata Rita mulai berkaca-kaca. Dia dipermalukan seperti ini didepan banyak orang. Siapa yang akan membelanya? Tidak mungkin di akan bersikap bar-bar dan mempermalukan Putra. Tetapi, saat ini diapun pasti malu memiliki pembantu sepertiku.


"Maaf, aku yang membawanya kemari. Jelaskan apa yang sudah dia lakukan. Jika memang dia bersalah, saya sendiri yang akan menghukumnya," ucap Putra menengahi.


"Dia sudah berani menggoda calon suamiku. Bahkan ini untuk yang kedua kalinya. Jangan percaya wajah polosnya, hanya menipu orang," kata Desi yang membuat semua yang hadir saling berbisik-bisik.


"Tunggu, maksudmu di rumah ini? Jika begitu, kita akan lihat kebenaranya. Karena seluruh rumah ini sudah dipasang CCTV, jadi kita akan lihat siapa yang sesungguhnya bersalah dalam kejadian ini," ucap Putra tegas. "Ayah, izinkan kami melihat CCTV hari ini untuk menyelesaikan masalah ini."


"Baik. Pak Faro, tolong ambilkan laptop di ruang kerja saya!" titah pak Seno pada asistennya.


Semua orang menunggu dengan gelisah untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. Mereka bertanya-tanya, ada hubungan apa gadis itu dengan keluarga pak Nardi.


"Desi, sebaiknya kita pulang saja. Cukup sudah Samali di sini. Cukup kamu tahu saja jika Rita yang menggodaku," ajak Yudi yang ketakutan jika memang ada CCTV di rumah ini. Maka, semua akan ketahuan.


*******


Sambil menunggu up selanjutnya, baca juga karya temen aku.


__ADS_1


__ADS_2