PEMBANTU KECIL JAGOANKU

PEMBANTU KECIL JAGOANKU
Bab 8. Perbincangan 2 pria


__ADS_3

Putra pergi ke perusahaan dengan perasaan masih kacau. Bayangan wajah Rita yang imut terlintas jelas dimatanya. Putra berdiri sejenak untuk menata hati dan pikirannya agar tidak tertuju pada pembantunya.


Sepanjang perjalanan melewati kantor bawahannya, mereka satu persatu mengucapkan salam padanya. Mereka berkasak-kusuk melihat tanda merah di pipi Bos mereka. Putra juga sudah lupa dengan bekas tangan Rita yang menempel di pipinya.


Saat berjalan menuju ruang kerjanya, tampak Rama setengah berlari mengejarnya hingga sampai di depan ruang kerjanya. Putra cukup kaget melihat Rama tiba-tiba sudah ada di belakangnya.


"Ada apa, kenapa kamu berlarian seperti dikejar hantu?" tanya Putra sambil menatap Rama.


"Sepertinya ada yang salah dengan kamu. Masuk dulu, kita bisa bicara nanti sambil duduk," jawab Rama dengan napas sedikit memburu.


"Oke."


Putra membuka pintu rumah kerjanya dan berjalan masuk diikuti Rama. Dia ingat kalau pagi ini ada rapat. Putra duduk menyandarkan punggungnya di kursi malasnya.


"Apa yang ingin kamu bicarakan. Katakan intinya saja karena rapat akan segera dimulai," kata Putra sambil menatap Rama yang tampak malu.


"Aku hanya ingin memberitahumu sekaligus bertanya. Wajahmu ada bekas tangan wanita, apa yang terjadi?" tanya Rama sambil tersenyum.


Putra tampak gugup. Dia menutup sebelah wajahnya dengan salah satu tangannya. Rupanya dia lupa, karena dia terbius oleh pesona pembantunya.

__ADS_1


"Oh, ini tadi ada nyamuk yang nempel di pipi. Kebetulan, pembantuku lihat dan beginilah jadinya," jelas Putra sambil menghela napas panjang.


"Hahaha, jadi cap di pipimu itu telapak tangan gadis kecil itu? Menarik. Hanya dia, wanita yang bisa menyentuh wajahmu, meski hanya berupa tamparan bukan belaian," ledek Rama sambil terkekeh.


Putra merasa kesal melihat Rama memanggil Rita dengan sebutan gadis kecil. Dia saja tidak berani memanggil Rita aneh-aneh apalagi panggilan sayang seperti itu. Bisa-bisa Rita akan meledeknya hingga dia lelah.


Terkadang, Putra ingin memanggilnya Pembantu Kecil Jagoanku. Bagi Putra, Rita memiliki tenaga dan stamina yang sangat kuat. Terlebih lagi, saat mendengar cerita bik Nah, bagaimana dia menghadapi pencopet dan mengambil kembali dompet bik Nah. Putra seperti mendengarkan dongeng yang menjadi nyata.


Sejujurnya, Putra ingin melihat sendiri bagaimana, kegesitan dan kelincahan pembantu kecilnya itu, kala berhadapan dengan musuh.


Kalau dirumah, Putra sering melihat, Rita yang secara reflek bereaksi terhadap bahaya yang dikiranya mengancam dirinya. Karena mungkin dia masih terbawa akibat pelatihan beladiri yang intens.


"Aku memang tertarik pada pembantu kecil itu, bahkan mungkin aku telah jatuh cinta padanya. Aku serius kali ini, dan aku sudah bilang pada orangtuaku jika aku ingin menikah," ucap Rama serius.


"Waw, menikah. Tapi tunggu, setelah bertemu Rita , kamu ingin menikah. Kamu menikah? Dengan siapa?" tanya Putra bertubi-tubi.


"Jelas dengan Rita, siapa lagi," jawab Rama sambil tersenyum.


"Tidak mungkin, kamu menikahi Rita. Rita itu masih kecil, dan belum saatnya menikah. Cari yang lain saja!" ucap Putra agak kesal.

__ADS_1


"Maksudku, aku akan mendekati dan melamarnya. Soal dia bersedia menikah muda atau minta waktu beberapa tahun, aku siap menunggu," jawab Rama yakin.


"Tidak boleh. Aku tidak akan membiarkan kamu mendekatinya."


"Kenapa, jangan-jangan, kamu juga menyukainya juga?" tanya Rama curiga.


"Itu tidak mungkin. Jangan bercanda," jawab Putra yang wajahnya tiba-tiba memerah.


Perdebatan itu terhenti saat asisten Putra, memberitahu bahwa rapat akan segera di mulai.


Putra dan Rama bekerja seperti biasa. Tetapi selama rapat, Putra tidak bisa fokus sehingga rapat ditutup lebih cepat. Apalagi dengan kondisi wajah yang masih terlihat bekas tamparan Rita.


Putra bergegas pulang lebih awal karena dia akan mengajak Rita pergi belanja. Sekaligus pergi ke salon.


"Nggak mau, Pak. Aku bisa memakai pakaianku sendiri dan aku juga bisa pake make up sendiri. Nggak perlu ke salon," jawab Rita ketakutan.


Bersambung


Sambil menunggu up, yuk baca karya teman aku ok

__ADS_1



__ADS_2