PEMBANTU KECIL JAGOANKU

PEMBANTU KECIL JAGOANKU
Bab 27. pulang kampung


__ADS_3

Rita sudah tidak sabar ingin segera pulang kampung. Dia sangat rindu dengan kehidupan di kampung bersama sang Nenek. Tetapi, dia masih harus menunggu beberapa hari lagi.


Rita masih harus kuliah dan mengikuti kelas sampai akhir pekan.


Hari ini, Rita berangkat kuliah sendirian dengan sepedanya seperti biasa. Saat memasuki kampus, Geng Soya sudah menunggunya di persimpangan. Rita berpura-pura tidak tahu dan tidak peduli dengan keberadaan mereka.


Langkahnya terhenti saat, Mei, Zea dan Dee menghadang di depannya. Rita menarik napas dalam-dalam untuk menahan emosinya.


"Kalian mau apa? Aku sedang buru-buru, aku tidak bisa meladeni kalian," tanya Rita sambil menatap ketiga teman sekelasnya itu.


"Rita, kami masih menawarkan untukmu bergabung dengan geng kami. Kami menunggu jawabanmu," ucap Soya angkuh.


"Soya cantik, aku ini bukan orang kaya seperti kalian. Tidak ada yang bisa menjadi alasan aku bergabung dengan kalian," jawab Rita datar.


"Jadi kamu menolak tawaran kami? Maka jangan salahkan kami, kalau kami akan memberimu pelajaran," ucap Soya sombong.


"Silahkan saja, aku tidak takut!" tantang Rita. "Minggir!"


Rita meninggalkan geng Soya untuk segera masuk ke kelas. Dia masih kepikiran dengan ancaman Soya, tetapi Rita sama sekali tidak takut.


Selesai kelas, Rita bergegas pulang dan menyiapkan keperluannya untuk pulang kampung. Hampir semua pakaiannya dia bawa pulang. Dia berpikir, seandainya dia tidak berkesempatan kembali lagi ke kota ini, berarti jodoh dia dengan Putra sudah berakhir.


***

__ADS_1


Akhir pekan akhirnya telah tiba. Rita segera berangkat ke terminal untuk naik bis malam. Putra mengantarkannya hingga ke terminal dan sebelum pergi, Putra meminta Rita untuk mengingatkan jika di kota ini ada dia yang selalu menunggu Rita kembali.


Rita tersenyum mendengar ucapan Putra. Dalam hatinya, dia masih belum percaya jika gadis kampung seperti dia, yang hanya seorang pembantu, bisa di cintai dan menjadi kekasih Putra. Rasanya semua itu hanyalah mimpi. Dan mimpi itu akan hilang saat dia kembali ke kampung halamannya.


Sebuah pelukan perpisahan membuat suasana menjadi canggung. Mereka memang tidak pernah terlihat romantis apalagi bermesraan. Ini pertama kalinya mereka berpelukan erat.


Rita segera naik bis dan melambaikan tangan pada Putra saat bis berjalan perlahan meninggalkan terminal. Di terminal inilah, Rita merasa akan menjadi saat terakhir bertemu Putra.


Rita menikmati pemandangan sepanjang perjalanan menuju ke kampung halamannya. Pohon-pohon yang berganti-ganti dan jalan yang berbeda. Hatinya masih diliputi kegalauan karena dia tidak bisa berjanji pada Putra untuk kembali.


Setelah perjalanan cukup panjang dan melelahkan, sampailah Rita dia sebuah perkampungan. Tetapi untuk sampai di kampungnya dia masih harus naik ojek selama 15 menit.


Sampailah Rita di sebuah rumah yang cukup besar dan terlihat rapi. Di rumah inilah, masa kecil Rita yang begitu di manja oleh Kakek dan Nenek, setelah ibunya meninggal. Rita menahan tangis, saat tangannya mengetuk pintu rumahnya.


"Nenek," ucap Rita yang langsung memeluk Neneknya.


"Rita, cucuku. Akhirnya kamu pulang," ucap Nenek Sri sambil membalas pelukan Rita.


Setelah saling meluapkan rasa rindu, Nenek mengajak Rita duduk dan berbincang-bincang.


"Rita minta maaf, karena Rita tidak langsung pulang saat Rita tidak tinggal di rumah Ayah," ucap Rita sambil meremas tangannya sendiri yang menunjukkan kegelisahan


"Rita, Nenek sangat khawatir ketika tahu kamu di usir dari rumah ayahmu. Menuduh kamu macam-macam. Nenek sangat kecewa dan marah pada ayahmu. Dia itu tidak percaya kamu, terlalu lemah dan tidak tegas terhadap istrinya. Nenek pikir, kamu akan bahagia bertemu dengan Ayahmu, tapi ternyata ...," kata Nenek dengan penuh emosi.

__ADS_1


"Nenek jangan marah, jangan emosi. Nanti darah tinggi Nenek kumat lagi. Yang penting, Rita tidak kenapa-napa," ucap Rita sambil memegang tangan Neneknya.


"Iya. Ayahmu bilang kamu sekarang jadi pembantu di kota. Nenek sedih. Di rumah, kamu tidak pernah melakukan pekerjaan rumah. Semuanya sudah ada Bik Kinah. Kamu itu cucu kesayangan Nenek. Nenek tidak rela kamu jadi seorang pembantu," kata Nenek sambil meneteskan air mata.


"Nek, Rita sangat bahagia menjadi cucu Nenek. Semua yang Rita inginkan, selalu terpenuhi. Rita juga ingin membuktikan pada Nenek dan tetangga-tetangga, kalau Rita sudah dewasa dan bisa hidup mandiri," ucap Rita.


"Pokoknya, Nenek tidak ingin kamu kembali jadi pembantu di kota. Hiduplah di sini bersama Nenek. Jika kamu ingin bekerja dan tidak mau di bilang manja, kamu bisa menggantikan posisi Nenek. Kamu awasi para pekerja di sawah," kata Nenek menyemangati Rita dengan menawarkan pekerjaan.


"Tapi, Nek. Rita harus kembali. Rita baru masuk kuliah di sana, Nek," kata Rita sedih.


"Kamu kuliah?" tanya Nenek kaget.


Nenek sangat terkejut mendengar pengakuan Rita. Karena saat Nenek meminta Rita untuk kuliah, dia tidak mau. Dan apapun yang Rita katakan, Neneknya selalu menuruti saja.


Untunglah, meskipun Rita hidupnya selalu dimanjakan, dia tidak menjadi gadis yang sombong dan angkuh.


"Iya, Nek. Dan itu hasil dari Rita bekerja sebagai pembantu," jawab Rita.


"Rita, jadi pembantu itu tidak mudah. Di rumah ini, tidak ada yang pernah memerintah kamu. Nenek tidak bisa membayangkan, saat kamu di perintah bahkan di bentak oleh majikan mu. Nenek tidak ikhlas, Nenek tidka rela. Selama ini, Nenek tidak pernah meminta apapun dari kamu. Sekali ini saja, turuti keinginan Nenek. Jangan pernah kembali ke kota lagi," ucap Nenek serius.


Rita hanya bisa menahan tangis. Nenek benar-benar tidak ingin Rita kembali. Rita bingung harus bagaimana lagi menjelaskan pada Neneknya, kalau dia baik-baik saja dan bahagia meski hanya jadi seorang pembantu. Karena pekerjaan inilah, pertama kalinya, Rita bisa mendapatkan uang dari hasil keringatnya sendiri.


Malamnya, Rita tidak bisa tidur. Dia teringat pada Putra. Benarkah semua itu hanya akan menjadi kenangan saja?

__ADS_1


__ADS_2