PEMBANTU KECIL JAGOANKU

PEMBANTU KECIL JAGOANKU
Bab 26. Kangen Nenek


__ADS_3

Rita bergegas pulang untuk melanjutkan pekerjaannya. Mengisi lemari pendingin dengan bahan makanan untuk kebutuhan Putra. Setelah itu dia kembali ke apartemennya untuk istirahat.


Tiba-tiba, ponselnya berdering. Ternyata, nenek yang menghubunginya. Rita sempat panik, karena terakhir kali dia berbohong pada neneknya. Rita mengatakan kalau saat ini, dia tinggal bersama ayahnya.


"Rita, kapan pulang menjenguk nenek. Nenek sudah kangen." Suara Nenek terdengar berat.


"Nenek, nanti aku pulang sama ayah." Rita berbohong.


"Nenek sudah tahu semuanya. Kenapa, kamu tidak berterus terang saja pada Nenek. Kamu pulang saja. Hiduplah bersama Nenek." Suara Nenek membuat Rita kangen.


"Nenek, maafkan Rita. Rita tidak ingin membuat Nenek sedih. Rita bekerja sekarang, meski cuma sebagai pembantu. Rita akan cerita, kalau Rita nanti pulang kampung."


Rita berusaha menenangkan hati neneknya, sampai pada keputusan, jika Rita akan pulang kampung. Dan Rita segera menutup panggilan telepon dari neneknya.


Rita tampak bingung. Dia baru saja masuk kuliah, dan apakah dia akan diizinkan pulang oleh Putra?


Rita tampak gelisah sehingga dia tidak bisa beristirahat dengan tenang. Jangankan tidur, memejamkan mata saja dia sangat kesulitan. Sampai waktu bekerja telah tiba.

__ADS_1


Dia bergegas ke apartemen Putra untuk menyiapkan makan malam. Rita gelisah menunggu kepulangan Putra. Rita sudah tidak sabar ingin segera meminta izin pulang kampung.


Kebetulan, Putra pulang lebih awal. Entah dia punya telepati atau punya mata batin kalau hari ini, Rita sangat membutuhkannya. Putra kaget saat melihat Rita gelisah menunggunya.


Rita menunggu sampai Putra selesai berganti pakaian dan selesai makan malam. Tugasnya menemani dan ikut makan telah dia jalankan. Rita segera membereskan semua pekerjaan nya, lalu menemui Putra yang sedang duduk santai. Rita masih berdiri dan ragu untuk bertanya.


"Ada apa, Rita? Aku lihat sejak aku pulang tadi, sepertinya ada sesuatu yang ingin kamu katakan. Aku sengaja menunggumu, duduklah," tanya Putra sambil menatap Rita.


Rita perlahan duduk di samping Putra yang masih memegang majalah. Setelah melihat Rita tampak serius, dia meletakkan majalahnya di atas meja.


"Aku mau minta izin pulang kampung," ucap Rita ragu.


"Tidak, Nenek tidak sakit. Nenek sudah tahu kalau aku tidak tinggal bersama ayah. Nenek juga tahu, aku di sini jadi pembantu. Nenek pasti sangat sedih," kata Rita sedih.


"Baiklah. Kamu hari Sabtu tidak ada mata kuliah, 'kan? Kamu bisa pulang Sabtu pagi sehingga tidak mengganggu kuliah kamu. Rita, ini ujian kamu. Apa kamu akan lanjut kuliah sesuai impianmu atau kamu akan memilih berhenti, jika kamu tidak bisa meyakinkan Nenek kamu," kata Putra sambil menatap Rita.


Putra ikut merasakan kekhawatiran Rita, tentang kelanjutan impiannya. Karena jika Rita memilih berhenti kuliah, artinya Rita akan tinggal di kampung bersama Neneknya. Bagaimana dengan cinta dan kebersamaan mereka yang baru seumur jagung ini?

__ADS_1


"Aku tidak tahu. Yang terpenting, aku bisa pulang kampung. Entah nanti aku bisa kembali ke sini atau tidak, biarlah Tuhan yang menentukan. Sebelumnya aku minta maaf. Surat perjanjian kita, memang belum berakhir. Tapi jika aku tidak kembali, maaf, aku tidak bisa mengganti rugi," ucap Rita sedih.


Rita memang memiliki tubuh yang kuat dan hati yang keras. Tetapi hanya Nenek yang bisa meluluhkan hati Rita. Nenek adalah titik lemah Rita.


"Rita, kamu bicara apa. Tidakkah kamu sadar, jika apa yang aku lakukan sebenarnya hanya ingin kamu tetap di sisiku," jawab Putra sedih.


"Aku tahu, meski aku tidak mau percaya itu sebelumnya," ucap Rita sambil tersenyum.


"Nah, begitu. Kamu sangat cantik kalau tersenyum. Aku yakin, kamu pasti akan kembali. Kalau tidak ...."


"Kalau tidak .... Apa?" tanya Rita penasaran.


"Aku ... aku akan menghubungimu," jawab Putra menyembunyikan sesuatu. Hanya dia yang tahu, apa yang akan dilakukannya.


Rita kembali ke apartemennya dengan hati lega.


Akhir pekan ini, dia akan kembali ke kampung menemui Nenek untuk menenangkan hatinya. Sebelum itu masih ada beberapa hari lagi, jadwal kelas yang harus Rita ikuti.

__ADS_1


Rita mengirimkan pesan singkat pada sang Nenek, yang mengatakan bahwa dia akan segera pulang. Setelah mengirim pesan, Rita melihat-lihat album foto di dalam ponselnya. Foto ibu dan ayahnya saat masih muda. Banyak kenangan yang muncul di benaknya. Rita tiba-tiba tidak bisa menahan airmatanya. Buliran bening itu mengalir deras membasahi pipinya yang lembut. Rita menangis sampai akhirnya dia tertidur karena kelelahan.


__ADS_2