PEMBANTU KECIL JAGOANKU

PEMBANTU KECIL JAGOANKU
Bab 30. Salah paham


__ADS_3

Rita duduk dihadapan Putra. Rita memperhatikan wajah kekasihnya yang tampak ceria, tidak seperti biasanya. Rita berpikir, kalau Putra sepertinya sedang terkena gangguan mental. Rita tertawa sendiri menertawakan pikirannya yang jahat.


"Kenapa tertawa?" tanya Putra kaget.


"Oh, aku hanya berpikir yang nggak masuk akal saja," jawab Rita ngeles.


"Pikiran tidak masuk akal. Pikiran apa itu?" tanya Putra lagi makin penasaran.


"Aku lihat kamu senyam-senyum sendiri, jadi aku pikir kamu kena gangguan mental," jawab Rita sambil tersenyum.


Senyum Rita berubah total dan Rita menelan ludah karena menyesal telah mengatakan itu pada Putra. Putra pasti sangat marah padanya karena punya pikiran jahat seperti itu. Apalagi melihat reaksi Putra yang hanya diam dengan sorot mata yang sangat tajam.


"Maaf, aku tidak bermaksud berpikir buruk seperti itu. Itu hanya selintas saja, tiba-tiba terpikir di kepalaku," ucap Rita gugup.


"Kamu benar," jawab Putra.


"Benar apa?" tanya Rita kaget.


Benar-benar terkena gangguan mental? batin Rita.


"Aku benar-benar kena gangguan mental dari semalam. Saat aku mendengar ada yang melamar kamu. Aku syok. Andai saja aku bisa terbang, aku akan langsung terbang ke rumah Nenekmu untuk mengatakan pada mereka, jika kamu sudah ada yang punya. Kamu milikku," jawab Putra sambil menarik napas dalam-dalam.

__ADS_1


"Kamu tahu ada yang melamar aku di kampung? Bagaimana bisa?" tanya Rita bingung.


"Itu kehendak Tuhan. Kamu pasti lupa mematikan panggilan dariku karena buru-buru. Dari situlah aku tahu, saingan aku tidak hanya di kota ini, tetapi juga di kampungmu. Tapi aku senang karena hari ini kamu sudah memperkenalkan aku sebagai pacarmu kepada pak Jamal. Jadi, di kampung pasti tidak akan ada lagi yang berani melamar kamu," jawab putra panjang lebar.


"Mungkin aku memang lupa waktu itu. Nenek memanggilku. Yang penting, aku sudah kembali, walupun kali ini aku kembali dengan syarat dari Nenek yang harus aku penuhi," ucap Rita pelan.


"Syarat, syarat apa? Apakah kamu harus mau dijodohkan atau kamu harus berpisah denganku?" tanya Putra panik.


"Bukan semuanya. Aku boleh kembali ke kota dan kuliah di sini, tapi aku tidak boleh jadi pembantu lagi," jawab Rita tenang.


"Oh, hanya itu? Tidak masalah, Aku bisa mencari orang lain untuk membereskan apartemenku. Tapi, tidakkah Nenekmu bertanya tentang aku?" tanya Putra penuh harap.


"Tidak. Bahkan Nenek tidak percaya kalau aku memiliki pacar. Nenek pikir, saat aku bilang sudah memiliki calon, semua itu hanya alasan aku saja supaya ada alasan untuk menolak lamaran tersebut,"Jawab Rita.


"Untuk apa sih, berharap Nenek tahu? Nenek juga ingin, aku tidak terlibat lagi dengan surat perjanjian, jadi berikan surat perjanjian itu dan ini ada kartu ATM milikku untuk membayar denda," ucap Rita yang membuat wajah Putra kembali kesal.


"Kamu pikir aku sengaja menyimpan surat itu untuk memeras kamu? Rita, surat itu sudah lama aku buang. Sejak aku yakin jika aku mencintaimu. Mana mungkin aku rela menjadikanmu pembantu di rumahku, saat kita resmi pacaran," kata putra sedih.


"Maksud kamu, apa? Lalu kamu bilang profesional untuk apa?" tanya Rita bingung.


" Maaf, saat itu aku berpikir untuk memberimu sejenis pembelajaran menjadi seorang istri," jawab Putra ragu.

__ADS_1


"Hah, istri? Maksudmu apa?" tanya Rita tambah bingung.


"Yah, aku ingin kamu belajar tugas-tugas seorang istri. Jadi nanti kalau kita menikah, kamu tidak kaget," jawab Putra.


"Kamu pikir, tugas seorang istri itu sama seperti seorang pembantu?" tanya Rita marah.


"Rita, aku tidak bermaksud seperti itu. Aku ...."


"Silahkan kamu cari istri yang seperti kamu inginkan. Aku tidak mau menjadi istri yang kamu anggap pembantu. Pergi!" teriak Rita sambil menunjuk pintu.


"Rita, aku salah menjelaskannya. Aku ...," ucap Putra panik.


"Tahu arah pintu, 'kan? Atau mau aku tendang, biar bisa lihat pintu?" ancam Rita.


"Ok ok, aku keluar. Kamu jangan marah," ucap Putra lalu pergi meninggalkan Rita yang penuh emosi.


Rita duduk sambil menangis. Ternyata Putra sudah membohonginya dengan menjadikan surat perjanjian itu agar Rita tetap melakukan tugasnya sebagai pembantu di apartemen Putra.


Memang apa tugas istri? Apa tugas istri memasak, menemani makan, menyapu, mengepel lantai, menyiapkan pakaian dan memakaikan dasi? Batin Rita.


"Hhh, kalau jadi istri sesulit itu, untuk apa menikah? Selama ini aku melakukan semua tugas sebagai pembantu hanya supaya bisa mendapatkan uang. Kalau nanti menikah dan tetap menjalankan tugas-tugas itu, apa bedanya aku dengan pembantu?" gumam Rita.

__ADS_1


"Pokoknya, kalau Putra masih mengharapkan aku seperti pembantu, semua akan berakhir hari itu juga," gumamnya lagi.


__ADS_2